[Review] “Unplanned” oleh Abby Johnson

unplanned

Judul: Unplanned

Penulis: Abby Johnson

Penerbit: Tyndale Momentum (October 21, 2011)

Jumlah halaman: 288 halaman

Reviewer: Cornelius

***

“What I have told people for years,

What I’ve believed and taught and defended, is a lie.

What if I’d known the truth, and what if I’d told all those women?”

Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang (mantan) direktur Planned Parenthood yang kemudian menjadi seorang pro-life, yaitu Abby Johnson. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam ranah ajaran Gereja tentang kehidupan, terdapat dua pihak, yaitu pro-life (pro-kehidupan) dan pro-choice (pro-pilihan). Kelompok pro-life adalah mereka yang memperjuangkan kehidupan, baik ibu maupun bayi yang belum lahir, dan sangat menentang aborsi, sedangkan kelompok pro-choice adalah mereka yang memperjuangkan aborsi bagi para wanita dengan menekankan bahwa mereka mempunyai hak dan kebebasan memilih dalam hidupnya. Perdebatan hangat antara kedua posisi ini cukup menonjol salah satunya di Amerika Serikat.

Abby Johnson awalnya bergabung dalam Planned Parenthood—organisasi kesehatan reproduktif yang memberikan pendidikan seks, pelayanan kesehatan bagi wanita, serta aborsi—dengan sebuah tujuan yang mulia: ia ingin mengurangi angka aborsi yang terjadi di Amerika dan membantu para wanita. Sebuah tujuan yang memang tulus dan mulia. Ia pun bekerja dengan penuh dedikasi, sampai akhirnya menjadi seorang direktur di kliniknya, meskipun pada awalnya orang tuanya tidak setuju dengan keputusannya untuk bergabung di sana.

Nah, perjalanannya menjadi berubah drastis ketika suatu hari ia diminta untuk memegang probe ultrasonografi (USG), sebuah alat yang membantu melihat janin di dalam rahim. Dan apa yang terjadi? Ia syok, kaget, dan tak bisa berkata apa-apa setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa ia terlibat dalam sebuah pembunuhan manusia yang tak berdosa! Ia melihat bagaimana seorang manusia, dan bukan sekedar janin, diaborsi!

Peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Terlebih, ia pernah melakukan aborsi dua kali, dan saat itu ia merasa bahwa sebenarnya yang ia alami hanyalah “kondisi kehamilan”, tanpa menyadari ada sesuatu yang hidup dalam rahimnya. “Kondisi kehamilan” – perhatikan betapa mudahnya kata-kata mempengaruhi dan menipu manusia (dan itulah yang terjadi di Amerika!).

Namun tidak secepat itu ia berubah pikiran. Terdapat sesuatu yang masih mengganjal di hati Abby, masih ada sesuatu yang mengganggu. Ketika dihadapkan pada kebenaran, ia pun tidak siap menerimanya.

Banyak penolakan yang dialami oleh Abby, namun ia akhirnya bertekun dalam doa. Ketika ia menjabat sebagai direktur Planned Parenthood, ia berhubungan baik dengan beberapa orang dari Coalition For Life. Satu hal yang menarik bagiku adalah ketika Elizabeth, seorang anggota Coalition For Life, memberikan seikat bunga kepadanya dengan ucapan “I’m praying for you, Abby”. Sungguh indah dan membahagiakan memang, ketika kita memiliki sahabat yang bisa saling mendukung dan mendoakan. Bagiku, ini sebuah hubungan pertemanan yang indah—dan memang demikianlah seharusnya itu terjadi.

Ah, doa memang senjata yang ampuh. Meskipun membutuhkan waktu delapan tahun, akhirnya Tuhan menjawab doa Elizabeth. Tidak hanya dia, tetapi orang tua Abby pun juga mendoakannya! Sehingga akhirnya Abby pun bisa meninggalkan Planned Parenthood dan bergabung dengan Coalition For Life. Kepergiannya dari Planned Parenthood tidaklah mudah dan murah, ia masih harus menghadapi sidang pengadilan atas tuntutan yang diajukan dari Planned Parenthood. Selain itu, ia pun dikhianati oleh kedua orang temannya dari Planned Parenthood. Tidak jelas apakah kedua temannya ini ditekan dari pihak PP (saya menduga demikian). Semoga saja mereka dapat menyadari kesalahannya dan berani mengambil langkah untuk menyongsong kebenaran.

Hal yang menarik dari buku ini adalah kita bisa melihatnya dari dua sisi, yaitu dari sisi pro-life dan pro-choice. Dan ada banyak hal yang bisa kita pelajari dengan membaca buku ini. Membaca tulisanku saja yang menceritakan hal ini tidak akan cukup, kamu harus membaca bukunya langsung. Saya berikan 5 rahib unyu untuk buku ini.

5rahib

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: