Wawancara dengan Uskup Athanasius Schneider

Oleh David Clayton

Wawancara dengan Yang Mulia Athanasius Schneider ORC, uskup auxiliary Astana, Kazakhstan dan uskup titular Celerina.

Izabella Parowicz : Yang mulia merupakan seorang etnis Jerman namun lahir dan dibesarkan di Soviet Union. Bagaimana hal ini terjadi?

Uskup Athanasius Schneider : Di awal abad 19 (1809-1810) ada emigrasi besar-besaran para petani dari barat daya Jerman ke area Laut Hitam yang dulunya adalah Kekaisaran Rusia. Mereka pindah dari area seperti Baden, Elsass, Lothringen, Pfalz. Tsar memberikan mereka sebidang tanah dari lahan yang sangat subur  (“chernozem”, black earth). Mereka diijinkan untuk mendirikan desa yang secara eksklusif berbahasa Jerman, dan dipisahkan juga oleh agama mereka (katolik murni dan desa Lutheran) dengan nama-nama Jerman, seperti Strassburg, Elsass, Karlsruhe, Baden, Mannheim, Speyer, dst. Leluhurku beremigrasi dari Alsace, dekat kota Selz dan Hagenau. Mereka tinggal di sana sampai Perang Dunia II. Setelah perang rezim Stalin mendeportasi mereka ke beberapa tempat di Soviet Union untuk penawaan hard labour. Jadi orang tua saya dideportasi ke pegunungan Ural. Setelah mereka dibebaskan, mereka pindah ke Asia Pusat, Kirghizstan, tempat kelahiranku.

Masa kecil Yang Mulia pastilah dipengaruhi oleh penganiayaan iman yang selalu ada yang dilakukan oleh rezim Soviet. Atas syarat apa Yang Mulia dan keluarga dimungkinkan untuk menjalani kehidupan beriman? Bagaimana kehidupan beragama Yang Mulia berkembang dan siapa yang memainkan peran terpenting didalamnya?

Rezim komunis bertujuan mendirikan masyarakat tanpa Allah. Jadi setiap tanda ibadah agama publik dilarang. Iman dihidupi dan diteruskan dalam keluarga, syukur kepada keluarga katolik sebagai gereja domestik. Saya memiliki hak istimewa yang besar dan kebahagiaan untuk lahir dalam keluarga yang sangat katolik, dan saya menerima iman katolik sejak lahir. Selama penganiayaan dan dalam kondisi ketiadaan imam (yang terjadi selama beberapa tahun), orang tua saya merayakan dan menguduskan tiap hari Minggu bersama anak-anak dengan berdoa bersama di pagi hari. Kemudian kami pindah ke Estonia, dimana kami memiliki gereja dan imam yang berjarak 100 km. Jadi kami melakukan perjalanan sejauh 100 km untuk berpartisipasi dalam Misa Kudus tiap Minggu. Kami menyukai perjalanan Minggu ke Gereja ini, walaupun menuntut suatu pengorbanan. Keluarga kami memiliki hak istimewa mengenal secara pribadi dua imam suci: Beato Father Alexih Zaritzki, seorang imam Ukraina dari Lviv, yang wafat sebagai martir di Gulag di Karaganda tahun 1963 dan yang dibeatifikasi tahun 2001; dan Father Janis Andreas Pavlovsky, seorang Kapusin Latvian, yang menderita sebagai pengaku iman di Gulag di Karaganda. Ialah pastor paroki saya di Estonia dan wafat di Riga tahun 2000.

Sebagai seorang remaja, tahun 1970-an, Yang Mulia diijinkan kembali ke Jerman bersama keluarga. Akhirnya ada kemungkinan untuk menghidupi iman dengan bebas. Apa pengalaman Yang Mulia yang pertama dalam hal ini?Kita berbicaar tentang masa di mana banyak kemalangan, reformasi liturgis pasca konsili telah dilaksanakan.

Kami, yang menghidupi iman katolik selama penganiayaan, berpikir tentang Jerman dan dunia barat sebagai “surga”. Dalam gereja yang teraniaya kami menghidupi iman yang mendalam, dengan rasa hormat yang besar terhadap realita sakral, imam, liturgi dan khususnya Komuni Suci. Apa yang mengejutkan kami secara mendalam hingga sekarang adalah betapa kurangnya rasa hormat dan kesakralan dalam liturgi Misa Kudus. Kami mengamati untuk pertama kalinya dalam hidup kami pemandangan yang sulit dipercaya tentang pembagian Komuni Suci di tangan. Hal ini tampak begitu banal dan lazim – seperti pembagian kue. Sekembalinya kami ke rumah, kami merasakan rasa sakit yang hening dalam jiwa kami. Ketika ibu saya menemukan bahwa situasi ini ada hampir di setiap gereja yang kami kunjungi, ia menderita begitu dalam sampai ia menangis.

Yang Mulia sering kali menekankan bahwa Komuni Suci harus diterima di mulut dan dalam posisi berlutut. Apa resiko terbesar dan konsekuensi praktek menerima Komuni Suci di tangan yang telah tersebar luas ini (baik dalam aspek objektif juga bagi iman umat)?

Resiko dan konsekuensi terbesar dari praktek Komuni di tangan adalah hilangnya partikel-partikel Ekaristi dan dampaknya adalah partikel ini diinjak oleh umat di gereja. Resiko serius selanjutnya adalah ia menciptakan potensi untuk mencuri Hosti suci. Praktek ini jelas melemahkan Iman karena ketika yang Terkudus diperlakukan seperti makanan biasa dan tanpa gestur adorasi yang layak, ia meremehkan keyakinan akan kebenaran Kehadiran Nyata dan dalam ajaran Transubstansiasi.

Beberapa orang katolik yang mendukung (atau yang terbiasa) menerima Komuni Suci di tangan memberikan argumen berikut: tangan seseorang cenderung kurang berbuat berdosa daripada mulut; mereka berkata bahwa memegang Tuhan kita di tangan memberikan mereka kesempatan indah untuk menyembah Ia sesaat; mereka juga berargumen bahwa berlutut menentang martabat manusia dan posisi berdiri lebih layak dan terhormat. Bagaimana Yang Mulia menanggapi argumen ini?

Bagian tubuh kita (tangan, lidah, dst) tidak bersalah atas dosa. Rasa bersalah diatributkan kepada pribadi manusia. Bagian tubuh yang digunakan untuk melakukan dosa, tetaplah tak berdosa. Bahwa orang awam boleh memegang Hosti suci ditangan untuk menyembah Tuhan bertentangan dengan seluruh tradisi Gereja Universal. Praktek ini merupakan hal yang berlebihan dari seorang subjektivis yang saleh. Hak untuk menyentuh Tubuh Kristus sakramental, selalu menjadi hak pelayan tertahbis. Pengecualian dibuat di saat penganiayaan atau dalam kasus yang sangat serius untuk alasan-alasan objektif, tapi tidak untuk memuaskan kesalehan pribadi. Bahkan selama abad pertama, Sakramen Mahakudus tidak disentuh oleh orang awam dengan jari, tetapi mereka mengambil Hosti suci langsung dengan mulut mereka dari telapak tangan, dan para wanita menutupi tangan mereka dengan kain putih. Posisi berdiri tidak memiliki nilai  pada saat itu. Ia merupakan posisi khas kristiani, karena orang Kristen adalah ia yang ditebus dan menghidupi kehidupan baru dan percaya pada kebangkitan badan. Tapi posisi berlutut juga merupakan posisi khas kristiani, dan digunakan di momen dan tindakan adorasi Allah, Kristus, Allah yang berinkarnasi. Ia juga digunakan untuk mengungkapkan doa permohonan, tobat dan sesal atas dosa. Tuhan kita sendiri berdoa dengan berlutut, juga para rasul, para wanita di pagi Paskah saat kebangkitan. Gestur berlutut ditunjukkan dalam Yerusalem surgawi, dimana para malaikat dan manusia yang ditebus berlutut dan bahkan melakukan prostrasi (bertiarap di tanah) untuk menyembah Kristus, Anak domba Allah. Karenanya gestur yang paling biblis, layak dan logis adalah berlutut di saat umat beriman menyambut dan menerima Anak Domba Allah dalam rupa roti.

Kita berkata kita percaya akan Allah tapi kita tidak tahu bagaimana menghormati-Nya dengan layak; kita melakukannya dengan cara kita, seringkali dengan cara-cara yang kurang baik. Apa yang menjadi alasan berkurangnya rasa hormat yang ditunjukkan kepada Yesus Kristus Tuhan kita? Apa solusi pastoral dan kateketik yang direkomendasikan untuk mengembalikan rasa hormat ini?

Kodrat manusia terdiri dari bagian yang kelihatan dan tak kelihatan, yaitu persatuan jiwa spiritual dan tubuh material. Konsekuensinya, manusia harus bertindak menurut kodratnya, dan artinya ia harus menyembah Allah secara bersamaan dengan tindakan interior (batiniah) dan eksterior (lahiriah). Tindakan interior adalah yang terpenting dan menggerakkan tindakan eksterior, tapi tindakan eksterior tidak boleh diabaikan. Hanya menekankan interior dan mengabaikan tindakan eksterior, membawa kita pada sikap Platonisme dan Gnostisisme yang tidak manusiawi. Hanya menekankan tindakan eksterior, melupakan dan mengabaikan tindakan interior, membawa kita kepada kemunafikan dan formalisme yang mati. Tuhan kita berkata:”Inilah yang harus kamu lakukan, dan bukan meninggalkan yang lainnya tanpa dikerjakan” (Mat 23:23). Untuk mengembalikan rasa hormat, penting sekali mengajar dan mewartakan dengan setia dan menyeluruh kebenaran Sakramen Ekaristi, khususnya Kehadiran Nyata dan Transubstansiasi, ini harus ditemani oleh pengenalan gestur eksterior yang menampilkan rasa hormat.

Walaupun kemungkinan menerima Komuni Suci di tangan diperkenalkan di Polandia tahun 2005, syukur kepada Allah, praktek tersebut masih belum tersebar secara luas. Ada juga hal-hal baru yang menyedihkan yang diperkenalkan: kursi selebran ditempatkan ditengah diantara altar dan tabernakel (jadi ketika duduk, imam menunjukkan punggungnya kepada Tuhan kita), putra altar, ketika melewati dari sisi presbiter ke sisi lainnya, membungkuk secara hormat (tapi agak tidak reflektif) ke arah meja altar kosong sementara Sanctissimum, Raja segala raja, ada dibelakang mereka. Kita juga mengamati fenomena “fraternisasi” umat beriman, khususnya kaum muda, dengan Tuhan kita Yesus Kristus. “Fraternisasi” ini ditemani oleh trivialisasi dan infantilisasi cara kita menyembah Allah dan seringkali hal ini disetujui, bila tidak didukung oleh oleh imam. Ketika persoalan ini didekati, imam paroki biasanya membela instruksi liturgis dan pastoral terbaru ini sebagai dalih dan pada umumnya mereka tidak ingin mendiskusikan masalah ini dengan umat beriman yang “bermasalah”. Argumen apa yang harus kami gunakan untuk meyakinkan gembala kita bahwa lex orandi memang mempengaruhi lex credenda? Apakah kami sebagai orang awam berhak menasehati imam kami (dalam cara yang diperintahkan Tuhan Yesus di Injil) kapanpun rasa hormat terhadap Tuhan kita dipertaruhkan?

Pengetahuan supernatural akan kebenaran iman tentang keagungan misteri Ekaristi  harus bertumbuh terutama di kalangan klerus. Juga hukum-hukum penyembahan katolik dan Kristen autentik harus dikenal dengan lebih baik menurut Tradisi dan ajaran Magisterium yang kekal (“perennis sensus ecclesiae”). Hukum fundamental penyembahan ilahi adalah ini : Allah, Kristus, keabadian adalah pusat dan semua aspek dan detail penyembah secara berkesinambungan harus ditundukkan dan diarahkan kepada-Nya (Sacrosanctum Concilium, 2). Ketika imam selebran menempatkan kursinya di tengah, ia menekankan secara kasat mata, bahwa dalam liturgi, manusia lah pusatnya. Ini bertentangan dengan ajaran Gereja, khususnya Konsili Vatikan II yang diacu diatas. Ketika tabernakel dan Salib dengan gambar Kristus tetap ditengah, dengan kursi imam di samping, hal ini mengungkapkan kebenaran bahwa Kristus lah pemimpin, dan kepala dari tiap liturgi Ekaristi. Kristus adalah Kepala Tubuh Mistik-Nya, dan karenanya Kristus juga Kepala “tubuh liturgis-Nya”. Karena Kristus berinkarnasi dan liturgi adalah sakramental, kebenaran bahwa Kristus adalah pusat dan Kepala harus terlihat, yaitu: Kehadiran Nyata-Nya di Tabernakel dan gambar yang kelihatan di Salib haruslah berada di pusat Gereja dan liturgi Ekaristi. Konsili Vatikan II dan Hukum Kanonik mendorong umat beriman mengungkapkan kepada klerus kepedulian mereka tentang kebaikan rohani gereja (cf. II Vatican Council “Lumen gentium”, 37; can. 212 and can. 213 KHK). Karenanya tiap orang awam memiliki hak untuk meminta klerus mengoreksi skandal dan pelanggaran yang bertentangan dengan kebaikan rohani jiwa-jiwa dan hak-hak Allah sendiri. Gereja memberikan umat beriman hak tersebut :”Setiap warga katolik, apakah imam atau diakon atau anggota awam kaum beriman Kristus, memiliki hak untuk mengajukan  keluhan mengenai pelanggaran liturgis kepada Uskup diosesan atau Ordinary yang kompeten, yang secara hukum setara dengannya atau kepada tahta apostolik berdasarkan primat Paus” (“Redemptionis Sacramentum, n. 184”).

Beato Yohanes Paulus II berkata pada tahun 1980 bahwa “untuk menyentuh spesies suci dan membagikannya dengan tangan mereka adalah hak istimewa kaum tertahbis”. Apa opini Yang Mulia tentang pelayan awam yang membagikan Komuni Suci? Walaupun (setidaknya di Polandia), mereka biasanya dipilih dengan seksama, pria terhormat, suami dan bapa, pertumbuhan peran mereka yang ambigu agak mengganggu.

Fakta bahwa orang awam membagikan Komuni Suci selama Kurban Ekaristi bertentangan dengan seluruh tradisi universal Gereja (Timur dan Barat) dan tidak pernah dipraktekkan. Hal ini merupakan “novum (hal baru)” yang absolut dan keterputusan nyata dengan Tradisi. Komuni Suci dapat dibagikan kepada umat beriman, di masa penganiayaan dan oleh pertapa di padang gurun, tetapi selalu diluar Misa. Pengenalan pelayan awam dibenarkan oleh argumen bahwa ia dapat menghemat waktu dan meringankan beban imam yang membagikan Komuni Suci kepada kerumunan orang dalam jumlah besar. Ketika seseorang mempertimbangkan dan menerima kesakralan dan keagungan yang tiada bandingnya dari Komuni Suci, dan bahwa momen menerima Tuhan Ekaristis sungguh merupakan puncak dalam kehidupan orang katolik, tak seorangpun –  imam atau umat beriman – secara dapat dibenarkan bisa melihat jam mereka dan menghitung menit-menit atau menyesali situasi yang melelahkan. Realita masa kini menunjukkan kita hal berikut : di gereja-gereja dimana pelayan awam terlibat dalam membagikan Komuni Suci, imam setelah Misa Kudus menghabiskan waktu dengan mengobrol dengan umat atau membuka internet dan televisi. Jadi dalam kasus ini imam lebih sering menghabiskan waktu mereka lebih banyak setelah Misa Kudus daripada ia menggunakan waktu tersebut ketika membagikan Komuni Suci sendirian dan tanpa pelayan awam. Pembenaran lainnya dalam melibatkan pelayan awam adalah ini: untuk mengungkapkan partisipasi aktif umat awam dalam liturgi. Ini adalah pemahaman yang salah tentang partisipasi aktif dan bertentangan dengan ajaran Magisterium dan Tradisi Gereja. Membagikan Komuni Suci adalah bagian hakiki dari pelayan tertahbis dan tidak pernah dalam Gereja sebagai sarana partisipasi aktif kaum beriman. Konsili Vatikan II mengajarkan :”dalam perayaan liturgis tiap pribadi, pelayan atau awam, yang memiliki jabatan untuk melakukan sesuatu, harus melakukan semuanya dari, tapi hanya, bagian-bagian yang menjadi milik jabatan mereka oleh hakekat ritus dan prinsip-prinsip liturgi” (Sacrosanctum Concilium, 28) dan “untuk mendukung partisipasi aktif, umat didorong untuk ambil bagian dalam aklamasi, tanggapan, psalmody, antifon, dan lagu-lagu, juga melalui tindakan, gestur, dan sikap jasmani. Dan pada saat yang layak semua harus menaati keheningan yang menunjukkan rasa hormat” (ibid, 30). Tidak disebutkan pelayan awam yang membagikan Komuni Suci sebagai sarana partisipasi aktif, karena pemahaman dan tindakan seperti itu bertentangan dengan tradisi Gereja yang kekal dan prinsip berikut, yang diajarkan Konsili Vatikan II: ”Tidak boleh ada inovasi kecuali kebaikan Gereja secara asli dan pasti mengharuskannya; dan kepedulian harus dilakukan agar tiap bentuk baru yang diadopsi harus dalam cara tertentu bertumbuh secara organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada” (ibid., 23).

Dalam buku Anda tentang Komuni Kudus yang berjudul “Dominus Est”, Yang Mulia mendeskripsikan peran dari “wanita Ekaristis” dalam Soviet Underground ketika Imam tidak ada, mereka mengatur untuk menjaga nyala api iman dengan menyembah Tuhan kita di dalam Ekaristi  agar mampu menyambut-Nya setidaknya secara spiritual. Yang Mulia mendeskripsikan cerita yang menyentuh tentang ibumu, Maria Schneider, ketika, ia diijinkan oleh Imam di tempat persembunyian untuk mengirimkan Komuni Kudus kepada ibunya yang sakit, dengan syarat dia harus memperlakukan [Komuni Kudus] dengan sangat hormat. Ibu Yang Mulia memakai sarung tangan putih yang baru dan dengan pinset memberikan Komuni Kudus kepada ibunya. Akhirnya dia membakar amplop dimana Hosti yang telah dikonsekrasikan itu disimpan. Hal ini adalah penggambaran dari perbuatan wanita yang dengan penuh hormat dan dalam keadaan yang di luar dari biasanya; sedangkan kebalikannya, sekarang ada kebingungan dalam meningkatnya keterlibatan wanita di semua area pelayanan liturgi (entah sebagai putri altar, Pembagi Komuni Luar Biasa atau bahkan “asisten pastoral”). Apa batasan dari aktivitas wanita dan argumen apa yang harus digunakan untuk menghalangi wanita terlibat dalam pelayanan altar?

Peran wanita dalam Gereja ditentukan oleh Allah sendiri dan cocok dengan hukum dimana Allah dengan Kebijaksanaan dan kasih-Nya telah menulis mengenai peran wanita. Urutan penciptaan kodrat manusia dalam dua jenis kelamin memantulkan keindahan dan sifat saling melengkapi daripada persaingan.  Dalam tatanan supernatural kehidupan Gereja, model yang tertinggi dan paling indah bagi wanita Kristiani adalah Maria, Bunda Allah. Karakteristik yang paling mendalam dan paling indah dari seorang wanita adalah keibuannya. Kristus, Allah yang ber-Inkarnasi dan Imam Agung yang Kekal mengambil kodrat manusia dalam jenis kelamin pria dan dalam Kebijaksanaan-Nya Ia menghubungkan jabatan imamat yang tidak dapat ditarik kembali, di semua tingkatan dan pelayanan dengan jenis kelamin pria, karena hal itu merepresentasikan semangat kebapaan dari Kristus sendiri. Derajat imamat Kristus adalah episkopal dan presbiterat dan ini merepresentasikan level tertinggi untuk melayani di altar. Diakon dalam tugasnya melayani di altar dan Firman, mewakili pelayanan episkopal dan presbiterat didalam bentuk yang nyata dan sakramental. Urutan lainnya dan pelayanan dibawah diakon (sub-diakon, akolit, lektor dan putra altar) adalah praktek dari diakonat didalam bentuk non-sakramental, seperti membuka lipatan dari diakonat dan pada akhirnya juga dari presbitrate dan episkopal. Oleh karena itu, tradisi universal dan abadi dari Gereja adalah tidak pernah menginjinkan wanita untuk melayani di altar atau Firman selama Kurban Ekaristi.. Selama ibadat harian, ketika bukan imam dan liturgi korban dalam arti pelayanan yang ketat, umat awam dan wanita, namun, dapat melakukan pelayanan lektor. Model akhir dari liturgi kurban didalam pengertian pelayan yang ketat adalah liturgi dari Perjamuan Terakhir, dimana hanya dua belas Para Rasul dan bahkan tidak ada Maria, Bunda Allah. Senakel dari Perjamuan Terakhir berhubungan dengan ruang altar atau kepada “presbiterium” pada jaman sekarang ini di gereja kita. Oleh karena itu selama Liturgi Ekaristi wanita tidak pernah melakukan sesuatu di dalam ruang altar, tapi di tengah gereja, karena tengah menyimbolkan imamat yang umum dan bersama dengan ruang altar, sang “presbiterium”, membentuk seluruh gereja, atau keimamatan Kristus, terkandung didalam pelayanan dan imamat pada umumnya sebagai satu tubuh, tapi dengan inti yang fungsinya berbeda. (Konsili Vatikan II, “Lumen Gentium, 10”)

Saya ingin membicarakan aspek higienis dari penerimaan Komuni Kudus di mulut. Kelihatannya sangatlah tidak mungkin penyakit dapat menyebar melalui Tuhan Kita yang secara substansial hadir dalam Hosti yang sudah dikonsekrasi dan, menurut pengetahuan saya, dalam sejarah Gereja tidak pernah dituduh sebagai penyebab atau penyebar wabah apapun. Namun, akhir-akhir ini muncul sebuah kasus bahwa menerima Komuni Kudus di mulut untuk sementara dilarang dan pembagian Komuni Kudus ditangan malah diperkenankan oleh Konferensi Uskup Nasional karena takut terhadap flu babi. Sesuai dugaan, hal ini menyebabkan penurunan drastis terhadap penghormatan kepada Sakramen Kudus dan bahkan setelah pelarangan diangkat, hampir tidak ada satupun di negara itu yang telah menerima Komuni di mulut setelahnya, menurut pandangan “higienis” hal ini dengan menyedihkan tampaknya merendahkan keyakinan dalam Kehadiran Nyata. Saya ingin bertanya kepada Yang Mulia bagaimana bila suatu kejadian epidemi patut menjadi alasan yang dipertimbangkan untuk memperkenalkan pembagian Komuni di tangan? Akankah keuskupan merekomendasikan seperti membuat Komuni Spiritual sebagai alternatif dalam situasi epidemi?

Tentu saja selama dua ribu tahun liturgi Kristiani tidak pernah terdengar, bahwa melalui Komuni Kudus dapat tersebar penyakit menular dan epidemi. Hal ini menggambarkan bahwa telapak tangan  mengandung banyak bakteri daripada lidah. Semua menggunakan air liur untuk membuat disinfektan pada luka, tapi tidak akan pernah menggunakan jari dari tangan untuk tujuan ini. Tangan dari orang yang menerima Komuni Kudus di tangan biasanya sebelumnya menyentuh banyak objek lainnya yang penuh dengan bakteri dan debu: pegangan pintu di tempat umum dan di gereja, tapi khususnya koin dan kertas uang. Dengan jari-jari yang tidak dicuci tersebut orang ini menyentuh hosti suci meninggalkan jejak besar bakteria yang kemudian diletakkan di mulut mereka sendiri. Tentu saja Komuni di tangan menjadi tidak higienis. Ketika otoritas keuskupan telah, dengan tulus hati,  “peduli dengan kehigienisan”, pertama-tama hendaklah melarang Komuni di tangan. Pada kasus yang langka dari wabah yang berbahaya rekomendasi untuk membuat Komuni spiritual patut menjadi alternatif. Kita telah menemukan kembali dan menghormati buah dari praktek Komuni spiritual.

Pertanyaan saya selanjutnya berhubungan dengan cara-cara yang mungkin dalam menghindari resiko sakrilegi selama Misa Kudus yang dirayakan bagi kerumunan besar orang, yang mungkin secara sebagian dihadiri oleh mereka yang tidak dibaptis katolik (bahkan bukan orang Kristen), yang datang ke Misa Kudus karena penasaran, dan yang, bagaimanapun, tidak menahan diri saat maju menerima Komuni Suci. Sementara praktek membagikan Komuni Suci di mulut seperti yang diminta oleh Paus terkasih kita, Paus Emeritus Bendiktus XVI dan yang dipertahankan oleh Bapa Suci Fransiskus, kelihatannya menjadi semacam “penyaring” alami yang dapat mencegah non katolik untuk menerimanya, sarana apa lagi yang dapat diterapkan oleh imam dalam situasi dimana resiko melakukan sakrilegi terlalu tinggi?

Gereja sejak awal perjalanan historisnya selalu melindungi Holy of Holies, “sanctissimum”, Tubuh Kristus dalam Sakramen Ekaristi, seturut anjuran Tuhan:”Jangan berikan hal-hal yang kudus kepada anjing, jangan berikan juga mutiaramu kepada babi” (Mat 7:6). Dalam liturgi Ekaristis abad pertama, setelah liturgi sabda, semua katekumen dan yang tidak dibaptis dibubarkan. Diakon menyatakanL:”Katekumen harus pergi. Jangan sampai ada yang tetap tinggal.” Perkataan ini masih digunakan dalam Liturgi Byzantin. Gereja memiliki pelayanan liturgi khusus, yakni “porter” (ostiarius), yang dengan kewaspadaan mengamati, agar yang tidak dibaptis tidak menerima Komuni Suci dan tak seorangpun dengan niat buruk merusak atau melakukan profanasi liturgi dan tempat suci. Merupakan tuntutan pastoral yang nyata untuk memulihkan secara universal dalam Gereja keteraturan dan pelayanan porter tersebut. Dalam Liturgi Byzantine mereka yang menerima Komuni Suci harus menyebutkan namanya, harus mengidentifikasi dirinya dengan imam yang membagikan Komuni Suci. Cara ini membuat ritus Komuni Suci lebih personal, dan memberikan suasana keluarga dan di saat yang sama memberikan perlindungan terhadap profanasi. Hal ini juga dapat diadopsi oleh Gereja Ritus Latin.

Ketika pergi ke negara gereja Eropa Barat, umat Katolik yang ingin menerima Komuni Kudus dengan posisi berlutut dan di mulut terkadang diperlakukan oleh imam-imam dengan rasa jijik. Sekali (dengan air mata) saya harus memohon kepada imam untuk memberikan kepada saya Komuni Kudus di mulut saat ia terus menolak melakukan hal tersebut. Menurut Yang Mulia, apakah lebih baik: untuk bersikeras dan siap untuk teguran atau bahkan konflik verbal dengan imam ketika seseorang semata-mata fokus pada penerimaan dari Tuhan Kita yang Terberkati? atau haruskah seseorang memutuskan untuk melakukan Komuni spiritual untuk menghindari situasi yang melanggar  suara hati atau nurani ? Apakah ada alternatif lain?

Hukum Gereja sangatlah jelas: tidak ada imam atau uskup yang mempunyai hak untuk menolak umat beriman dalam menerima Komuni Kudus hanya karena permintaan untuk menerima dalam keadaan berlutut dan dilidah. Hak dari umat beriman tertuang dalam Instruksi “Redemptionis Sacramentum”, n. 91. Pelanggaran dari norma ini, Gereja nyatakan sebagai “masalah berat”: lihat Instruksi yang dilampirkan, n. 173. Gereja memperingatkan pelayan suci dengan perkataan serius ini: “Biarkan setiap pelayan suci bertanya kepada dirinya sendiri, bahkan dengan kerasnya, apakah ia telah menghormati hak dari awam, anggota dari Kristus, yang telah dengan yakin mempercayakan diri mereka sendiri dan anak mereka kepadanya, mengandalkan kepadanya untuk memenuhi demi umat beriman fungsi dari kesakralan yang Gereja maksudkan untuk membawa perayaan Liturgi kudus dengan perintah Yesus. Ia harus selalu ingat bahwa ia adalah pelayan dari Liturgi Kudus untuk setiap orang ” (Redemptionis Sacramentum, n. 186). Karena menolak umat beriman dalam menerima Komuni Kudus hanya karena berkeinginan untuk menerimanya dengan berlutut atau di lidah, merupakan suatu klerisisme dan kelaliman klerus.

Selama 15 tahun Yang Mulia telah menjadi imam dan Uskup di Kazakhstan. Lebih dari belasan tahun umat beriman di ex-Uni Soviet dilarang untuk mengikuti Misa Kudus, mereka dirampas dari para imam dan sakramen-sakramen. Imam misionaris yang pergi kesana tahun 1990 pasti telah mengenalkan Misa Novus Ordo dan beberapa yang baru, liturgi yang tidak dikenal sebelumnya atau praktek pastoral dimana kurangnya penghormatan terhadap Sanctissimum. Apa penerimaan dari hal baru ini oleh mereka yang Katolik yang masih mengingat Misa yang lama dan kaum religious mana yang lebih tradisional?

Novus Ordo telah diperkenalkan di ex-Uni Soviet pada awal 1970. Tapi misa tersebut dirayakan dengan semangat Vetus Ordo, dengan iman yang dalam dan penuh hormat. Di parokiku sendiri, dimana saya berada disana mulai tahun 1969-1973 di Tartu/ Estonia, Misa Kudus dirayakan menurut Novus Ordo, tapi “versus Deum” di High Altar, dalam bahasa latin, Komuni diberikan di Komuni Rail dengan berlutut dan di lidah. Jadi bagi orang tua saya dan saya sendiri sama sekali tidak ada perbedaan diantara kedua “ordo”. Perayaan “versus populum” diperkenalkan di Kazakhstan masih dijaman Uni Soviet, tapi cara perayaan sangat khidmat. Dulunya diperkenalkan dengan ketaatan yang sungguh-sungguh terhadap Tahta Suci. Setelah kejatuhan dan perpecahan dari Uni Soviet datang begitu banyak imam-imam misionaris dari beragam negara. Beberapa imam-imam ini memperkenalkan praktek liturgi yang tidak sesuai terhadap kehidupan devosi dari umat beriman yang diwariskan dari jaman penganiayaan. Praktek yang demikian contohnya menerima Komuni Kudus dengan berdiri, menggunakan gitar dan bertepuk tangan selama Misa Kudus, lagu sentimental dan lagu dengan melodi duniawi selama liturgi. Tapi syukur kepada Allah Konferensi Uskup-Uskup Katolik dari Kazakhstan menetapkan normanya, bahwa cara yang diakui untuk menerima Komuni Kudus adalah berlutut dan di lidah, kecuali dalam kasus ketika seseorang tersebut secara fisik tidak mampu untuk berlutut.

Bagaimana Yang Mulia mendeskripsikan iman  kawanan dombanya? Apakah mereka masih lebih hormat terhadap Sanctissimum daripada Katolik Barat atau kesalehan mereka terlalu terpengaruh oleh ateisme?

Katolik di Kazakhstan melestarikan budaya yang sangat berharga dari waktu penganiayaan, ini berarti: iman yang mendalam; penghormatan yang besar terhadap liturgi dan khususnya terhadap Ekaristi Kudus; kesadaran yang jelas tentang dosa, maka dari itu umat beriman menerima sakramen pengampunan lebih sering; cinta yang besar terhadap doa dan khususnya adorasi Ekaristi; cinta dan penghormatan terhadap imam-imam dan uskup-uskup; rasa dan penghormatan yang jelas terhadap hal yang suci.

Di Gereja Timur tidak ada reformasi liturgi secara drastis yang diperkenalkan di abad ke 20. Menurut pengamatan Yang Mulia, penghormatan untuk Ekaristi Kristus telah dipelihara di gereja-gereja ini atau telah dibasmi oleh pengaruh dari Soviet ateisme?

Gereja timur, keduanya baik Katolik atau Ortodoks, masih melindungi penghormatan yang besar terhadap tradisi litugi. Bagi mereka, mengubah liturgi berarti mengubah iman. Mereka berakar secara mendalam pada kesetiaan iman dan tradisi liturgi. Liturgi adalah sesuatu yang menurut mereka merupakan harta karun yang sakral, dimana Gereja telah secara hati-hati melindungi dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Sikap yang demikian dari Gereja Timur, dan Ortodoks merupakan hal yang berharga yang dapat dan harus memperkaya Gereja Latin yang berada dalam krisis doktrinal dan liturgi. Ini  pengalaman saya berhubungan dengan imam dan umat beriman dari gereja Ortodoks. Belajar dan menerima semangat liturgi dan ketaatan dari gereja-gereja Ortodoks akan menjadi sikap ekumene yang baik bagi Katolik.

Kita tidak dapat menunjukkan penghormatan yang cukup kepada Tuhan kita yang mulia. Bagaimana kita melatih diri kita sendiri secara berkesinambungan untuk mengembangkannya? Dapatkah Yang Mulia memberkan kita beberapa nasehat praktis dalam hal ini?

Pertama kita harus mengetahui lebih baik kepenuhan iman Katolik tentang Ekaristi, khususnya dokumen-dokumen yang sangat kaya dari Magisterium. Oleh karena itu akan sangat membantu sekali bagi kita untuk membaca kehidupan dan contoh dari Orang Kudus Ekaristi dan Martir. Lalu kita harus mengungkapkan iman kita dengan sikap penghormatan yang jelas, adorasi dan devosi terhadap Tuhan Ekaristis. Praktek adorasi Ekaristi mempunyai buah rohani. Kita telah mempromosikan adorasi Ekaristi di sini, dimana kita hidup dan bahkan menetapkan kelompok persaudaraan dari pemuja Ekaristi. Kita juga harus menghibur Tuhan Kita karena besar dan banyaknya kejadian sakrilegi dan pelecehan dan menawarkan dalam semangat pertobatan melalui tangan Perawan Maria Yang Terberkati, Wanita Ekaristi, tindakan silih dan perbaikan menurut contoh dari Malaikat, yang muncul kepada anak-anak Fatima.

Sebagai penutup, Saya ingin bertanya apa definisi imam yang saleh menurut Yang Mulia?

Imam yang saleh adalah imam yang menyadari siapakah dirinya, secara obyektif dan ontologis: “alter Christus” (Kristus yang lain), dan yang mencoba dengan rahmat Allah untuk menjadi setiap hari lebih “alter Christus” juga di akal budinya, intensinya, perkataannya dan perbuatannya menurut semangat dan contoh dari Kristus, Imam Kekal, Gembala yang baik, yang menyerahkan dirinya untuk keselamatan kekal jiwa manusia, yang tidak mencari keuntungannya sendiri, tapi seluruhnya demi kemuliaan Allah dan kebaikan rohani dari jiwa-jiwa. Dan bantuan yang paling besar di proses ini adalah, ketika ia setiap hari merayakan dengan iman dan cinta yang dalam terhadap Kurban Misa Kudus.

Diterjemahkan dari artikel berjudul “How the Domestic Church Preserved the Traditional Mass in the Former Soviet Union

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: