Mengenal Tradisi “May Crowning of Mary”

Mungkin kita di Indonesia jarang atau belum pernah mendengar tentang tradisi ini, apalagi menyaksikannya sendiri. Tradisi “May Crowning of Mary” (Koronasi Bulan Mei kepada Maria), atau cukup disebut “May Crowning”, memang lebih populer sebelum Konsili Vatikan II, namun tradisi ini masih banyak dilakukan di banyak negara seperti di Amerika Serikat. Dan, seperti banyak tradisi pra-KV 2 lainnya, May Crowning sangat indah untuk dilakukan dan sarat makna devosinya.

TENTANG MAY CROWNING

May Crowning adalah sebuah tradisi di mana umat beriman mempersembahkan rangkaian bunga mawar kepada Bunda Maria, seperti seorang anak yang menghadiahi ibunya dengan buket bunga pada Hari Ibu. May Crowning dilakukan pada bulan Mei, yang didedikasikan kepada Bunda Maria sebagai Bulan Maria.

May Crowning berbeda dari Solemn Crowning of Mary (Koronasi Megah) yang harus dipimpin oleh uskup pada tanggal 22 Agustus, yaitu Pesta Maria Dimahkotai di Surga menurut Kalender Liturgi Baru, atau Pesta Hati Maria Tak Bernoda menurut Kalender Liturgi Tradisional. Solemn Crowning diadakan dalam Misa Kudus dan merupakan bagian dari pesta Gereja, sementara May Crowning adalah bentuk devosi umat atau paroki. Selain itu, Solemn Crowning dilakukan dengan meletakkan mahkota sungguhan bertatahkan batu mulia, sementara May Crowning dilakukan dengan meletakkan mahkota bunga mawar.

Sesuai dengan namanya, “crowning” (memahkotai), maka bunga mawar dipersembahkan dalam bentuk lingkaran (garland) yang diletakkan di atas kepala patung Bunda Maria sebagai mahkota. Namun jika tidak ada patung, atau patung terlalu kecil, maka rangkaian bunga dapat dletakkan di kaki gambar, ikon, atau patung Bunda Maria.

MENGAPA MEMAHKOTAI BUNDA MARIA?

Bunda Maria digelari ratu karena ia adalah seorang pengikut Kristus yang paling sempurna, sehingga layak dianggap sebagai “mahkota atas segala ciptaan” (crown of creation).

Sebagai seorang ciptaan dan murid Kristus, Maria dikatakan sempurna karena ialah satu-satunya manusia yang ada bersama Kristus dari sejak Inkarnasi hingga Kenaikan-Nya ke surga. Maria tunduk secara sempurna kepada kehendak Allah. Maria menyaksikan dan turut dalam sengsara dan wafat Putranya dengan penuh kesetiaan dan iman yang mendalam.

Maria juga diselamatkan oleh Kristus dengan cara yang spesial dan penuh misteri: sebelum Maria jatuh ke dalam dosa saat ia dikandung, Kristus sudah menyelamatkannya dengan cara menghindarkan dia dari dosa, sehingga bunda perawan tersebut digelari “Yang Dikandung Tanpa Noda”.

Kita menghormati dan meneladani Maria supaya pada akhirnya kita pun layak menerima mahkota kita masing-masing, yaitu “mahkota kebenaran” (bdk. 2 Tim 4:8), “mahkota kehidupan” (bdk. Yak 1:12, Why 2:10), dan “mahkota kemuliaan” (bdk. 1 Pet 5:4) yang telah dijanjikan kepada mereka yang mengikuti Kristus dengan setia.

PROSESI MAY CROWNING

Bagaimana caranya melakukan prosesi May Crowning formal di gereja?

Tata cara May Crowning cukup fleksibel karena bersifat devosional, dan hendaknya dilakukan di luar Misa Kudus (atau dilakukan sebelum atau sesudah Misa). May Crowning dapat dilakukan di dalam atau di luar (di halaman) gedung gereja. May Crowning dapat dibandingkan dengan Adorasi atau Tuguran; biasanya setiap gereja atau paroki mempunyai teks dan instruksinya sendiri.

Gambaran umum prosesi dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama-tama, tentunya yang perlu dipersiapkan adalah patung Bunda Maria berukuran besar. Jika tidak ada patung, dapat digunakan ikon atau gambar Bunda Maria yang cukup besar.

Sebelum prosesi dimulai, dilakukan doa-doa dan pujian kepada Allah, diikuti dengan doa-doa konsekrasi kepada Bunda Maria. Puncak acaranya yaitu koronasi (memahkotai) Bunda Maria dengan lingkaran bunga mawar.

Perarakan atau prosesi dilakukan oleh anak-anak (atau remaja) perempuan dan laki-laki yang berpakaian rapi; di negara barat biasanya anak-anak perempuan mengenakan gaun putih beserta kerudung seperti saat Komuni Pertama dan anak-anak laki-laki mengenakan setelan kemeja dan jas.

Pengaturan dan panjangnya barisan dapat disesuaikan, namun yang terpenting adalah, sepasang anak perempuan dan laki-laki yang berbaris paling belakang adalah yang berusia paling tua dalam perarakan tersebut, dan mereka inilah yang akan memahkotai Bunda Maria. Si anak laki-laki membawa mahkotanya, sementara si anak perempuan adalah yang meletakkan mahkota tersebut di atas kepala Bunda.

Sementara pasangan anak yang paling belakang memahkotai patung Bunda Maria, anak-anak lain yang mengiringi prosesi meletakkan bunga yang dipegangnya masing-masing di kaki patung.

Prosesi dan koronasi diiringi dengan himne-himne Marian yang sesuai dan liturgis, contohnya “Ave Maria” oleh Schubert, himne “Immaculate Mary” (di Indonesia diterjemahkan sebagai “Di Lourdes di Gua”), dan himne “Salve Regina”.

Koronasi ditutup dengan doa yang sesuai oleh pemimpin acara, boleh awam atau imam. Bila Koronasi dipimpin oleh seorang imam, maka ia dapat menutup dengan berkat.

Contoh teks untuk Koronasi di paroki masing-masing dalam bahasa Inggris dapat dilihat di website ini (klik).

MAY CROWNING DI RUMAH MASING-MASING

Koronasi juga dapat dilakukan di rumah masing-masing bila anda memiliki patung atau gambar Bunda Maria. Sama seperti Koronasi di gereja, acara dimulai dengan mendaraskan doa-doa Marian klasik atau himne-himne Marian.

Mahkota bunga yang dipasang entah di gereja atau di rumah masing-masing itu akan ditinggalkan di atas kepala patung hingga bulan Mei berakhir.

BAGAIMANA JIKA TIDAK ADA BUNGA MAWAR?

Tradisi ini menggunakan bunga mawar karena memang bunga mawar, terutama mawar putih, merupakan simbol Bunda Maria. Jika mawar putih sulit diperoleh atau terlalu mahal, maka dapat digunakan mawar berwarna lain atau jenis bunga-bunga lain yang lebih mudah diperoleh.

BAGAIMANA JIKA TIDAK ADA PATUNG BUNDA MARIA, ATAU PATUNG TERLALU KECIL?

Jika tidak ada patung, maka boleh menggunakan ikon atau gambar Bunda Maria. Bunga-bunganya dapat diletakkan di depan gambar tersebut.

Jika patung terlalu kecil sehingga kurang proporsional dengan mahkota bunga, maka bunga dapat diletakkan di kaki patung.

MEMBUAT MAHKOTA BUNGA TERLALU SUSAH!

Jika anda ingin sekali menjalani tradisi May Crowning ini namun kesulitan merangkai mahkota bunga, maka bunga boleh dipersembahkan dalam bentuk buket, di dalam pot, atau bentuk tangkaian. Meskipun demikian, jika memang mampu, perlu diusahakan bahwa setidaknya ada mahkota bunga agar sesuai dengan namanya, “crowning” (memahkotai).

Berikut adalah foto-foto May Crowning dari Sekolah St. Ambrose on the Hill, St. Louis, Missouri, Amerika Serikat:

crowning01

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: