Surat Paskah 2014 dari Patriark Gregorios III (Gereja Katolik Melkit)

Image

Surat Paskah 2014

20 April 2014

dari Yang Terberkati Gregorios III

Patriark Antiokia dan Seluruh Bagian Timur

dari Aleksandria dan dari Yerusalem

 

ENGKAU PUN MENGALAMI KEBANGKITAN

Kita saat ini merayakan Pesta Kebangkitan yang mulia dari Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus untuk yang keempat kali berturut-turut sementara serangkaian peristiwa bencana yang disebut “Arab Spring” menghancurkan beribu-ribu penduduk dari beberapa negara Arab, dari Libya hingga Mesir, Palestina, Irak, dan terutama di Suriah.

Tepat di negeri inilah orang-orang Kristen ditandai sebagai “anak-anak Kebangkitan”. Mereka dipanggil untuk berbagi dalam Kebangkitan Yesus.

Surat Paskah saya tahun ini dibagi ke dalam dua bagian: pertama adalah bagian umum dan meditasi spiritual mengenai Kebangkitan Sang Juruselamat, di mana semua yang percaya pada Yesus Kristus turut berbagi di dalamnya, atau lebih tepatnya semua orang yang percaya kepada Allah dan dunia yang akan datang menunggu sebuah kebangkitan atau kebangunan (baath) dan pembaharuan (nushur), yang berarti bahwa orang Yahudi, Kristen, dan Muslim semuanya berbagi dalam pengharapan ini.

Inilah alasannya mengapa saya mempersembahkan ucapan yang tergambar dari judul surat ini kepada semua saudara Kristen kami dan sesama penduduk di Timur Tengah yang tercinta, untuk mengatakan, dengan penuh kasih dan harapan, kepada setiap pria dan wanita: engkau pun mengalami kebangkitan.

Bagian kedua dari surat saya diperuntukkan bagi situasi tragis di negeri tercinta kami, Suriah, yang tengah memikul salibnya, namun yang semoga suatu hari nanti mencapai sukacita kebangkitan.

Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan umat manusia

Bangkitlah, O manusia, dari antara orang mati: Yesus yang bangkit akan bercahaya atas kamu! Ikon Kebangkitan merupakan sebuah panggilan kebangkitan: Kristus yang bangkit menggenggam tangan umat manusia (Adam dan Hawa) untuk menarik mereka keluar dari makam.

Simbol ini jelas. Sebagai manusia, anda dipanggil kepada kebangkitan. Dalam tradisi Timur, setiap hari Minggu sepanjang tahun kita merayakan Kebangkitan. Kebangkitan adalah pusat hidup Kristen dan segala kehidupan. Sebagai manusia, setiap hari anda menyaksikan kematian dalam berbagai jenis kesakitan fisik dan kesakitan rohani melalui dosa. Selain itu, anda pun setiap hari dipanggil untuk melawan benih-benih kematian di dalam tubuh dan jiwa anda. Demikianlah anda senantiasa berada dalam perjalanan yang selalu diperbarui menuju kebangkitan. Ini berarti sebuah kehidupan baru, dengan sebuah dimensi baru, pengangkatan, cakrawala baru, harapan, kasih, aspirasi, sebuah visi akan kesejahteraan dan kelimpahan, sebuah pencarian akan kekudusan. Anda dipanggil kepada kebangkitan ini, karena anda berbagi dalam Kebangkitan Kristus.

Kebangkitan, fondasi iman kita

Santo Paulus berkata: “Seandainya Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah imanmu, dan kamu masih tinggal dalam dosa-dosamu.” (1 Korintus 15:17) Seluruh iman Kristen kita sia-sia tanpa Kebangkitan Yesus. Karena itulah Kebangkitan merupakan fondasi dari Pengakuan Iman kita: “Aku percaya… akan satu Tuhan Yesus Kristus … yang … juga disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus. Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci…” Kemudian diikuti artikel berikutnya: “Aku menantikan kebangkitan orang mati…” Jadi, Kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita sendiri bersama Dia adalah pilar-pilar fondasi dari iman Kristen.

Kebangkitan Yesus juga berarti bahwa kehidupan manusia tidak berakhir dengan kegagalan, dosa, keputusasaan, penyakit, penderitaan, bencana, kehancuran, ketiadaan, kematian, dan makam. Tetapi, setelah hidup dan kematian di sini, ada sebuah kehidupan… dan kebangkitan manusia, jiwa dan raga. Jadi, apabila benar perkataan bahwa kita dilahirkan untuk mati, maka perkataan yang lain ini juga lebih benar: Kita akan mati untuk hidup dalam kehidupan tanpa kematian sampai selama-lamanya. Demikianlah, seperti yang telah kita katakan di atas, Pengakuan Iman kita berakhir demikian: “Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat. Amin.” Dengan demikian, akhir hidup adalah permulaan hidup bagi kita.

Gereja Makam Kudus: Gereja Kebangkitan

Dalam tradisi Gereja Barat dan dalam sebagian besar bahasa-bahasa Eropa, gereja di Yerusalem ini disebut sebagai Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre). Di sini, Salib ditekankan sebagaimana Jalan Salib berakhir dengan Perhentian Penyaliban. (Perhentian Kebangkitan ditambahkan kemudian, setelah Konsili Vatikan II).

Di Kekristenan Timur, kita menamakan gereja tersebut dalam bahasa Arab, Yunani, Syriac, Koptik, Armenia, dan Etiopia, sebagai Gereja Kebangkitan. Melalui nama ini, warga Timur hendak menekankan makam yang kosong dan Kebangkitan yang mulia. Siklus ini berkesinambungan dalam Sengsara Kristus, Penyaliban-Nya, penguburan, dan akhir yang penuh sukacita yang mengambil bentuk Kebangkitan dari antara orang mati. Sungguh, Sengsara, Salib, penderitaan, dan kematian adalah sebuah kehampaan tanpa Kebangkitan dan tidak ada cara lain untuk menuju Kebangkitan selain melalui jalan yang membawa kepada Salib.

Jadi, melalui penamaan ganda ini — Gereja Makam Kudus dan Gereja Kebangkitan — digabungkanlah makna paling dasar dan makna paling luhur dari setiap hidup manusia, seperti halnya dalam hidup Tuhan Kita Yesus Kristus.

Engkau pun mengalami salib dan kebangkitan! Golgota begitu dekat jaraknya dari makam yang kosong. Demikian halnya dengan kehidupan: Golgota, salib, penderitaan, kesakitan, bencana, dan kematian dari setiap orang adalah jalan dan pintu masuk dalam kebahagiaan dan sukacita.

Ciumlah Salib! Terimalah ia! Hormatilah ikon Kebangkitan dan terimalah misteri Kebangkitan dalam hidup sehari-harimu! Dengan begitu engkau akan menyatukan dalam kehidupanmu sendiri misteri-misteri Salib dan Kebangkitan, sama seperti bangunan Gereja Kebangkitan mencakup situs Golgota, Penyaliban, makam yang kosong, dan Kebangkitan yang mulia.

Terberkatilah engkau dengan salib dan kebangkitan! Berbahagialah, karena Kebangkitan memenuhi hidupmu dengan sukacita, kegembiraan, harapan, dan kedamaian.

Siklus Hari Minggu setelah Paskah: sebuah perjalanan kebangkitan

Siklus hari-hari Minggu setelah Paskah adalah perjalanan selama empat puluh hari bersama Kristus, yang, setelah Kebangkitan-Nya, tinggal bersama murid-murid-Nya selama empat puluh hari, menampakkan diri kepada mereka dan berbicara kepada mereka mengenai hal-hal Kerajaan Allah.

Ia sungguh hidup. Ia berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan para murid, yang rentan jatuh dalam keraguan dan ketakutan. Ia meneguhkan iman Tomas, yang meragu lebih banyak daripada yang lain. Ia menganugerahkan mereka kedamaian dan menguatkan kehendak mereka.

Ia adalah teman seperjalanan mereka. Ia menyertai Lukas dan Kleopas dalam perjalanan ke Emaus. Ia bersantap bersama murid-murid-Nya. Dengan mereka, Ia berbagi pahit-manisnya kehidupan.

Ia memandu mereka ke dalam hidup baru dan mendelegasikan kekuasaan kepada murid-murid-Nya, memenuhi mereka dengan Roh Kudus sehingga mereka mampu menjadi saksi-Nya hingga ke ujung bumi.

Ia adalah yang membangun Gereja di mana sebuah komunitas yang hidup percaya akan Kebangkitan, kehidupan baru, dan dunia yang baru. Gereja tersebut dibangun di atas Kristus, dan di atas iman dan kasih Petrus. “Apakah engkau mengasihi Aku?” Bila engkau mengasihi Aku, maka engkau dapat menjadi gembala yang sejati, yang mampu untuk memberi, melayani, dan menyelamatkan.

Ia sungguh hidup, sesuai dengan janji-Nya kepada murid-murid-Nya yang Ia kasihi. Ia menyertai mereka hingga akhir zaman.

Kristus yang hidup memampukan segenap orang beriman dan seluruh umat manusia yang mencari Dia untuk berbagi dalam hidup dan Kebangkitan-Nya.

Peringatan hari-hari Minggu yang membentuk siklus Paskah mengarahkan kita kepada hal tersebut.

Minggu Tomas adalah peneguhan akan Kebangkitan Yesus. Diikuti dengan Minggu Para Wanita Pembawa Rempah-rempah, bersama dengan Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, yang dihormati oleh Gereja sebagai anak-anak Kebangkitan berkat kesetiaan hingga akhir (dan tidak peduli akan akhir) kepada Kristus.

Minggu Si Orang Lumpuh merupakan sebuah tafsiran yang menakjubkan dari ikon Kebangkitan. Umat manusia berbagi dalam Kebangkitan Kristus, yang membangkitkan mereka dari penyakit, penderitaan, dan kecacatan jiwa dan raga. Minggu Wanita Samaria adalah sebuah petunjuk yang membantu kita memahami bahwa kabar gembira tentang kehidupan baru di dalam Kristus tidak terbatas atau dimonopoli oleh satu bangsa atau satu ras saja.

Minggu Orang yang Buta Sejak Lahir mengajar kita bahwa Kristus yang bangkit dari kematian adalah cahaya dunia dan cahaya bagi seluruh hidup kita.

Melalui hidup Kristen kita, kita dipanggil untuk berjalan menuju kebangkitan, seperti Yesus dahulu berjalan bersama rasul-rasul dan sahabat-sahabat-Nya selama hidup-Nya di dunia, serta sebelum dan sesudah Kebangkitan, karena Ia ingin menjadi rekan seperjalanan kita dalam perjalanan menuju hidup baru. Kita adalah putera dan puteri Kebangkitan, dalam perjalanan menuju kebangkitan kita sendiri.

Biji gandum itu

“Jikalau biji gandum itu tidak jatuh ke tanah dan mati, ia akan tinggal satu biji saja; tetapi jika ia mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24)

Tidakkah engkau menemukan misteri kehidupanmu sendiri di dalam kisah biji gandum, dan di dalam kehidupan, wafat, dan Kebangkitan Yesus? Inilah yang selalu diulang-ulang dalam himne Pesta Paskah: “Kemarin aku dikuburkan bersama-Mu, ya Kristus; namun hari ini aku bangkit bersama Engkau yang bangkit. Kemarin aku disalibkan bersama-Mu; sudilah memuliakan aku bersama-Mu, ya Juruselamat, dalam kerajaan-Mu.” (Syair Ketiga dari Orthros)

Engkau adalah biji gandum yang diberikan oleh Allah untuk sesamamu. Engkau adalah biji gandum bagi keluarga, masyarakat, dan negaramu. Engkau dipanggil untuk berbuah dan memberikan hidup melalui kegiatanmu, pemberian dirimu sendiri, penderitaan, dan permasalahanmu. Dengan demikian engkau, bersama dengan negerimu dan masyarakatmu, akan mengalami kebangkitanmu.

Pesta Paskah berarti Pembebasan

Doa-doa Paskah mengulangi maklumat Kebangkitan dan pembebasan: “Dengan Sengsara-Mu, ya Kristus, Engkau telah membebaskan kami dari kesengsaraan.” (Mazmur Penerangan Lampu dari Vigili Paskah). Dan selanjutnya: “Engkau bangkit, ya Kristus, dan telah membebaskan kami. Engkau telah memimpin umat manusia menuju cahaya dan kebebasan.” Dalam doa-doa ini, kita menemukan gema dari perkataan Yesus: “Kamu akan menjadi murid-murid-Ku, jika kamu tetap berpegang pada perkataan-Ku. Maka kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran akan membebaskan kamu. …Maka jika Putera membebaskan kamu, kamu akan sungguh-sungguh bebas.” (Yohanes 8:31-32 dan 36)

Pada awal misi-Nya, Yesus menyatakan bahwa tujuan dari Injil dan misi ilahi-Nya adalah untuk memenuhi nubuat Yesaya: “Roh Tuhan ada pada-Ku. Dia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta; untuk membebaskan orang-orang yang tertindas…” (Lukas 4:18-19; Yesaya 61:1-2)

Yesus menekankan kebebasan umat manusia, kebebasan setiap orang, dengan mengatakan: “Kamu akan bebas.” (Yohanes 8:33)

Manusia telah memperbudak sesama mereka, namun Allah telah membebaskan mereka. Iman, doktrin, tulisan suci, dan semua pesta iman kita adalah panggilan menuju kebebasan dan pembebasan, yang mendukung segala upaya akan kebebasan dan martabat. Lebih lanjut lagi, hal-hal tersebut adalah panggilan untuk membebaskan keseluruhan manusia, tidak hanya dalam arti situasi politik. Panggilan besar yang terus berlanjut ini adalah panggilan untuk menyempurnakan kebebasan rohani manusia, demi bebasnya hati dan jiwa kita dari dosa, demi kebebasan hati nurani dan pikiran. Ia adalah panggilan untuk berjalan dalam barunya kehidupan, cahaya, kebebasan yang sejati, dan untuk mengembalikan keindahan citra Allah dalam manusia, sebuah citra kemuliaan, martabat, kehormatan, keadilan, kasih, dan kedamaian.

Anak-Anak Kebangkitan

Istilah ini sangat dikenal oleh para rahib, terutama yang berada di Palestina. Anak-anak Kebangkitan adalah sebuah kelompok Kristen yang berdevosi kepada pelayanan liturgy Gereja. Karena mereka semua lajang dan sudah dibaptis, mereka termasuk dalam kelompok kaum rahib dan pertapa yang mendedikasikan diri mereka terhadap pelayanan khusus ini.

Baptis berhubungan kuat dengan Kebangkitan. Dalam abad-abad pertama, baptis dilakukan dalam Masa Paskah. Inilah mengapa Santo Paulus memberi tahu kita demikian: “Kamu tahu, bahwa dalam pembaptisan yang menyatukan kita dengan Kristus, kita semua dibaptis dan dibenamkan dalam kematian-Nya. Tetapi oleh pembaptisan dalam kematian-Nya, kita telah dikuburkan bersama dengan Kristus, dan seperti Kristus dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian pula kita mulai menjalani hidup yang baru.” (Roma 6:3-4)

Santo Yohanes dari Damaskus berkata dalam Kanon Paskah: “Kemarin aku dikuburkan bersama-Mu, ya Kristus; namun hari ini aku bangkit bersama Engkau yang bangkit.” (Syair Ketiga)

Sang martir perawan Santa Thekla berkata kepada Yesus, mempelainya, dalam himne, “Aku mengasihi Engkau, ya Mempelaiku, dan dengan mencari Engkau, aku melewati berbagai kesusahan: aku disalibkan dan dikuburkan bersama Engkau dalam baptis-Mu, dan menderita bagi-Mu, supaya aku boleh bertakhta bersama Engkau; aku mati bagi-Mu supaya aku dapat hidup bersama-Mu!”

Baptis adalah sebuah perjanjian dengan Kristus yang bangkit dan hidup, dan panggilan kepada hidup baru di dalam Kristus. Itulah sebabnya jemaat Kristen perdana menunda menerima Sakramen Baptis hingga mereka sungguh-sungguh dapat memenuhi tuntutan sakramen tersebut, yaitu, menolak Setan dan dosa dan menghidupi hidup yang berahmat, sehingga mereka dapat sungguh menjadi anak-anak Kebangkitan. Jadi, Gereja memaklumkan dirinya sebagai sebuah komunitas yang hidup, sebuah komunitas kebangkitan.

Putera dan puteri Gereja, karena mereka telah dibaptis ke dalam Kristus, adalah putera dan puteri Kebangkitan, Perjanjian Baru dengan Kristus yang hidup dan semestinya membangun sebuah tubuh yang kudus dan terpilih.

Hai, orang-orang Kristen yang sudah dibaptis, anak-anak Yerusalem, kota Kebangkitan, anak-anak Tanah Suci, tanah Kebangkitan, pahamilah mulianya panggilanmu.

Kebangkitan adalah panggilan kepada hidup Kristen yang penuh semangat, serius, dan berkomitmen. Kepada engkau sekalian putera dan puteri Kebangkitan, perkenankan saya menyampaikan ucapan maklumat Kebangkitan: Kristus telah bangkit! Sungguh, Ia telah bangkit!

Harapan akan kebangkitan

Kita berharap bahwa para martir kita akan menikmati kebangkitan ini dan bahwa kita yang di dunia akan hidup untuk menyaksikannya! Kita ingin menyatakan sebagai sebuah bangsa bahwa kita percaya pada kebangkitan dan hidup. Dalam segala kondisi kehidupan, tidak peduli situasi hidup kita saat ini, kita percaya bahwa:

Maut akan dikalahkan

Kekerasan ditolak

Kekuasaan dihancurkan

Busur dipatahkan

Lingkaran diperlebar

Ikatan dilepaskan

Kubur-kubur dibuka

Dan kegelapan dihalau.

 

Cahaya akan bersinar

Matahari terbit

Bunga-bunga mekar

Kuncup-kuncup tumbuh

Tunas-tunas matang

Anak-anak tertawa dan menari

Ibu-ibu yang berduka tertawa

Umat manusia yang baru akan lahir

Peradaban kasih akan dibangun di atas tanah para nabi, para rasul, dan para kudus, di Tanah Suci dan kota Yerusalem, kota Kebangkitan dan di negeri-negeri Timur Tengah, tempat lahirnya Kekristenan, agama-agama, dan peradaban.

Kita orang Kristen dan Muslim akan bersama-sama tinggal dalam perjalanan para martir ini menuju masa depan yang lebih baik, menuju kehidupan, martabat, dan kebangkitan.

 

KRISIS SURIAH

Baiklah kita menawarkan di sini beberapa aspek pengajaran Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral Gereja dalam Dunia Modern Gaudium et Spes. Ini akan dapat menerangi tragedi krisis di Suriah:

Perang menghancurkan harapan akan kebangkitan

Sepanjang keberdosaan manusia, ancaman akan perang terus bergantung di atas mereka, dan akan terus bergantung demikian sampai kedatangan Kristus yang kedua kali. Namun sepanjang manusia menghalau dosa melalui persatuan cinta kasih, mereka akan menghalau kekerasan pula dan membuat kata-kata ini menjadi kenyataan: “Mereka akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain; dan mereka tidak akan berlatih untuk berperang.” (Yesaya 2:4) (N° 78 § 6)

Tentu saja, perang belum tercerabut sepenuhnya dari perkara umat manusia. Juga, fakta yang amat disayangkan bahwa perang telah terjadi, tidak berarti bahwa pihak-pihak yang sedang berperang itu baik-baik saja. (N° 79 § 4)

Sungguh, bila alat-alat yang kini dapat ditemukan di gudang senjata bangsa-bangsa besar ingin digunakan secara maksimal, maka ini berarti pembantaian total di antara mereka satu sama lain… (N° 80 § 1)

Keunikan dari ancaman bahaya perang modern yaitu bahwa mereka yang memiliki senjata ilmiah modern memperoleh kesempatan untuk melakukan tindakan keji tersebut; terlebih lagi, melalui untaian peristiwa yang tidak dapat dicegah, hal ini dapat melontarkan manusia ke dalam pengambilan keputusan-keputusan yang paling berbahaya. (N° 80 § 5)

Kepercayaan internasional

[Marilah kita] …semakin menyadari tanggung jawab kita dan mencari upaya-upaya untuk meredakan pertentangan melalui cara yang lebih manusawi. (N° 81 § 3)

Pusat-pusat internasional tertinggi yang ada harus mendedikasikan diri mereka dengan penuh semangat pada pencarian cara-cara yang lebih baik untuk mencapai keamanan umum…. Kedamaian harus lahir dari saling mempercayai antara bangsa-bangsa dan bukan dipaksakan melalui kengerian senjata, dan semua pihak harus bekerja sama untuk mengakhiri jalan penggunaan senjata. (N° 81 § 4)

Peran orang beriman

[Anggota Gereja harus] mengembangkan di antara umat manusia wawasan yang lebih tajam akan tujuan hidup mereka yang utuh, dan dengan demikian memimpin mereka untuk membentuk dunia seturut martabat manusia yang luhur, untuk mencari persaudaraan yang universal dan yang berakar lebih dalam, dan untuk menjawab keadaan-keadaan yang mendesak pada zaman ini dengan usaha-usaha yang ksatria dan penuh persatuan yang lahir dari cinta kasih. (N° 91 § 1)

Visi iman

Nilai-nilai penginjilan yang diekspresikan oleh Gereja dalam ajaran-ajarannya yang dikutip di atas telah menginspirasi sikap dan pernyataan saya, perundingan dan wawancara saya, juga surat-surat pastoral saya (mulai tahun 2001 hingga seterusnya), partisipasi saya dalam pertemuan internasional, kunjungan ke ibu kota-ibu kota, dan perjumpaan dengan pemimpin-pemimpin agama dan politik dari partai-partai dengan beragam kecondongan.

Melalui semua yang saya ingin rumuskan, keyakinan saya berdasarkan nilai-nilai iman, dan visi Kristen dan nasional saya sebagai seorang uskup yang, dengan mata iman, harapan dan kasih, solidaritas dan tanggung jawab, dan berharap untuk terlibat dalam dialog, solidaritas, tanggung jawab dan rekonsiliasi, adalah mengenai krisis Suriah ini, yang tidak dapat dibandingkan dengan peristiwa apapun sebelumnya dalam sejarah Suriah dan Timur Tengah secara keseluruhan.

Atas dasar keyakinan spiritual ini, kita diwajibkan untuk menyisihkan semua perasaan jijik, kebencian, kekerasan, balas dendam, kerusakan, atau serangan terhadao kehidupan siapapun. Mari kita semua bersama-sama sebagai bangsa Suriah menyatakan iman kita dalam kebangkitan dan hidup. Saya percaya pada kehidupan, seperti halnya kita semua. Saya percaya, kami percaya, pada kasih, toleransi, belas kasih, persahabatan, rekonsiliasi, perdamaian, pengampunan, kemanusiaan, dan saling menyayangi. Saya tidak percaya pada kekerasan, teror, balas dendam, atau pembantaian.

Bahaya dari efek krisis Suriah

Begitu banyak penderitaan telah menimpa bangsa Suriah pada semua lapisan sosial dan kelompok agama. Setiap hari, statistik menunjukkan angka-angka yang mengejutkan yang membebani setiap warga Suriah.

Kita perlu terutama untuk memusatkan perhatian pada bahaya lain yang mengancam masyarakat kita akibat krisis Suriah dan diproduksi oleh ide-ide takfiri (ekstremis). Bahkan, ada bahaya dari peningkatan rasa benci, kepahitan, dendam, ketegaran hati, kekerasan, ketidakadilan, penindasan, pemerasan, isolasi, penolakan, dan penghinaan terhadap perasaan dan keyakinan orang lain, ketidakpercayaan, kecurigaan, fundamentalisme, dan meluasnya prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Kita semua tahu bahwa semua hal tersebut lebih berbahaya bagi masyarakat Suriah daripada luka fisik pada tubuh warga Suriah, lebih berbahaya bahkan dari perang internal yang telah melanda Suriah selama tiga tahun terakhir. Itulah sebabnya mengapa sangat penting untuk memperkuat dan melindungi masyarakat dan tanah air kita dari bahaya-bahaya busuk ini dan kecenderungan ideologis yang destruktif.

Kami para uskup Gereja benar-benar harus mendedikasikan diri untuk melawan kecenderungan-kecenderungan menyimpang ini dengan cara menetapkan nilai-nilai Injil Suci dan ajaran Gereja dengan jelas (terutama Konsili Vatikan II yang disebutkan di atas), yang berkaitan dengan masalah-masalah dan pemikiran-pemikiran tersebut.

Itulah sebabnya saya berusaha untuk membuat wadah cendekia Suriah yang berisikan para intelektual Kristen yang berkomitmen dan prihatin dengan kesulitan yang dihadapi masyarakat Suriah. Wadah ini akan merumuskan prinsip, metode, dan program berdasarkan nilai-nilai nasional kita dan berdasarkan ajaran Injil suci. Itu semua akan diatur dalam sebuah piagam untuk perilaku pribadi orang Kristen, sebuah program untuk keterlibatan praktis umat Kristen di semua sektor masyarakat Suriah, dan untuk melawan ide-ide destruktif yang telah diuraikan di atas, yang, meskipun berasal dari luar Suriah, cenderung menyebabkan perpecahan dalam masyarakat kita.

Kami percaya bahwa menciptakan forum untuk cita-cita dan tujuan tersebut akan memiliki dampak intelektual yang besar terhadap masyarakat Suriah kami. Forum akan menguraikan cara-cara interaksi Kristiani dengan masyarakat Suriah dan komitmen pada isu-isu masyarakat tersebut, dalam kerangka solidaritas Muslim-Kristen, demi mengupayakan masyarakat yang lebih baik, yang didirikan di atas nilai-nilai penginjilan dan iman Kristen dan Muslim.

Semoga, forum ini akan memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk dan mengembangkan perspektif Kristen mengenai krisis Suriah, membantu untuk menjamin masa depan orang Kristen di Suriah dan negara-negara Arab lainnya, juga menjamin keberadaan, peran, serta misi-misi mereka dalam masyarakat Arab. Kami berharap bahwa rancangan wadah cendekia ini akan didiskusikan dan dimasukkan ke paroki-paroki kita, di antara kaum klergi dan para pemikir yang prihatin dengan masalah negeri kita.

Kami juga perlu menyampaikan pemikiran lainnya mengenai topik takfiri Muslim dan konsekuensinya. Gelombang ideologi ini membuat Islam terlihat buruk dan cukup jelas menyiratkan suatu konspirasi melawan Islam dan umat Muslim, atau lebih tepatnya terhadap seluruh dunia Arab dengan rakyat Muslim dan Kristen-nya. Kementerian Wakaf telah bergegas membela Islam dan telah menerbitkan dua volume studi dengan judul Fiqh [=hukum] dalam waktu Krisis, yang menolak ekstremisme ideology takfiri.

Kami mengucapkan selamat kepada Kementerian akan publikasi ini, karena ini adalah cara terbaik untuk membela Islam dan melawan kecenderungan takfiri.

Kasih tidak pernah gagal

Kasih menutupi sejumlah besar dosa. Kasih tidak pernah gagal. Kasih akan membangun kembali Suriah, yang akan diperbarui. Itulah yang Yesus ajarkan kepada kita dalam Injil-Nya. Saya berpikir bahwa itu adalah kontribusi yang terbaik yang dapat ditawarkan oleh umat Kristen di tengah-tengah tragedi Suriah yang sekarang memasuki tahun keempat.

Ya, partisipasi terbaik terdiri dari kenyataan bahwa orang-orang Kristen dapat menyebarluaskan kasih universal ini di mana-mana di Suriah. Ini adalah yang terbaik yang dapat kita tawarkan kepada negara kita tercinta, Suriah, untuk saudara-saudara sesama warga Suriah, tanpa kecuali, sampai kepada parit-parit dari garis depan pertarungan.

Suriah, kebangkitan adalah milikmu! Setiap orang memiliki hak untuk kehidupan dan kebangkitan. Semoga Suriah, yang telah masuk pada tahun keempat jalan salibnya, terus menjadi tanah air dari kebangkitan, kehidupan, dan kasih!

Kami tidak ingin ada martir lagi! Kami tidak ingin ada anak yatim lagi! Kami tidak ingin lebih banyak janda dan lebih banyak ibu kehilangan anak-anak mereka! Kami tidak ingin lagi jutaan anak-anak yang mengalami trauma! Sudah cukup luka-luka ini! Sudah cukup kecacatan dan mutilasi ini! Sudah cukup rasa dihantui ketakutan, kebencian, dan kepahitan! Sudah cukup penculikan dan pemerasan!

Kami menginginkan saksi hidup bagi Suriah dan sejarah, peradaban kasih, perkembangan, pengetahuan, dan industrinya, orang-orang Suriah yang akan “menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain; dan mereka tidak akan berlatih untuk berperang.” (Yesaya 2:4)

Kami juga mengatakan: Letakkan senjatamu! Kesampingkan senjatamu! Ubah mereka menjadi mata sabit, instrument-instrumen kehidupan, pembangunan, dan pengembangan! Saya lelah harus berbicara tentang Suriah yang sedih dan menderita, tentang pengungsi, tunawisma, orang yang terluka, yang dibunuh, martir-martir, dan yang kelaparan. Saya ingin berbicara tentang Suriah dengan aman, bahagia, dan puas, tentang kebahagiaan mereka, tingkah-polah mereka, perayaan mereka, pernikahan mereka. Saya ingin mengalami pesta perkawinan Suriah yang penuh sukacita, bangkit, dan hidup!

Saya ingin Suriah untuk bergembira kembali sementara merayakan Pesta Paskah, yaitu Pesta Kebangkitan, seperti halnya Petrus dan para rasul lainnya, dua murid di Emaus, Maria Magdalena, dan para wanita pembawa rempah-rempah juga bergembira .

Saya ingin Damaskus dan seluruh Suriah untuk menghidupi lagi sukacita Paulus ketika ia bertemu Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, di pintu gerbang Damaskus.

Gereja Damaskus yang menderita dan berdoa

Gereja Damaskus berbangga karena dikenal akan ketekunan perayaannya selama Masa Prapaskah Agung. Kami dapat meyakinkan anda, dan kami berterima kasih kepada Tuhan, untuk kenyataan bahwa hampir setiap hari, hampir semua gereja-gereja kita benar-benar penuh selama Prapaskah

Demikianlah Gereja Damaskus yang menderita, sama seperti Gereja Suriah yang juga menderita, berubah menjadi ribuan tangan yang berdoa untuk para korban perang, kekerasan, dan teror, dan memohon perdamaian, keamanan, rekonsiliasi, stabilitas, kasih, dan akhir dari penderitaan jutaan pengungsi, orang cacat, terluka, dan berduka.

Jadi Gereja Damaskus dan seluruh Suriah telah meneruskan jalan salibnya, dengan keberanian, harapan, dan kasih selama Prapaskah Agung ini dan tidak memberi kesempatan bagi cahaya harapan ini untuk mati dalam hati dan pikiran umat beriman, sebagaimana yang diserukan oleh Yang Mulia Paus Frasiskus kepada kami, untuk menjaga “keberanian doa” ( Pesan untuk Prapaskah 2014), dan berharap agar fajar perdamaian dan kebangkitan segera menyingsing bagi seluruh warga penduduk dan negara kita.

Sapaan kepada Suriah

Hai sesama warga Suriah yang terkasih, saya mengasihi Anda! Allah mengasihi Anda! Allah meminta Anda untuk mengasihi satu sama lain. Allah ingin Anda didamaikan dalam persekutuan, membentuk kesatuan untuk negara kita tercinta Suriah, satu-satunya tanah air kita. Suriah sudah menjadi tanah air kita bersama selama berabad-abad. Mari kita bersatu! Marilah kita menjadi satu hati, satu pikiran, satu tujuan! Mari kita bersatu demi cinta, kebaikan, harmoni, toleransi, rekonsiliasi, dan perdamaian! Bersama-sama kita mampu memecahkan masalah kita, memulihkan luka-luka kita, mengatasi perbedaan-perbedaan kita, dan mewujudkan harapan dan aspirasi semua orang.

Bersama-sama, kita dapat menjamin masa depan generasi muda kita. Bersama-sama, kita mampu membangun kembali dan memperbaharui Suriah, memungkinkan para pengungsi untuk pulang dan membangun kembali rumah, sekolah, dan lembaga-lembaga penting, gereja-gereja dan masjid-masjid kita.

Sebagai warga negara, patriark, dan uskup Suriah, siap untuk memberikan hidup dan nyawa-Nya untuk Suriah tercinta, saya berbalik kepada Anda dan menasihatkan Anda: dengarlah suara dari sejarah, warisan dari orang tua dan nenek moyang kita, yang tinggal bersama-sama, bercocok tanam bersama, dan bersama-sama membangun rumah dan istana, keajaiban peradaban, kemajuan, kesejahteraan, keamanan, dan stabilitas.

Ada doksastikon yang sangat indah di antara stikhera Paskah: “Hari ini adalah Hari Kebangkitan! Mari kita bersinar dengan terang Pesta; mari kita merangkul satu sama lain; mari kita katakan, ‘Saudara-saudara’ bahkan kepada mereka yang membenci kita, dan marilah kita mengampuni semua melalui Kebangkitan, sehingga kita bisa meneriakkan keras-keras: Kristus telah bangkit dari antara orang mati; menginjak-injak kematian dengan kematian, dan telah membebaskan kita dari kubur dan memberikan kehidupan!”

Ya, mari mengampuni! Mari berdamai! Betapa bahagianya kami ketika membaca atau mendengar berita rekonsiliasi di sana-sini, di antara warga negara, di lingkungan, dan desa-desa… Itu membuat masa depan yang menjanjikan! Itulah slogan yang saya diluncurkan pada bulan Agustus 2012: “Bagi Suriah, rekonsiliasi adalah satu-satunya penyelamat”. Kami menyertai segala upaya untuk mendukung rekonsiliasi, melalui doa-doa kami, partisipasi kami dalam berbagai kongres dan wawancara dengan media sosial… Kami memberkati usaha-usaha Kementerian Suriah untuk Rekonsiliasi.

Saya tidak lagi takut

Paus Fransiskus akan mengunjungi Tanah Suci di Yordania dan Palestina pada bulan Mei mendatang. Ini adalah kunjungan untuk memperingati ulang tahun kelimapuluh dari pertemuan Paus Paulus VI dan Patriark Ekumenis Athenagoras tahun 1964 di Yerusalem, kota Kebangkitan. Itu adalah pertemuan pertama antara Paus Roma dan Patriark Konstantinopel sejak Skisma Besar tahun 1054. Setelah itu, ada beberapa pertemuan yang berbeda di Konstantinopel, Roma, dan di tempat lain.

Kami mengucapkan selamat datang kepada Yang Mulia Paus Fransiskus. Kami mengucapkan terima kasih atas cinta dan doa bagi Suriah, dan sebutan beliau tentang Suriah pada beberapa kesempatan, sehingga memanggil dunia untuk bekerja bagi perdamaian di tanah kami. Kami akan menyampaikan pesan kepadanya atas nama Majelis Hierarki Katolik di Suriah, dan kami berharap bahwa beliau akan datang mengunjungi Suriah untuk merayakan kemenangan dan perdamaian.

Di sini saya ingin mengutip kata demi kata sebuah pernyataan rohani yang indah oleh almarhum Patriark Konstantinopel Athenagoras. Semoga ia menginspirasi semua warga Suriah bahwa kekuasaan yang sesungguhnya didasarkan pada cinta, karena cinta melenyapkan ketakutan:

“Saya telah mengobarkan perang melawan diri sendiri selama bertahun-tahun. …Tetapisekarang saya dilucuti. Saya tidak lagi takut dari apa-apa karena cinta mengusir rasa takut. Saya dilucuti dari kebutuhan untuk menjadi benar dan membenarkan diri sendiri dengan mendiskualifikasi orang lain. …Saya hanya ingin menyambut dan berbagi. …Apa yang baik, benar, dan nyata adalah selalu yang terbaik bagi saya. Itu sebabnya saya tidak takut. Ketika kita dilucuti dan diri kita direbut, jika kita membuka hati kita kepada Allah yang menjadi Manusia yang memperbarui segalanya, maka Dia menghapus masa lalu yang menyakitkan dan mengungkapkan masa yang baru di mana segala sesuatu mungkin.” [Diterjemahkan oleh Jean Vanier dalam Menemukan Perdamaian]

Konferensi Jenewa harus diadakan di Suriah

Kami menegaskan dan menyatakan, dalam kebenaran dan ketulusan, dengan menghormati semua kelompok di Suriah, oposisi, dan semua faksi, dan saya mengatakan ini juga kepada negara-negara Arab lainnya, Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, Federasi Rusia, dan Tiongkok: Kelanjutan dari Konferensi Jenewa 2, atau Jenewa 3, seharusnya diadakan di Suriah! Kami dan hanya kamilah yang dapat meneruskan Jenewa 2 atau menghasilkan Jenewa 3! Kami warga Suriah dapat memampukan perdamaian, keamanan, dan stabilitas untuk kembali ke Suriah!

Seruan kepada dunia

Pada awal tahun keempat dari krisis Suriah yang tragis dan berdarah ini, saya mengirimkan seruan dari Gereja Damaskus yang menderita dan berdoa, yang berpuasa selama Masa Prapaskah suci dan meneruskan jalan salibnya dengan seluruh penduduk negeri tercinta ini, tanah kelahiran Kekristenan, agama-agama, dan peradaban ini.

Pada pesta besar Kebangkitan, dalam cinta dan pengharapan sekali lagi kami lagi membuat permohonan yang tulus, kuat, dan mendesak.

Atas dasar iman Kristen dan misi spiritual, dan berperan sebagai gembala dan Patriark, kita beralih kepada semua orang: Presiden negara kita dan rekan-rekannya, semua negara Arab, Amerika Serikat, Federasi Rusia, negara-negara Uni Eropa, semua bangsa di dunia, para pasifis, para pemenang Nobel Perdamaian, semua pria dan wanita yang berkehendak baik, para pemimpin yang murni hatinya, media sosial, para penulis, pemikir, pemimpin industri dan perdagangan, pedagang senjata… dan memanggil Anda semua untuk mengeluarkan segala upaya yang mungkin untuk perdamaian di Suriah. Tragedi Suriah telah melampaui setiap ukuran dan batas! Ini juga berdampak buruk terhadap hampir setiap warga negara Suriah. Kami memohon kepada Tuhan untuk mendengarkan seruan ini. Semoga Ia membimbing hati Anda untuk mengindahkan seruan darinya dan dari kami.

Kematian merajalela di Suriah! Kita tidak bisa terus mengumandangkan kematian! Kita harus mengumpulkan segala usaha, di rumah dan di luar negeri, pemerintah, oposisi, semua pihak, dan orang-orang yang berkehendak baik, untuk gigih menghentikan pertumpahan darah di Suriah dan berjalan menuju kebangkitan! Kita semua putera dan puteri Suriah, kepada siapa Allah telah memberikan cahaya kehidupan. Kita dipanggil kepada kehidupan, bukan kematian. Sebagai warga Suriah dan patriark Suriah, saya mohon setiap orang Suriah untuk berjalan bersama-sama di jalan kebangkitan dan hidup, supaya mereka semua boleh memiliki kehidupan dan supaya mereka boleh memiliki kelimpahan (bdk. Yoh 10, 10). Tidak ada lagi perang! Tidak ada lagi kekerasan! Tidak ada lagi pembantaian!

Kita semua harus mencoba untuk mengusahakan gencatan senjata. Kita harus menolak logika perang dan kekuasaan sebagai alasan yang egois dan membunuh!

Saya meluncurkan seruan ini ke seluruh dunia, atas nama orang miskin, lemah, janda, korban, yang terluka parah, yang dimutilasi, yang cacat, pengungsi, anak-anak, tunawisma, orang-orang lapar, orang lanjut usia, wanita hamil, para cacat, semua yang putus asa, pedih, dan hilang semangat, seperti yang sering saya temui di perbatasan Suriah-Lebanon ketika bepergian dari Beirut ke Damaskus, atau selama kunjungan saya ke keluarga korban dan orang-orang yang terkena bencana. Mereka dibebani oleh ketakutan tentang masa depan dan nasib keluarga, anak-anak, dan kaum muda mereka.

Dalam menghadapi gambaran gelap dan berdarah dari negara kita tercinta, Suriah, saya berpaling kepada bangsa-bangsa dari seluruh dunia dan memohon: Kasihanilah Suriah! Tinggalkan Suriah bagi warga Suriah! Cukup sudah semua senjata Anda, pejuang Anda, tentara bayaran Anda, petualang bersenjata Anda, jihadis Anda, kaum takfiri Anda!

Kami memberitahu semua orang dengan terus terang: Perang belum berhasil! Kekerasan belum berhasil! Senjata belum berhasil! Mempersenjatai kelompok-kelompok dengan segala macam senjata belum berhasil! Visi, teori, dan ramalan Anda sejak awal krisis tahun 2011 tentang jatuhnya presiden dan pemerintah Suriah belum terpenuhi. Propaganda publisitas Anda yang palsu belum berhasil. Proyek-proyek dan plot negara-negara Arab dan Eropa tertentu belum berhasil. Sanksi ekonomi belum berhasil. Ancaman besi dan api belum berhasil. Aliansi belum berhasil.

Mengingat semua kegagalan ini, bukankah saatnya bagi dunia untuk menyadari bahwa tidak ada yang menang melalui perang, bahwa resolusi politik adalah yang terbaik, dan bahwa Suriah sendiri yang akan memutuskan masa depan mereka dan mengatakan siapa yang harus menjadi presiden dan pemerintah dan apa yang seharusnya menjadi Konstitusi mereka?

Atau apakah dunia benar-benar telah memutuskan, seperti yang tampaknya telah terjadi, untuk melanjutkan perang pemusnahan atas rakyat Suriah dan penghancuran institusi, warisan, gereja dan masjid, perang yang menghasilkan kelaparan, kemiskinan, perpecahan, dan pembunuhan orang-orang dan anak-anak kami, menewaskan perlawanan dan semangat mereka, dalam rangka mewujudkan kepentingan dan rencana sendiri?

Dan siapakah korbannya? Bangsa Suriah yang terluka dan menderita, seperti yang dijelaskan di atas.

Dalam nama Suriah, saya mohon kepada dunia: Jangan sentuh lagi Suriah! Hentikan perang! Biarkan Suriah dan semua negara yang cinta damai bekerja sama untuk memungkinkan perdamaian di Suriah, karena perdamaian Suriah berarti damai untuk seluruh kawasan Timur Tengah, dan terutama Tanah Suci! Suriah pantas memperoleh perhatian, cinta, dan kepercayaan dari seluruh dunia!

Kami tidak ingin Suriah menjadi tanah perang, pembunuhan, kekerasan dan terorisme; melainkan, seperti yang kita baca di poster di jalan-jalan Damaskus: “Suriah, tanahmu adalah suci, tanah cinta dan perdamaian.”

O Suriah, kebangkitan adalah milikmu

Suriah adalah tanah Kebangkitan. Di gerbang Damaskus, Paulus dari Tarsus melihat Kristus yang bangkit dari antara orang mati. Paulus datang ke Damaskus sebagai seorang penganiaya. Dia meninggalkannya sebagai seorang rasul dan pewarta kebangkitan. Itulah sebabnya Suriah adalah tanah Kebangkitan. Seperti yang kami katakan: sebutan bagi anak-anak negeri ini adalah “Anak-Anak Kebangkitan.”

Hari ini, kita berbicara kepada sesama warga negara, putera dan puteri Suriah, memberi mereka seruan bersejarah yang indah ini, O putera dan puteri Suriah! Engkau semua adalah anak-anak Kebangkitan, anak-anak kehidupan. Engkau bukan anak-anak maut, bukan juga alat-alat pembawa maut. Engkau bukan anak-anak dari kekerasan, teror, penyiksaan, dan pembantaian. Jadilah selama-lamanya anak-anak kebangkitan dan hidup!

Biarkan mereka yang berusaha untuk menghancurkan cinta kita, kebersamaan kita, dengan membunuh dan menyebabkan pertumpahan darah di tanah kita, dan menabur ide-ide takfirisme, kebencian, permusuhan, perpecahan, dan hasutan meninggalkan bumi Suriah yang murni! Mereka hanyalah agen kematian!

Kami memberitahu Suriah apa yang dikatakan Yesus di dalam rumah ibadat, ketika ia menyembuhkan wanita itu: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” (Lukas 13:12)

Kami memberitahu Suriah: engkau memiliki kebangkitan! Engkau memiliki kebangkitan, wahai sesamaku orang Kristen! Engkau memiliki kebangkitan , wahai sesamaku orang Muslim! Engkau memiliki kebangkitan, yang tersembunyi di bawah tanah itu! Engkau memiliki kebangkitan, saudara seperjuangan saya!

Ucapan untuk hari raya

Baiklah saya memberikan ucapan sambutan untuk Pesta Kebangkitan mulia, Pesta Paskah Tuhan, yang tahun ini dirayakan pada tanggal yang sama oleh seluruh Gereja. Saya memberikan ucapan ini bagi saudara-saudaraku para metropolitan, uskup agung, dan uskup, para anggota Sinode Suci kita, kepada saudara dan anak-anak saya para imam, diakon, biarawan, biarawati dan semua umat beriman dari paroki kami di negara-negara Arab dan di negara-negara ekspansi (terutama mereka yang menerima emigran Suriah baru-baru ini). Saya memberikan ucapan ini untuk semua orang Kristen seraya kita bersama-sama merayakan Paskah tahun ini, dan juga untuk sesama warga Muslim yang percaya pada kebangkitan, seperti yang kita baca dalam ayat Al-Qur’an ini: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS.19:33 Maryam)

Saya mengakhiri surat ini dengan salah satu himne paling indah dari perayaan Kebangkitan yang mulia, di mana kita berseru kepada Kristus yang bangkit, bangga akan Kebangkitan-Nya (Syair 9 dari Orthros): “O kesukaan ilahi, O manis suara-Mu tak terlukiskan! Sebab Engkau sungguh berjanji, ya Kristus, untuk menyertai kami sampai akhir zaman; dengan fondasi pengharapan ini, kami orang beriman bergembira penuh sukacita.”

Dengan kasih dan berkat,

 +Gregorios III

Patriark Antiokia dan Seluruh Bagian Timur

dari Aleksandria dan dari Yerusalem

*

Ikon Kebangkitan

Sumber: Eparchy of Newton, Melkite Greek Catholic Church

 

3 komentar

  1. ketikatamarden · · Balas

    Reblogged this on ketikatamarden.

  2. ketikatamarden · · Balas

    Izin reblog ya?

    1. Silahkan :)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: