Pandanglah Ia yang Mati dan Bangkit

"Lamentation over Christ", 1441, Fra Angelico OP.

“Lamentation over Christ”, 1441, Fra Angelico OP.

“Ia, melalui kematian-Nya, menghancurkan kematian di dalam diri-Nya; kita dibebaskan dari kematian hanya dalam kematian-Nya…Ia tidak memerlukan pertolongan kita dalam menyelamatkan kita; tanpa-Nya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ia memberikan diri-Nya pada kita seperti pokok anggur bagi rantingnya, terpisah dari-Nya kita tidak memiliki kehidupan…dalam hal ini, Kristus memberi kita…sebuah alasan untuk bersuka cita.” – St. Augustinus

“Yerusalem, Yerusalem…lihatlah rajamu!” Penggalan lirik berikut merupakan lagu yang dinyanyikan saat Minggu Palma, sebuah masa ketika umat katolik mengenang masuknya Yesus ke Yerusalem. Saat umat Israel menyambut kedatangan Yesus dengan gembira, saya malah merasakan kepahitan di dalam nyanyian itu. Perbedaannya terletak pada pemahaman bahwa saya menyadari bahwa perjalanan Yesus menuju Yerusalem adalah perjalanan menuju salib, tempat ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penghapus dosa manusia, sedangkan bisa jadi umat Israel masih memahami Yesus sebagai Mesias yang membebaskan mereka secara politik, bukan secara spiritual.

Namun segera setelah Minggu Palma, masuklah kita ke masa Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Pada Kamis Putih, kita memandang Sang Raja yang membasuh kaki para murid dan dikhianati. Pada Jumat Agung, kita memandang Ia yang menderita sampai mati. Memasuki Sabtu Suci, kita mengarahkan pandangan kita ke makam Yesus, karena kita hendak memandang Ia yang akan bangkit.

Mengapa kita harus melihat atau memandang Yesus? Apa yang bermakna dari tindakan melihat ini? Memandang bukan berarti hanya indra penglihatan yang bekerja, melainkan ia juga melibatkan kerja intelektual, karena pikiran manusia diarahkan pada kebenaran, ia berusaha memahami kebenaran yang terjadi, atau yang akan terjadi. Dengan memandang, manusia berusaha menerima makna yang disampaikan kepada dirinya. Manusia berusaha membentuk pikirannya sesuai dengan realita yang terjadi. Proses pemahaman ini nantinya akan mengarahkan manusia pada kedua aspek kehidupan manusia selanjutnya: perkataan dan perbuatan.

Pekan Suci mengajak kita untuk memandang sesuatu yang tidak kita sukai: kematian. Sebelum memulai upacara cahaya, saat sedang memasuki kapel saya melihat suasana di sekitar saya gelap. Sempat terpikir mungkin seperti inilah kematian rohani yang kita alami: kita terjebak dalam kegelapan dosa. Kita merasa sendirian di dalam kegelapan, tanpa bisa berbuat apa-apa, tanpa bisa keluar dari sana.

Tidak semua orang suka merenungkan kematian. Segala sesuatu di sekitar kita adalah ketidakpastian, namun suatu saat kita akan merasakan kematian, dan ini kebenaran yang pasti. Apakah kita bisa menjamin bahwa kita akan meninggal dalam keadaan berahmat? Apakah kita bisa merasa pasti bahwa kita akan berumur panjang? Siapa yang bisa memberikan kita kepastian bahwa kita akan terus menjalani hidup yang baik, dan tidak jatuh terlalu dalam ke lembah kegelapan dosa? Tidak ada, semuanya tidak pasti.

Namun kita bisa mengubah permenungan tentang kematian menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita. Fr. Cajetan, dalam buku “Humility of Heart” mengatakan bahwa dengan menyadari bahwa kita akan mati, kita seharusnya membayangkan diri kita bertumbuh dalam kerendahan hati. Permenungan tentang kematian dapat melemahkan cinta-diri kita yang berlebihan, dan dapat membebaskan hati kita dari kesombongan dan kesia-siaan. Dengan menyadari bahwa kita akan mati, kita semakin menyadari betapa besarnya ketergantungan kita kepada belas kasih dan kebaikan Allah.Kita begitu miskin di hadapan-Nya, dan karenanya selalu membutuhkan rahmat dan uluran tangan-Nya. Permenungan ini pada akhirnya mengantar kita pada suatu perbuatan: untuk terus mengetuk pintu hati Allah, memohon agar Ia memberikan kerendahan hati yang saat ini tidak kita miliki, karena untuk mendapatkan surga, kita perlu membungkuk dan memiliki kerendahan hati. Allah tidak akan menolak permohonan yang berguna bagi keselamatan kita, karena Ia sendiri telah berjanji,”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Inilah yang harus kita katakan kepada umat beriman.

Meskipun pada akhirnya kita akan mati, namun ada kebenaran yang lebih besar. St. Augustinus berkata, “Yesus, dengan kematian-Nya, menghancurkan kematian di dalam diri-Nya; kita dibebaskan dari kematian hanya dalam kematian-Nya”. Melalui kematian-Nya, Kristus menebus dosa kita. Kematian Kristus membawa kita kepada kebangkitan. Yesus, cahaya dunia, membebaskan kita dari kegelapan, karena Ia tahu kita tidak dapat membebaskan diri kita sendiri. Oleh karena itulah, nyala api yang kita terima dalam upacara cahaya, berasal dari lilin besar yang melambangkan Kristus, Sang Terang. Sekalipun kita terjatuh lagi dalam kegelapan, kita pun menyadari bahwa terang Kristus tetap bersama kita, menjadi penuntun kita, selama kita tetap berusaha menjaga terang ini agar tetap menyala. Karenanya tepatlah bila kita bersama-sama berseru, “Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira bagi Kristus, yang menebus kita. Bersyukurlah kepada Allah, kita bangkit bersama Kristus!”

“Bila Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman kita”. St. Paulus dengan jelas menekankan pentingnya Kebangkitan Kristus demi iman kita. Kematian Kristus bukanlah kesia-siaan, karena melalui kematian, Ia bangkit dengan jaya. Kita juga turut dibangkitkan, dan iman kita dikuatkan. Kematian dan Kebangkitan Kristus, memberikan kita kepastian yang lebih besar – dari kenyataan bahwa kita akan mati – bahwa kita tidak selamanya terjebak dalam kegelapan. Bersama Kristus, kerinduan kita yang terdalam, kerinduan untuk merasakan keabadian surga, dapat dipenuhi dalam Kristus. Pada hari ini, kita kembali diingatkan tentang kepastian ini: “Akulah kebangkitan, dan hidup. Barangsiapa yang percaya kepadaku, sekalipun ia mati, ia akan hidup, setiap orang yang hidup dan percaya kepadaku, tidak akan mati selamanya. Apakah kamu percaya hal ini?” (Yoh 11:25). Dengan penuh sukacita kita dapat menjawab, “Ya, Tuhan, kami percaya!”

Pada akhirnya, kita memang tidak memandang wafat dan kebangkitan Kristus secara langsung. Melalui ciptaan kita mengenal Pencipta kita, dengan memandang yang kelihatan kita dapat tiba pada pemahaman akan Ia yang tak terlihat. Iman kita, tidak berdasar pada hal-hal indrawi, melainkan pada kebenaran yang dipantulkan melalui benda ciptaan. Tidak selamanya memandang itu baik, karena bisa jadi hal ini menandakan keraguan yang menghambat kita untuk percaya, seperti rasul Thomas yang “tidak mau percaya sebelum melihat”. Namun, dengan memandang Kristus selama Pekan Suci ini, kita dapat berbicara dengan-Nya, kemudian kita berbicara tentang-Nya, seperti motto Dominikan ,“Contemplare et contemplata aliis tradere”. Dan inilah hasil aktivitas memandang yang saya lakukan, yang hendak saya bagikan kepada mereka yang membacanya. Semoga renungan ini membantu kita semakin menghayati kematian dan kebangkitan Kristus.

Saya tutup renungan ini dengan kutipan dari St. Gregorius dari Nyssa:

“Inilah awal dari penciptaan baru. Pada hari ini, seperti yang dikatakan para nabi, Allah menjadikan langit dan bumi yang baru. Apa arti dari langit yang baru ini?” Engkau bertanya. Ia adalah langit iman kita dalam Kristus Apa arti dari bumi yang baru ini? Hati yang baik, hati yang seperti bumi, yang meminum hujan yang jatuh di atasnya dan menghasilkan panen berlimpah. Dalam penciptaan baru ini, kemurnian hidup adalah matahari, keutamaan adalah bintang, kebaikan yang nyata adalah udara, dalamnya kekayaan kebijaksanaan dan pengetahuan adalah laut. Ajaran yang benar, ajaran ilahi adalah rumput dan tanaman yang memberi makan kawanan domba Allah; ketaatan terhadap perintah-Nya adalah buah pohon. Pada hari ini diciptakan manusia sejati, manusia yang diciptakan dalam rupa Allah…Tapi kita masih belum berbicara tentang karunia terbesar yang Ia bawa kepada kita. Hari ini menghancurkan kepedihan maut dan melahirkan putra sulung dari orang-orang mati.”

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: