“Jangan Seorangpun Berputus Asa, tapi Jangan Seorangpun Percaya pada Dirinya”

Lazarus

Ait Iesus: “Tollite lapidem.” Dicit ei Martha, soror eius, qui mortuus fuerat: “Domine, iam fœtet, quatriduanus est enim.” Dicit ei Iesus: “Nonne dixi tibi quoniam si credideris videbis gloriam Dei?” (From the Gospel for Friday in the Fourth Week of Lent, John xi, 39-40: Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

Jika…Tuhan,dalam keagungan rahmat dan belas kasih-Nya, membangkitkan jiwa kita kepada kehidupan, agar kita tidak mati selamanya,kita dapat memahami dengan baik bahwa tiga orang mati yang Ia bangkitkan tubuhnya memiliki makna figuratif tentang kebangkitan jiwa yang disebabkan oleh iman: [1] Ia membangkitkan putri pemimpin sinagoga, yang masih terbaring di rumah; [2] Ia membangkitkan putra seorang janda,sementara jenazahnya dibawa keluar gerbang kota; [3] dan Ia membangkitkan Lazarus,setelah empat hari berada di makam. Marilah kita mengingatkan jiwa kita: ketika berdosa ia mati: dosa adalah kematian bagi jiwa.

Terkadang dosa dilakukan hanya dalam pikiran. Engkau merasakan kesenangan dalam hal yang jahat, engkau memberikan persetujuan terhadap perintahnya, engkau telah berdosa; persetujuan itu membunuhmu: namun kematian sifatnya batiniah, karena pikiran jahat belum matang menjadi perbuatan. Tuhan mengisyaratkan bahwa  Ia akan membangkitkan jiwa seperti itu kepada kehidupan, seperti membangkitkan anak perempuan itu, yang belum dibawa ke makam, tapi masih terbaring di rumah, seolah-oleh dosa masih tergeletak dan tersembunyi.

Bila kamu tidak hanya memendam perasaan senang dalam hal yang jahat, tapi juga melakukan perbuatan jahat, kamu juga membawa jenazah keluar pintu gerbang: kamu telah berada di luar dan sedang dibawa ke makam. Namun Tuhan juga membangkitkan jiwa seperti ini dalam kehidupan dan memulihkannya kepada ibunya yang janda. Bila kamu telah berdosa, bertobatlah, dan Tuhan akan membangkitkanmu, dan memulihkanmu kepada Bunda Gereja.

Contoh ketiga dari kematian tersebut adalah Lazarus. Kematian yang parah, dan dibedakan sebagai kebiasaan jahat. Karena merupakan satu hal untuk jatuh dalam dosa, dan hal lain bila membentuk kebiasaan dosa. Ia yang jatuh dalam dosa, dan segera melakukan koreksi, akan dengan cepat dibangkitkan pada kehidupan; karena ia belum terjerat dalam kebiasaan dosa, ia belum diletakkan di makam. Tetapi ia yang telah terbiasa melakukan dosa, ia dimakamkan, dan dengan pantas dikatakan tentangnya, “ia berbau;” karena karakternya, seperti bau yang mengerikan, mulai menjadi karakter yang paling buruk. Seperti itulah mereka yang terbiasa melakukan kejahatan, mengabaikan moral. Engkau berkata pada orang itu,”jangan lakukan itu!”. Tapi kapan kamu akan didengarkan oleh ia yang ditimpuk oleh tanah bumi, yang melahirkan kerusakan, dan ditindih oleh beban kebiasaan itu?

Namun kuasa Kristus setara dengan tugas membangkitkan jiwa kepada kehidupan. Kita tahu, kita telah meliat, kita melihat setiap hari manusia mengubah kebiasaan terburuknya, dan mengadopsi cara hidup yang lebih baik daripada mereka yang menyalahkannya. Engkau membenci manusia seperti itu: lihatlah saudari Lazarus sendiri (jika, memang, ia lah wanita yang mengurapi kaki Tuhan kita dengan minyak, dan membasuhnya dengan rambutnya apa yang ia basuh basuh dengan air matanya), yang memiliki kebangkitan yang lebih baik daripada saudaranya; ia dibebaskan dari beban karakter dosa yang sangat besar. Karena ia adalah pendosa besar, dan telah dikatakan tentangnya,”Banyak dosanya diampuni, karena ia mengasihi dengan kasih yang besar”

Kita melihat banyak orang seperti itu, kita mengetahuinya: jangan seorangpun berputus asa, tapi jangan pula seorangpun percaya pada dirinya. Keduanya adalah dosa. Biarkan keengganan kita untuk putus asa mengambil jalan untuk berbalik yang menuntun kita memilih Ia, yang kepada-Nya saja Engkau percaya.

Santo Augustinus
In Evangelium Ioannis – Tractatus XLIX

 

Diterjemahkan dari artikel Rorate Caeli berjudul “Saint Augustine on the Resurrection of Lazarus”Let none despair, but let none presume in himself””

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: