Kenapa Anak Muda menjadi bosan pada saat Misa dan kuali berisi daging dari Mesir

Artikel dari blog supertradmum, diterjemahkan dengan sedikit penyesuaian.

+++++++

St. Yohanes dari Salib menulis bahwa bangsa Israel tidak dapat menikmati cita rasa dari manna dan mengeluh soal daging karena mereka telah menghancurkan indra pengecap mereka dengan makan makanan yang berlebihan pada saat di Mesir. Meskipun mereka adalah budak dari Firaun, mereka makan makanan Mesir.

Sekarang, [masyarakat mesir] kelas atas, menurut arkeologis, menikmati makanan dengan bahan-bahan ini:

1. Roti pipih berbentuk segitiga

2. Bubur oat

3. Ikan yang telah dimasak dengan kepala yang telah dibuang

4. Merpati yang direbus

5. Puyuh yang dimasak

6. Dua buah ginjal yang telah dimasak

7. Iga dan kaki daging sapi

8. Tidak dikenal, tapi terkandung iga sapi

9. Buah yang telah direbus kemungkinan buah ara

10. Nabk berry segar

11. Potongan kue kecil

12. Guci kecil yang isinya keju

13. Guci besar berisikan minuman anggur

Makanan para budak termasuk juga bir daripada anggur, tapi daging dan ikan juga bawang bombay, ketimun, daun bawang, melon, bawang putih dan bumbu-bumbu mungkin juga dimakan.

Ketika Bangsa Israel mengeluh soal manna, Allah menurunkan burung puyuh. Tapi, poin dari St. Yohanes adalah bertahun-tahun menjadi budak telah mematikan cita rasa Bangsa Ibrani  dalam menikmati manna.

Hubungan spiritual yang ia buat dapat juga diterapkan kepada kaum muda yang berkata bahwa mereka bosan pada saat Misa, sebuah pernyataan dimana merupakan gejala masalah spiritual. Bangsa Israel tidak hanya mengeluh tentang makanan dan minuman. Mereka juga bersungut-sungut melawan fakta bahwa Allah berbicara kepada Musa, dimana hal ini merupakan kecemburuan spiritual, bahwa Allah membunuh pemimpin yang buruk, seperti Korah dan pengikut-pengikutnya, bahwa Kaleb memamerkan ketidaktakutan dan rasa gembira yang besar didalam rencana mengalahkan Kanaan, hal terakhir ini menjadi dosa-dosa ketakutan dan sikap negatif, mengungkapkan kurangnya iman yang sangat serius.

Kutipan St. Yohanes: “bahkan sebagai anak-anak Israel, semata-mata karena mereka memelihara satu kecenderungan dan mengenang – dengan kata lain, menghargai kuali berisi daging dan makanan yang mereka cicipi di Mesir – tidak dapat menikmati lembutnya roti surgawi, di gurun, yaitu manna, dimana seperti seperti Kitab Ilahi katakan, menahan rasa manis untuk setiap cita rasa  dan mengubah ke cita rasa yang setiap orang inginkan; meskipun demikian roh tidak mampu menikmati lembutnya roh kebebasan, menurut keinginan dari kehendak, jika masih memiliki kecenderungan terhadap keinginan tertentu, apakah itu aktual atau habitual, atau kepada pemahaman objek tertentu, atau keprihatinan lainnya. Alasan dari semua ini adalah bahwa kecenderungan, perasaan dan keprihatinan dari jiwa yang sempurna, menjadi Ilahi, adalah jenis lainnya dan urutan yang berbeda dari yang natural. Mereka itu lebih baik daripada yang lain, sehingga, agar kedunya aktual dan habitual agar menguasai salah satunya, sangat diperlukan untuk mengeluarkan dan menghilangkan, seperti dua hal yang saling bertentangan, dimana tidak mungkin ada bersamaan didalam satu pribadi. Oleh karena itu sangat pas dan perlu, jika jiwa harus melewatkan hal-hal besar ini, malam gelap dari kontemplasi ini pertama-tama harus memusnahkan dan membatalkan kepicikan, membawanya kedalam kegelapan, kegersangan, penderitaan dan kekosongan; karena terang dimana yang diberikan adalah terang Ilahi dari kemurahan hati yang tertinggi, dimana melampaui semua terang alami, dan dimana oleh kodratnya tidak dapat ditemukan didalam pengertian.

Sekarang fokus dalam mengubah liturgi untuk menarik orang muda adalah salah arah dan telah dilakukan sejak tahun 1970 -an. Fokusnya pada faktor eksternal daripada internal. Anak-anak perlu dibentuk pada saat masih sangat muda. Orang tua mempunyai tugas untuk tidak mengijinkan kuali yang berisi daging merusak cita rasa spiritual dari anak-anak. Pembentukan tidak dapat dimulai pada saat remaja.

Bolehkah saya menawarkan beberapa tips untuk anak-anak?

Pertama, sedini mungkin, berdoa setiap hari dengan anak anda. Seringlah berdoa bersama dengan mereka dan berkati mereka pada malam hari. Pastikan ada irama berdoa didalam keluarga. Bawa mereka adorasi setiap seminggu sekali bersama anda. Dan juga, bersama-sama dengan anda melakukan pengakuan dosa rutin.

Kedua, bacalah kehidupan orang-orang kudus dan Kitab Suci bersama dengan mereka. Tanamkan cinta kepada santo/a pelindung dan malaikat pelindung mereka.

Ketiga, jangan biarkan mereka pergi ke sekolah Katolik dimana kurikulumnya tidak Katolik. Kurikulum Katolik harus dipelajari dari sudut pandang Katolik.

Keempat, latih mereka untuk menggunakan kebajikan yang telah diberikan kepada mereka dalam baptisan di usia awal.

Kelima, perhatikan benar-benar terhadap pembentukan spiritual anak anda dengan menghabiskan waktu bersama-sama dengan mereka. Ingat jika orang tua bukan pengaruh utama, pengaruh dari orang lain akan lebih kuat didalam pembentukan pemikiran mereka.

Keenam, jangan biarkan kuali berisi daging dari Mesir merusak cita rasa normal mereka. Bawa mereka ke Misa Tridentine, jika memungkinkan, pelajari spiritual Misa tersebut yang begitu dalam dan lebih menantang, dimana hal yang bagus untuk anak muda.

Orang muda yang bosan adalah seperti bangsa Israel yang mengeluh di padang gurun. Hal ini sebenarnya dosa dan mengungkapkan roh yang letih. Orang tua harus berdoa dan membantu pribadi orang muda melepaskan ikatan-ikatan yang menjadi sumber kebosanan daripada memenuhinya dengan menekankan aspek luar daripada pertumbuhan internal.

Kecuali hanya sedikit, generasi yang keluar dari Mesir dilarang Tuhan untuk pergi ke Tanah Perjanjian. Mereka mati dipadang gurun karena menyembah berhala dan bersungut-sungut melawan Tuhan dan nabi-Nya, Musa. Kematian mereka merupakan alegori dari kematian jiwa. Bahwa Joshua, pria yang murni hatinya dan penuh kasih kepada Tuhan, membawa generasi berikutnya ke Tanah Perjanjian mengingatkan kita bahwa seseorang harus mengejar kemurnian hatinya agar menjadi orang tua yang luar biasa, mampu membimbing anak mereka ke surga. Kerja keras dan tekun…pembentukan jiwa mulai didalam kandungan dan tidak dapat ditunda sampai dia remaja.

Jika anak anda mengeluh tentang kebosanan, bicaralah kepadanya tentang spiritualnya, apa yang ia pikir ia inginkan, dan berdoa untuk membedakannya (discernment). Kebosanan adalah gejala, selalu, dari jiwa yang gelisah dan bukan sebuah tanda dari seseorang yang bergerak maju didalam kehidupan spiritual yang menuju kepada kekudusan.

One comment

  1. chatarina septanovia · · Balas

    Betapa ruginya …

    ” .. melewatkan satu kali misa …
    seperti melewatkan satu kesempatan …
    di bumi seperti di dalam Surga … “

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: