Kamu adalah Terang Dunia

the-vocation-of-the-apostle-peter-fragment-1311(1)

The Vocation of The Apostle Peter, Duccio, 1311

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” – 2 Timotius 4: 7-8

Tidak banyak kenangan yang saya miliki bersama Robby. Namun, ketika saya menelusuri kembali lorong-lorong ingatan saya tentangnya, maka satu hal ini tergambar dengan pasti : persahabatan kami berawal dari keterlibatan kami di dunia apologetik (apologetik = upaya pembelaan iman katolik, seseorang yang melakukan apologetik disebut apologist).

17 Agustus 2010 adalah awal pertemanan saya dengan Robby di dunia facebook. Sejak saat itu, kami banyak menghabiskan waktu bersama dalam berapologetik, dalam mempelajari iman katolik. Kami bahu membahu dalam menghadapi kesesatan yang ditemui. Kami saling mendukung satu sama lain dalam berargumentasi, dalam memberikan referensi yang otoritatif untuk mendukung argumen kami.

Mungkin ada yang bertanya: apakah kehidupan seorang apologist katolik itu hanya belajar, mewartakan dan membela iman? Tentu tidak, karena kami juga mengalami hal-hal manusiawi yang dialami pria pada umumnya. Kuliah, konflik dengan teman, jatuh cinta pada seorang wanita, ribut dengan pacar, dst juga dialami Robby dan saya sebagai seorang manusia biasa.

Seiring berjalannya waktu, kami tumbuh bersama menjadi seorang katolik yang sangat mencintai Tradisi Gereja, Magisterium dan juga kepada Allah, yang tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya.

Proses pembelajaran dan pendewasaan iman kami terjadi pada masa kepausan Paus Benediktus XVI, seorang paus yang dengan gagah berani menentang relativisme dan mampu berbicara serta mengambil keputusan dengan tegas, sekalipun hal itu membuatnya tidak jarang dibenci dan dicaci maki oleh media, dan mungkin juga oleh sesama gembalanya sendiri.

Kepemimpinan Benediktus XVI menumbuhkan kecintaan dan rasa hormat kami yang besar pada liturgi, pada Misa Tridentine, pada devosi yang mendalam terhadap Ekaristi, dan karenanya menumbuhkan cinta dan ketaatan kami pada Penerus Petrus saat itu.

“Idem velle, idem nolle” – memikirkan dan menolak hal yang sama – merupakan definisi persahabatan yang diuangkapkan oleh Paus Benediktus XVI. Persahabatan seperti ini, saya yakin, menjadi nyata dalam persahabatan saya (dan juga beberapa rekan kami) dengan Robby. Sebuah persahabatan yang memiliki fondasinya dari persahabatan dengan Kristus, dan karenanya menjadikan kami “cooperatores veritatis” – rekan kerja kebenaran.

Sekarang, saya hendak memberikan refleksi tentang kehidupan yang dijlalani Robby sebagai pewarta iman katolik, yang saya ambil dari tiga kutipan kitab suci berikut : “Ikutilah Aku” (Mat 4:19); “Tuhan, Engkau mengetahui segalanya, Kau tahu bahwa aku mencintai-Mu” (Yoh 21:17); “Kamu adalah terang dunia ” (Mat 5:14)

“Ikutilah Aku”. Perkataan ini didahului oleh peristiwa yang terjadi di Genesareth, dimana Yesus meminta Petrus untuk “bertolak ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Luk 5:4). Saya kira Robby juga mendengar panggilan yang sama seperti yang didengar Petrus 2000 tahun yang lalu, dan dengan ketaatan penuh pada perkataan Yesus, ia menggemakan kembali jawaban yang sama yang dikatakan Petrus “Tuhan, atas perkataanmu lah aku akan menebarkan jala” (ay 5)

Apakah karya pewartaan iman terjadi karena usaha Robby semata? Sama sekali tidak. Saya yakin, sama seperti Petrus,  ada momen dimana Robby merasa “telah bekerja keras sepanjang malam dan tidak menangkap apa-apa”. Namun, saya percaya bahwa ia tidak mengandalkan kemampuannya sendiri. Ia menempatkan kepercayaan dan harapannya pada perkataan Tuhan, ia mewartakan dalam kehadiran Tuhan, dan karenanya Tuhan sendiri membuktikan bahwa keyakinan dan ketaatan pada-Nya tidaklah sia-sia.

Tidak dapat dipungkiri juga, ada beberapa pihak yang menentang, mencaci maki, bahkan memberikan label yang bermakna negatif hanya karena ia menyuarakan apa yang Gereja ajarkan. Kenyataan ini menegaskan apa yang diungkapkan oleh Paus Benediktus XVI : “Sekarang ini, memiliki iman yang jelas yang didasarkan pada kredo Gereja, sering dicap sebagai fundamentalisme.” Dengan kesadaran ini, Robby mau menanggung resiko mendapatkan cap sebagai “fanatik”, “farisi”, dst, demi menyatakan kebenaran iman Gereja.

Saya pikir semangatnya untuk terus melakukan pewartaan iman katolik di dunia maya juga berasal dari kecintaannya kepada Allah dan Gereja-Nya. “Tuhan, Engkau mengetahui segalanya, Kau tahu bahwa aku mencintai-Mu” (Yoh 21:17). Perkataan St. Petrus ini juga merupakan pengakuan cinta Robby kepada Allah, sebuah pengakuan cinta yang tidak hanya diucapkan di bibir dan disuarakan dalam hati, melainkan terwujud secara nyata melalui Indonesian Papist, sebuah blog katolik yang menjadi salah satu corong pewartaan iman di dunia digital.

Kita bisa belajar dari teladan Robby sebagai seorang pewarta. Mereka yang memutuskan untuk berjalan di jalan Tuhan, harus memiliki ketaatan dan cinta kepada Allah sebagai sumber kekuatan. Tentu, sebagai seorang pewarta, ia juga memiliki keterbatasannya sendiri. Ia tidak bisa mentobatkan semua orang. Namun dengan talenta yang Tuhan berikan, ia tetap melakukan apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang hamba yang baik. Ia dapat tetap bertahan di jalan itu, karena kasih Kristus menguasai Robby (bdk 2 Kor 5:14). Ini bukan kasih yang berupa perasaan semata, melainkan kasih yang tak berkesudahan, bahkan hingga menjelang kematiannya, ia pun masih melakukan pewartaan.

Beberapa hari setelah kematiannya, saya mendengar kabar bahwa sebelum ia meninggal, ia masih sempat melakukan pengakuan dosa, menerima komuni dan sakramen pengurapan orang sakit. Teladannya ini mengajarkan kita satu hal penting: bahwa keselamatan jiwa merupakan hal yang harus selalu kita upayakan, bahwa sakramen-sakramen Gereja adalah sarana keselamatan. Saya percaya, bahwa ketiga hal yang dilakukannya merupakan pewartaan terakhirnya kepada kita semua sebagai seorang apologist katolik. Dengan demikian, dapatlah kita katakan bahwa ia “telah memelihara garis akhir dan telah memelihara iman”

Sekarang kita bisa melihat “sejumlah besar ikan” hasil tangkapannya: ada banyak orang yang berduka atas kepergiannya, yang lain menangisi kematiannya karena sangat merasakan kehilangan, tidak sedikit juga yang mendoakannya dan berterima kasih atas pewartaan yang dilakukannya, sekalipun mereka belum pernah bertemu langsung dengan Robby.

Bagi saya,tampaknya merupakan bagian dari penyelengaraan ilahi saat saya mengetahui bahwa hari wafatnya Robby merupakan hari ketika bacaan Injil berbicara tentang “terang dan garam dunia”. “Kamu adalah terang dunia…Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:14, 16). Tidaklah berlebihan bila saya mengatakan Robby tidak hanya menjadi penjala manusia, melainkan juga menjadi terang. Ia tidak hanya bersinar, melainkan juga menerangi orang-orang dan mengarahkan mereka di jalan menuju Allah, Allah yang menjadi manusia dan rela wafat di salib demi kita, dan karenanya wajah-Nya dapat kita kenal.

Seperti lilin yang tetap bersinar sampai terbakar habis, demikian pula terang yang dimiliki Robby tetap bersinar sampai akhir hayatnya. Semoga api yang dimiliki Robby ini dapat menyalakan lilin-lilin kecil yang baru, yang dapat mengenyahkan kegelapan yang menjauhkan manusia dari Sang Terang sejati, Yesus Kristus. Semoga teladan dan kesaksian hidup yang Robby berikan dapat diteruskan oleh siapa saja yang tergerak karena pewartaannya.

Saya akhiri tulisan ini dengan kutipan dari Paus Benediktus XVI :

“Dengan segala kerendahan hati kita akan melakukan apa yang kita bisa, dan dalam kerendahan hati yang utuh kita akan mempercayakan sisanya kepada Tuhan. Allah lah yang mengatur dunia, bukan kita. Kita mempersembahkan pelayanan kita sejauh yang kita bisa, dan selama ia memberikan kita kekuatan. Melakukan segala yang kita bisa dengan kekuatan yang kita miliki, merupakan tugas yang membuat hamba Yesus yang baik selalu bekerja: ”karena kasih Kristus menguasai kami” (2 Korintus 5:14)” – Ensiklik Deus Caritas Est

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: