Selamat Merayakan Pesta St. Thomas Aquinas!

Doctor Angelicus

Oleh Peter Kwasniewski

Hari ini adalah hari pesta St. Thomas Aquinas menurut kalender tradisional (kalender liturgi pra-KV II – Cornelius), Common Doctor of the Catholic Church, Pelindung semua sekolah katolik. 7 Maret merupakan ulang tahun Doctor Angelicus ini ke dalam kehidupan kekal, di usia 49, di tengah perjalanan menuju Konsili Umum di Lyons. Untuk menghormatinya, merupakan hal yang layak untuk berbagi cerita tentang kematiannya, seperti yang dikisahkan oleh Bernard Gui dalam Vitae Sancti Thomae Aquinatis:

***

Beberapa hari kemudian pria kudus ini telah memulihkan kekuatannya  untuk melanjutkan perjalanan ke Roma; tetapi, ketika mendekati biara Cistercian dari Fossanova dan menerima undangan hangat dari abbot dan komunitasnya untuk tinggal di sana sampai kesehatannya telah pulih secara menyeluruh, Thomas menerima undangan tersebut dan berbelok menuju biara. Dan setelah berdoa di hadapan high altar di Gereja, selagi ia memasuki biara, tangan Tuhan turun atasnya, dan ia tahu bahwa dalam rohnya ia telah mencapai akhir hidupnya…

Abbot dengan ramah memberinya kamar dalam apartemennya, dengan segala kenyamanan yang dapat diberikan, kenyamanan yang pantas bagi seorang tamu; dan karena ia sungguh lelah, ia berbaring di tempat tidur dan ditemani oleh para rahib dengan segenap rasa hormat dan kerendahan hati. Saat itu sedang musim salju dan mereka menyalakan api di ruangannya, membawa kayu ke dalam di bahu mereka. Melihat hal tersebut, Thomas berkata,”Siapakah aku ini sehingga hamba Allah harus menunggui aku seperti ini?” Dan sekarang dengan setiap hari yang berlalu, tubuhnya semakin melemah, namun dari semangatnya mengalir aliran pengajaran doktrin. Ketika diminta oleh beberapa rahib untuk memberikan mereka beberapa kenangan bahwa ia tinggal bersama mereka, ia memberikan eksposisi singkat tentang Kidung Agung. Dan memang layaklah bahwa Thomas, pekerja agung dalam sekolah Gereja, mengakhiri pengajarannya tentang kidung kemuliaan kekal, seorang ahli dalam sekolah tersebut, ketika akan berlalu dari penjara tubuh menuju pesta pernikahan surgawi, sudah seharusnya memberikan diskursus tentang persatuan Gereja dengan Kristus, mempelainya.

Merasa bahwa kekuatannya semakin melemah, dengan sungguh Ia meminta Tubuh Kristus yang maha kudus:dan ketika abbot, ditemani oleh para rahib, membawakan Tubuh Kristus, ia memberikan penghormatan kepada-Nya, meniarapkan diri di tanah; dengan tubuh yang lemah, namun dengan pikirannya yang seolah-oleh berlari dengan kencang untuk bertemu Tuhan. Dan ketika ditanya, seperti yang diharuskan oleh disiplin Gereja, apakah ia percaya bahwa ini memang tubuh Putra Allah yang lahir dari Perawan Maria dan tergantung di salib demi kita dan pada hari ketiga Ia bangkit kembali, Thomas menjawab dengan suara lantang dan kesalehan serta air mata yang tercurah:

“Bahkan mungkin bagi kita, para pelancong, melalui kehidupan, memperoleh pengetahuan yang lebih besar tentang kebenaran ini daripada yang diberikan iman yang sejati pada kita – iman yang benar kendati tak dapat dijelaskan – namun sekarang dalam iman ini saja aku menegaskan bahwa aku sungguh percaya dan dengan yakin mengetahui bahwa ini memang sungguh Allah dan manusia, Putra Bapa yang kekal, lahir dari Bunda Perawan, Tuhan Yesus Kristus. Saya mempercayai dan mengakui hal ini dengan tulus”

Lalu dengan air mata dan kesalehan ia menerima Sakramen yang memberi hidup. Tapi, pertama-tama, menurut sebuah laporan, ia juga mengucapkan perkataan berikut:

“O harga penebusanku dan makanan bagi para peziarah, aku menerima Engkau! Demi Engkau aku telah belajar dan bekerja dan terus berjaga. Aku telah mewartakan dan mengajar Engkau. Tetapi seandainya aku telah berkata-kata atau menulis apapun yang salah tentang sakramen ini atau pun tentang hal lainnya, aku menyerahkan semuanya pada penghakiman Gereja Roma yang kudus, dalam ketaatan yang kepadanya aku hendak mengakhiri hidupku”

Pada hari berikutnya ia meminta untuk menerima sakramen pengurapan orang sakit. Pikirannya tetap jernih melalui perayaan dan ia menjawab doa sendiri. Lalu, ia mengatupkan tangan, dan dengan penuh kedamaian ia menyerahkan jiwanya kepada Penciptanya.

***

St. Thomas Aquinas, doakanlah kami: perolehlah bagi kami rahmat untuk meneladani kerendahan hati, devosi, dan ketaatanmu, dan juga kebijaksanaanmu, agar kami dapat hidup dan mati seperti engkau hidup dan mati, dalam persekutuan yang setia dengan Kristus dan Gereja Kudusnya. Amin.

Diterjemahkan dari artikel berjudul Happy Feast of Saint Thomas Aquinas

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: