Satu-satunya Bahtera Keselamatan

Icon "The Ladder of Divine Ascent"

Icon “The Ladder of Divine Ascent”

 

“Kasihi manusia, bunuhlah kekeliruan; tanpa kesombongan, beranilah dalam kebenaran, tanpa kekejaman bertarunglah demi kebenaran.” – St. Augustinus

Bacaan pertama menegaskan eksistensi dua jalan: jalan yang menuju kehidupan dan kemakmuran, serta jalan yang menuju pada bencana dan kematian. Bagi mereka yang tidak ingin dimusnahkan, mereka harus menaati perintah Allah atas dasar kasih kepada-Nya dan mengikuti jalan-Nya (Ul 30:15-20).

Perjanjian Baru juga menegaskan hal yang sama. Pada Injil Matius, Yesus menjelaskan kepada pada murid bahwa terdapat dua jalan: jalan yang luas dan lebar yang mengarah pada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk ke dalamnya, serta jalan yang sulit dan pintu sempit yang mengarah kepada kehidupan, yang dilalui oleh sedikit orang (Mat 7:13-14).

Dewasa ini, ada beberapa pihak yang berusaha mengubah kebenaran tentang perkataan Yesus tersebut. Bukannya berpegang teguh pada kebenaran bahwa hanya terdapat satu jalan kepada keselamatan, yaitu Yesus Kristus yang adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup”, mereka malah menciptakan suatu ilusi bahwa ada banyak jalan menuju keselamatan. Mereka berkata bahwa keselamatan juga terdapat dalam agama lain di luar Gereja Katolik. Dengan mengatasnamakan Konsili Vatikan II, mereka berkata bahwa dogma “Extra Ecclesiam Nulla Salus – Di luar Gereja tidak ada keselamatan” sudah diganti dan tidak berlaku lagi.

Kesesatan pengajaran ini akhirnya melahirkan mentalitas “semua agama sama saja, sama-sama membawa seseorang kepada Tuhan”; “semua agama sama-sama mengajarkan hal yang baik”, atau “semua agama itu sama benarnya”. Sebuah pola pikir yang sangat bertentangan dengan perkataan Kristus sendiri.

Kesesatan yang jahat ini – entah disadari atau tidak disadari oleh mereka yang mengajarkannya – sebenarnya merupakan pengulangan kesesatan yang disebut indiferentisme, yang sudah dikecam oleh Paus Gregorius XVI dalam ensiklik Mirari Vos. Tidakkah hal ini mengingatkan kita pada hasutan si ular yang seakan-akan memberikan jaminan keamanan bagi manusia pertama, namun di balik itu sebenarnya ia hendak mengubah pola pikir manusia akan perintah Allah yang telah dinyatakan dengan jelas dan pasti?

Seperti yang dikatakan St. Augustinus, kita harus dengan berani bertarung melawan kesesatan demi kebenaran, dengan menegaskan kebenaran iman yang fundamental dan kekal: bahwa Yesus Kristus, satu-satunya Penyelamat manusia, telah mendirikan Gereja Katolik sebagai satu-satunya sarana keselamatan. Dalam pengakuan iman, kita selalu mengucapkan “Aku percaya akan Yesus Kristus….aku percaya akan Gereja Katolik yang kudus”. Pengakuan iman ini secara implisit menegaskan bahwa Kristus dan Gereja tidak pernah dapat terpisahkan, dan karenanya keselamatan yang berasal dari Kristus juga tidak terpisah dengan Gereja-Nya.

Gereja Katolik adalah satu-satunya agama yang benar (Dignitatis Humanae art 1) yang menerima wahyu yang berasal dari Allah secara penuh. Konsili Vatikan II tidak pernah dan tidak akan bisa mengubah dogma Gereja dan menentang ajaran Gereja sebelumnya. Apakah ajaran EENS ini berarti bahwa orang katolik pasti selamat? Tentu tidak, karena orang katolik juga perlu memperjuangkan keselamatannya dengan bantuan sakramen-sakramen.

Sekarang saya ingin merenungkan bacaan injil. Injil hari ini mengajarkan kita bahwa mereka yang ingin mengikuti Kristus, harus menyangkal diri dan memikul salib. Lebih lanjut, Paus Benediktus menambahkan bahwa “mengikuti Yesus dalam iman berarti berjalan di sisi-Nya di dalam persekutuan dengan Gereja. Kita tidak bisa mengikuti Yesus menurut cara kita sendiri. Siapapun yang tergoda untuk melakukannya “dengan caranya sendiri” atau untuk mendekati kehidupan iman dengan semacam individualisme yang umum pada masa kini, tidak pernah akan menemui Yesus, atau akan berakhir dengan mengikuti Yesus yang palsu.” (Homili pada Misa World Youth Day di Madrid)

Mereka yang bertekun di jalan keselamatan ini harus menaati perintah Allah sebagai bukti kasih mereka kepadanya: “Jika kamu mengasihi aku, taatilah perintah-perintahku” (Yoh 14:15). Dalam konteks masa prapaskah ini, bagaimana kita menaati perintah Allah ini? Caranya adalah dengan menjalani pantang dan puasa, berdoa serta berderma, sesuai dengan ketetapan Gereja. Namun dalam renungan ini, saya ingin memberikan sedikit permenungan tentang puasa berdasarkan tulisan Paus Benediktus XVI pada pesan prapaskah tahun 2009.

Berpuasa dapat membantu kita mengendalikan hasrat yang tidak teratur, dan berperan penting dalam menumbuhkan keutamaan pengendalian diri. Namun hendaknya puasa yang kita lakukan tidak hanya terdiri dari menahan diri untuk tidak makan secara berlebihan. Ketika Yesus dicobai di padang gurun setelah Ia berpuasa, Ia menjawab iblis dengan berkata “manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah” (Mat 4:4). Dengan berdoa dan membaca Kitab Suci serta bacaan rohani, kita dapat memiliki disposisi batin untuk mendengarkan perkataan Kristus yang ditujukan kepada kita, karena “puasa sejati diarahkan untuk memakan ‘makanan sejati’ yang artinya melakukan kehendak Bapa (Yoh4:34)” (Paus Benediktus XVI).

Dengan pertolongan rahmat Tuhan, semoga kiranya masa prapaskah ini dapat membantu kita untuk semakin bertumbuh dalam kekudusan, sehingga kita semakin mengenali dan melakukan apa yang Allah kehendaki pada kita. Saya tutup renungan ini dengan kutipan berikut:

“Dalam kehidupan rohani terdapat dua prinsip besar yang tidak pernah boleh dilupakan: Tanpa rahmat kita tidak bisa melakukan apa-apa (Yoh 15:5); dengan rahmat kita bisa melakukan segala sesuatu.” (Filipi 4 : 13) – Vital Lehodey

One comment

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: