Kutipan Paus Benediktus XVI tentang Cinta

Ecstasy of St. Teresa of Avila

“Cinta yang autentik jelas merupakan sesuatu yang baik. Tanpanya, hidup hampir tidak layak dijalani. Ia memenuhi kebutuhan terdalam kita, dan ketika kita mencintai, kita menjadi diri kita secara utuh, sepenuhnya manusiawi. Tapi betapa mudah cinta dijadikan allah palsu! Orang-orang sering berpikir mereka mengasihi, ketika sesungguhnya mereka menjadi posesif atau manipulatif. Mereka terkadang memperlakukan yang lain sebagai objek untuk memuaskan kebutuhan mereka dan bukannya memperlakukannya sebagai pribadi yang dikasihi dan dihargai. Betapa mudahnya mereka tertipu oleh banyak suara dalam masyarakat kita yang mendukung pendekatan yang permisif terhadap seksualitas, tanpa memperhatikan kesopanan, harga diri atau nilai-nilai moral yang membawa kualitas dalam relasi manusia! Ini adalah penyembahan terhadap allah yang palsu. Bukannya membawa kehidupan, melainkan ia membawa kematian.

Benediktus XVI
Address – Meeting with disadvantaged people – Sydney
July 18, 2008

“Jatuh cinta, yang merupakan suatu emosi, tidaklah abadi. Emosi cinta harus dimurnikan…ia harus melakukan perjalanan discernment dimana pikiran dan kehendak juga ikut terlibat…dalam ritus pernikahan Gereja tidak bertanya apakah kalian jatuh cinta tetapi Gereja bertanya apakah kamu menginginkan, apakah kamu berhati teguh. Di sisi lain, pengalaman jatuh cinta harus menjadi cinta sejati, ia harus melibatkan kehendak dan pikiran dalam sebuah perjalanan (yang merupakan periode pertunangan) pemurnian, perjalanan dengan kedalaman yang lebih besar sehingga sungguh manusia lah, dengan segala kapasitasnya, dengan pembedaan nalar dan kekuatan kehendak, yang berkata : Ya, ini adalah hidupku.”

Benediktus XVI

Questions and Answers at “Celebration of Witnessess”

 

“Berbeda dengan cinta yang tak terumuskan dan dalam pencarian, kata ini [agape] mengungkapkan cinta yang memuat suatu pencarian konkret akan yang lain, bergerak mengatasi ciri egoistis yang tampak dalam pengertian kata sebelumnya [dodim]. Cinta tidak lagi suatu pencarian diri, tenggelam dalam kemabukan kebahagiaan, namun mencari apa yang baik pada mereka yang dicintai : itu menjadi penyerahan diri dan siap sedia, bahkan rela untuk berkorban. Hal itu merupakan bagian dari cinta yang tumbuh menuju tingkat yang lebih tinggi dan pemurnian diri yang semakin pasti, dan berjalan demikian dalam dua pengertian eksklusif (untuk orang tertentu saja) dan dalam pengertian “untuk selamanya.””

“Sebaliknya, orang tidak dapat hidup hanya dengan cinta kemurahan hati, kasih yang memberikan diri. Dia tidak bisa hanya selalu memberi, dia juga harus menerima. Seseorang yang ingin memberikan cintanya harus pula menerima cinta sebagai suatu hadiah. Tentu, sebagaimana Tuhan mengajarkannya pada kita, seseorang dapat menjadi sumber yang darinya mengalir air kehidupan (Yoh 7:37-38) jika dia menimba kasih Allah dari hati Yesus yang senantiasa terbuka.”

“Cinta memuat keseluruhan diri dalam masing-masing dimensinya, termasuk dalam dimensi waktu. Tidak bisa menjadi sesuatu yang lain, karena cinta itu menjanjikan suatu tujuan yang pasti : cinta memandang keabadian. Cinta sungguh adalah suatu ‘ekstase’, bukan dalam pengertian saat mabuk, namun lebih sebagai suatu perjalanan, perjalanan untuk terus menerus keluar dari pemusatan diri menuju pada pencarian diri secara sungguh, dan pencarian akan Allah.

Benediktus XVI

Ensiklik Deus Caritas Est

“Cinta selalu merupakan sebuah proses yang melibatkan pemurnian, pengorbanan, dan perubahan menyakitkan bagi diri kita – dan cara ini menunjukkan bagaimana cinta merupakan sebuah perjalanan menuju kedewasaan.

Benediktus XVI

Jesus of Nazareth, Volume I, p. 162.

“Rasa sakit adalah bagian dari manusia. Siapapun yang sungguh ingin menyingkirkan penderitaan harus menyingkirkan cinta diantara segalanya, karena tidak ada cinta tanpa penderitaan, karena cinta selalu menuntut sebuah unsur pengorbanan-diri, karena, walau terdapat perbedaan temperamental dan drama situasi, cinta akan selalu membawa bersamanya penolakan dan rasa sakit.” 

Joseph Cardinal Ratzinger

An excerpt from God and the World: A Conversation with Peter Seewald, pages 332-36, 333.

“Sebagai pasangan yang bertunangan, kamu menemukan dirimu menghidupi masa yang unik yang membuka dirimu kepada ketakjuban pertemuan dan memampukanmu menemukan keindahan keberadaan dan keindahan menjadi seseorang yang berharga bagi orang lain, yang mampu berkata satu sama lain : kamu sosok yang penting bagiku. Hidupilah perjalanan ini dengan intens, bertahap dan nyata. Jangan menyerah dalam mengikuti ideal kasih yang tinggi, sebuah refleksi dan kesaksian akan kasih Allah! Tapi bagaimana kamu harus menghidupi tahap kehidupanmu ini dan menjadi saksi kasih dalam komunitas? Saya ingin memberitahumu, pertama-tama, untuk menghindar dari upaya menutup diri dalam relasi intim yang memberi keyakinan palsu, melainkan berusahalah untuk menjadikan relasimu sebuah ragi kehadiran yang aktif dan bertanggung jawab dalam komunitas.”

“Lalu jangan lupakan bahwa agar cinta menjadi asli, cinta juga mengharuskan proses pendewasaan : dari ketertarikan awal dan dari “merasa baik” dengan orang lain, belajar “mencintai” yang lain dan “menginginkan yang terbaik” bagi yang lain. Cinta hidup dengan memberi secara bebas, dengan pengorbanan diri, dengan pengampunan dan rasa hormat terhadap orang lain.”

“Semua kasih manusiawi adalah tanda Kasih yang kekal yang menciptakan kita dan yang rahmat-Nya menguduskan keputusan yang dibuat oleh pria dan wanita untuk memberikan diri mereka secara timbal balik dalam pernikahan. Hidupilah periode pertunanganmu dalam pengharapan yang penuh rasa percaya terhadap karunia ini , yang seharusnya diterima sementara mengikuti jalan pengetahuan, rasa hormat dan kepedulian, yang tak pernah boleh hilang : hanya atas syarat inilah bahasa cinta tetap menjadi penting, sekalipun waktu berlalu…”

“Persiapkan dirimu untuk memilih dengan keyakinan ‘untuk selamanya’ yang mengandung arti cinta; ketidakterceraian pernikahan, sebelum menjadi suatu syarat, adalah karunia yang harus diinginkan, diminta dan dihidupi, pilihlah keyakinan itu diatas situasi manusia yang berubah-ubah. Dan jangan membayangkan, sesuai dengan gagasan yang beredar luas, bahwa hidup bersama adalah jaminan bagi masa depan.”

“Pengalaman cinta mengandung pencarian akan Allah. Cinta sejati menjanjikan Yang Tak Terhingga! Karenanya jadikan periode persiapan pernikahan ini rencana perjalanan iman : temukan kembali sentralitas Yesus Kristus dan berjalan bersama Gereja dalam hidupmu sebagai pasangan.”

Benediktus XVI

Address – Meeting with Young Couples

September 11, 2011

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: