Maut yang Misterius (in memoriam: Robby K. Sitohang)

Sebagai seorang dokter, kematian sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Saya pernah melihat pasien yang awalnya masuk dengan penyakit yang relatif ringan dan selama perawatan menunjukkan tanda-tanda perbaikan, namun tiba-tiba kondisinya menurun tajam kemudian meninggal. Saya juga pernah menerima pasien korban kecelakaan yang datang sudah tidak sadar dan dengan nadi yang sudah tidak teraba. Ada juga beberapa orang yang menjadi “pasien abadi”: mereka sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan di rumah sakit, antara ada dan tiada, penyakit kronisnya menggerogoti tubuh mereka perlahan-lahan dari dalam.

Mereka semua datang dari segala usia, berbagai latar belakang, laki-laki dan perempuan, orang baik-baik maupun kriminal. Dengan sebegitu beragamnya kasus yang berakhir dengan kematian, orang mungkin menganggap bahwa saya sudah bisa menerima dan menanganinya dengan lebih baik dibandingkan orang-orang kebanyakan seusia saya.

Yah, anggapan tersebut terbukti keliru. Memang, saat saya mendengar kabar bahwa Robby masuk ICU dalam keadaan koma, yang pertama kali saya pikirkan adalah hal-hal seperti Glasgow Coma Scale (GCS, skoring untuk menilai kesadaran), teori-teori tentang penyakit yang diderita Robby, dan prognosisnya berdasarkan statistik. Kesimpulan akhirnya, sebagai seorang klinisi (dengan mengabaikan identitas saya sebagai orang Katolik), saya sudah tahu bahwa prognosis Robby saat itu sangat buruk. Artinya, harapannya tipis.

Sepintas saya sempat berpikir, dengan mengetahui hal-hal demikian, saya sudah berhasil mengalahkan paling tidak fear of the unknown — ketakutan akan sesuatu yang tidak kita pahami. Paling tidak, saya sudah tahu perjalanan penyakitnya, jadi mestinya saya sudah tidak kaget lagi, bukan?  Tetapi ketika tidak sampai 2 jam kemudian tersiar kabar bahwa Robby telah berpulang, apa yang saya rasakan ternyata jauh dari dugaan.

Jika harus menyebutkan satu kata untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu, mungkin kata yang tepat adalah KOSONG. Ya, kosong. Bukan kosong seperti tidak merasakan apa-apa. Kosong seperti ada seserpih bagian dari diri saya yang terenggut tanpa seizin saya. Serpihan yang tidak membuat saya jadi hancur total juga, tetapi bagaimanapun, membuat saya — atau lebih tepatnya kami, seluruh tim apologist Katolik Indonesia — tidak sama lagi. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa?”, “Koq bisa?”, “Kenapa cepat sekali?” tetap saja bermunculan di pikiran ini; pertanyaan-pertanyaan yang mestinya tidak pantas ditanyakan oleh seseorang yang (katanya) sudah terbiasa dengan peristiwa akhir kehidupan.

Namun ternyata ilmu medis memang tidak membantu kita memahami kematian itu sendiri. Ilmu hanya bisa menjelaskan sampai batas tertentu, sementara kematian tetaplah misteri; ia “datang seperti pencuri” (Why 16:15), tak terduga dan acak. Kalau mau bicara soal kepantasan, mungkin Robby bukanlah orang yang pantas untuk meninggal dalam usia semuda itu. Rasanya kita dapat menunjuk siapa-siapa orang yang kita pikir lebih layak untuk meninggal duluan. Tetapi tetap saja, Saudari Maut ternyata telah jatuh hati kepada sahabatku dan saudaraku Robby; ia berkenan untuk menjabat tangannya dan membawanya pergi, padahal saya sendiri belum pernah bertemu dengan dia di luar dunia maya.

Jujur, saya sebenarnya tidak suka merenungkan kematian terlalu dalam. Toh pikiran saya tidak akan “sampai” juga. Saya lebih suka memandang ke depan, ke sebuah artikel iman yang kita akui sebagai pengikut Kristus: kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Ya, bagi seorang Kristen yang setia seperti Robby, kematian hanyalah sebuah transisi, sebuah pintu gerbang, menuju kehidupan yang sebenarnya, menuju rumah yang sejati.

Saya tidak bermaksud meremehkan ngerinya Neraka. Sama sekali tidak. Perlu saya tekankan bahwa Neraka itu nyata dan kita harus melakukan apapun yang kita bisa untuk menghindarinya. Saya juga tidak bermaksud menyatakan bahwa saya tahu pasti di mana arwah Robby sekarang. Penghakiman tersebut adalah hak prerogatif Allah semata.

Tetapi kengerian yang berlebihan juga kurang baik karena bisa-bisa kita menjadi paranoid dan kurang iman. Kewaspadaan akan dosa dan Neraka perlu diimbangi dengan harapan yang besar akan kerahiman Allah. Maka saya mengajak kita semua untuk merenungkan perikop berikut:

“Apabila yang dapat binasa mengenakan hidup yang tidak dapat binasa, dan keadaan yang dapat mati mengenakan yang tidak dapat mati, akan digenapi sabda Kitab Suci: Maut telah ditelan oleh kemenangan. Maut, di manakah kemenanganmu? Maut, di manakah sengatmu?

Sengat maut ialah dosa, dan kekuatan dosa ialah hukum Taurat. Tetapi bersyukurlah kepada Allah yang memberikan kepada kita kemenangan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.

Oleh sebab itu, saudara-saudara terkasih, hendaklah tabah dan janganlah goyah. Hendaklah kamu selalu maju dalam karya Tuhan, sambil mengetahui bahwa bersama dengan Dia jerih payah kamu tidak akan sia-sia.”

1 Korintus 16:54-58

Mari kita bersama-sama menjaga nyala pelita kita dan kebersihan pakaian kita, agar jangan sampai Saudari Maut yang misterius itu menjumpai kita dalam keadaan tak berpelita dan telanjang.

2 komentar

  1. terimakasih untuk tulisannya yang indah untuk Saudara kita Severinus Klemens Sitohang……. jika diizikan bolehkah kami memasukkan dalam rubrik Buletin Lentera Iman yang merupakan Buletin milik KOMSOS Keuskupan Agung Makassar yang juga diasuh oleh mas Severinus sebagai Dewan Redaksi didalamnya…….

    1. Dear Buletin Lentera Iman,
      Salam kenal! Silahkan memuat tulisan ini di buletin, dengan mencantumkan signature penulis Servus Veritatis, dan link Lux Veritatis 7 (https://luxveritatis7.wordpress.com).
      Semoga Hati-Nya yang Mahakudus, yang sekarang menjadi tempat kediaman Robby, menjadi penghiburan kita semua yang masih berziarah di bumi.

      —SV—

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: