Memento Mori : Robby Kristian Sitohang

Bulan Februari ini tampaknya menjadi bulan yang agak sedih buat saya. Setelah setahun sebelumnya Gereja Universal “kehilangan” salah seorang Gembala terbaiknya, Paus Benediktus XVI, sekarang tahun ini, Bunda Gereja yang Kudus juga kehilangan Putra Terbaiknya, Robby Kristian Sitohang. Jujur, kabar kematiannya begitu cepat tersebar, dan ketika mendengar hal ini, mau tidak mau, suka tidak suka, saya dipaksa untuk merenung tentang kematian. Tulisan ini mungkin agak berantakan, tapi saya ingin berbagi apa yang sedang saya pikirkan saat ini.

Kita mendengar berita duka, kita mendapatkan informasi tentang kematian seseorang. Tapi, kematian itu bukanlah hal yang dekat dengan kita. Ia terlihat jauh, saking jauhnya tanpa kita sadari, MUNGKIN, bisa jadi kematian itu sedang berjalan dengan langkah kecilnya di titik buta kita, secara perlahan mendekati kita, menggengam kita dan….ya, tahu-tahu anda sudah tak berdaya, kehilangan setengah dari daya kehidupan. Atau mungkin langsung mati begitu saja.

Ketika mendengar tentang kematian, tanpa saya sadari saya langsung teringat tentang Neraka. Ya, saya ulangi, NERAKA. N.E.R.A.K.A. Banyak orang tidak suka mendengarkan ini, dan sejujurnya saya juga tidak mengerti kenapa banyak imam yang juga jarang menekankan salah satu ajaran Gereja yang ini. Oleh karena itu, sepertinya menjadi tugas saya untuk membicarakan hal yang satu ini.

Gereja mengajarkan bahwa setelah meninggal seseorang akan segera dihakimi dan ditentukan dimana jiwanya berada, apakah di surga, neraka atau api penyucian. Untuk masuk ke neraka, cukup satu dosa berat yang tidak disesali sebelum wafat, yang dapat memasukkan kita ke sana. Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa neraka itu memang ADA dan NYATA (ayat menyusul). Nah, untuk menghindarinya, tentu perlu pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, dan tentunya kesadaran tentang dosa MUTLAK perlu sebelum melakukan dua itu. Sayangnya, sepertinya manusia sudah tidak peka lagi terhadap dosa. Ada berapa banyak orang yang mengaku dosa secara rutin, setidaknya seminggu sekali? Ada berapa banyak imam yang menyempatkan dirinya seminggu sekali, atau minimal sebulan sekali, untuk hadir di kamar pengakuan? Ada berapa banyak imam yang dalam homilinya menekankan tentang perlunya pengakuan dosa, betapa mengerikannya neraka, serta pentingnya kepekaan terhadap dosa? Saya tidak memukul rata kenyataan ini pada semua imam, tapi, berdasarkan pengalaman saya, saya belum pernah mendengar tentang hal ini dalam homili, atau diluar itu.

Kita orang katolik bukan hanya Gereja peziarah, tapi juga Gereja MILITAN. Kehidupan manusia bukan sekedar peziarahan, tapi juga suatu peperangan rohani. Iblis itu nyata, dan ia tidak pernah lelah bekerja untuk merenggut jiwa anda dan saya, untuk mencampakkannya ke dalam jurang api abadi. Tuhan sendiri berkata, jalan menuju ke dalam kebinasaan kekal itu luas dan lebar, dan banyak yang masuk ke dalamnya. Sekarang, dimana posisi kita : Apakah kita termasuk dalam kelompok yang banyak ini, ataukah kita berada bersama orang-orang yang berada di jalan yang sempit, tapi mengarah pada kehidupan kekal? Hati-hati dalam menjawabnya, jangan terlalu percaya diri, ingat, iblis adalah bapa segala dusta, bisa saja anda merasa aman padahal sebenarnya justru anda berada paling dekat dengan neraka.

Sejujurnya, saya pernah sedikit berandai-andai, kalau saya tahu kapan saya akan mati, saya bertanya-tanya, apakah akan ada yang menangisi kepergian saya? Apakah hidup saya cukup layak untuk dikenang orang? Apakah akan ada seseorang yang berbicara tentang saya di pemakaman saya? Kenyataannya, pemikiran ini menunjukkan bahkan ketika seseorang (yang bahkan baru berandai-andai) mendekati ajal, ia tidak mau meninggal dalam kesunyian dan kesendirian.

Akhirnya, permenungan saya terus berlanjut tentang apa yang akan saya lakukan kalau saya tahu kapan saya akan mati: saya akan menyerahkan blog Lux Veritatis 7 kepada partner saya, saya akan meminta sahabat saya mengeprint jurnal dan catatan pribadi saya untuk diserahkan pada orang tua saya, saya akan mempercayakan seluruh harta (terutama buku-buku teologi saya) kepada sahabat saya, agar bisa digunakan demi kebaikan Gereja, saya akan menyatakan perasaan saya kepada wanita yang saya kasihi, saya akan memanfaatkan sisa hidup saya untuk menulis, merenung, dst.

Pemikiran seperti itu menunjukkan bahwa manusia ingin meninggalkan sesuatu yang berguna, yang berharga bagi orang lain. Setidaknya, dari sudut pandang saya, ada keinginan untuk menanamkan sesuatu, menanamkan keabadian dalam kefanaan dunia yang nista ini. Ada dorongan agar kehidupan yang fana ini dijalankan dan diakhiri sebagai seorang penabur benih.

Apa yang abadi? Paus Benediktus XVI menjawab, bukan uang, buku atau bangunan. Apa yang abadi adalah jiwa manusia, dan benih yang kita tanam di dalamnya akan menghasilkan buah yang juga abadi.

Apakah benih itu? Tidak lain adalah harta karun iman Gereja yang sudah ada selama 2000 tahun. Inilah benih itu, dan ini jugalah yang dikerjakan oleh rekan dan sahabat saya, Robby, melalui pewartaan dunia digital. Ya, blog Indonesian Papist adalah wujud nyata dari sang penabur benih itu.

Saya kira, saya juga memutuskan untuk terus berjalan di jalan yang kami tapaki bersama. Jalan seorang penabur benih, yang bekerja untuk keabadian, untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Ketika di bulan kasih sayang ini orang banyak berbicara tentang cinta, khususnya cinta dan kasih sayang antara pria dan wanita, sepertinya saya akan mulai memikirkan tentang cinta saya pada jiwa saya, pada keselamatan saya, dan juga keselamatan jiwa-jiwa yang lainnya. Mungkin (saya belum memutuskan dengan pasti), bulan kasih sayang ini akan saya dedikasikan juga sebagai bulan kasih sayang bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Bagaimana permenungan anda tentang kematian?

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: