Grand Lectio Paus Benediktus XVI : Petrus Apostolus

Christ Handing the Keys to Peter by Pietro Perugrino 1481

Setiap tahun saya bersukacita karena berada disini bersamamu dan melihat begitu banyak pria muda yang terikat panggilan imamat yang memperhatikan suara Tuhan, yang ingin mengikuti suara ini dan mencari cara melayani Tuhan di jaman kita.

Kita telah mendengar tiga ayat dari Surat Pertama St. Petrus (1 Pet 1:3-5). Sebelum masuk dalam teks ini tampaknya penting untuk menyadari kenyataan bahwa Petrus lah yang berbicara. Dua kata pertama dari surat ini adalah “Petrus Apostolus” (ay. 1) : ia berbicara dan berbicara kepada gereja-gereja di Asia dan memanggil umat beriman sebagai “yang terpilih”, dan “orang-orang asing yang tercerai-berai”. Mari kita sedikit merenungkan hal ini. Petrus berbicara  – seperti yang kita dengar di akhir suratnya – ia berbicara dari Roma, yang disebut “Babylon” (5:13). Petrus berbicara seolah-olah tulisannya merupakan ensiklik pertama dimana Rasul pertama, Wakil Kristus, berbicara kepada Gereja sepanjang masa.

Petrus, seorang rasul : karenanya ia yang berbicara adalah ia yang menemukan Mesias dalam Yesus Kristus, yang pertama berbicara demi masa depan Gereja :“Engkau adalah Kristus, Putra Allah yang hidup” (Mat 16:16). Ia yang memperkenalkan kita iman ini berbicara, yang kepadanya Tuhan berkata :”Aku akan memberikan kunci kerajaan surga” (Mat 16:19), kepadanya dipercayakan kawanan dombanya setelah Kebangkitan, Yesus berkata padanya tiga kali :”Gembalakanlah domba-dombaku…gembalakanlah domba-dombaku” (Yoh 21:15-17). Dan pria yang jatuh ini juga berbicara, pria yang menyangkal Yesus tiga kali dan diberikan rahmat untuk melihat tatapan Yesus, merasa tersentuh dalam hatinya dan menemukan pengampunan serta pembaruan misinya. Namun, terutama penting juga bahwa pria ini, penuh hasrat, penuh kerinduan akan Allah, penuh hasrat bagi Kerajaan Allah, bagi Mesias, pria yang telah menemukan Yesus ini – Tuhan dan Mesias – juga pria yang berdosa, yang jatuh; namun ia tetap ada dalam jarak pandang Allah dan dalam cara ini ia tetap bertanggung jawab bagi Gereja Tuhan, ia tetap ditugaskan oleh Kristus, ia tetap pembawa pesan kasih Kristus.

Petrus Sang Rasul berbicara namun para penafsir kitab suci memberitahu kita : tidak mungkin Surat ini ditulis Petrus karena bahasa Yunani nya sangat bagus sehingga tidak bisa seorang nelayan dari laut Galilea menulisnya. Tidak hanya bahasanya – sintaksis nya juga sangat baik – tapi juga pemikirannya yang sudah cukup matang, terdapat rumusan-rumusan aktual dimana iman dan refleksi tentang Gereja dirangkum. Para penafsir ini berkata, karenanya : ia telah mencapai tingkat perkembangan yang tidak bisa dicapai Petrus. Bagaimana menanggapinya? Ada dua posisi penting : pertama, Petrus sendiri – yaitu suratnya – memberikan kita petunjuk, di akhir tulisannya ia berkata Aku menulis kepadamu :”oleh Silvanus…dia Silvanus”. “oleh” [dia] ini dapat berarti banyak hal. Hal ini dapat berarti Silvanus membawa atau meneruskan; dapat berarti Silvanus membantu Petrus menulisnya; bisa juga berarti pada prakteknya sungguh Silvanus yang menulisnya. Kita dapat menyimpulkan bahwa surat itu sendiri menunjukkan pada kita bahwa Petrus tidak sendirian dalam menulis Surat ini tetapi ia mengungkapkan iman Gereja, yang merupakan sebuah perjalanan iman, iman yang menjadi dewasa. Ia tidak menulis sendirian, seperti individu yang terisolasi; ia menulis dengan bantuan Gereja, orang-orang yang menolongnya memperdalam iman, masuk dalam kedalaman pemikirannya, rasionalitasnya, kedalamannya. Dan ini sangat penting : Petrus tidak berbicara sebagai individu, ia berbicara sebagai ex persona Ecclesiae, ia berbicara sebagai abdi Gereja, sebagai individual tentu saja, dengan tanggung jawab personalnya, tetapi juga sebagai ia yang berbicara demi Gereja, tidak hanya gagasan pribadi dan orisinil, tidak sebagai jenius abad 19 yang hanya ingin mengungkapkan gagasan personal dan orisinilnya yang tak dapat diungkapkan orang lain. Tidak. Ia tidak berbicara sebagai individu yang jenius, tetapi berbicara, secara tepat, dalam persekutuan Gereja. Dalam kitab Wahyu, dalam Visi awal Kristus, dikatakan bahwa suara Kristus seperti suara desau air bah (Wah 1:15). Ini artinya : suara Kristus mengumpulkan semua air di seluruh dunia, memikul di dalamnya air hidup yang memberi kehidupan pada dunia; Ia adalah Pribadi, tetapi inilah kebesaran Tuhan, bahwa Ia memikul di dalamnya semua sungai Perjanjian Lama, yaitu kebijaksanaan banyak orang. Dan apa yang dikatakan Tuhan juga berlaku disini, dalam cara yang berbeda, kepada Rasul Petrus. Ini tidak berarti ia mengucapkan perkataannya saja, tapi perkataannya sungguh mengandung air iman, air seluruh Gereja, dan inilah yang memberikannya kesuburan, produktivitas. Karenanya merupakan kesaksian pribadi yang terbuka kepada Tuhan dan dengan cara ini  lah[kesaksian pribadi itu] menjadi terbuka dan luas. Jadi hal ini sangat penting.

Maka saya pikir penting bahwa dalam kesimpulan Surat [Petrus], Silvaus dan Markus disebutkan, dua orang yang juga teman St. Paulus. Jadi melalui kesimpulan ini dunia St. Petrus dan Paulus bertemu : tidak ada teologi Petrus yang eksklusif melawan teologi Paulus, tetapi sebuah teologi Gereja, iman Gereja, yang di dalamnya tentu terdapat keberagaman tempramen, pemikiran, gaya, diantara cara bicara Paulus dan Petrus. Benar bahwa perbedaan ini harus ada sekarang. Ada karisma-karisma berbeda, tempramen yang berbeda, namun tidak terdapat konflik tetapi mereka disatukan dalam iman bersama.

Saya ingin mengatakan lagi : St. Petrus menulis dari Roma. Ini penting. Disini kita telah memiliki Uskup Roma, kita memiliki awal suksesi, kita telah memiliki awal Primasi aktual yang terletak di Roma, tidak hanya diberikan Tuhan kita tapi ditempatkan di sini, di kota ini, di ibu kota dunia ini. Bagaimana Petrus datang ke Roma? Ini pertanyaan serius. Kisah para rasul memberitahu kita bahwa setelah melarikan diri dari penjara Herodes, ia pergi ke tempat lain (Kis 12:17) – eis eteron topon – kemana ia pergi tidak diketahui; beberapa berkata ia pergi ke Antiokia, yang lain berkata ke Roma. Bagaimanapun, dalam ibu kota ini juga harus dikatakan bahwa sebelum melarikan diri ia mempercayakan Gereja Yudeo-Kristiani, Gereja Yerusalem, kepada Yakobus, dan dalam mempercayakannya kepada Yakobus ia tetaplah Primat Gereja Universal, Gereja bangsa non Yahudi tapi juga Gereja Yudeo-Kristiani. Dan di Roma ia menemukan komunitas Yudeo-Kristiani yang besar. Ahli liturgi memberitahu kita bahwa dalam Kanon Romawi terdapat jejak-jejak bahasa dengan ciri Yudeo-Kristiani. Karenanya kita melihat di Roma terdapat dua bagian gereja ditemukan : gereja Yudeo-Kristiani dan Kristiani-pagan, bersatu, sebuah ungkapan Gereja universal. Dan bagi Petrus, berpindahnya ia dari Yerusalem ke Roma berarti berpindahnya universalitas Gereja, berpindah dari Gereja bangsa non Yahudi dan Gereja semua jaman, menuju Gereja yang juga masih milik orang Yahudi. Dan saya pikir dalam kepindahannya ke Roma St. Petrus tidak hanya memikirkan pemindahan ini : Yerusalem/Roma, Gereja Yudeo-Kristiani/Gereja universal. Ia pasti juga mengingat perkataan terakhir Yesus kepada, dicatat oleh St. Yohanes :”ketika engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu, orang lain akan mengikat engkau dan membawamu ke tempat yang tidak kau kehendaki” (Yoh 21:18). Ini adalah nubuat penyaliban. Philologist menunjukkan kita bahwa “mengulurkan tanganmu” merupakan ungkapan yang tepat dan tehnis dari penyaliban. St. Petrus mengetahui bahwa akhir hidupnya adalah kemartiran, salib : karenanya ia mengikuti Kristus secara menyeluruh. Konsekuensinya, dalam keberangkatan ke Roma tidak diragukan lagi bahwa ia juga pergi menuju kemartiran : kemartiran menantinya di Babylon. Primasi, karenanya mengandung konten universalitas dan juga martirologis. Lebih lanjut, Roma telah menjadi tempat kemartiran sejak awal. Dalam kepergiannya ke Roma, Petrus sekali lagi menerima perkataan Tuhan : ia pergi menuju salib dan mengundang kita juga menerima aspek kristiani martirologis, yang memiliki bentuk yang sangat berbeda. Dan salib juga memiliki bentuk yang sangat berbeda, tetapi seseorang tidak bisa menjadi Kristen tanpa mengikuti Ia yang tersalib, tanpa menerima momen martirologis juga.

Setelah berbicara tentang sang pengarang, mari kita berbicara juga tentang orang-orang yang kepadanya Surat ini ditulis. Saya telah berkata bahwa St. Petrus menggambarkan mereka yang kepadanya ia menulis surat dengan perkataan ini :”eklektois parepidemois”, “kepada orang-orang terpilih yang diasingkan dan tercerai berai” (1 Pet 1:1). Sekali lagi kita memiliki paradoks kemuliaan dan salib : terpilih, tetapi terbuang dan orang asing. Terpilih : inilah gelar kemuliaan Israel : kami bangsa terpilih, Allah memilih bangsa kecil ini bukan karena lebih banyak dalam jumlah – kata kitab ulangantetapi karena Ia mengasihinya (7:7-8). Kita dipilih : St. Petrus sekarang memindahkan ini kepada semua umat terbaptis dan konten bab pertama suratnya ini adalah bahwa orang terbaptis dimasukkan dalam hak istimewa Israel, merekalah Israel baru . Dipilih : Saya pikir pantas merenungkan perkataan ini. Kita dipilih. Allah selalu mengenal kita, bahkan sebelum kelahiran kita, sebelum konsepsi kita; Allah menginginkan saya sebagai orang Kristen, sebagai orang Katolik, ia menginginkan saya sebagai seorang imam. Allah memikirkan saya, Ia mencari saya diantara jutaan, diantara banyak orang, ia melihat dan memilih saya. Bukan karena jasa saya, yang memang tidak ada, tapi karena kebaikan-Nya; Ia menginginkan saya menjadi pembawa pesan pilihan-Nya, yang juga selalu merupakan misi, di atas segalanya suatu misi dan tanggung jawab bagi orang lain. Dipilih : kita harus bersyukur dan bersukacita atas kejadian ini. Allah memikirkan saya, ia memilih saya sebagai orang katolik, saya, sebagai pembawa pesan Injil-Nya, sebagai imam. Menurut saya, pantas sekali merenungkan hal ini beberapa kali dan kembali kepada fakta pilihan-Nya ini; ia memilih saya, ia menginginkan saya; sekarang saya menanggapinya.

Mungkin sekarang kita tergoda untuk berkata : kami tidak ingin bersukacita karena telah dipilih, karena ini berarti triumfalisme. Merupakan triumfalisme untuk berpikir bahwa Allah telah memilih saya karena saya begitu penting. Ini sungguh merupakan triumfalisme yang keliru. Bagaimanapun, bergembira karena Allah menginginkan saya bukanlah triumfalisme. Melainkan hal tersebut merupakan ungkapan syukur dan saya pikir kita harus mempelajari kembali sukacita ini : Allah menginginkan saya lahir dalam cara ini, dalam keluarga Katolik, Ia menginginkan saya  mengenal Yesus sejak awal. Betapa indahnya karunia ini, diinginkan oleh Allah agar saya dapat mengenal Yesus Kristus, wajah manusiawi Allah, sejarah manusiawi Allah dalam dunia ini! Bersukacita karena ia telah memilih saya menjadi orang katolik, berada dalam Gereja-Nya, dimana subsistit Ecclesia unica; kita seharusnya bergembira karena Allah telah memberikan saya rahmat ini, keindahan karena mengenal kepenuhan kebenaran Allah, sukacita kasih-Nya.

Dipilih : sebuah kata privilise dan kerendahan hati. Namun “terpilih” – seperti yang saya katakan – ditemani oleh kata “parepidemois”, orang-orang buangan, orang asing. Seperti umat Kristen yang tercerai-berai dan kita adalah orang asing : kita melihat bahwa umat Kristen adalah kelompok yang paling dianiaya di dunia saat ini, karena ia menolak konformitas, karena ia merupakan stimulus, karena ia menentang kecenderungan ke arah keegoisan, materialisme dan semua hal ini.

Umat Kristen tentunya tidak hanya orang asing; kita juga bangsa kristiani, kita bangga karena berkontribusi terhadap pembentukan budaya; ada patriotisme yang sehat, sukacita yang sehat karena menjadi bagian sebuah bangsa yang memiliki sejarah budaya dan iman yang besar. Namun, sebagai orang Kristen, kita juga selalu merupakan orang asing – takdir Abraham, digambarkan dalam Surat kepada umat Ibrani. Sebagai orang Kristen, kita, bahkan sekarang, selalu merupakan orang asing. Di tempat kerja, orang Kristen adalah minoritas, mereka menemukan dirinya dalam situasi asing, merupakan hal yang mengejutkan bahwa seseorang di jaman sekarang masih bisa percaya dan hidup seperti ini. Ini juga bagian kehidupan kita : ini merupakan bentuk keberadaan dengan Kristus yang tersalib, keberadaan sebagai orang asing, tidak hidup dalam cara yang dihidupi setiap orang, tapi hidup – atau setidaknya berusaha hidup –  menurut Sabda-Nya, sangat berbeda dari apa yang dikatakan semua orang. Dan inilah yang secara tepat menjadi karakteristik orang Kristen. Mereka semua berkata :”Tapi semua orang melakukan ini, kenapa saya tidak?”. Saya tidak melakukannya, karena saya ingin hidup selaras dengan Allah. St. Augustinus berkata :”Orang Kristen adalah mereka yang tidak memiliki akarnya dari bawah, seperti pohon, tetapi akar mereka ada di atas, dan mereka tidak menghidupi gravitasi ini dalam gravitasi alamiah yang mengarah ke bawah”. Mari kita berdoa agar Tuhan membantu kita menerima misi untuk hidup sebagai orang asing, sebagai minoritas, dalam arti tertentu, hidup sebagai orang asing dan bertanggung jawab bagi orang lain, dan dalam cara ini, memperkuat kebaikan di dunia kita.

Akhirnya kita tiba pada tiga ayat selanjutnya. Saya hanya ingin menekankan, katakanlah, secara singkat menafsirkan, sejauh yang saya bisa, tiga istilah : istilah “lahir baru”,  “warisan”, dan “dijaga melalui iman”. Lahir baru – anaghennesas, sebuah kata teks Yunani – artinya menjadi Kristen bukan sekedar keputusan kehendak saya, gagasan saya; Saya melihat ada sebuah kelompok yang saya suka, saya bergabung dengannya, saya berbagi tujuan mereka, dst. Tidak. Menjadi Kristen tidak berarti masuk dalam sebuah kelompok untuk melakukan sesuatu, itu hanya menjadi sebuah tindakan kehendak saya, bukan terutama kehendak saya, akal budi saya. Menjadi Kristen merupakan karya Allah. Lahir baru tidak hanya berkaitan dengan area kehendak atau pikiran, tapi juga keberadaan. Saya dilahirkan kembali : ini artinya menjadi Kristen pertama-tama menjadi pasif; saya tidak bisa membuat diri saya menjadi Kristen, karena saya disebabkan untuk lahir kembali, saya diciptakan kembali oleh Tuhan di dalam inti keberadaan saya. Dan saya masuk dalam proses kelahiran kembali ini, saya membiarkan diri saya diubah, diperbarui, dilahirkan kembali. Tampaknya ini sangat penting bagi saya : sebagai orang Kristen saya tidak sekedar membentuk sebuah ide saya sendiri yang saya bagi dengan sedikit orang dan bila saya tidak menyukai mereka, saya dapat meninggalkannya. Tidak : ini berkaitan dengan inti keberadaan saya, yaitu, menjadi Kristen dengan suatu perbuatan Allah, terutama dengan perbuatan-Nya, dan saya membiarkan diri saya dibentuk dan diubah.

Saya kira topik untuk refleksi, khususnya dalam tahun ini dimana kita merenungkan sakramen-sakramen inisiasi, adalah meditasi tentang hal ini : sikap pasif dan aktif dari kelahiran kembali, menjadi satu dengan kehidupan Kristen, membiarkan diri saya diubah oleh Sabda-Nya, bagi persekutuan Gereja, bagi kehidupan Gereja, bagi tanda-tanda yang dengannya Tuhan bekerja di dalam saya, bekerja bersama dan untuk saya. Dan dilahirkan kembali, lahir baru, juga berarti saya masuk dalam keluarga baru : Allah, Bapa saya, Gereja, ibu saya, umat Kristen lainnya, saudara-saudari saya. Lahir baru, membiarkan diri dilahirkan secara baru, karenanya melibatkan upaya yang dengan sengaja mengijinkan diri saya disatukan dalam keluarga ini, hidup bagi dan oleh Allah Bapa, hidup oleh persekutuan bersama Kristus Putra-Nya yang menyebabkan saya lahir baru melalui Kebangkitan-Nya, seperti yang dikatakan Surat Petrus (1 Pet1:3), hidup bersama Gereja, membiarkan diri saya dibentuk oleh Gereja dalam banyak cara, dalam banyak proses, dan terbuka bagi saudara-saudara saya, sungguh mengenal orang lain sebagai saudara-saudari saya, yang lahir baru bersama saya, diubah, diperbarui; tiap orang bertanggung jawab bagi orang lain, karenanya tanggung jawab baptisan merupakan proses seumur hidup dari seluruh kehidupan.

Istilah kedua : warisan. Ini merupakan kata yang sangat penting dalam Perjanjian Lama, dimana Abraman diberitahu bahwa keturunannya akan mewarisi, dan ini selalu merupakan janji bagi keturunannya. Engkau akan memiliki bumi, engkau akan menjadi pewaris bumi. Dalam perjanjian Baru, kata ini menjadi kata bagi kita; kita adalah pewaris, bukan pewaris bangsa tertentu, tetapi [pewaris] tanah Allah, masa depan Allah. Warisan adalah sesuatu untuk masa depan, dan karenanya kata ini memberitahu kita terutama bahwa sebagai orang Kristen kita memiliki masa depan, masa depan milik kita, masa depan adalah milik Allah. Karenanya, menjadi Kristen, kita tahu bahwa masa depan milik kita dan pohon Gereja bukanlah pohon yang mati melainkan pohon yang terus menerus menumbuhkan tunas baru. Karenanya kita memiliki alasan utuk tidak membiarkan diri kita menjadi bingung, seperti kata Paus Yohanes, oleh para nabi kiamat [prophets of doom] yang berkata : Gereja adalah pohon yang tumbuh dari biji sesawi, tumbuh selama dua ribu tahun, sekarang ia telah ketinggalan jaman, tiba waktunya untuk mati. Tidak. Gereja selalu diperbarui, ia selalu lahir kembali. Masa depan merupakan milik kita. Tentu, ada optimisme dan pesimisme palsu. Pesimisme palsu memberitahu kita bahwa masa kekristenan telah berakhir. Tidak : ia mulai kembali! Optimisme palsu adalah optimisme pasca-konsili, ketika biara ditutup, seminari ditutup dan mereka berkata “tapi…tidak apa-apa, semua baik-baik saja!”…Tidak! Semuanya tidak baik-baik saja. Ada penghapusan serius dan berbahaya dan kitaharus menyadarinya dengan realisme sehat bahwa dalam cara ini, beberapa hal tidaklah baik-baik saja, bukan hal yang baik ketika kesalahan dilakukan. Namun, kita juga harus merasa yakin pada saat yang sama bila, Gereja mati karena dosa pria dan wanitanya, karena ketidakpercayaan mereka, maka pada waktu yang sama ia lahir kembali. Masa depan sungguh milik Allah : ini adalah kepastian besar dalam hidup kita, optimisme sejati dan agung yang kita tahu. Gereja adalah pohon Allah yang hidup selamanya dan membawa di dalamnya kekekalan dan warisan sejatinya : kehidupan kekal.

Dan terakhir, “dijaga melalui iman”. Teks Perjanjian Baru, dari Surat St. Petrus, menggunakan kata yang jarang digunakan, phrouromenoi, yang berarti : terdapat “para penjaga” dan iman itu seperti para penjaga yang melindungi integritas keberadaan saya, iman saya.Kata ini secara khusus berarti “para penjaga” di gerbang kota, dimana mereka berdiri dan mengawasi kota sehingga ia tidak diinvasi oleh kuasa destruktif. Karenanya iman adalah “penjaga” keberadaan saya, hidup saya, warisan saya. Kita harus bersyukur atas kesiapsiagaan iman yang melindungi, menolong, membimbing dan memberikan kita keamanan : Allah tidak membiarkan saya jatuh dari tangan-Nya : Dilindungi oleh iman : Saya akan mengakhirinya dengan ini. Ketika berbicara tentang iman saya selalu memikirkan seorang wanita sakit diantara banyak orang yang, memperoleh jalan masuk kepada Yesus, menyentuh-Nya agar disembuhkan dan akhirnya sembuh. Tuhan berkata :”Siapa yang menyentuh jubahku?” Mereka berkata kepadanya :”Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan di hadapan-Mu, dan Engkau berkata ‘siapa yang menyentuh aku?’” (cf. Mk 5:25-34, 7:27-30). Tapi Tuhan tahu terdapat cara menyentuh-Nya yang dangkal, lahiriah, yang sungguh tak berhubungan dengan pertemuan sejati dengan-Nya. Dan terdapat cara menjamah-Nya secara mendalam. Dan wanita ini sungguh menjamah Dia : ia tidak hanya menyentuh Ia dengan tangannya, tapi dengan hatinya dan karenanya menerima kuasa penyembuhan Krstus, sungguh menyentuh-Nya dari dalam, dari iman. Inilah iman : menjamah Kristus dengan tangan iman, dengan hati kita, dan karenanya masuk ke dalam kuasa kehidupan-Nya, ke dalam kuasa penyembuhan Tuhan. Dan mari kita berdoa pada Tuhan agar kita boleh menjamahnya lebih dan lebih, agar kita disembuhkan. Marilah kita berdoa agar Ia tidak membiarkan kita jatuh, agar Ia juga memegang kita dengan tangan-Nya dan karenanya melindungi kita bagi kehidupan sejati. Terima kasih.

Benediktus XVI
8 Februari 2013

Gambar : “Christ Handing the Keys to Peter”, Pietro Perugrino, 1481

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: