APA ADANYA DI HADAPAN BAPA KITA: MENGAPA DAN BAGAIMANA KITA MENDOAKAN BAPA KAMI (BAGIAN I)

Berikut ini catatan diskusi pertemuan Catechism Club Surabaya, sebuah kelompok yang antusias untuk lebih memahami ajaran dan kekayaan Gereja Katolik, yang membahas doa Bapa Kami. 

Catechism Clubbers, pertemuan kedua Catechism Club tahun ini diadakan kemarin, Rabu, 29 Januari 2014 di balai paroki lantai 1 Redemptor Mundi. Nah, dalam pertemuan yang dihadiri oleh 20 orang ini yang dibahas adalah Doa Bapa Kami, dengan narasumber RP Arthur B. Dingel, OP. Setelah pertemuan dibuka dengan doa, romo Art langsung memimpin perjalanan kecil kami menyusuri doa Bapa Kami, langkah demi langkah.

Dari keempat Injil yang ada, hanya dua Injil yang memuat tentang doa Bapa Kami, yakni Matius dan Lukas. Doa Bapa Kami yang kita gunakan saat ini berasal dari Injil Matius, sedangkan Injil Lukas memuat doa Bapa Kami yang lebih singkat. Kita mungkin tidak menyadari bahwa setiap kata dalam doa Bapa Kami sangatlah biblikal, bahkan penempatan tiap katanya sangatlah esensial.

Bapa kami merupakan doa yang diajarkan Yesus untuk didoakan para murid-Nya. Matius dan Lukas berbicara jelas mengenai hal ini. Matius menggambarkan Khotbah di Bukit dalam konteks kemuridan (Matius 5:1) dan Lukas memberitahu kita bahwa Yesus mengajarkan doa ini sebagai respon dari permintaan salah satu murid-Nya (Lukas 11:1). Dari sini kita dapat mengetahui bahwa doa ini diajarkan Sang Guru kepada para murid-Nya. Hanyamurid dari Sang Guru yang dapat mendoakannya. Lalu apa maksudnya? Doa Bapa Kami adalah doa yang dapat diucapkan dalam makna sejatinya oleh mereka yang berkomitmen pada Yesus Kristus saja. Bapa Kami bukanlah doa seorang anak kecil, seperti sering kita anggap demikian; sebaliknya, bagi seorang anak kecil doa ini tampak tidak memiliki makna yang dalam. Bapa Kami bukanlah pula doa keluarga, sebagaimana ia juga sering disebut, kecuali jika keluarga yang dimaksud di sini adalah Gereja. Bapa Kami secara spesifik dan definitif dinyatakan sebagai doa seorang murid. Hanya melalui bibir seorang murid yang dapat mengucapkannya dalam kepenuhan maknanya. Bapa Kami hanya dapat didoakan apabila seseorang yang mendoakannya mengerti apa yang ia ucapkan, dan ia tidak dapat mengerti sebelum ia menjadi murid Kristus sendiri.

Bagian pertama doa ini berisi permohonan. Jika mau teliti, kita dapat menemukan adanya urutan permohonan dalam doa Bapa Kami: tiga permohonan pertama berhubungan dengan Allah dan kemuliaan-Nya, sedangkan tiga permohonan berikutnya berhubungan dengan kebutuhan dan keperluan kita. Tempat yang paling utama diberikan kepada Allah, setelahnya, dan hanya setelahnya, kita dapat mengingat diri kita sendiri, kebutuhan dan keinginan kita. Hanya ketika kita memberikan tempat yang pantas bagi Allah, segala hal yang lain akan menjadi baik adanya. Doa seharusnya bukan menjadi usaha kita membelokkan kehendak Allah untuk menuruti kemauan kita; sebaliknya doa harus selalu menjadi usaha untuk menyerahkan segala kehendak kita pada kehendak Allah.

Bagian kedua dari doa Bapa Kami berhubungan dengan kebutuhan dan keperluan kita. Kebutuhan manusia yang mana? Tiga kebutuhan esensial manusia, yang dibutuhkan manusia dalam tiga lingkup waktu kehidupan manusia. Pertama, yang kita mohon adalah roti, yang kita perlukan untuk memelihara hidup kita dan dengan demikian membawa kebutuhan kita saat ini ke takhta Allah. Kedua, doa ini mengajak kita untuk memohon pengampunan, dengan demikian membawa masa lalu kita ke hadirat Allah. Ketiga, yang kita mohon adalah bantuan saat kita dalam pencobaan, dan dengan demikian menyerahkan masa depan kita ke dalam tangan Allah. Melalui tiga permohonan pendek tersebut, kita diajarkan untuk meletakkan masa kini, masa lalu, dan masa depan kita di bawah telapak kaki rahmat Allah.

Doa ini bukan hanya membawa seluruh hidup kita ke hadirat Allah; namun juga membawa Allah, seluruh-Nya, ke dalam hidup kita. Ketika kita meminta roti untuk menyokong kehidupan kita di dunia, permintaan itu segera mengarahkan pikiran kita kepada Allah Bapa, Pencipta dan Pemelihara kehidupan. Ketika kita meminta pengampunan, permintaan itu segera mengarahkan pikiran kita kepada Allah Putra, Yesus Kristus, Penyelamat dan Penebus kita. Ketika kita meminta bantuan untuk pencobaan yang akan mungkin akan datang, permintaan itu segera mengarahkan pikiran kita kepada Allah Roh Kudus, Penghibur, Penguat, Penerang, Penuntun dan Pelindung perjalanan kita.

Dengan cara yang amat mengagumkan, bagian kedua doa Bapa Kami menyatukan masa kini, masa lalu, dan masa depan, seluruh kehidupan manusia, dan mempersembahkannya kepada Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, kepada Allah dalam segala kepenuhan-Nya. Melalui doa Bapa Kami, Yesus mengajar kita untuk membawa seluruh hidup kita kepada kepenuhan Allah, dan membawa kepenuhan Allah dalam seluruh hidup kita.

“BAPA KAMI YANG ADA DI SURGA” / “OUR FATHER IN HEAVEN”

Bapa

Makna besar yang terkandung dalam kata “Bapa” berkaitan dengan seluruh relasi dalam hidup kita. Dalam Kitab Kejadian Allah melihat bahwa tidak baik jika manusia itu sendiri, kemudian Ia memberikan Hawa, seorang penolong yang sepadan, kepada Adam. Manusia adalah makhluk sosial, kita membutuhkan relasi. Seseorang yang menyangkal relasi berarti menyangkal Allah, yang dalam diri-Nya sendiri adalah sebuah relasi kasih. Bahkan para rahib dan rubiah pun tidak pernah menyangkal relasi, mereka justru satu dalam relasi ini dengan turut mendoakan kita. Ketika kita mendoakan Bapa Kami, kita memperjelas hubungan kita dengan Allah, dan dengan keluarga-Nya.

Pertama, doa Bapa Kami memperlihatkan relasi kita dengan dunia yang tidak kelihatan.

Para misionaris menyampaikan kepada kita bahwa salah satu hal melegakan yang dibawa Kristianitas bagi pikiran dan hati adalah kepastian bahwa hanya ada satu Allah. Para penduduk asli percaya bahwa ada segerombolan dewa, yang mendiami setiap sungai, pohon, bukit, lembah, hutan. Setiap kekuatan alam memiliki dewanya sendiri. Manusia hidup di tengah kerumunan dewa. Dan semua dewa ini pencemburu, pendendam, dan bermusuhan. Kita harus menyenangkan hati mereka, dan seseorang tidak dapat mengetahui apakah ia telah tidak menghormati dewa yang lainnya. Konsekuensinya, manusia hidup dalam teror dewa-dewi ini, ia dihantui dan tidak terbantu oleh agamanya.

Salah satu legenda Yunani tentang dewa-dewi yang paling signifikan adalah legenda Prometheus. Dalam legenda tersebut diceritakan bahwa Prometheus adalah dewa. Dulu manusia belum memiliki api, dan hidup tanpa api adalah sebuah hal yang tidak semarak dan tidak nyaman. Tergerak oleh rasa iba, Prometheus mengambil api dari surga dan memberikannya sebagai hadiah kepada umat manusia. Zeus, raja dari segala dewa, sangatlah murka ketika manusia menerima pemberian ini. Zeus membawa Prometheus dan menambatkannya pada sebuah batu di tengah Laut Adriatik, dimana ia disiksa dengan panas dan rasa haus saat pagi dan dingin saat malam. Lebih kejamnya lagi, Zeus mempersiapkan seekor burung bangkai untuk merobek hati Prometheus, yang selalu tumbuh kembali, hanya untuk dirobek kembali. Itulah akibatnya jika dewa mencoba untuk membantu manusia. Konsepnya adalah dewa-dewi ini pencemburu dan pendendam; dan hal terakhir yang diinginkan mereka adalah membantu manusia. Itulah ide yang mempengaruhi sikap manusia terhadap dunia yang tidak kelihatan ini. Manusia dihantui oleh ketakutan akan segerombolan besar dewa yang pencemburu dan pendendam.

Lalu kemudian kita mendapati bahwa kita berdoa kepada Allah yang kita panggil Bapa, Ia memiliki hati seorang bapa yang secara literal membuat sebuah perubahan dalam dunia. Kita tidak perlu lagi gemetar di hadapan segerombolan dewa yang pencemburu; kita dapat tenang dalam kasih seorang Bapa, karena Allah kita adalah pengampun, Ia mengasihi kita.

Kedua, doa Bapa kami memperlihatkan relasi kita dengan dunia yang kelihatan, denga ndunia tempat kita hidup ini.

Apapun yang diciptakan Allah berhubungan dengan kita. Kita terlibat secara aktif karena semuanya memiliki relasi dengan kita.

Sangatlah mudah untuk berpikir bahwa dunia ini memusuhi kita. Ada kesempatan-kesempatan dan juga perubahan-perubahan dalam hidup. Ada hukum alam yang membahayakan saat kita melanggarnya (pergantian iklim akibat polusi, penyakit akibat pembuangan limbah yang tidak bertanggung jawab, kontaminasi air, dan lain-lain), ada penderitaan dan kematian (akibat perang, konflik, kecelakaan, dan lain-lain). Tetapi ketika kita meyakini bahwa di balik dunia ini yang ada bukanlah ilah yang berubah-ubah, pencemburu, dan mengejek kita, melainkan Allah yang kita sebut Bapa, maka meskipun banyak hal masih tetap dalam kegelapan kita dapat bertahan karena dibalik semuanya ada kasih.

Meski begitu, untuk memahami kegelapan di dunia, kita harus memandangnya bukan sebagai hal yang nyaman bagi kita, melainkan untuk melatih kita. Rasa sakit mungkin terlihat sebagai sesuatu yang buruk, namun rasa sakit memiliki tempat tersendiri dalam rencana Allah. Kadang-kadang orang merasa begitu normal hingga tidak bisa merasakan sakit. Orang seperti ini menjadi bahaya bagi dirinya sendiri dan menjadi masalah bagi orang lain. Jika tidak ada rasa sakit, kita tidak akan pernah tahu bahwa kita sakit, dan kerapkali kita mati duluan sebelum ada langkah yang diambil untuk menangani penyakit itu. Hal ini bukan mengatakan bahwa rasa sakit tidak dapat menjadi hal yang buruk, melainkan bahwa pada saat-saat tertentu rasa sakit dapat menjadi lampu merah dari Allah yang menyampaikan bahwa ada bahaya di depan.

Lessing, seorang penulis, pernah mengatakan bahwa jika ia memiliki satu pertanyaan untuk diajukan kepada Sphinx, pertanyaannya adalah, “Apakah alam semesta ini bersahabat?” Jika kita yakin bahwa Allah yang menciptakan dunia ini adalah Bapa, maka kita dapat yakin bahwa secara fundamental alam semesta ini bersahabat. Memanggil Allah “Bapa” berarti kita memiliki relasi dengan dunia dimana kita tinggal ini.

Bapa Kami

Ketiga, doa Bapa Kami memperlihatkan relasi kita dengan sesama kita.

Jika Allah adalah Bapa, maka Ia adalah Bapa dari seluruh umat manusia. Doa Bapa Kami tidak mengajar kita untuk berdoa, “Bapaku;” melainkan “Bapa kami.” Tidak ada sama sekali kata “aku” dan “kepunyaanku” dalam doa Bapa Kami. Yesus datang untuk mengambil kata-kata itu dari hidup kita dan menggantinya dengan “kami”, “kita”, dan “milik kita.” Allah bukanlah milik seseorang secara eksklusif. Frasa pertama dari Bapa Kami melibatkan penyisihan diri sendiri. Kebapaan Allah adalah satu-satunya dasar yang mungkin bagi persaudaraan di antara manusia.

Keempat, doa Bapa Kami memperlihatkan relasi kita dengan diri kita sendiri.

Ketika manusia berada hanya bersama dirinya sendiri, ia tahu dimana ia berpijak. Ia dapat berpura-pura di depan orang banyak, ia dapat menyamar menjadi orang yang bukan dirinya sendiri. Namun cepat atau lambat, entah itu menjelang ajalnya atau setelah sebuah kejadian yang mengubah hidupnya, ia akhirnya akan berdamai dengan dirinya sendiri: kelemahan-kelemahan yang ia sembunyikan, dosa-dosa masa lalunya, rahasia-rahasianya.

Ada saat-saat dimana setiap orang memandang rendah dan membenci dirinya sendiri. Ia tahu bahwa dirinya lebih rendah daripada yang ia bayangkan. Hati mengetahui kepahitannya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui ketidakpantasannya lebih baik daripada dirinya sendiri. Mark Rutherford berharap untuk menambahkan sebuah sabda bahagia: “Berbahagialah mereka yang menyembuhkan kita dari kebencian terhadap diri sendiri.” Berbahagialah mereka yang mengembalikan harga diri kita, dan hal inilah yang persis dilakukan oleh Allah. Dalam saat-saat suram, muram, dan mengerikan, kita masih dapat mengingatkan diri bahwa, meski kita tidak berarti bagi orang lain, kita begitu berarti bagi Allah; bahwa dalam belas kasih Allah yang tidak terbatas, kita adalah keturunan bangsawan, anak-anak dari Raja segala raja.

Kelima, doa Bapa Kami memperlihatkan relasi kita dengan Allah.

Ini bukan berarti kita menyingkirkan kekuatan, kebesaran dan kuasa Allah, bukan berarti bahwa hal ini membuat Allah menjadi kurang ilahi; namun membuat kekuatan, kebesaran, dan kekuasaan itu dapat kita hampiri.

Ada sebuah cerita Romawi kuno yang menyampaikan bagaimana seorang kaisar Romawi menikmati kemenangannya. Ia memiliki hak istimewa, yang diberikan Roma kepada para jawaranya, untuk melakukan parade di sepanjang jalanan Roma dengan segala harta dan tawanan yang ia menangkan. Jadi kaisar melakukan parade ini bersama para serdadunya, jalanan penuh dengan sorak-sorai banyak orang. Para legioner yang tinggi-tinggi berbaris menjaga tepian jalan untuk menahan orang-orang pada tempatnya. Pada suatu titik di rute parade kemenangan itu, ada satu panggung kecil dimana permaisuri dan keluarganya duduk untuk melihat kaisar yang berparade dengan bangganya. Di panggung itu, ada anak kaisar yang paling muda bersama ibunya, seorang bocah laki-laki. Seiring semakin mendekatnya kaisar, anak kecil itu melompat dari panggung, menerobos keramaian, menyelinap di antara kaki para legioner, untuk berlari ke jalan menghampiri kereta kuda ayahnya. Seorang legioner menunduk dan menghentikannya, memitingnya, dan berkata, “Kamu tidak bisa melakukan itu, Nak.. Apakah kamu tidak tahu siapa yang ada di kereta kuda? Itu kaisar. Kamu tidak bisa berlari menghampiri kereta kudanya.” Anak kecil itu kemudian tertawa, “Ia mungkin adalah kaisarmu, namun ia adalah ayahku!”

Seperti inilah hubungan kita, orang Kristen, dengan Allah. Kekuatan, kebesaran, dan kekuasaan itu adalah kekuatan, kebesaran, dan kekuasaan dari Dia yang oleh Yesus kita diajar untuk memanggil-Nya Bapa, Bapa kami.

Bapa Kami Yang Ada Di Surga

Allah bukan hanya Bapa kita, namun ia adalah Bapa yang ada di surga. Dua kata terakhir menyimpan dua kebenaran besar.

Yang pertama, mengingatkan kita akan kekudusan Allah.

Sangat mudah untuk merendahkan dan menjadikan kebapaan Allah sesuatu yang sentimental, dan menggunakannya sebagai alasan untuk sebuah agama yang gampang dan nyaman. “Dia itu baik dan semua akan selalu baik.” “Allah akan mengampuni. Itu lho jualan-Nya.”  Jika kita mendoakan “Bapa kami ..”, dan berhenti di situ, mungkin ada alasan untuk melakukan hal itu; namun kita berdoa kepada Bapa kita di surga. Kasih ada di sana, namun kekudusan juga!

Luar biasa jarang Yesus menggunakan kata “Bapa” untuk menyebut Allah. Injil Markus merupakan Injil yang paling awal, dan karena itu Injil Markus menjadi sesuatu yang paling dekat yang mungkin kita miliki yang mencatat semua apa yang Yesus katakan dan lakukan; dan dalam Injil Markus Yesus memanggil Allah “Bapa” hanya sebanyak enam kali, dan tidak pernah di luar kumpulan murid-Nya. Bagi Yesus kata “Bapa” sangatlah suci sehingga Ia begitu berat menggunakannya; dan Ia tidak pernah menggunakannya kecuali di antara mereka yang sudah mengerti apa maksudnya.

Kita tidak boleh menggunakan kata “Bapa” secara murahan, dengan mudah, dan sentimental. Allah bukanlah orangtua yang easy-going mentolerir dengan menutup mata-Nya akan dosa-dosa dan kesalahan kita. Allah, yang dapat kita panggil “Bapa”, adalah Allah yang harus kita dekati dengan hormat dan sembah, dengan rasa kagum dan takjub. Allah adalah Bapa kita di surga, dan dalam Allah ada perpaduan kasih dan kekudusan.

Yang kedua, mengingatkan kita akan kuasa Allah.

Dalam kasih manusia, sering terjadi tragedi kegagalan. Kita mungkin mengasihi seseorang, meski begitu kita tidak dapat membantunya meraih sesuatu atau menghentikannya melakukan sesuatu. Kasih manusia dapat menjadi kuat—dan agak tidak berdaya. Orang tua manapun dengan anak yang berbuat salah atau siapapun dengan kekasih yang suka berkelana mengetahui hal ini. Namun ketika kita berkata, “Bapa kami yang ada di surga,” kita meletakkan dua hal secara berdampingan. Kita meletakkan secara berdampingan kasih dan kuasa Allah. Kita mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kuasa Allah selalu digerakkan oleh kasih Allah, dan tidak bisa digunakan untuk hal apapun kecuali kebaikan kita; kita mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kasih Allah didukung oleh kuasa Allah, dan karenanya tujuannya tidak pernah dapat digagalkan pada akhirnya. Itu adalah kasih yang kita pikirkan, namun itu adalah kasih Allah.

Ketika kita mendoakan, “Bapa kami yang ada di surga” kita harus mengingat kekudusan Allah, kuasa-Nya yang digerakkan oleh kasih, dan kasih yang dibaliknya terdapat kuasa Allah yang tidak terkalahkan.

Demikian apa yang dapat kita pelajari minggu lalu dalam Catechism Club.

Terima kasih bagi clubbers yang sudah datang dan ikut berdiskusi, juga bagi romo Art atas pembahasannya yang nggak kami sangka bisa sepanjang dan semenarik ini! Rupanya kami masih belum banyak mengetahui doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini.

Semoga clubbers yang lain dapat ikut bergabung bersama kami dalam pertemuan selanjutnya sebagai kelanjutan dari pertemuan ini “Be True To Our Father: Why & How We Pray Our Father? -Part 2-” (Apa Adanya Di Hadapan Bapa Kita: Mengapa Dan Bagaimana Kita Mendoakan Bapa Kami -Bagian Kedua-) pada hari Selasa, 4 Februari 2014. See you guys soon!

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: