TRITUNGGAL MAHAKUDUS: BAPA, PUTRA, DAN ROH KUDUS PADA SIAPA KITA PERCAYA?

Catatan Lux Veritatis 7 : Berikut ini catatan diskusi pertemuan Catechism Club Surabaya, sebuah kelompok yang antusias untuk lebih memahami ajaran dan kekayaan Gereja Katolik, yang membahas Allah Tritunggal Mahakudus.

Catechism Clubbers, pertemuan pertama Catechism Club tahun ini resmi diadakan kemarin, Kamis, 16 Januari 2014 di balai paroki lantai 2 Redemptor Mundi. Nah, dalam pertemuan yang dihadiri oleh 13 orang ini topik yang dibahas adalah Tritunggal Mahakudus dengan narasumber RP Arthur B. Dingel, OP. Setelah pertemuan dibuka dengan doa, clubbers yang hadir dibagi ke dalam 2 kelompok untuk diskusi singkat. Sebagai bahan diskusi, diajukanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini oleh moderator:

1. Bisakah manusia mengetahui bahwa Allah itu ada hanya melalui akal budinya? Jelaskan!

2. Bisakah manusia menemukan bahwa Allah itu Tritunggal hanya melalui akal budinya? Jelaskan!

3. Bagaimana kita menjelaskan Tritunggal Mahakudus?

Setelah diskusi kurang lebih setengah jam, masing-masing kelompok diskusi mengemukakan jawaban mereka di depan.

Paternitas Icon

Untuk pertanyaan nomor 1, kelompok diskusi pertama memberikan jawaban bahwa manusia dapat mengetahui Allah itu ada dari ciptaan, dunia, dan pribadi manusia. Manusia tidak dapat mengenal Allah dengan lebih baik tanpa pewahyuan-Nya. Sedangkan untuk pertanyaan yang sama kelompok kedua menjawab bahwa manusia dapat merasakan adanya kekuatan yang lebih besar daripadanya lewat ciptaan-ciptaan yang ada di sekelilingnya, kekuatan inilah yang kita sebut sebagai Allah.

Romo Art memulai pembahasannya dengan mengajak clubbers untuk mencoba memahami kata per kata dari pertanyaan pertama: apa itu manusia, apa itu mengetahui, apa itu Allah, apa itu ada. Di bumi, selain manusia, sebagai contoh kita dapat menemukan pohon yang adalah tanaman, kucing yang adalah hewan, dan manusia yang lain. Tanaman memiliki jiwa vegetatif (vegetative soul) yang karenanya memiliki kemampuan untuk tumbuh (to grow) dan berkembang biak (to generate, to multiply). Hewan memiliki jiwa yang dapat menerima/memberikan reaksi dari apa yang ditangkap oleh inderanya (sentient soul), yang karenanya selain memiliki kemampuan dari jiwa vegetatif untuk tumbuh dan berkembang biak, juga memiliki kemampuan untuk bergerak (to move, kemampuan ini disebutlocomotion, dari bahasa Latin locus = tempat, motio = gerak) dan untuk merasa (to sense). Manusia sendiri memiliki jiwa intelektual/rasional (intellectual/rational soul) yang karenanya selain memiliki kemampuan dari jiwa hewan (sentient soul) untuk tumbuh, berkembang biak, bergerak dan merasa melalui panca inderanya, manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui (to know) dan kehendak (the will). Kemampuan manusia untuk mengetahui mengarahkan dirinya untuk mengetahui apa yang benar.

Tiba-tiba, seperti teringat sesuatu, romo Art mengambil ponselnya yang ada di meja sambil berkata, “Oh! Apa kalian sudah tahu? Saya baru saja menerima kabar bahwa presiden Obama telah dibunuh!” Clubbers langsung terlihat kaget kemudian ada yang nyeletuk, “Oh ya?”, “Kapan?”, “Kok bisa??” Romo Art kemudian melanjutkan penjelasannya kembali. Hal seperti itu membuktikan bahwa kemampuan kita untuk mengetahui selalu mencari kebenaran. Ketika seseorang memberi kabar kepada kita, adalah hal yang wajar bagi kita untuk mencari tahu kebenarannya. Seperti ketika kita mengemudikan mobil, mata kita akan selalu melihat cahaya dari lampu mobil lain, meski kita tidak mau melihatnya. Kemampuan kita untuk melihat selalu mencari cahaya. Demikian pula kemampuan kita untuk mengetahui selalu mencari kebenaran.

Objek dari kemampuan kita untuk melihat adalah cahaya. Objek dari kemampuan kita untuk mencium adalah bau. Objek dari kemampuan kita untuk mendengar adalah suara. Lalu apakah objek dari kehendak kita? Objek dari kehendak kita adalah kebaikan (goodness), dan kasih adalah kebaikan yang tertinggi (highest good).

Kemampuan kita untuk mengetahui mengarahkan kita untuk mencari kebenaran. Kehendak kita mencari kebaikan, dan kebaikan tertinggi adalah kasih. Ingatkah bagaimana kita menyebut Allah? Allah adalah Kasih. Allah adalah Kebenaran. Adalah sesuatu yang natural bagi kita untuk mencari Allah, untuk mengenal-Nya, untuk mendambakan-Nya.

Kita harus menyadari fakta bahwa manusia adalah ciptaan, sedangkan Allah adalah pencipta. Oleh karena itu, pengetahuan manusia memiliki batasan-batasan. Manusia tidak dapat memiliki pengetahuan yang tanpa batasan layaknya Allah, karena jika demikian maka Allah bukan lagi Allah. Manusia yang adalah ciptaan tidak dapat menyamai, apalagi lebih besar dari Allah, pencipta-Nya.

Meski dengan batasan-batasan tersebut, manusia dapat mengetahui bahwa Allah itu ada. Sto. Thomas Aquinas menjelaskannya dengan argumen lima jalan (five ways / quinque viae). Mungkin kalian sudah pernah mendapat penjelasan tentang ini. Sebagai contoh, Sto. Thomas Aquinas mengatakan bahwa harus ada sesuatu yang tidak digerakkan yang menjadi penggerak pertama, jika tidak kita tidak dapat ada sekarang. Coba kita lihat efek domino, jika tidak ada yang menjatuhkan balok pertama, balok-balok yang lain tidak akan pernah jatuh. Balok yang terakhir jatuh karena balok sebelumnya, yang sebelumnya karena yang sebelumnya lagi, sampai yang pertama tidak digerakkan oleh balok yang lain: ada sesuatu yang lain daripada itu, yang memulai gerakan pertama untuk menjatuhkan balok. Ada penggerak yang tidak digerakkan (prime mover/unmoved mover), kita menyebutnya Allah. Contoh yang lain, kita lahir disebabkan oleh orang tua kita, orang tua kita masing-masing lahir disebabkan oleh kakek-nenek kita, dan kita runtut seterusnya sampai pada pertanyaan siapa yang menyebabkan manusia pertama, siapa yang menyebabkan ciptaan pertama, siapa yang menyebabkan dunia ini ada. Ada penyebab yang tidak disebabkan (uncaused cause), kita menyebutnya Allah.

Kita memiliki kemampuan (kehendak dan pengetahuan) untuk mengetahui Allah. Tidak peduli apa yang terjadi, meski kita telah mengalami sesuatu yang buruk, kita tahu bahwa Allah ada dan Allah mengasihi kita.

Kebenaran datang kepada manusia (truth comes in to man), sedangkan kasih keluar daripada manusia (love comes out from man). Maka dari itu, ketika mendengar kabar baru, kita selalu mengatakan, “Oh ya? Ceritakan pada saya!” kita sigap untuk menerima kebenaran; dan ketika merasakan cinta kita selalu merasakan dorongan untuk pergi menghampiri orang yang kita kasihi. Kejarlah orang yang kamu kasihi! Kejarlah Allah yang adalah kasih paling sempurna!

*

Untuk pertanyaan nomor 2, kelompok diskusi pertama memberikan jawaban bahwa manusia tidak dapat mengetahui bahwa Allah itu Tritunggal hanya melalui akal budi tanpa pewahyuan-Nya. Allah telah meninggalkan jejak-jejak trinitaris-Nya dalam ciptaan-Nya dan dalam Perjanjian Lama, namun Ia sebagai Tritunggal Mahakudus merupakan sebuah misteri yang tidak dapat diselami oleh akal budi saja atau oleh iman Israel sebelum Inkarnasi dari Allah Putra dan pengutusan Roh Kudus. Misteri ini diwahyukan oleh Yesus Kristus dan merupakan sumber dari misteri-misteri yang lain. Sedangkan untuk pertanyaan yang sama kelompok kedua menjawab bahwa manusia tidak dapat mengetahui Allah Tritunggal melalui akal budi saja. Kita mengetahui bahwa Allah adalah Bapa lewat ciptaan-Nya, lewat dunia yang ada bahkan sebelum manusia ada. Setelah Kristus datang, Ia memberikan pewahyuan bahwa ada Allah Putra, dan ia mengutus Allah Roh Kudus untuk menyertai kita.

Romo Art memulai pembahasannya untuk pertanyaan kedua (dan ketiga) dengan menanyakan tanggal lahir Nadia dan Li Zhen, yang oleh masing-masing orang yang bersangkutan dijawab “1 Mei” dan “6 September”. Romo Art menanyakan kembali dari mana mereka dapat mengetahui hal itu. Nadia menjawab bahwa mamanya yang memberitahu dia, begitu pula Li Zhen mengatakan bahwa orangtuanya yang memberitahunya. Pengetahuan kita akan tanggal lahir kita hanya dapat kita ketahui melalui orang lain (third-party). Mari kita ingat kembali bahwa kemampuan manusia untuk mengetahui adalah terbatas, karena ia adalah ciptaan. Bayangkan ada 5 tingkatan, dengan tingkat kelima adalah tingkat tertinggi bagi manusia, itu adalah batasannya, ada tingkatan yang lebih dari itu, tapi manusia tidak dapat mencapainya, tingkat 5 adalah kemampuan maksimumnya untuk mengetahui. Sebagai contoh, kita bisa mengangkat barang, namun jika jaraknya jauh, kita tidak dapat mengangkatnya, karena tangan kita bahkan tidak dapat menjangkaunya. Pengetahuan kita tidak dapat sepenuhnya memahami Tritunggal karena keterbatasan kita. Terlebih lagi karena kita cenderung memikirkan tentang Allah dalam kerangka waktu: jika Allah Putra adasetelah Bapa, maka Ia bukan Allah; jika Allah Roh Kudus ada setelah Allah Putra, maka Ia bukan Allah. Padahal Allah, ketiga pribadi-Nya, ada sejak kekekalan, sebelum waktu ada, sebelum segalanya diciptakan-Nya.

Supaya pengetahuan kita dapat mencapai itu, kita perlu “orang ketiga”, yakni sumber-sumber dari luar diri kita sendiri.

Yang pertama, ialah melalui pewahyuan ilahi, lewat Kitab Suci.

Yang kedua, ialah melalui otoritas yang diberikan Allah dan dipelihara sebagai Tradisi oleh Gereja.

Lalu apa yang ketiga? Ada yang menjawab filsafat, ada pula yang menjawab perasaan – kita dapat merasakan bahwa Allah mengasihi kita. Mengenai perasaan, romo Art menjelaskan bahwa kasih harusnya didasarkan pada kebenaran, bukan perasaan. Karena jika begitu, kita dapat jatuh cinta (fell in love) dan kemudian tergelincir karena cinta (fell out love). Kasih yang mengandalkan perasaan, bukan kebenaran, tidak dapat bertahan lama. Kasih selalu berjalan beriringan dengan kebenaran, karena manusia serentak mencari keduanya dalam hidupnya.

Yang ketiga adalah iman, yang merupakan sebuah kebajikan teologikal (theological virtue). Iman memberikan kita akses pada rahmat (grace) yang menurut Sto. Aquinas dipahami sebagai partisipasi dalam kodrat Allah (participation in God’s nature). Apa maksud dari partisipasi dalam kodrat Allah ini? Allah maha pengampun, maka kita karena rahmat kita dimampukan untuk dapat mengampuni seperti Ia mengampuni. Allah maha kasih, maka kita dimampukan untuk mengasihi sebagaimana Ia mengasihi.

Ketiga sumber dari luar diri kita ini meningkatkan kemampuan kita untuk mengetahui misteri.

Lalu bagaimana kita menjelaskan Allah kita yang Trinitaris ini?

Jika kita memiliki pemahaman yang sama akan istilah-istilah (terms) yang digunakan, kita dapat mencoba untuk menjelaskannya.

Sto. Thomas Aquinas menjelaskan Tritunggal sebagai berikut.

Ketika kamu mencintai seseorang, apakah kamu pernah menyatakan cintamu padanya? Adalah sesuatu yang natural untuk menyatakan, mengekspresikan cinta kita. Kita tidak dapat menahannya, menyimpannya bagi diri kita sendiri.

Bisa saja terjadi manusia menyatakan kasihnya pada hari Senin, Selasa, Rabu, lalu Sabtunya sudah lupa, tapi ekspresi kasih Allah adalah kekal. Ekspresi kasih Allah adalah Sang Sabda (God’s expression of love is the Word).

Kita mengenal istilah dalam bahasa Latin “primo primi“, yakni kemampuan dari jiwa kita untuk mencari apa yang baik, yang benar, dan yang indah (capability of our soul to look for the good, true, and beautiful). Kemampuan ini selalu menarik kita kepada apa yang baik, apa yang benar, dan apa yang indah. Ketika ada seorang pria yang tampan, meski seorang wanita telah memiliki pasangan atau suami, ia akan menoleh, melihat pada pria tersebut. Ketika berpapasan dengan Tom Cruise, pandangan seorang wanita yang mengidolakannya akan segera teralih padanya. Ia tertarik pada suatu yang indah, dan hal ini adalah wajar. Menjadi tidak wajar lagi apabila wanita itu memandangi pria itu terus-menerus, bahkan mengingininya. Jiwa kita selalu mencari apa yang baik, yang indah, dan yang benar. Kita memiliki kecenderungan (inclination) ini.

Allah itu sempurna, seluruh-Nya adalah benar, seluruh-Nya adalah baik, seluruh-Nya adalah indah. Allah itu sepenuhnya adalah kasih. Relasi Allah yang sepenuhnya kasih ini mengalir secara resiprokal (timbal balik) dari Bapa pada Putra, dari Putra kepada Bapa. Kita menyebut aliran resiprokal ini “Allah Roh Kudus.”

Di Filipina, kami menyebut ayah adalah batu pertama/fondasi (cornerstone) dari sebuah rumah, ibu adalah cahaya yang menerangi rumah, dan anak-anak sebagai buah kasih yang menyemarakkan rumah. Ayah dan ibu melahirkan buah-buah. Demikian pula kita dapat memahami Allah Tritunggal.

Allah Roh Kudus yang berasal dari Bapa dan Putra adalah Allah, tidak kurang dari Allah Bapa dan Allah Putra, karena keduanya adalah Allah.

Kasih mengekspresikan dirinya melalui penciptaan, hal ini terjadi lewat Sabda-Nya yang menciptakan dunia. Dan kemudian Sang Sabda pun menjelma menjadi manusia. Ketika Allah datang, Ia menjadi pesan kasih.

Sebuah pertanyaan diajukan, “Bagaimana orang non-Kristen dapat memahami Trinitas?”

Orang-orang non-Kristen pun dapat memahami Trinitas karena iman diberikan kepada semua orang. Meski begitu, ada banyak hal yang mempengaruhi mereka, misalnya keluarga, budaya, dan pendidikan. Kebajikan teologikal: iman, harapan, dan kasih diberikan Allah kepada kita. Iman, harapan, dan kasih diberikan secara penuh pada kita sesuai kemampuan kita. Sebagai ilustrasi, seseorang yang mempunyai gelas yang dapat menampung air 1 liter dan orang lain yang mempunyai pitcher yang dapat menampung air 3 liter, diisikan air oleh-Nya secara penuh oleh-Nya. Tidak sama secara ukuran, namun penuh seturut kemampuan masing-masing.

Pertanyaan lain diajukan, “Mengapa Allah Bapa saja yang menciptakan, Allah Putra yang menebus, dan mengapa dosa yang tidak terampuni ialah dosa yang diarahkan pada Allah Roh Kudus bukan Allah Bapa dan Allah Putra?”

Seperti kita tahu, Allah Bapa dan Allah Putra -setelah kenaikan-Nya- ada di Surga, sedangkan Roh Kudus yang ada bersama kita sekarang. Sebab Allah Roh Kudus ada beserta kita, menyertai kita selalu, tidak pantas jika kita berdosa pada-Nya. Ia teramat baik, membantu kita, dan bersama kita selalu. Sama halnya ketika kita menampar orang yang tidak mengasihi kita dan orang yang selalu memperhatikan dan mengasihi kita — tamparan kita tidak mungkin lebih melukai orang yang tidak mengasihi kita ketimbang orang mengasihi kita. Karena ia mengasihi kita, ia lebih tidak pantas mendapatkan tamparan itu. Ketika berbicara tentang dosa yang tak terampuni, kita berbicara tentang betapa beratnya dosa itu (gravity of the sin). Entah itu ditujukan pada Allah Bapa, Allah Putra atau Allah Roh Kudus -karena satu Allah- sama beratnya karena Ia begitu mengasihi kita, tidak pantas kita berdosa pada-Nya.

Pencipta diatributkan kepada Bapa, penebus diatributkan kepada Putra, penghibur/penyerta diatributkan kepada Roh Kudus. Namun semuanya berbicara akan Allah yang sama. Tiga pribadi yang berbeda, namun satu kodrat – Allah. Kita tidak dapat menjelaskan hal ini dengan sempurna karena kata-kata memiliki batasan. Dalam bahasa apapun kita tidak dapat menjelaskan misteri Tritunggal dengan sempurna.

Demikian apa yang dapat kita pelajari minggu ini dalam Catechism Club.

Terima kasih bagi clubbers yang sudah datang dan ikut berdiskusi, juga bagi romo Art atas pembahasannya yang menarik sekaligus romantis!

Semoga clubbers yang lain dapat ikut bergabung bersama kami dalam pertemuan selanjutnya dengan judul “The Lord’s Prayer: He Taught Us To Pray” (Bapa Kami: Dia Mengajar Kita Untuk Berdoa) pada hari Rabu, 29 Januari 2014. See you guys soon!

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: