Special Post : in Honor of Pope Benedict XVI

pope-benedict-xvigarden.jpg

Berdasarkan informasi dari Rorate Caeli, juru bicara Vatikan Fr. Federico Lombardi, SJ mengatakan bahwa surat penghapusan ekskomunikasi empat uskup SSPX, merupakan surat yang ditulis secara pribadi oleh Paus Benediktus XVI, dan bila kita ingin mengetahui “Ratzinger murni” yang sebenarnya, maka sangat dianjurkan untuk membaca dokumen tersebut (link dokumen ada di bawah).

Lux Veritatis 7, sejak awal berdirinya sering melaporkan pemberitaan tentang Paus Benediktus XVI juga menerjemahkan tulisan-tulisan beliau. Kumpulan tulisan beliau sangat membantu kami (dan banyak orang lainnya) dalam memahami ajaran iman katolik. Karenanya kali ini saya membuat post khusus untuk menunjukkan penghormatan kami kepada Paus Benediktus XVI.

Dengan ini saya juga memberitahukan bahwa selama bulan Februari, Lux Veritatis 7 akan menerbitkan kutipan-kutipan dari tulisan Paus Emeritus Benediktus XVI, dalam rangka memperingati satu tahun pengunduran diri beliau (Beberapa kutipan yang telah diterbitkan bisa dibaca dengan mengklik ini dan ini)

Selamat membaca kutipan dari surat penghapusan ekskomunikasi uskup SSPX (terjemahan dari ekaristi.org, dengan sedikit perubahan dari saya) tersebut sebagai bahan permenungan kita semua!

———————–

dalam Segala Hal Kami Menunjukkan, bahwa Kami adalah Pelayan Allah

Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran…

Beberapa kelompok, disisi lain, secara terbuka menuduh Paus ingin memutar-balik waktu ke masa-masa sebelum Konsili [Vatikan II]: sebagai akibatnya , sebuah longsoran protes terjadi, yang mana kepahitan darinya menyebabkan luka yang lebih dalam dari luka-luka saat ini.

…dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa, dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati…

Aku disedihkan oleh fakta bahwa bahkan orang Katolik sekalipun, yang, mestinya, punya pemahaman yang lebih baik atas situasi [yang timbul], berpikiran bahwa mereka harus menyerangku dengan kekerasan terbuka.

…dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik..

Tapi beberapa dari mereka yang menempatkan diri didepan sebagai pembela agung Konsili [Vatikan II] juga perlu diingatkan bahwa Vatikan II memeluk seluruh sejarah doktrinal Gereja. Siapapun yang ingin patuh kepada Konsili [Vatikan II] harus menerima iman yang diikrarkan sepanjang abad, dan tidak dapat memotong akar-akar darimana sang pohon menyerap kehidupannya. 

…dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela…

Apakah langkah ini diperlukan? Apakah langkah ini merupakan sebuah prioritas? Tidakkah hal-hal lain mungin lebih penting? Tentu saja ada banyak masalah-masalah yang penting dan mendesak… Pada masa kita, dimana di kebanyakan daerah dunia iman dalam bahaya mati bagai api yang tidak lagi memiliki bahan bakar, prioritas yang mengalahkan segalanya adalah untuk membuat Allah hadir di dunia ini dan untuk menunjukkan pria dan wanita jalan kepada Allah. Tidak hanya sembarang allah, tapi Allah yang berbicara di Sinai; kepada Allah yang wajahnya kita kenal dalam sebuah cinta yang berlangsung “sampai kesudahannya” (bdk. Yoh 13:1) – dalam Yesus Kristus, tersalib dan bangkit. Masalah sejati pada titik sejarah kita saat ini adalah Allah menghilang dari cakrawala manusia, dan, dengan redupnya cahaya yang datang dari Allah, kemanusiaan kehilangan relevansinya, dengan efek-efek yang jelas-jelas semakin destruktif…Tapi tidakkah seharusnya Gereja yang besar juga membiarkan dirinya untuk dermawan mengetahui nafasnya yang besar, mengetahui janji yang dibuat kepadanya ? Bukankah seharusnya kita, sebagai pendidik yang baik, juga mampu melihat melampaui berbagai kesalahan dan membuat setiap upaya untuk memperluas pandangan kita? Dan bukankah seharusnya kita mengakui bahwa beberapa hal yang tidak menyenangkan juga telah timbul di kalangan Gereja?

…sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang…

Pada satu ketika seseorang bisa mendapat pandangan bahwa masyarakat kita perlu mempunyai paling tidak satu kelompok yang kepadanya tidak ada toleransi yang bisa dipertunjukkan; yang kepadanya seseorang bisa dengan mudah menyerang dan membenci. Dan kalau seseorang berani mendekati mereka [ie. kelompok tersebut] – dalam hal ini sang Paus sendiri – dia juga akan kehilangan hak apapun untuk ditoleransi; dia juga dapat diperlakukan dengan kebencian, tanpa ragu dan tanpa perlu menahan diri. 

…sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

St. Paulus (2 Kor 6:1-10)

Maria mengajari kita kepercayaan. Dia menuntun kita kepada Putra-Nya, yang kepadanya kita semua dapat meletakkan kepercayaan kita. Dia [Putranya] akan menjadi penuntun kita – bahkan dalam masa-masa yang bergoncang. Dan aku ingin berterima kasih kepada banyak Uskup yang akhir-akhir ini telah memberiku sebuah tanda kepercayaan dan perhatian yang menyentuh, dan diatas segalanya, yang telah menjaminkan kepadaku doa-doa mereka. Terima kasihku juga ditujukan kepada semua umat beriman yang pada hari-hari ini telah memberiku kesaksian akan kesetiaan mereka kepada Penerus Santo Petrus. Semoga Tuhan melindungi kita semua dan menuntun langkah-langkah kita di setapak jalan kedamaian. Ini adalah doa yang timbul secara naluriah dari hatiku pada permulaan Masa Adven ini, sebuah masa liturgis yang secara khusus tepat untuk pembersihan batin, masa yang mengundang kita semua untuk melihat harapan yang diperbaharui kepada cahaya yang menanti kita semua pada Paskah.

Benediktus XVI

Surat Kepada Uskup-uskup Gereja Katolik

tentang Penghapusan Ekskomunikasi Empat Uskup SSPX

10 Maret 2009

Sumber : Rorate Caeli

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: