“Iman Kita dapat Menanggapi Pengharapan-pengharapan ini : Semoga Kamu Menjadi Pelopornya!”

Herald by Viktor Vasnetsov

Hasrat untuk berkomunikasi dan menjalin persahabatan ini berasal dalam hakekat kita sebagai manusia dan tidak dapat dipahami secara memadai sebagai sebuah tanggapan terhadap inovasi teknis. Dalam terang pesan biblis, ia harus dipandang terutama sebagai refleksi dari partisipasi kita dalam Kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan [manusia], yang menginginkan semua manusia menjadi satu keluarga. Ketika kita menemukan diri kita mendekat pada orang lain, ketika kita ingin mengenal mereka lebih dalam dan menjadikan diri kita dikenal mereka, kita menanggapi panggilan Allah – sebuah panggilan yang tertanam dalam kodrat kita sebagai makhluk yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.

Kerinduan akan keterhubungan [dengan orang lain] dan naluri untuk berkomunikasi begitu jelas dalam budaya kontemporer, [kerinduan ini] paling baik dipahami sebagai perwujudan modern dari kecenderungan manusia untuk melampaui dirinya dan mencari persekutuan dengan orang lain. Kenyataannya, ketika kita membuka diri terhadap orang lain, kita memenuhi kebutuhan kita yang terdalam dan menjadi manusia seutuhnya. Kenyataannya, kita dirancang untuk mengasihi oleh Pencipta kita. Secara wajar, saya tidak berbicara tentang relasi yang dangkal dan singkat, saya berbicara tentang kasih sejati yang terdapat pada inti pengajaran moral Yesus :”Kamu harus mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu”dan “Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri” (Mark 21:30-31)

Teknologi baru telah membuka jalan bagi dialog diantara orang-orang dari berbagai bangsa, budaya dan agama. Arena digital baru, yang disebut cyberspace, mengijinkan mereka bertemu dan mengenal tradisi dan nilai-nilai orang lain. Pertemuan itu, agar bisa berbuah, mengharuskan bentuk-bentuk pengungkapan yang pantas bersama dengan sikap mendengarkan yang penuh perhatian dan rasa hormat. Dialog ini harus berasal dari pencarian kebenaran yang sejati dan bersifat timbal balik agar dapat menyadari potensinya dalam mendukung pertumbuhan pemahaman dan toleransi. Kehidupan bukan hanya sekedar rangkaian kejadian atau pengalaman : ia merupakan pencarian yang baik, benar dan indah. Terhadap tujuan akhir inilah kita harus membuat pilihan; untuk alasan inilah kita menggunakan kebebasan kita; dalam hal inilah – kebenaran, kebaikan dan keindahan – kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak seharusnya membiarkan diri kita diperdaya oleh mereka yang melihat kita hanya sebagai konsumen dalam sebuah pasar yang tidak membedakan kemungkinan-kemungkinan, dimana pilihan itu sendiri menjadi kebaikan, hal-hal baru merampas keindahan, dan pengalaman subjektif menggantikan kebenaran.

Saudara-saudari terkasih, saya meminta kamu memperkenalkan dalam budaya lingkungan teknologi informasi dan komunikasi ini, nilai-nilai yang di atasnya kamu telah membangun hidupmu. Dalam kehidupan awal Gereja, para rasul dan murid membawa Kabar Baik tentang Yesus kepada dunia Yunani dan Romawi, Sama seperti waktu itu, evangelisasi yang berbuah mengharuskan perhatian seksama dalam memahami budaya dan kebiasaan orang-orang pagan agar kebenaran injil menyentuh hati dan pikiran mereka, begitu juga sekarang, pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru mengharuskan pemahaman mendalam tentang dunia ini bila teknologi ditujukan untuk melayani misi kita dengan memadai. Pewartaan ini jatuh pada orang-orang muda secara khususnya, yang hampir memiliki hubungan erat yang spontan terhadap sarana-sarana komunikasi baru, agar mereka mengambil tanggung jawab untuk evangelisasi “benua digital” ini. Kabarkan Injil kepada orang-orang sejamanmu dengan antusias. Kamu mengetahui rasa takut dan pengharapan mereka, aspirasi dan kekecewaan mereka : karunia terbesar yang dapat kamu berikan kepada mereka adalah berbagi bersama mereka “Kabar Baik” tentang Allah yang menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati manusia merindukan dunia di mana kasih bertahan, di mana karunia-karunia dibagikan, di mana kesatuan dibangun, di mana kebebasan menemukan maknanya dalam kebenaran, dan dimana identitas ditemukan dalam persekutuan yang saling menghormati. Iman kita dapat menanggapi pengharapan-pengharapan ini : semoga kamu menjadi pelopornya!

Benediktus XVI

Pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-43

24 Mei 2009

Gambar : “Herald” by Viktor Vasnetsov, 1885

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: