Penghayatan Makna dan Tata Gerak Liturgi : Sebuah Pengantar

the-holy-sacrifice-of-the-mass2

I. Arti Liturgi

Liturgi merupakan tindakan penyembahan atau ibadah publik Gereja yang sah dan resmi. Kata “Liturgi” berarti “karya/pekerjaan”, namun ia bukan pekerjaan yang dilakukan atau diciptakan manusia, melainkan karya Allah. Manusia hanya mengambil bagian atau berpartisipasi dalam liturgi, tetapi liturgi sendiri adalah anugerah Allah yang diberikan kepada Gereja. (Uskup Agung Vincent Nichols).

Liturgi juga memiliki makna yang lain, seperti yang diungkapkan Paus Benediktus XVI :

Apa itu liturgi? Jika kita membuka Katekismus Gereja Katolik – yang bagi saya katakan sangat diperlukan dan merupakan bantuan yang tak ternilai bagi umat – kita dapat membaca bahwa kata “liturgi” pada mulanya berasal dari kata: “Pelayanan atas nama / bagi masyarakat[Umat]” (n 1069). Teologi Kristen memanfaatkan kata ini dari kata Yunani, itu jelas ditujukan kepada Masyarakat [Umat] Allah yang baru lahir dari Kristus yang membuka tangan-Nya di kayu Salib untuk menyatukan manusia dalam perdamaian dengan Allah yang Esa. Sebuah “jasa atas nama rakyat”, masyarakat [Umat] yang bukan terbentuk atas usaha mereka sendiri, tetapi terbentuk melalui Misteri Paskah Yesus Kristus. Dan terutama, Umat Allah ini tidak terbentuk karena melalui hubungan kekerabatan, kulit, tempat atau negara. Melainkan terbentuk dari perbuatan Anak Allah dan dari persekutuan dengan Bapa sehingga Dia memperoleh kita.

Apa maksudnya liturgi adalah pekerjaan Allah?

Namun, kita mungkin bertanya kepada diri sendiri: apa itu pekerjaan Allah dan di mana kita dipanggil untuk berpartisipasi didalamnya? Jawabannya terdapat pada Konstitusi Dewan tentang Liturgi Kudus (Sacrosanctum Concilium) dimana memberi kita rupanya dua kali lipat penegasan dalam jawaban dari pertanyaan ini. Dalam pasal 5 dokumen tersebut menunjukkan, pada kenyataannya, bahwa pekerjaan-pekerjaan Allah adalah tindakan-Nya sendiri dalam sejarah kemanusiaan yang membawa kita kepada keselamatan dan puncaknya pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, tetapi dalam pasal 7, Konstitusi yang sama mendefinisikan perayaan liturgi sebagai “tindakan Kristus”. Bahkan dua makna ini tak dapat dipisahkan. Jika kita bertanya pada diri kita sendiri siapa yang menyelamatkan dunia dan manusia, satu-satunya jawaban adalah: Yesus dari Nazareth, Tuhan dan Kristus, Yang Tersalib dan Yang Telah Bangkit. Dan dari mana Misteri kematian dan kebangkitan Kristus yang membawa keselamatan menjadi nyata bagi kita, bagi saya, pada hari ini? Jawabannya adalah: dalam tindakan Kristus melalui Gereja, dalam liturgi, dan, terutama, dalam sakramen Ekaristi, yang menghadirkan persembahan kurban Anak Allah yang telah menebus kita, dalam sakramen Rekonsiliasi, di mana seseorang bergerak dari kematian dosa menuju hidup yang baru baru, dan dalam tindakan sakramental lain yang menguduskan kita (cf. Presbyterorum Ordinis, n 5.).Jadi Misteri Paskah kematian dan kebangkitan Kristus adalah pusat dari teologi liturgi yang dijelaskan dalam dokumen Konsili ini.

II.Tujuan dan Hakekat Liturgi

Pusat dari liturgi adalah Allah, bukan manusia. Oleh karena itu, dalam liturgi Allah dihormati dan disembah oleh seluruh Gereja, seluruh umat beriman, dan melalui penghormatan dan penyembahan itu, umat beriman memperoleh pengudusan. Liturgi tidak pernah bertujuan untuk menampilkan ungkapan rasa hormat yang sifatnya individual atau pun kolektif (terbatas pada kelompok tertentu).

The primary and exclusive aim of the liturgy is not the expression of the individual’s reverence and worship for God. It is not even concerned with the awakening, formation, and sanctification of the individual soul as such. Nor does theonus of liturgical action and prayer rest with the individual. It does not evenrest with the collective groups, composed of numerous individuals, who periodically achieve a limited and intermittent unity in their capacity as the congregation of a church. The liturgical entity consists rather of the unitedbody of the faithful as such–the Church–a body which infinitely outnumbersthe mere congregation. The liturgy is the Church’s public and lawful act of worship, and it is performed andconducted by the officials whom the Church herself has designated for thepost–her priests. In the liturgy God is to be honored by the body of thefaithful, and the latter is in its turn to derive sanctification from this actof worship. It is important that this objective nature of the liturgy should be fully understood. Here the Catholic conception of worship in common sharply differs from the Protestant, which is predominatingly individualistic.The fact that the individual Catholic, by his absorption into the higher unity,finds liberty and discipline, originates in the twofold nature of man, who is both social and solitary. – Romano Guardini, The Spirit of Liturgy

III.Partisipasi Aktif

Dalam liturgi dikenal istilah partisipasi aktif. Makna dari partisipasi aktif adalah sebagai berikut :

  • Partisipasi aktif berarti partisipasi interior (batiniah) dari semua daya jiwa dalam misteri kasih pengorbanan Kristus. Partisipasi pada tempat pertama merupakan hal yang bersifat batiniah, yang berarti ia melibatkan pikiran dan hati manusia yangsadar dan terlibat.
  • Partisipasi aktif juga memiliki sisi eksterior (lahiriah) : yaitu mengucapkan kata-kata dan melakukan tindakan. Aspek batiniah dan lahiriah merupakan satu kesatuan, karena dalam liturgi bukan jiwa saja atau batin manusia saja yang berdoa, melainkan manusia yang utuh.

IV.Kesatuan antara Tubuh dan Jiwa, Aspek Batiniah dan Tindakan Lahiriah

Ada beberapa contoh yang menunjukkan kesatuan dari aspek interior dan eksterior. Saya mengambil contoh dari injil Yohanes, yang mengisahkan Yesus yang menyembuhkan orang buta. Pada bagian itu, terdapat dialog berikut :

Yesus : “Percayakah Engkau akan Putra Manusia?”

Orang buta : Siapakah Dia, supaya aku dapat percaya kepada-Nya?”

Yesus : “Engkau telah melihat Dia”

Orang buta : “Tuhan, aku percaya” (lalu ia bersujud)

Disini kita melihat seorang buta yang kemudian dapat melihat setelah disembuhkan Yesus. Ia ingin memiliki kepercayaan, memiliki iman kepada Sang Putra Manusia. Lalu saat Yesus berkata bahwa dia telah melihat Putra Manusia itu, dia mengucapkan kata-kata “aku percaya” . Perkataan ini merupakan pengakuan imannya, yang merupakan sesuatu yang sifatnya batiniah, yang kemudian diucapkan dalam kata-kata dan diungkapkan dengan sikap tubuh yang menunjukkan penghormatan, yaitu berlutut/bersujud. Oleh karena itu, disini terlihat erat kesatuan antara sikap tubuh dan makna rohani yang dilakukan oleh manusia, seperti yang dikatakan oleh Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

“Gestur jasmani sendiri adalah pembawa makna rohani, yang merupakan sebuah penyembahan[worship]. Tanpa penyembahan, gestur jasmani menjadi tak berarti,sementara tindakan rohani – dari hakekatnya, karena kesatuan psikosomatis manusia –  harus terungkap dalam gestur jasmani”

Oleh karena itu, penting sekali untuk mengungkapkan sisi batiniah kita melalui kata-kata dan perbuatan selama perayaan Ekaristi.

V.Pentingnya Aturan dalam Liturgi

Untuk merayakan liturgi, ada pedoman dan aturan yang harus ditaati. Mengapa ada begitu banyak aturan? Apa pentingnya aturan itu? Berikut ini adalah tanggapan dari rekan kami, blogger Indonesian Papist :

Tetapi, bukankah merayakan Liturgi dengan kepatuhan pada pedoman-pedoman Liturgi adalah rubrikalisme? Rubrikalisme itu tidak selamanya buruk. KardinalRaymond L. Burke menyatakan bahwa hukum-hukum Liturgi mendisiplinkan kita sehingga kita memiliki kebebasan untuk menyembah Allah. Sebaliknya, kita bisa terperangkap atau menjadi korban dari gagasan-gagasan individual kita, ide-ide relatif berdasarkan kehendak individu atau kelompok umat, dalam hal ini orang muda Katolik. Hukum-hukum Liturgi melindungi tujuan dari Liturgi dan menghormati Hak-hak Allah untuk disembah sesuai apa yang Ia kehendaki sehingga kita bisa yakin bahwa kita tidak sedang menyembah diri kita sendiri atau,seperti yang St. Thomas Aquinas katakan, menjadi semacam pemalsuan ibadah ilahi.

Saya sendiri pernah menulis artikel yang berjudul “Pentingnya Aturan dalam Liturgi” (silakan klik untuk melihat uraian yang lebih lengkap). Saya kutipkan sebagian saja:

Aturan-aturan liturgi yang kaku itu menyadarkan kita bahwa liturgi itu bukanlah produk buatan manusia, melainkan liturgi itu berasal dari Allah, diteruskan dan dilestarikan oleh Gereja, dan hanya Gereja dengan otoritas yang berasal dari Allah yang mengetahui dengan pasti bagaimana cara menyembah dan memuliakan Allah secara benar. Disini liturgi memiliki sifat keterberian yang berasal dari Allah, karena pada dasarnya manusia tidak tahu dengan apa mereka harus beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, Allah menyatakan, memberikan cara-cara yang Ia kehendaki kepada manusia sebagai cara yang paling tepat untuk beribadah kepada-Nya. Mungkin nanti saya akan menjelaskan panjang lebar tentang bagian ini secara terpisah.

Aturan dalam liturgi, mengajarkan kita untuk menjadi rendah hati : mengakui bahwa kita tidak tahu dengan cara seperti apa kita harus beribadah dan menyembah Allah. Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Gereja lah yang lebih mengetahui cara menyembah Allah yang tepat.

Aturan dalam liturgi, mencegah liturgi menjadi sesuatu yang egoistis : berpusat pada manusia dan bukan berpusat pada Allah. Aturan liturgi mencegah manusia untuk menyembah allah yang palsu, allah ciptaan manusia yang dibuat untuk memuaskan perasaan-perasaan manusia.

Aturan dalam liturgi, mendorong kita untuk taat dan setia terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Gereja. Setia kepada Gereja, berarti juga setiap kepada Yesus, karena Yesus dan Gereja adalah satu dan tak terpisahkan.

Aturan dalam liturgi menjamin adanya kebebasan, kebebasan yang tunduk kepada kebenaran. “Ketika setiap manusia hidup tanpa hukum, manusia hidup tanpa kebebasan”. Ini pernyataan Paus Benediktus XVI yang saya kutip di bagian paling atas artikel ini. Hukum dan aturan, khususnya dalam liturgi, memberi tahu kita tentang kebenaran dalam tata cara menyembah Allah. Tanpa adanya hukum dan aturan, bukan kebebasan yang terjadi, melainkan kekacauan, karena setiap orang akan bisa memaksakan apa yang ia inginkan sesuka hatinya.

VI.Tata Gerak Liturgi dalam Perayaan Ekaristi

Tanda Salib

Tanda salib memiliki tiga makna, yaitu :

  • pertobatan atas dosa-dosa manusia
  • perlindungan dari Yang Jahat
  • mengingatkan kita akan janji baptis kita: menolak setan, mengakui iman dalam Kristus, dan kita dibaptis dalam misterTritunggal Kudus

Dalam membuat tanda salib, kita mengucapkan “Dalam nama Bapa (jari menyentuh dahi), dan Putra (jarimenyentuh perut), dan Roh Kudus (jari menyentuh bahu ). Amin”

Terdapat dua cara dalam membuat tanda salib.

Pertama, dari atas kebawah, lalu dari kanan ke kiri. Dari atas ke bawah memiliki makna Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari orang Yahudi (kanan) ia menyampaikannya ke orang-orang non Yahudi (kiri).

Kedua, dari atas ke bawah, lalu dari kiri ke kanan.Dari kiri ke kanan berarti dari penderitaan kita menyeberang menuju kemuliaan, seperti Kristus yang menyeberang dari kematian menuju kehidupan, dan darineraka ke surga. Cara membuat tanda salib inilah yang digunakan umat katolik ritus latin.

Kapan tanda salib dilakukan?

  • Saat kita memasuki Gereja dan mencelupkan jari ke dalam air suci, kita membuat tanda salib
  • Saat mengawali dan menutup Perayaan Ekaristi.
  • Saat menerima percikan air suci,pengganti Penyataan Tobat.
  • Saat memulai bacaan injil, setelah imamberkata “Inilah Injil Yesus Kristus menurut…” umat membuat tiga tanda salib kecil di dahi, bibir dan dada. Gestur ini memiliki arti “semoga Tuhan memurnikan pemahaman, kata-kata dan hati saya, sehingga saya dapat menerima perkataan Injil”

Genufleksi

Genufleksi berarti berlutut dengan sebelah kaki, biasanya lutut kaki kanan disentuhkan ke tanah (sentuhkan ke tanah bila lutut anda tidak bermasalah, jangan setengah-setengah atau ragu untuk melakukannya).Genufleksi dilakukan setelah membuat tanda salib, ketika umat hendak duduk dibangku gereja dan lampu di Tabernakel menyala, menandakan bahwa Tubuh Kristus bertahta di sana. Sebelum duduk dan saat umat hendak meninggalkan gereja karena misa telah selesai, maka umat melakukan genufleksi. Genufleksi merupakan sikap yang kita lakukan untuk menyembah Kristus yang hadir dan bertahta di tabernakel. Oleh karena itu, genufleksi haruslah dilakukan dengan seksama dan penuh rasa hormat, dan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.

Menundukkan Kepala dan Membungkukkan Badan

PUMR 275 : Menundukkan kepala dan membungkuk merupakan tanda penghormatan kepada orang atau barang yang merupakan representasi pribadi tertentu.

a. Menundukkan kepala dilakukan waktu mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama santo / santa yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan.

b. Membungkukkan badan atau membungkuk khidmat dilakukan waktu

(1) menghormati altar;

(2) sebelum memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doa sucikanlah hati dan budiku, ya Allah yang mahakuasa

(3) dalam syahadat, waktu mengucapkan kata-kata Ia dikandung dari Roh Kudus dan Ia menjadi manusia;

(4) dalam persiapan persembahan, waktu mengucapkan doa Dengan rendah hati dan tulus;

(5) dalam Kanon Romawi pada kata-kata Allah yang mahakuasa, utuslah malaikat-Mu Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan kata-kata Tuhan pada saat konsekrasi: Terimalah …

Berdiri

Posisi berdiri menunjukkan rasa hormat yang kita berikan di hadapan Allah. Ini berarti kita siap untuk menanggapi Dia.

Menurut Pedoman Umum Missale Romawi (no. 43), umat hendaknya berdiri :

  • dari awal nyanyian pembuka, atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan doa pembuka selesai;
  • pada waktu melagukan bait pengantar Injil ( dengan atau tanpa alleluya);
  • pada waktu Injil dimaklumkan;
  • selama syahadat;
  • selama doa umat;
  • dari ajakan Berdoalah, Saudara sebelum doa persiapan persembahan sampai akhir perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat yang disebut di bawah ini.

Memukul Dada

Merupakan tanda pertobatan dan kerendahan hati, seperti yang ditunjukkan oleh pemungut cukai dalam Injil Lukas 18 : 13

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri (dalam bahasa Inggris : beat his breast) dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Gerakan ini dilakukan pada bagian “saya berdosa (memukul dada), saya berdosa (memukul dada), saya sungguh berdosa (memukul dada)” pada ritus pertobatan

Duduk

Duduk menandakan bahwa umat siap untuk mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian, serta menunjukkan kesiapan untuk diajar. Ingatlah bahwa ketika kita duduk selama Misa, kita tidak duduk di ruang tamu, di lobi, atau di ruangan lainnya. Kita duduk di hadapan Allah, oleh karena itu duduklah dengan posisi tubuh tegap,tenang, dan menunjukkan rasa hormat. Jangan melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu. Dengarkanlah dengan seksama bacaan Kitab Suci dan Homili yang diberikan Imam. Sikap tubuh kita harus mencerminkan sikap batin yang menunjukkan kesiapan : mendengar dengan telinga hati (St. Bernard)

Kita duduk selama persiapan persembahan dan saat hening. Hendaknya kita tidak lupa bahwa misa adalah rangkaian doa yang panjang, jadi saat duduk dalam suasana hening, hendaknya pikiran dan perbuatan kita menunjukkan sikap doa, dan bukannya mengobrol, minum, membuka handphone, dst.

Menurut Pedoman Umum Missale Romawi (no. 43),Umat hendaknya duduk:

  • selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama mazmurtanggapan;
  • selama homili;
  • selama persiapan persembahan;
  • selama saat hening sesudah komuni.

Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengijinkan, entah karena banyaknyaumat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi.

Akan tetapi, sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam tata Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat.[*] Namun,hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian perayaan Ekaristi yang bersangkutan. Kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan.

Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan, umat hendaknya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh diakon, pelayan awam, atau imam, selaras dengan petunjuk buku-buku liturgis.

Mengatupkan Tangan

Saat berdoa, posisi tangan juga memiliki makna dan penting untuk diperhatikan.

Terdapat dua cara untukmengatupkan tangan : pertama, dengan jari-jari saling menggenggam, atau dengan kedua telapak tangan terbuka saling bersentuhan dengan jari-jari dalam posisi lurus, dimana jempol kanan berada diatas jempol kiri, membentuk salib. Kedua posisi tangan kita berada di depan dada, bukan di bawah perut.

Posisi tangan menggenggam atau kedua telapak tangan terbuka yang saling bersentuhan menunjukan kekurangan kita, yaitu kesalahan kita, dorongan-dorongan kita yang tidak teratur. Oleh karena itu kita menggenggam atau mengatupkan tangan sebagai upaya untuk mengendalikan hal tersebut, dan hanya mengarahkan atensi serta perhatian kepada Allah.

Berlutut

“Janganlah biarkan lutut yang kita tekuk menjadi gestur yang tergesa-gesa, sebuah bentuk yang kosong. Berikan makna padanya; berlutut, dalam intensi jiwa, sama dengan membungkuk dihadapan Allah dengan penghormatan yang paling mendalam” – Romano Guardini

Berlutut menandakan sikap hormat dan menyembah kepada Tuhan Yesus yang hadir. Dengan berlutut, kita belajar untuk rendah hati, menunjukkan kekecilan kita di hadapan Ia yang mahabesar. Berlutut juga memiliki makna pertobatan

Kapan kita berlutut?

  • Saat umat memasuki gereja dan berdoa secara pribadi
  • Saat Doa Syukur Agung
  • Saat Anak Domba Allah
  • Setelah Menerima Komuni

Berjalan

“Berjalan. Berapa banyak orang tahu cara berjalan? Berjalan tidak berarti terburu-buru seperti sedang berlari, atau menyeret kaki seperti langkah seekor siput, tetapi berjalan merupakan pergerakan maju yang kokoh dan tenang. Ada kelenturan dalam langkah seorang pejalan yang baik. Ia mengangkat dan tidak menyeret kakinya. Ia berjalan tegap, tidak membungkuk, dan langkahnya pasti dan tenang” – Romano Guardini

Kita berjalan saat hendak menyambut Komuni Suci.Sudah layak dan sepantasnya bahwa selama berjalan, kita memiliki kesadaran bahwa kita semakin dekat kepada kehadiran Allah yang nyata, tubuh dan darah,jiwa dan keilahian Kristus dalam Komuni Suci. Oleh karena itu, kita perlu berjalan dengan tegap, tenang, perlahan tapi pasti, sambil tetap menunjukkan rasa hormat terhadap Ia yang akan kita sambut.

Referensi

Pedoman Umum Missale Romawi

Sacred Signs by Romano Guardini

The Spirit of Liturgy by Romano Guardini

The Spirit of Liturgy by Joseph Ratzinger

Katekese tentang Liturgi oleh Paus Benediktus XVI

Sacred Signs and Active Participation at Mass : What Do These Actions Mean, and Why Are They So Important? By Rev. Cassian Folsom, OSB 

5 komentar

  1. vincent · · Balas

    Terima kasih

  2. Maya · · Balas

    Sy mau bertanya tentang Novena, begini ceritanya digereja kami awalnya diselenggarakan novena Bunda Hati Kudus lalu pada hari ke 8 dan 9, itu bertepatan dengan diawalinya novena Hati Maha Kudus Yesus hari pertama & kedua.
    Pertanyaan saya : apakah 2 novena yg berbeda dapat dilaksanakan sekaligus dalam sebuah perayaan misa kudus ??

    1. Halo Maya,

      Novena dapat diadakan sebelum atau sesudah Misa, bukan selama misa. Jadi tentu saja keduanya dapat dilaksanakan

  3. Tanda salib digunakan oleh umat Katolik untuk memulai dan mengakhiri doa, apakah doa yang diucapkan tanpa diawali tanda salib dikatakan bukan doa? misalnya ketika melihat sesuatu dan mengucapkan sebuah kalimat doa tanpa meulainya dengan tanda salib. makasih

    1. Dativa,

      Umumnya memang kita membuat tanda Salib saat berdoa. Namun ada juga saat-saat ketika kita tidak perlu membuat tanda Salib, misalnya ketika sedang menempuh perjalanan dan mungkin situasi kita tidak memungkinkan untuk membuat tanda salib, maka mengucapkan doa singkat dalam hati juga sudah dapat dikatakan berdoa.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: