Paus Fransiskus dan Santo Fransiskus : “Khotbahkanlah Injil Selalu. Dan demi Kasih terhadap Allah, Gunakan Kata-kata”

Catatan pribadi :

Seorang pewarta, ketika menyatakan kebenaran dan mengkoreksi kesalahan, akan berhadapan dengan komentar seperti ini,”Ah anda itu cuma pandai berteori, omong doang tapi tidak melakukan apa-apa”. Komentar seperti ini sebenarnya menunjukkan adanya penolakan terhadap kebenaran yang disampaikan. Sebagai penabur benih, ternyata yang ditemui bukanlah tanah yang baik. Itulah yang diungkapkan Paus Emeritus Benediktus XVI, sambil mengutip St. Augustinus :

“Percaya dalam tindakan Roh Kudus harus selalu mendorong kita untuk pergi dan mewartakan Injil, menjadi saksi iman yang berani; tapi, selain dari kemungkinan adanya tanggapan positif terhadap karunia iman, juga ada kemungkinan penolakan terhadap Injil, kemungkinan untuk tidak menerima pertemuan penting dengan Kristus. St. Augustinus sudah menyatakan masalah ini dalam salah satu komentarnya terhadap perumpamaan Penabur. “Kita berbicara”, ia berkata, “kita menebar benih, kita menaburkan benih. Ada orang yang mengejek kita, mereka yang mengolok-olok kita, mereka yang mencemoohkan kita. Bila kita takut pada mereka kita tidak memiliki apapun untuk ditabur dan pada hari panen kita tidak akan menuai hasil panen. Karenanya semoga benih didalam tanah yang baik dapat bertumbuh” (Discourse on Christian Discipline, 13,14: PL 40, 677-678). Penolakan, karenanya tidak dapat melemahkan kita. Sebagai orang Kristen, kita adalah bukti dari tanah yang subur ini. Iman kita, bahkan dengan kelemahan-kelemahan kita, menunjukkan bahwa ada tanah yang baik, dimana benih Sabda Allah menghasilkan buah keadilan, kedamaian, cinta, kemanusiaan dan keselamatan yang melimpah. Dan seluruh sejarah Gereja, dengan semua persoalannya, juga menunjukkan bahwa ada tanah yang baik, bahwa ada benih yang baik dan benih tersebut menghasilkan buah.”

Apakah anda berpikir bahwa kehidupan dan perbuatan anda sudah cukup baik sehingga orang lain yang melihat anda dapat melihat Kristus dan membuat mereka mencintai Kristus?

Saya tidak merasa demikian. Saya seorang pendosa, sama seperti anda. Saya memiliki kodrat manusia yang rapuh, yang tidak akan pernah bisa membuat saya lepas dari dosa, kecuali dengan bantuan rahmat Allah. Keberdosaan manusia akan selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencintai Kristus, bila yang dilihat adalah perbuatan saja. Bukankah anda juga memerlukan pengetahuan untuk berbuat baik, yang diperoleh dari perkataan orang lain juga?

Jadi, berhentilah mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lain. Berbuatlah dan berkata-katalah. Itulah yang dikehendaki oleh Yesus. “Jadilah kamu sempurna, sama seperti Bapa-Mu di surga adalah sempurna”

Itulah perenungan singkat saya setelah membaca artikel dibawah ini.

——-

Paus Fransiskus dan Santo Fransiskus : “Khotbahkanlah Injil Selalu. Dan untuk Kasih terhadap Allah, Gunakan Kata-kata”

Oleh Emily Stimpson

Diterjemahkan dari artikel di Catholic Vote

Pada jaman dahulu kala, di sebuah tanah nun jauh disana, hiduplah seorang kudus bernama Fransiskus.

Fransiskus adalah orang miskin, rendah hati, dan sangat mencintai Allah. Ia menunjukkan cintanya itu dengan berpakaian sederhana, terus berpuasa, dan melakukan penitensi besar dan kecil. Ia juga menunjukkan kasihnya melalui kebaikan dan kelembutan. Ia memperlakukan setiap orang yang ia temui, termasuk orang paling miskin diantara yang miskin, dengan kasih dan rasa hormat. Ia bahkan memperlakukan binatang di hutan dengan rasa hormat.

Fransiskus berusaha dalam setiap cara untuk menjadi manusia yang dikehendaki Allah. Tapi ia tidak hanya ingin menjadi kudus. Ia ingin orang lain juga menjadi kudus. Ia menginginkan mereka mengenal betapa indah dan adil dan rahim dan penuh kasih sosok pribadi Yesus. Ia ingin setiap orang mencintai Yesus dan menemukan sukacita dalam hidup bersama-Nya.

Untuk membantu orang-orang menemukan hal itu, Fransiskus tahu ia harus melakukan lebih dari sekedar menghidupi Injil. Ia harus menyatakannya. Dan tidak hanya dengan tindakannya, tapi juga dengan perkataannya. Ia harus memberitahu orang-orang tentang Kristus, tentang belas kasih dan cinta-Nya, wafat dan Kebangkitan-Nya, Gereja dan sakramen-sakramen-Nya. Ia harus memberitahu orang-orang apa yang Allah minta dari mereka, dan apa yang Allah inginkan dari mereka.

Dan ia melakukan semua itu dengan dua alasan.

Pertama, karena Fransiskus mengetahui keterbatasannya.

Kedua, Fransiskus menyadari bahwa ia harus menggunakan perkataan dan perbuatan untuk menyatakan Injil karena itulah yang dilakukan Yesus.

Yesus menyembuhkan orang sakit. Ia membangkitkan orang mati. Ia mengubah air menjadi anggur dan memberi makan banyak orang dengan roti dan ikan. Tapi ia juga mendukung tindakan-Nya dengan perkataan-Nya. Ia memanggil orang-orang untuk menyesali dosanya dan bertobat. Ia memanggil mereka untuk berdoa. Ia memanggil mereka untuk mengasihi. Ia mencela mereka yang tidak setia dan sombong, orang yang tidak jujur dan munafik, mereka yang menyatakan ajaran yang salah dan mereka yang menuntun orang-orang kecil tersesat. Ia juga berbicara tentang Kerajaan, Surga dan Bumi, kematian dan penghakiman, belas kasih dan pengampunan. Ia berbicara tentang Daud dan Solomo, para nabi, dan sejarha keselamatan.

Fransiskus mengetahui hal itu. Ia menyadari bagaimana Tuannya memanggil orang lain kepada diri-Nya. Dan ia tahu ia tidak lebih baik dari Tuannya.

Jadi, pada setiap kesempatan yang dimiliki Fransiskus, ia menyatakan Injil. Ia menyatakannya kepada serigala di hutan. Ia menyatakannya kepada Sultan di Mesir. Ia tidak berhenti berbicara tentang Yesus. Ia tidak bisa berhenti melakukannya. Sama seperti seorang wanita yang jatuh cinta tak dapat berhenti berbicara tentang kekasihnya. Pemikiran untuk tidak membicarakan kasih-Nya, tentang Kristus, kepada dunia, akan membuat ia sangat terkejut.

Jadi mengapa saya menulis semua ini?

Karena pemilihan Bapa Suci baru kita yang luar biasa, Paus Fransiskus, telah memicu orang-orang yang berbicara tentang Fransiskus yang pertama dan seruannya,”Khotbahkanlah Injil selalu. Bila perlu, gunakan kata-kata.”

Tapi inilah persoalannya. St. Fransiskus tidak pernah mengatakan hal itu. Kita tidak tahu siapa yang mengatakannya, tapi itu bukan Fransiskus. Kutipan itu tidak ada dalam tulisannya, juga tidak ada dalam tulisan teman-temanya, serta tidak ada pada tulisan siapapun tentang Fransiskus 800 tahun pertama setelah kematiannya.

Seseorang menciptakan kutipan itu dan menempatkannya ke mulut St. Fransiskus yang miskin. Dan bahkan sejak saat itu, orang-orang telah menggunakannya sebagai excuse untuk tidak melakukan evangelisasi dengan kata-kata, untuk tidak melakukan percakapan yang tidak nyaman atau mengucapkan hal-hal yang tidak populer.

Hal itu akan menjadi hal mengerikan bagi Fransiskus, sama mengerikannya  tentang pemikiran untuk tidak membicarakan Kristus. Ia tahu apa yang gereja selalu ketahui. Tidak ada pengandaian “Jika” tentang perlunya menggunakan kata-kata dalam evangelisasi, sama seperti tidak ada pengandaian “jika” tentang keharusan melakukan perbuatan. Keduanya perlu. Keduanya merupakan hal yang penting.

Seperti yang dijelaskan Paus Paulus VI dalam Ensikliknya tentang evangelisasi, Evangeli Nuntiandi tahun 1974 :

“Bagaimanapun, seorang yang memberikan kesaksian selalu tidak memadai, karena bahkan seorang saksi yang paling bagus sekalipun akan terbukti tidak efektif dalam jangka panjang bila ia tidak dijelaskan, dibenarkan…dan dinyatakan secara eksplisit oleh pernyataan Tuhan Yesus yang jelas dan tidak ambigu. Kabar baik yang dinyatakan oleh saksi kehidupan cepat atau lambat harus dinyatakan oleh sabda kehidupan. Tidak ada evangelisasi sejati bila nama, ajaran,hidup, janji, kerajaan dan misteri Yesus Kristus, Putra Allah tidak dinyatakan” (22)

Kita juga seharusnya mengikuti teladan yang ia berikan pada kita, dengan cara berani membicarakan menentang kejahatan dalam budaya kita. Fransiskus ini tidak lagi berpikir kesaksiannya cukup untuk evangelisasi daripada yang dilakukan Fransiskus pertama. Ia telah menyatakan Injil secara utuh melalui perkataan sama seperti perbuatannya. Ia telah mengucapkan hal-hal yang tidak populer. Ia telah terlibat dalam percakapan yang tidak nyaman.

Begitu juga dengan kita. Kita harus menghidupi ajaran Gereja, dan kita juga harus membicarakannya.

Karena Paus Fransiskus dan St. Fransiskus menginginkannya dengan cara itu.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: