Anak Yang Hilang Dan Anak Sapi Emas

Terjemahan dari artikel: The Prodigal Son and the Golden Calf, yang ditulis oleh Dr. Marcellino D’Ambrosio. Refleksi dari bacaan Minggu ke XXIV, Kel. 32:7-11,13-14; Mzm. 51:3-4,12-13,17,19; 1Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-32

Perumpamaan Anak yang hilang dan drama penyembahan Israel kepada Anak Sapi Emas adalah beberapa cerita yang terbaik dari semua yang pernah dikenal didalam Injil. Jadi apa kesamaan dari dua cerita ini?

Semua tahu tentang cerita Anak yang Hilang dan Anak Sapi Emas. Tapi biasanya bacaan ini tidak diletakkan bersamaan sama seperti bacaan Minggu ini. Jadi apa kesamaan dari dua cerita ini?

Jawaban: dua cerita tersebut berbicara tentang kodrat dari dosa. Coba pikirkan. Allah melihat rakyat yang diperbudak dalam ikatan penyiksaan oleh bangsa terkuat di bumi. Ia memperjuangkan perkara mereka, menghancurkan pasukan Firaun, membawa mereka keluar dari Mesir menuju kebebasan, dan menjadikan bangsa yang terpilih. Dan ketika Ia memberikan kepada pemimpin mereka cetak biru kehidupan baru mereka, mereka memutuskan untuk menyembah hal yang sama seperti tetangga mereka, Orang Kanaan, yaitu : kekuasaan, kejantanan, kesuburan, kemakmuran. Sapi emas menyimbolkan semua hal tersebut, dan karena alasan ini, ia merupakan berhala yang sangat terkemuka di Ancient Near East.

Sekarang mari lihat tentang Anak yang Hilang. Ia lahir dalam keluarga yang sangat kaya dan menerima semua hal baik dari ayahnya. Tapi daripada menunggu ayahnya meninggal, ia meminta warisannya sekarang, menunjukkan tanda tidak hormat kepada ayahnya, mengambil uangnya dan pergi. Ia menyia-yiakan semua yang ia punya dengan berpesta dan hidup yang boros, mengejar berhala yang sama seperti yang dilakukan orang Israel  di padang gurun.

Makanan mengenyangkan dia. Anggur meriangkan dia. Mabuk-mabukan menggairahkan dia. Tapi setelah semuanya usai, ia menemukan dirinya bangkrut, kosong dan kesepian.

Ini adalah ilusi terbesar dari dosa. Semua itu terayun didepan mata kita sebagai kunci kepada pencapaian dan kebahagiaan. Semua itu tentang menikmati karunia dari ciptaan dalam pembangkangan kepada Pencipta, dalam cara yang bertentangan kepada kebijaksanaan dan kebahagiaan-Nya. Dan karena semua hal itu diciptakan baik oleh Allah, awalnya semua terlihat berhasil. Dosa pada awalnya rasanya baik. Tapi pada akhirnya, itu selalu asam dan meninggalkan kita dengan kekosongan, kesedihan yang menyakitkan. Tapi sebaliknya, kehendak Allah pada awalnya terasa menyengat, tapi kemudian membawa kebahagiaan yang amat besar yang membuat hati kita bernyanyi.

Lantas bagaimana membedakan cerita tentang Anak Sapi Emas dan Anak yang Hilang? Perbedaannya diantara Perjanjian Lama dan Baru, diantara persiapan, wahyu Allah sebagian dan kepenuhan wahyu Allah didalam Kristus. Di dalam Keluaran, Allah Mahakuasa memberi reaksi kepada dosa dengan kemarahan yang benar, seperti yang ia lakukan didalam Kejadian disaat Ia menyapu dunia bersih dari dosa dengan banjir. Jika bukan perantaraan Musa, Ia juga akan menghancurkan para penyembah sapi dan memulainya lagi.

Didalam Injil, Allah, Bapa yang merasa kasian, melihat masa lalu dosa untuk fokus kepada para pendosa. Saudara yang tertua Anak yang Hilang menginginkan hukuman. Sang Bapa menuntut pengampunan.

Ada poin penting didalam cerita yang tidak boleh lepas dari perhatian kita. Motivasi dari Anak yang Hilang bukan tulus hati berduka atas betapa buruknya ia melukai ayahnya. Bahkan bukan karena ia rindu dengan ayahnya. Ia kembali hanya karena ia lapar. Ia mengakui dosanya dan menginginkan pengampunan, ya, tapi hanya untuk menyelamatkan dirinya.

Apa ayahnya peduli? Apakah ia memaksa bahwa penyesalan sang anak harus murni atau sempurna? Apakah ia memperhatikan kepada ucapan anaknya? Tidak. Ia begitu bersuka cita bahwa sang anak memulai perjalanan pulang, atas alasan apapun. Ia memberikan barang mewah kepadanya sebelum ia masuk kerumah. Saudara tertua memaksa bahwa ia tidak pantas mendapatkan perlakukan seperti itu. Sang Bapa tidak mempertengkarkan hal ini. Anak yang Hilang tidak berhak mendapatkan apapun. Tapi sang Bapa memberikan kepada ia semuanya.

Allah dengan bebas memberikan, rahmat mendahului atas ketidakpantasan bahkan diatas ekspresi kita yang menderita. Faktanya, tanpa rahmat Allah, kita tidak bisa membuat langkah pertama menuju perjalanan pulang kepada-Nya. Ia mengasihi kita ketika kita masih berdosa, dan tampaknya memberikan rahmatnya secara berlebihan kepada yang tidak layak mendapatkannya.

Tanyakan kepada St. Paulus tentang hal ini. Mungkin ia menulis lebih banyak tentang rahmat daripada penulis Injil lainnya karena ia memerlukan lebih banyak. Bukankah Benjamin Franklin yang berkata bahwa Allah menolong mereka yang menolong diri mereka sendiri? Paulus, yang paling berdosa (1 Timotius 1:15), mengerti bahwa hal tersebut berlawanan: Allah membantu mereka yang tidak mampu membantu diri mereka sendiri. Itulah rahmat.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: