Apakah Paus Fransiskus Akan Menghapus Selibat?

Media online merdeka.com membuat berita yang membingungkan yang berjudul “Pastor dan suster boleh saja menikah”, silahkan klik beritanya disini.

Apakah ini benar?

Apakah ini sebuah tanda Paus “memisahkan diri dari tradisi lagi?”

Apakah ini buah pikir dari Paus Fransiskus?

Atau hanya media yang tidak tahu apa yang mereka tulis?

seperti kita tahu, media lokal juga pernah menulis hal yang salah tentang Paus Fransiskus saat WYD 2013 kemarin di Rio.

Diartikel ini saya akan menerjemahkan artikel dari Jimmy Akin, apologist senior di Catholic dot com, agar kita tahu yang sebenarnya dan silahkan di-share kepada siapapun.

Uskup Agung Pietro Parolin

1. Siapakah yang mengucapkan pernyataan tersebut?

Adalah Uskup Agung Pietro Parolin, yang sudah disiapkan untuk menggantikan Kardinal Tarciscio Bertone sebagai kepala Sekretaris Negara Vatikan.
Beliau tinggal di Caracas, Venezuela, dimana beliau berkarya sebagai papal nuncio (duta besar vatikan) untuk Venezuela.

Info lebih jelas tentang siapa beliau ini silahkan klik disini.

2. Dimana beliau membuat pernyataan tersebut?

Beliau membuat pernyataannya didalam wawancara dengan surat kabar Venezuela, El Universal.

Sepertinya, wawancara tersebut dilakukan dalam rangka mengantisipasi sebelum beliau pergi meninggalkan jabatannya sebagai apostolic nuncio (duta besar vatikan) dan kembali ke Roma untuk menjadi Sekretaris Negara.
Klik link ini untuk melihat wawancara penuh (format video), dalam bahasa Spanyol.

3. Apa yang sebenarnya beliau katakan?

Tampaknya, dalam diskusi bersama sang wartawan, berikut pernyataan yang terjadi:

Bukankah ada dua tipe dogma? Bukankah ada dogma yang tidak bisa diubah yang didirikan oleh Yesus dan ada juga yang datang kemudian sesudahnya, selama sejarah gereja, dibuat oleh manusia dan oleh karena itu mudah berubah?

tentu saja. Ada dogma-dogma yang lebih ditegaskan dan tidak dapat diubah.

Selibat itu bukan —

Selibat bukan dogma gereja dan bisa di diskusikan karena hal ini adalah tradisi gereja.

Hal inilah yang di set oleh media sekular, keluar menjadi serangan yang hebat – pernyataan bahwa disiplin “dapat didiskusikan.”

4. Apakah beliau mengatakan hal-hal lain pada pertanyaan tersebut?

Ya. Pernyataan berikutnya adalah:

selibat kembali pada jaman apa?

Kepada abad awal. Setelah implementasinya, hal ini kemudian digunakan selama milenium pertama dan setelah Konsili Trente, gereja melaksanakan hal ini [ selibat].

Ini adalah tradisi, dan konsep ini terus hidup didalam gereja karena selama rangkaian dari semua tahun-tahun yang telah terjadi ini telah berkontribusi dalam mengembangkan wahyu Allah. Hal ini [Wahyu] telah selesai dan berakhir dengan kematian rasul terakhir, Santo Yohanes.

Apa yang terjadi setelah itu adalah memperluas pemahaman dan menghidupi wahyu tersebut.

Berbicara tentang selibat–

Karya gereja yang telah mendirikan selibat gerejawi harus dipertimbangkan.
Kita tidak bisa dengan mudah mengatakan bahwa itu merupakan bagian masa lalu.

Hal ini adalah tantangan bagi Paus, karena ia adalah satu-satunya dengan kesatuan pelayanan dan semua keputusan harus dibuat dengan memikirkan persatuan gereja dan tidak untuk memecahnya.

Oleh karena itu kita bisa bicara, membayangkan dan mendalami topik ini yang belum pasti, dan kita dapat berpikir tentang beberapa modifikasi, tapi selalu dengan pertimbangan persatuan dan semua tergantung pada kehendak Allah.

Hal ini bukan soal apa yang Saya suka tapi apa yang Allah inginkan untuk gereja-Nya.

5. Sebenarnya seberapa penting hal ini?

Tidak terlalu.

Sebenarnya, tidak ada yang baru soal ini. Uskup Agung berkata benar saat ia menyatakan bahwa selibat bukanlah dogma.

Hal ini lebih soal disiplin dan pada faktanya, ada imam yang menikah, bahkan di ritus Latin dari Gereja Katolik, dimana kebanyakan para imam diharuskan untuk selibat (yaitu, tidak menikah).

Tapi diluar dari berita lama ini, juga forum dimana pernyataan itu terjadi: yaitu wawancara tertutup dengan nuncio lokal didalam surat kabar lokal.

Ini bukanlah tempat Gereja gunakan untuk membuat hal yang dramatis, sebuah pernyataan resmi.

Pada faktanya, hal ini bukanlah pernyataan resmi sama sekali. Ini cuma wawancara pribadi.

6. Jadi hal ini bukan uji coba yang dikeluarkan oleh Vatikan untuk memulai mempersiapkan publik untuk imam yang menikah?

Bukan. Hal itu adalah jawaban yang mudah untuk pertanyaan yang diberikan kepada Uskup Agung saat diwawancarai.

Patut diperhatikan juga, ketika mencoba untuk menyatakan posisi Gereja secara tepat, Uskup Agung Parolin menggunakan caranya untuk sesegera mungkin mengecilkan harapan untuk mengubah disiplin.

Ia berkata “Kita tidak bisa dengan mudah mengatakan bahwa itu [selibat] merupakan bagian masa lalu.” Malahan, beliau menyatakan kemampuan untuk berbicara dan merefleksikan pada topik selibat tapi pada akhirnya kita harus mencari apa yang bukan kita inginkan tapi apa yang Allah inginkan pada hal tersebut.

Ia memberikan lebih banyak pernyataan untuk mencoba menenangkan atau mengecilkan harapan untuk perubahan daripada yang beliau ucapkan didalam kalimat awalnya, satu pernyataan bahwa hal ini [selibat] bukanlah dogma dan dapat di diskusikan.

7. Jadi hal ini sebenarnya tidak mengatakan apapun pada kita tentang pemikiran Paus Fransiskus pada topik [selibat] tersebut?

Tidak

8. Apa yang Paus Fransiskus pikirkan tentang selibat?

Didalam buku Pope Francis: Conversations with Jorge Bergoglio (buku yang isinya wawancara sebelum ia menjadi Paus), Kardinal Bergoglio mengatakan:

Mari kita lihat…Saya akan mulai dengan pertanyaan terakhir: apakah Gereja akan mengubah posisinya berkaitan dengan selibat.

Pertama-tama, saya dapat katakan bahwa saya tidak menyukai permainan membaca pikiran. Tapi mengumpamakan bahwa Gereja merubah posisinya, Saya tidak percaya hal itu akan terjadi karena kekurangan imam. Maupun saya berpikir selibat akan menjadi syarat bagi semua yang ingin menjadi imam.

Jika ini terjadi, secara hipotetis, melakukan hal tersebut, itu hanya demi alasan budaya, seperti kasus di Timur, dimana pria yang menikah dapat ditahbiskan. Maka, pada waktu tertentu dan budaya tertentu, hal itu terjadi, dan berlanjut hingga saat ini.

Saya tidak dapat cukup menekankan bahwa jika Gereja harus merubah posisinya dalam poin tertentu, hal ini akan berhadapan dengan masalah budaya di dalam tempat tertentu; ini akan menjadi isu global atau isu pilihan pribadi. Ini yang saya percayai….

Saat ini Saya mendukung Benediktus XVI, yang mengatakan bahwa selibat harus di pertahankan.

Sekarang, efek macam apa yang akan dihadapi dalam jumlah panggilan untuk menjadi imam? Saya tidak yakin bahwa menghilangkan selibat dapat menyebabkan peningkatan panggilan untuk menjadi imam untuk menutupi kekurangan tersebut.

9. Apakah keterangan terbaru adalah ini kasus lain dari Paus Fransiskus yang “memisahkan diri dari tradisi”?

Tidak. Pertama, karena Paus Fransiskus tidak melakukan apa-apa.

Pernyataan itu juga bukan pernyataannya. Tapi pernyataan dari Uskup Agung Parolin ketika sang reporter melompat pada pertanyaan tentang selibat kepada beliau saat diwawancarai.

Paus Fransiskus tidak mungkin memisahkan diri dari tradisi ketika ia sama sekali tidak terlibat.

Kedua, hal ini tidak berbeda didalam cara Paus Benediktus menangani isu tersebut [selibat].

Faktanya, pada Sinode pertama Para Uskup yang dipimpin oleh Paus Benediktus (Sinode tentang Ekaristi tahun 2005), ia mengijinkan topik untuk dikemukakan agar dapat didiskusikan.

Pada akhirnya, para bapa sinode memutuskan untuk tidak merekomendasikan eksplorasi lebih jauh ide imam yang menikah didalam ritus latin, tapi Paus Benediktus membiarkan hal tersebut dikemukakan untuk didiskusikan.

Silahkan baca tentang hal itu, disini.

Jadi hal ini juga tidak pas dengan paradigma media sekular soal “Good Francis vs Bad Benedict” yang coba dibuat didalam cerita ini.

2 komentar

  1. Selibat adalah mutlak bagi para imam, sebab inilah satu-satunya kharakteristik Gereja Katolik, yang berbeda dengan agama-agama lain. Gembala yang menikah akhirnya akan memecah konsentrasi penggembalaan umat, sebab mereka harus memikirkan keluarga dan hal-hal duniawi. Kecenderungan ini kejujuran dan kesucian para imam menjadi tantangan. Roh Kudus senantiasa menyertai dan melindungi Gereja katolik hingga akhir zaman. Tidak perlu khawatir akan isue kekurangan imam, sebab hal itu hanya muncul dari kekhawatiran pemikiran manusiawi. Gereja Katolik adalah Gereja Yesus Kristus dan Yesus akan mencukupi apa yang dibutuhkan Gereja-Nya. Pertahankan sifat Gereja Katolik yang Satu, “KUDUS”, Katolik dan Apostolik.

    Syalom

    Lucas Margono

    1. Selibat tidak mutlak di ritus lain, khususnya Katolik Ritus Timur, Gereja Katolik tidak hanya di barat saja, tapi juga timur, disiplin selibat hanya ada di barat. Btw Agama Budha para pendetanya juga selibat. Kayaknya tidak berlaku bagi imam-imam di Ritus Timur, mereka imam, mereka mempunyai istri dan banyak anak. Selebihnya saya setuju dengan pendapat anda Pak Lucas.

      Salam,

      Andreas

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: