Athanasius Schneider : Klarifikasi terhadap Konsili Vatikan II Diperlukan

The Most Reverend Athanasius Schneider dari Kazakhstan merupakan uskup yang belakangan ini membicarakan tentang ambiguitas dan teks-teks problematis dalam dokumen Konsili Vatikan II dan ia mendukung interpretasi autoritatif atau klarifikasi terhadap dokumen-dokumen tersebut dalam kesinambungan dengan Tradisi Katolik.

Komentarnya diberikan dalam konteks wawancara bersama Michael Voris dari Church Militant TV, yang bertemu dengannya di Roma dan mendapatkan kesempatan wawancara selama 34 menit. Klik disini untuk melihat wawancara Michael Voris dengan Uskup Athanasius Schneider, wawancara tersebut lama, namun pantas dilihat bila anda memiliki waktu.

Ini bukan pertama kalinya +Schneider memberikan komentar serupa; tahun 2010 ia menyerukan “Silabus Kesalahan dalam Interpretasi Konsili Vatikan II” (lihat disini); tetapi dalam komentarnya terhadap Voris ia lebih lanjut menjelaskan keberatannya secara spesifik terhadap beberapa dokumen Konsili dan klarifikasi seperti apa yang diperlukan.

Uskup Schneider mengawali komentarnya dengan menyatakan bahwa kesalahan terbesar berkaitan dengan Konsili Vatikan II adalah pendekatan dasar terhadap Konsili itu sendiri yang memandangnya sebagai keterputusan/perpisahan dengan Tradisi. Ia menggemakan perkataan Benediktus XVI, yang mempopulerkan frase “hermenutika/penafsiran keterputusan” dalam homilinya yang terkenal tahun 2005. Schneider mencatat bahwa praduga keterputusan ini dapat menjadi “liberal atau tradisional”, walaupun dalam komentar selanjutnya ia melihat bahwa keterputusan liberal sebagai sesuatu yang lebih serius daripada potensi keterputusan tradisional. Proposisinya untuk memperbaiki hal ini adalah dengan deklarasi formal bahwa Konsili harus ditafsirkan dalam kesinambungan dengan Tradisi dan Bapa Konsili tidak memiliki intensi untuk membuat pemisahan/perpecahan dengan masa lalu.

Seperti Kardinal Casper, Schneider mencatat bahwa ini bukan sekedar masalah penafsiran Konsili, apa yang disebut Benediktus XVI sebagai “Konsili media”, tapi berkaitan dengan dokumen-dokumen itu sendiri. Ia menyatakan bahwa “mayoritas teks Konsili sangat kaya dan tradisional”, tetapi beberapa teks “[menimbulkan] kontroversi atau ambiguitas” dan mengalami “kurangnya presisi/ketepatan”. Beberapa dokumen ini “terbuka pada interpretasi berbeda” (apa yang disebut Kasper sebagai “rumusan kompromistis”). Karenanya, mengikuti Kasper, ia mengakui ambiguitas dalam dokumen-dokumen KV II.

Selama wawancara ia ditanya tentang komentar Kardinal Kasper, dan jauh dari menyangkal atau menentangnya, ia berkata bahwa komentar Kasper itu benar dan perlu dinyatakan secara resmi oleh Magisterium. Ia menyerukan sebuah klarifikasi resmi terhadap dokumen Vatikan II, semacam kunci penafsiran autoritatif untuk memastikan bahwa dokumen tersebut dipahami dalam kesinambungan dengan Tradisi. Ia menyatakan bahwa Gereja perlu memberikan “beberapa klarifikasi atau beberapa indikasi akan misinterpretasi…karena kita harus sangat, sangat konkret” dan menyarankan pula mungkin diperlukan catatan penjelasan, seperti yang diberikan Paulus VI untuk Lumen Gentium.

Saya juga mengajukan konsep yang serupa beberapa minggu yang lalu – bahwa interpretasi autoritatif terhadap Vatikan II diperlukan.

Sementara Schneider tidak mengikuti Kasper dalam mendiskusikan intensionalitas dari ambiguitas ini, ia mendiskusikan beberapa contoh konkret dari kutipan-kutipan spesifik yang ia temukan sebagai hal yang problematis dan meminta Magisterium untuk “memberikan kita penafsiran yang jelas, sangat jelas, terhadap pokok-pokok yang sangat spesifik”. Ia menyarankan bahwa klarifikasi ini harus berasal dari Paus sendiri.

Jadi, apa saja ambiguitas yang dianggap Most Reverend Athanasius Schneider sebagai hal yang problematis?

Contoh pertamanya adalah ajaran tentang kolegialitas yang ditemukan dalam Lumen Gentium. Tanpa mengutip kutipan secara khusus, ia berpendapat bahwa dokumen itu mengajarkan kepemimpinan Paus dalam cara yang “tidak memadai” dan bahwa dokumen itu bisa dibaca dengan arti bahwa Paus adalah yang pertama diantara yang setara (first among equals), yang hanya memiliki primasi kehormatan, mengabaikan atau mengaburkan yurisdiksi aktualnya dan perannya sebagai episcopus episcoporum. Schneider tidak mengutip teks secara langsung sehingga saya tidak akan berkomentar lebih lanjut kecuali mengatakan bahwa pandangan tentang kolegialitas yang dianggap Schneider “tidak memadai” merupakan hal yang sangat umum.

Masih di Lumen Gentium, ia menghabiskan sedikit waktu dengan LG 16, yang dikatakannya “memerlukan penjelasan”. Kutipan problematisnya adalah kalimat yang menyatakan bahwa “rencana keselamatan juga mencakup mereka yang mengakui Sang Pencipta. Pada tempat pertama diantara mereka adalah kaum Musilm, yang berpegang teguh pada iman Abraham, bersama kita menyembah Allah yang Esa dan berbelas kasih”. Masalah spesifiknya adalah kalimat terakhir, yang mengungkapkan bahwa Muslim dan Katolik sama-sama menyembah Allah yang Esa.  Schneider berkata bahwa pernytaan ini sangat buruk sekali dan membutuhkan interpretasi “dua tingkat substansial yang berbeda”. Ia terus membuat pembedaan penting antara keyakinan akan satu Allah menurut akal budi kodrati dan keutamaan iman supernatural, yang hanya inilah yang dapat menyenangkan Allah:

“Kita menyembah Allah selalu sebagai Trinitas…penyembahan kita adalah penyembahan dari iman supernatural. Menyembah Allah sebagai Pencipta saja atau Allah Esa saja, tidak diperlukan iman. Penggunaan nalar saja cukup. Ini adalah dogma Konsili Vatikan I, bahwa setiap manusia mampu melalui nalarnya saja, terang nalar yang kodrati, tanpa terang iman, mengakui keberadaan Allah yang Esa sebagai Pencipta. Konsekuensinya, menyembah Ia menurut pengetahuan akan nalar kodrati. Merekalah kaum muslim – mereka tidak memiliki iman supernatural dan karenanya tidak memiliki tindakan penyembahan supernatural. Bahkan kaum Yahudi yang menolak Yesus sebagai Allah, sebagai Trinitas, mereka menolak Ia, mereka tidak memiliki iman. Karenanya penyembahan mereka juga natural[kodrati], bukan supernatural.”

Penyembahan Muslim terhadap Allah tidak sama dengan penyembahan supernatural terhadap Trinitas, yang hanya inilah yang menyenangkan Allah. Karenanya, bahkan bila mereka mengklaim menyembah Allah yang sama berdasarkan silisah historis tertentu, penyembahan mereka pada hakekatnya berbeda dari penyembahan Katolik dan tidak bisa menyenangkan Allah karena mereka kekurangan keutamaan iman supernatural. Ketika Voris menyebutkan bahwa Kardinal Timothy Dolan mendorong kaum Muslim untuk menjaga iman mereka dan berkata bahwa kita menyembah Allah yang sama, Schneider dengan bosan berkata ,”Kardinal Dolan mengacu pada ungkapan ini dari Konsili. Sekarang anda amati mengapa perlu memperkuat pembedaan yang esensial ini.”

Teks problematis lainnya adalah Gaudium et Spes 12, yang mulai dengan pernyataan “segala hal dibumi harus dihubungkan dengan manusia sebagai pusat dan mahkota mereka” (finis et culmin). Dalam analisisnya terhadap kutipan ini :

“Saya pikir ungkapan ini sangat ambigu. Pernyataan itu tidak tepat karena segala hal yang ada di bumi memiliki finalitas mereka dalam Allah dan harus memuliakan Allah sebagai puncak mereka…segala hal yang ada diciptakan bagi kemuliaan Allah dan bagi Kristus, melaui Ia dan untuk Dia. Kristus adalah tujuan akhir segala makhluk ciptaan. Tujuan dari ungkapan ini adalah Allah menciptakan semua makhluk non-rasional demi pelayanan manusia, dan manusia adalah penguasa atau raja ciptaan ini karena Allah memberikan manusia martabat seperti itu. Tapi saya pikir kita tidak bisa mengatakan ini dalam cara ini. Kita harus menekankan, bahwa makhluk ciptaan dibumi diciptakan bagi manusia, tetapi pada akhirnya bukan untuk manusia…jadi kita harus menjelaskan juga, sebaliknya ini merupakan antroposentrisme, dan semua ini adalah bagian krisis 50 tahun belakangan ini, visi antroposentris ini. Dan tidak hanya visi, tapi juga praktek, juga, kehidupan Kristiani, liturgi dan teologi. Sangat antroposentris. Dan inilah bahaya kemanusiaan terbesar, karena Gereja menjadi antroposentris, karena inilah dosa pertama Adam dan Hawa. Ini sangat berbahaya, dan ungkapan seperti ini dari teks Konsili kita dapat digunakan untuk hal seperti itu dan karenanya membutuhkan penjelasan”

Ketika membicarakan ekumenisme, Schneider memberikan kritik yang sangat kuat terhadap nada dokumem Unitatis Redintegratio. Dokumen tentang ekumenisme mengajarkan bahwa Allah dapat mengunakan komunitas non-katolik sebagai sarana keselamatan. Schneider berpendapat :

“Ini juga dapat ditafsirkan dalam cara yang salah, dalam cara dimana teori Cabang Anglikan bahwa terdapat beberapa cabang Kekristenan yang semuanya merupakan sarana keselamatan. Karenanya kita juga harus mengklarifikasi ungkapan ini. Kita harus mengatakan, mungkin, Allah dapat menggunakan orang Kristen lain, tetapi secara individual, karena mereka dibaptis…Ingatlah apa yang dikatakan St. Augustinus, apa yang dimiliki non katolik, mereka mengambilnya dari Gereja. Ia bahkan berkata mereka mencurinya dari rumah kita. Apa yang mereka miliki, adalah punya katolik, bukan punya mereka. Karenanya kita harus menjelaskan hal ini. Bila tidak, hal ini dapat dimengerti secara keliru”

Dengan kata lain, individu non-katolik, atas dasar baptisan yang sah yang mereka bagi, mereka tentu dapat menjadi sarana rahmat; merupakan seorang protestan yang pertama kali berbagi Injil denganku ketika saya masih seorang remaja pagan, dan ini menjadi sarana rahmat yang merupakan langkah pertama dalam seluruh pertobatan saya. Tapi Schneider menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengatributkan hal ini kepaa sekte atau denominasi secara kolektif, seolah-oleh allah hendak menggunakan kelompok-kelompok dalam material heresy (kesesatan material) sebagai semacam “sub-gereja” selain Gereja Katolik. Apapun yang dibawa ke meja oleh orang baik, mereka membawanya atas dasar apa yang mereka miliki dari katolisisme. Denominasi ini, di sisi lain, berhutang keberadaan mereka kepada fakta bahwa mereka menolak katolisisme. Jadi kenyataannnya bahwa individu protestan bisa menjadi berkat atau sarana sebagai pembawa-rahmat tidak melegitimasi protestanisme itu sendiri.

Ada banyak hal lainnya yang dibahas dan saya mendorong anda semua melihat wawancara penuh bila anda memiliki waktu. Tapi penting sekali diperhatikan bahwa Scneider merupaka suara terakhir yang ditambahkan pada trend yang sedang bertumbuh : klerikus yang mengakui bahwa dokumen-dokumen Vatikan II sendiri memiliki ambiguitas dan masalah yang harus dikoreksi. Benediktus XVI sendiri mungkin yang pertama mengangkat keberatan-keberatan ini ketika ia mencatat beberapa dokumen Konsili  yang “sulit dimengerti karena kekaburannya” dan “lemah” (lihat disini), dan mengkoreksi masalah subsistit in dengan mengeluarkan dokumen interpretatif; yang lebih baru adalah kita memiliki pengakuan +Kasper tentang ambiguitas yang disengaja dalam teks Konsili. Sekarang kita memiliki komentar yang jujur dari Schneider tentang beberapa masalah sah dengan beberapa dokumen kunci Konsili.

Selagi kita bergerak jauh dari 1965, menjadi semakin meningkat penerimaan tentang eksistensi ambiguitas dan masalah dalam dokumen Konsili, dan hal ini bisa dilakukan tanpa mempertanyakan legitimasi Konsili. Ini merupakan pergeseran yang signifikan, seperti dalam tahun-tahun sebelumnya hanya ada dua kemungkinan posisi terhadap konsili : dokumen tersebut sempurna, musim semi Gereja harus ditegaskan tanpa ragu, dan masalah apapun bukan dikarenakan ambiguitas dalam dokumen konsili tetapi karena kaum liberal yang memutarbalikkan dokumen, merampasnya, seperti apa adanya. Atau, bila anda menyangkal pernyataan-pernyataan ini, alternatif yang mungkin adalah anda seorang skismatik yang mempertanyakan legitimasi Konsili dan menolak Magisterium. Komentar Benediktus XVI, Kasper dan Schneider menggambarkan dengan jelas bahwa mungkin sekali memiliki percakapan cerdas tentang dokumen-dokumen yang mengakui kelemahanmereka tanpa menjadi tidak setia kepada Gereja. Memang, komentar Schneider yang terbaru ini menunjukkan kita bahwa diskusi semacam ini tidak hanya mungkin, tetapi diperlukan.

Sumber.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: