Panggilan Universal kepada Kekudusan

Diterjemahkan dari artikel: Universal Call to Holiness, yg ditulis oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio

Ketika saya masih anak-anak, saya mendapatkan kesan yang berbeda ada dua sistem jalur didalam Katolik. Beberapa benar-benar memutuskanuntuk pergi. Mereka menjadi imam, suster, dan bruder karena mereka “memiliki panggilan”. Mereka “memberikan” banyak hal. Seperti pernikahan, keluarga, sukses didalam bisnis, dan banyak kesenangan lainnya.

Sedangkan kita, bagaimanapun, tidak “mempunyai panggilan” dan oleh karena itu tidak perlu untuk mengejar emas. Cukup menyelesaikan perlombaan saja. Kita tidak perlu untuk menjauhkan diri kita dari apa yang orang banyak miliki. Kita dapat menikah, mempunyai anak-anak, naik ke tangga perusahaan, memiliki rumah liburan dan membeli kapal. Kita hanya perlu Misa pada hari Minggu, menghindar dari melanggar sepuluh perintah Allah, pergi ke kamar pengakuan ketika kita jatuh, dan pada dasarnya menjadi orang yang baik.

Beberapa tahun yang lalu saya bahkan mendengar sistem dua trak ini disebut secara jelas didalam Homili hari Minggu. Sang Imam berkata Injil memberikan kepada kita Yesus yang radikal dan Yesus yang moderat. Beberapa, seperti Bunda Teresa, memilih untuk mengikuti Yesus yang radikal. Tapi kita dapat memilih Yesus yang moderat jika itu yang membuat kita lebih nyaman.

Didalam Lukas 14:25-33, Yesus memberikan kepada kita tidak ada pilihan seperti itu. Ia berkata “TIDAK ADA diantara kamu yang dapat menjadi murid-Ku jika dia tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya.” Dan mungkin bahkan lebih mengganggu adalah pernyataan ini: “Jikalau SEORANG datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Ini adalah syarat awal. Jika anda tidak mau melakukan ini, jangan bersusah-susah untuk memulai menjadi murid, Ia berkata.

Tunggu dulu. Saya pikir bahwa Orang Kristen yang baik itu seharusnya mengasihi pasangannya, orang tuanya, anak-anaknya. Dan bagaimana anda seharusnya mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri jika anda meninggalkan keduanya baik sesamamu dan dirimu sendiri? Apa kita semua harus meninggalkan semua keluarga kita, menjual semua kepemilikan kita, dan masuk ke biara?

Tidak. Hal itu bukan saja tidak bertanggung jawab tapi juga terlalu mudah. “Mengabaikan” keluargamu tidak berarti melalaikan tugas untuk peduli merawat diri anda sendiri. Meninggalkan dirimu sendiri tidak berarti melecehkan dirimu sendiri. Apa yang Yesus maksudkan menjadi radikal lepas dari keluarga, teman-teman dan kepuasan diri sendiri didalam kemurahan kasih kepada Allah, kebenaran-Nya, kehendak-Nya. Ada sebuah kasih yaitu tentang memberi dan ada sebuah kasih yaitu tentang menikmati. Kita tidak pernah bisa berhenti memberi kepada orang lain kebaikan yang sejati dan terdalam. Tapi ada saatnya dimana kita harus meninggalkan kesenangan, opini, dan persetujuan dari sesama untuk setia kepada iman.

Cara terbaik untuk melihat ini didalam kehidupan dari orang yang benar-benar nyata yang menghidupi panggilan radikal kepada kekudusan. Thomas More berpikir bergabung bersama dengan para biarawan yang mendidiknya, tapi menyadari bahwa ia dipanggil kepada pernikahan dan keluarga. Dan akhirnya ia mengambil jabatan di pemerintahan, menikah, mempunyai anak. Ia naik melalui pelayanan pemerintahan untuk menjadi Penasehat Inggris dibawah Henry VIII. Ia mempunyai kediaman yang bagus sekali di sungai Thames dimana ia menghibur temannya sang Raja serta beberapa pria dan wanita yang terkenal di Eropa. Ia mempunyai rasa humor yang besar, mempunyai hubungan yang dalam dengan anak-anaknya, kehidupan doanya yang dalam, dan suka untuk menulis fiksi, karangan sindiran dan theologi.

Kemudian bosnya Henry VIII bercerai, menikah lagi, dan membenarkan hal itu dengan memutuskan kesetiaannya dengan Paus dan membuat dirinya sendiri kepala Gereja Inggris. Ia ingin semua untuk mengambil sumpah setia kepada perintah barunya ini. Semua melompat ke dalam pandangan populer ini. Semua uskup-uskup yang menandatangani ini selamat. Semua teman-teman Thomas melakukan hal yang sama. Tapi Thomas tahu menandatangani akan melanggar hati nuraninya, mengkompromikan integritasnya, melawan Allah, dan mendorong orang lain melakukan kejahatan. Ia mengasihi Allah, diri sendiri dan orang lain lebih untuk melakukan ini. Jadi ia kehilangan penghargaan dari teman-temannya dan rajanya. Ia mundur dari posisinya dan kehilangan pendapatannya. Ia akhirnya kehilangan kepalanya daripada menolak hatinya.

Sedikit dari kita akan menikmati hak istimewa yang dinikmati oleh Thomas atau dipanggil untuk membuat pengorbanan yang sama. Tapi pilihan-pilihan kecil, setiap hari, timbul yang menunjukkan kepada kita dimana kesetiaan sejati kita berada.

Refleksi dari bacaan Kitab Suci Minggu Biasa ke XXIII (Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: