Dalam Liturgi, Manusialah yang Paling Aktif – dan Paling Reseptif

oleh Peter Kwasniewski

Pius XPada pesta St. Pius X di kalendar tradisional Romawi dan St. Gregorius Agung pada kalender baru (dua paus besar yang warisannya saling terkait), tampaknya menjadi hal yang pantas untuk memberikan renungan tentang prinsip fundamental dari teologi liturgi.

Walaupun liturgi adalah tindakan terbesar manusia, liturgi tidak pernah menjadi tindakan manusia oleh dirinya sendiri, tetapi selalu dan pada hakekatnya merupakan tindakan Kristus Imam Agung, sungguh Allah sungguh manusia, yang mengijinkan dan memampukan kita berpartisipasi dalam tindakan theandric-Nya, Kurban-Nya yang cukup bagi keselamatan dunia. Oleh karena itu, liturgi merupakan sejenis tindakan khusus, yang didalamnya manusia paling pasif, dalam arti reseptif [penerimaan] terhadap karunia yang Allah ingin berikan padanya, melalui tangan Gereja.

Bila kita jatuh pada pemikiran tentang liturgi sebagai sejenis workshop, suatu lingkup ekspresi-diri yang berkembang, perayaan komunal masa sekarang, maka kita sungguh bersalah karena Pelagianisme. Kita membuat diri kita menjadi agen pusat atau aktor – aktivis dan bukannya peniru Perawan Maria yang menerima salam Malaikat, memberikan persetujuannya kepada inisiatif ilahi, dan dikandung oleh Roh Kudus untuk membawa karunia tertinggi bagi manusia : Putra Allah, dalam daging dan darah. Liturgi dan musiknya harus memiliki dimensi reseptivitas [penerimaan] Maria, intensi yang murni untuk tetap tak ternoda oleh dunia profan, dan pengasuhan yang setia terhadap Sabda-yang-menjadi-manusia.

Satu ungkapan penting dari penerimaan Maria adalah kita menerima liturgi dari Gereja dan Tradisinya, kita tidak menciptakan liturgi, dan kita mengikuti rubrik-rubrik dan aturan-aturannya, dan bukan mengikuti [rubrik dan aturan] kita. Walaupun kewajiban telah diberikan nama yang buruk oleh Immanuel Kant, bila dimengerti secara tepat, kewajiban tetaplah realitas fundamental dari kehidupan Kristiani. Merupakan kewajiban kita sebagai orang katolik untuk mengikuti ajaran dan disiplin Gereja mengenai liturgi (khususnya Misa). Contohnya, berkaitan dengan musik suci untuk Ordinary Form (Forma Ordinari/Misa Novus Ordo), kita harus mengikuti ajaran yang lengkap dan jelas dari Konsili Vatikan Kedua, Pedoman Umum Missale Romawi, dan dokumen lainnya seperti Sacramentum Caritatis yang telah menjelaskan bagaimana kita seharusnya menyanyikan ordinarium dan propers, memberikan Gregoran Chant tempat utama dalam repertoar. Ada norma-norma, aturan-aturan, standar-standar, karena penyembahan publik Gereja bukanlah milik kita, ia milik Tuannya, Tuhan yang ia sembah.

Baru-baru ini saya membaca kutipan dari buku Martin Mosebach yang memberikan wawasan tanpa henti, yaitu Heresy of Formlessness :

Banyak orang menganggap rubrik sebagai fitur yang paling membedakan dan paling problematis dari Missale yang lama….Rubrikisme berdiri bagi sebuah liturgi dimana semua subjektivisme, semua antusiasme karismatik, semua penemuan kreatif telah dikutuk untuk didiamkan…Doa publik, bukan doa individual, tapi seluruh Tubuh Mistik Gereja, memiliki kualitas yang mengikat, yang dalam sebuah atmosfir emansipasi dari semua tekanan apapun, dapat dirasakan sebagai sejenis kediktatoran. Sekarang, bagaimanapun, setelah lebih dari seratus tahun kehancuran bentuk-bentuk dalam seni, literatur, arsitektur, politik, dan agama juga, orang-orang pada umumnya mulai menyadari kehilangan bentuk itu – hampir selalu- mengimplikasikan kehilangan konten/isi. Sebelumnya, seminaris mempelajari rubrik dengan baik sehingga mereka dapat melakukannya dalam tidur mereka. Seperti pianis yang harus berlatih keras untuk memperoleh teknik yang awalnya merupakan penyiksaan yang murni, tetapi pada akhirnya terdengar seperti improvisasi bebas, selebran yang berpengalaman terbiasa pindah ke sana ke mari di altar dengan ketenangan sempurna; seluruh tindakan ditumpahkan seolah berasal dari satu cetakan. Selebran-selebran ini tidak dikelilingi oleh rubrik-rubrik berlapis baja, sebaliknya : mereka seperti mengapung diatasnya seperti mengapung diatas awan.

Pada baris yang sama, Ryan Topping, dalam bukunya Rebuilding Catholic Culture, mengatakan hal ini tentang rubrik :

Bila anda tidak lagi melihat diri anda sebagai pelayan tradisi, tetapi sebagai tuan atas tradisi, tidak lagi percaya bahwa rubrik menyelubungi sebuah misteri, bahwa jiwa mengharuskan kebenaran terbungkus dalam pakaian yang indah, maka secara logis anda mungkin memperlakukan Misa sebagai perkumpulan sahabat daripada sebagai Kurban Allah.

Bukankah ini yang telah terjadi, terlepas dari kesaksian mulia dan ajaran Paus St. Pius X dan para penerusnya yang kudus? Terdapat kewarasan dan kesucian dalam perkataan Dom Mark Kirby of Silvertream Priory :

Liturgi tidak diawali dengan mulai bereksperimen terhadapnya; melainkan tunduk kepadanya, seperti apa adanya. Memulai dengan Allah tidak berarti teribat dalam analisis kritis dari teologi, melainkan untuk jatuh tiarap dan berkata,”Tuhan, dialah Allah, Tuhan, dialah Allah” (1 Raja-raja 18:39). Untuk mengawali adorasi, seperti dalam kata-kata Himne Cherubic Liturgi Ilahi Byzantine, adalah “untuk mengesampingkan semua keinginan duniawi” untuk menghormati “Raja segala raja yang datang dengan dikawal secara tak kasat mata oleh serombongan malaikat”

SaintGregoryHal ini hampir terdengar seperti pemeriksaan batin yang akan kita lanjutkan : Apakah kita sungguh memulai liturgi sebagai hal pertama, sesuatu yang telah ada mendahului kita dan akan terus ada setelah kita pergi, dan bukannya sesuatu yang kita kuasai, kita hasilkan, kita buat dan kita bentuk sesuai kehendak kita? Apakah kita taat kepada liturgi, bukan seperti yang seharusnya kita pikirkan bagi “manusia modern”, tetapi sebagai sesuatu yang turun pada kita dari tradisi suci, diteruskan secara tak berubah melalui ratusan tahun keraguan, kecemasan dan bencana seperti kapal kuat yang berlayar ditengah gelombang laut yang berbadai? Apakah karakteristik tindakan kita adalah untuk jatuh tiarap dihadapan misteri dan kebesaran Allah, seperti yang Ia perkenankan untuk mengungkapkan diri-Nya dalam kata-kata ritual, tindakan, dan tanda yang telah Ia tinggalkan diantara kita?

Tradisionalis bisa saja memiliki kecenderungan untuk berpikir bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu diarahkan pada mereka, seolah-olah mereka secara otomatis “dilindungi” oleh kepatuhan mereka yang setia kepada bentuk-bentuk tradisional. Saya pikir ini asumsi yang tidak tepat dan mungkin berbahaya secara rohani. Kita juga perlu yakin bahwa kita mengikuti ajaran lengkap dari Bunda Gereja yang Kudus dalam segala hal yang berkaitan dengan persembahan kita dalam penyembahan publik. Contohnya, dalam semangat kita untuk mengesampingkan pemahaman yang dangkal tentang partisipasi aktif, apakah kita bersemangat untuk merangkul dan mendukung seruan St. Pius X tentang partisipasi aktif umat dalam menyanyikan Gregorian Chant pada Ordinarium Misa dan tanggapannya yang merupakan bagiannya dalam High Mass? Apakah kita berhati-hati dalam menyaring dampak yang baik dari yang buruk dalam gerakan liturgis, dan tidak membuang semuanya? Akankah St. Pius X, Pius XII, Yohanes XXIII, diantara lainnya, menyadari kita sebagai anak-anaknya, sebagai pribadi yang pada akhirnya menganggap Magisterium mereka dengan serius dan membuatnya bersinar lebih terang di dunia, demi penyebaran terang Kristus?

St. Pius X dan St. Gregorius Agung, doakanlah kami.

Sumber.

PS

Arti Istilah (dikutip dari catholic culture dictionary) :

theandric :  secara literal berarti “Allah manusia”, mengacu ada tindakan-tindakan Kristus dimana Ia menggunakan kodrat manusianya sebagai instrumen keilahian-Nya, seperti mukjizat. Aktivitas manusiawi Kristus lainnya, seperti berjalan, makan, dan berbicara, juga disebut thandric, tapi dalam pengertian yang lebih luas sejauh tindakan tersebut adalah tindakan manusa dari pribadi ilahi. Tindakan yang murni ilahi, seperti penciptaan, tidak disebut thandric.

high mass : dalam bahasa Latin, Missa Cantata, merupakan istilah populer untuk Misa yang dinyayikan oleh imam tanpa diakon atau sub-diakon.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: