Paus Fransiskus adalah Pribadi yang Rendah Hati, seperti Benediktus XVI

Papa Ben and Francis

Baru-baru ini saya membaca dengan lega bahwa Paus Fransiskus telah memerintahkan untuk merubuhkan patung yang didirikan untuk menghormatinya di tanah bekas katedralnya di Buenos Aires. Kelegaanku dikarenakan, bukan hanya keburukan dari patung tersebut, tetapi terutama kepada sejenis tanda intervensi kepausan sedang dikirimkan. Memang, Fransiskus sendiri dianggap telah memberitahu pihak berwenang katedral tersebut bahwa ia tidak ingin mendorong kultus pribadi. Secara keseluruhan hal ini merupakan pencapaian personalnya; hal ini juga perlu bagi kesejahteraan dan misi Gereja secara menyeluruh.

Kultus pribadi tidaklah selalu akibat langsung dari kehendak mereka yang menjadi objeknya. Beato Yohanes Paulus II merupakan paus dengan kemampuan karismatis yang luar biasa, dipilih ketika kondisi badai kultural dan gerejawi membuat banyak orang merindukan sosok yang lebih autoritatif daripada Paulus VI yang lembut namun bimbang. Paus Polandia ini berkeliling dunia dan menegaskan kembali kekuatan visi katolik, mempesona kerumunan banyak orang oleh kekuatan pribadinya. Ini merupakan metode yang ia gunakan untuk mengembalikan keyakinan kepada Gereja dimana banyak orang kehilangan arah oleh angin perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara yang lainnya dengan gaduh menuntut bahwa langkah perubahan dipercepat. Kepausannya dapat dilihat sebagai sebuah persoalan dari apa yang disebut sebagai “berubah agar tetap sama” oleh Beato John Henry Newmann. Tetapi banyak orang dalam Gereja – termasuk mereka yang menyambut pembelaan ajaran tradisional – gelisah bahwa antusiasme pribadi paus dalam masa kepausannya yang panjang, mengaburkan pemahaman yang tepat terhadap peran jabatan dan menghalangi penghargaan terhadap pesannya

Ini mungkin suatu alasan mengapa para kardinal memilih Joseph Ratzinger,”pekerja yang rendah hati dalam kebun anggur Tuhan” yang kurang karismatis dan pemalu, untuk menggantikan pendahulunya. Gaya Ratzinger yang bersajaha tampak bagi banyak orang menjadi pertanda sebuah jeda yang tenang, tidak mungkin memunculkan kultus pribadi. Saya percaya bahwa ini merupakan alasan mengapa Benediktus XVI mengembalikan tanda-tanda lahiriah dari jabatan yang ditinggalkan oleh Yohanes Paulus II. Ia ingin mengingatkan kita bahwa jabatan paus, sebagai Guru Gereja dan pusat kesatuannya, lebih penting daripada kepribadian pemangku jabatan tersebut.

Dengan kedatangan Paus Fransiskus, ornamen-ornamen [yang dikembalikan Paus Benediktus XVI] sekali lagi dipangkas, dan memang lebih drastis daripada sebelumnya. Tujuannya tetap kelihatan sama. Fransiskus percaya bahwa ‘kebesaran’ yang mengelilingi Benediktus XVI merusak keinginannya secara perlahan untuk mengarahkan kembali fokusnya menjauh dari seorang pribadi. Firasat saya adalah ia hanya menjadi dirinya sendiri. Tetapi juga ada tanda-tanda yang ia maksudkan untuk mereformasi pelaksanaan jabatan kepausan. Cara dimana primasi dilaksanakan telah berkembang sepanjang sejarah, tidak seperti yang dipikirkan banyak orang katolik tentang pelaksanaan primasi sebagai sesuatu yang menetap secara kokoh. Sepanjang millennium kedua, para paus dilihat dan bertindak sebagai penguasa temporal, juga sebagai pemimpin dan guru spiritual.Mungkin untuk menekankan hal kedua, peran esensial [sebagai pemimpin dan guru spiritual] ini, Paus yang baru senang mengikuti instingnya dan meniadakan ornament-ornamen yang tidak hakiki/esensial sifatnya.

Contohnya, Fransiskus lebih suka menggunakan istilah Uskup Roma daripada Paus, dalam tanda tangan resminya, juga pada pidatonya. Seperti yang dikatakan Robert Bolt sebagai Thomas More dalam A Man for all Seasons, hal ini tidak mengubah apapun dalam otoritasnya. Tetapi hal ini merupakan pengingat bagi orang katolik dan Kristen lainnya bahwa otoritas yang diklaim oleh paus bergantung pada penempatan mereka di Tahta Sang Nelayan. Petrus menerima primasi karena ia berbicara bagi seluruh Gereja dengan menyatakan imannya pada Putra Allah di Caesaria Philippi, dan ia menumpahkan darahnya demi iman di Roma. Paus adalah pelayan iman, dan bukan tuannya.

Kita bisa yakin, bahwa tanda-tanda kerendahan hati yang digunakan Paus Fransiskus tersebut tidak dimaksudkan untuk meremehkan para pendahulu dan warisan mereka. Saya lelah mendengar bahwa hal tersebut mengimplikasikan kesederhanaan dan kerendahan hati Paus yang bertentangan dengan gaya hidup yang arogan dan mewah dari para pendahulunya. Fransiskus sendiri telah secara terbuka memberikan penghormatan pada kerendahan hati Benediktus beberapa kali, dan saya pikir sekaranglah waktunya untuk mengkoreksi beberapa kekeliruan. Saya akan memberikan beberapa contoh.

Keputusan Fransiskus untuk tinggal di Casa Santa Martha telah diatributkan pada penghindarannya dari kemewahan, dengan implikasi bahwa para pendahulunya menerima [kemewahan tersebut]. Kenyataannya, apartemen kepausan tentu berukuran besar dan megah, tetapi menyebutnya sebagai apartemen mewah merupakan hal yang menggelikan. Bagi saya, apartemen tersebut terlihat seperti gua dan kurang nyaman, terdiri dari sedikit atau tidak adanya hiburan seperti yang dicari oleh budaya kontemporer yang materialistik. Biar bagaimanapun, Fransiskus memberitahu kita ia meninggalkan apartemen bukan untuk melarikan diri dari kemewahan, tapi untuk menghidari isolasi (dan kita dapat berspekulasi ia melakukanya untuk menghindari kendali yang berlebihan dari orang-orang penting yang memiliki akses kepadanya)

Kontras yang tersembunyi menjadi lucu ketika kita membaca di Esquire.com bahwa Paus sekarang tinggal di tempat yang pada dasarnya disebut “hotel murah”, dimana ia bisa “sarapan dengan orang-orang biasa”. Kenyataannya, Casa Santa Marta merupakan rumah penginapan yang agak mewah bagi para prelat. Saya ragu bila klerus seperti saya akan mampu mendapatkan ruangan disana sekarang, bahkan bila kita dapat membayarnya.

Berkaitan dengan kehidupan yang mereka pimpin didalam Vatikan, para paus telah menjadi model bagi kesederhanaan menurut perkataan setiap orang. Saya ingat seorang Uskup Inggris yang diundang makan malam oleh Yohanes Paulus II. Ia membuat dirinya lapar di siang hari untuk memberikan ruang bagi santapan mewah yang ia harapkan. Sekembalinya ke seminari dimana ia tinggal, ia terpaksa membuka kulkas, setelah diberikan kemewahan yang tak lebih daripada semangkuk sup dan telur rebus. Saya juga diberitahu bahwa peraturan makan Benediktus juga kurang memuaskan. Kemewahan yang disukainya adalah sekaleng Fanta, dan santapannya diambil dengan cepat dan hanya ditemani oleh pengurus rumah tangganya.

Ketika 200 tuna wisma diterima dalam jamuan makan malam di Vatikan, beberapa pemasok perbandingan yang menjijikkan [antara Paus Fransiskus dan Benediktus], secara terbuka merasa kagum terhadap kerendahan dan kasih dari Paus Fransiskus. Mereka mungkin terlalu sibuk memperhatikan bahwa ia hanya sekedar mengulangi gestur yang dilakukan oleh kedua pendahulunya. Tahun 2010, Benediktus XVI menerima 250 tuna wisma untuk jamuan makan siang, dan melewati setiap meja secara pribadi sebelum duduk diantara mereka untuk bersantap berama para tamunya. Fransiskus mengirimkan kardinal untuk mewakilinya. Marilah kita tidak membuat perbandingan yang menjijikkan, tetapi kisah tentang sapu baru yang rendah hati yang menyapu bersih “istana renaissance” dari kebutuhan masa lalu perlu diperlihatkan sebagai suatu manipulasi sebagaimana adanya.

Mengapa saya memberitahu anda tentang semua ini? Apakah karena saya ingin memuji-muji Paus Emeritus dan merendahkan penerusnya? Kenyataannya, alasannya cukup sederhana, yaitu bahwa saya takut keinginan Fransiskus untuk menghindari kultus pribadi digagalkan oleh mereka yang menggunakan gesturnya untuk tujuan yang tentu bukan tujuan Paus. Keinginannya untuk mereformasi Gereja tidak bisa ditingkatkan dengan menghadirkan dirinya sebagai pendiri ulang kepausan yang karismatis untuk menyapu bersih ajaran dan praksis yang ada demi mendukung penafsiran ideologis terhadap artinya menjadi “Gereja yang miskin”. Ia tanpa disadari telah mengirimkan tanda-tanda untuk menunjukkan bahwa ia menilai dan bermaksud untuk memelihara warisan pendahulunya, tetapi mungkin mereka perlu sedikit menyadarinya.

Dan ijinkan saya mengingat gestur kerendahan hati yang makna historisnya belum meresap. Maret 2009 Benediktus XVI mengirimkan surat terbuka kepada para uskup dunia sebagai tanggapan terhadap “Persoalan Williamson”. Paus mengakui bahwa ia telah melakukan kesalahan, dan ia bertanggung jawab terhadapnya, serta meminta maaf. Saya tidak menyadari adanya paus lain dalam sejarah yang melakukan gestur seperti ini. Yohanes Paulus II meminta maaf atas dosa-dosa Gereja di masa lalu, Benediktus XVI melangkah lebih maju dengan mengakui secara terbuka bahwa ia sendiri telah melakukan kesalahan dan meminta maaf.

Sebenarnya, ia sedang mengambil kesalahan dari bawahannya (dalam cara dimana orang seusianya dalam hal bisnis dan politik terlalu peka untuk menghindarinya ). Saya percaya bahwa tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini lebih dari sebuah gestur, dan ia membuka cakrawala baru dalam pelaksanaan primasi Romawi. Ia menjadikannya jelas bahwa infalibilitas, apapun artinya, bukanlah pembebasan yang diberikan secara ilahi dari membuat kesalahan. Buah-buah yang potensial, ekumenis dan dalam kaitannya dengan kehidupan internal Gereja, mungkin belum terhitung.

Semua paus membuat kesalahan. Semua paus membawa kekuatan dan kelemahan dalam pekerjaannya. Untuk mereformasi Gereja, Paus Fransiskus perlu membawa tekad dan ketegasan untuk memikul mesin reyot Vatikan. Ia memerlukan kekuatan yang lembut, kerendahan hati yang pasti. Selagi kita berupaya menghindari perangkap kultus pribadi, Gereja perlu melakukan pembedaan dalam pemilihan gestur, dan kita perlu berhati-hati dalam menafsirkannya. Marilah kita membantu Paus dengan kesetiaan dan doa kita.

Pater Mark Drew merupakan imam yang bekerja di Keuskupan Agung Liverpool. Ia telah belajar dan melakukan pelayanan di Roma, Prancis dan Yunani. Ia adalah peneliti yang spesialisasinya di bidang dialog teologis antara Gereja Katolik dan Ortodox. 

Artikel ini pertama kali diterbitkan di edisi cetak The Catholic Herald, tertanggal 9/8/13.

Sumber

One comment

  1. Tulisan yang bagus admin!

    Saya jadi ingat membaca tentang orang-orang yang membandingkan Paus Emeritus dengan Paus Franciscus cuma karena menganggap Paus Franciscus rendah hati dan sederhana sementara Paus Emeritus tidak. Ada juga yang memasang gambar Paus Emeritus duduk di takhta lalu menulis dia seharusnya menjual kursi itu lalu hasilnya dibagi ke orang miskin. Rasanya kesal betul dan kalau bisa saya bilang ke orang itu: heh kenapa ga kamu sendiri yang begitu? Kenapa ga ngomong aja ke para selebriti yang suka foya-foya? *maaf jadi nge-rant min :P

    Menurut saya, banyak orang yang harusnya tau kalau kemewahan yang dibilang ada di Vatican itu cuma dibesar-besarkan saja.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: