Gereja Bukan Sekedar Agama Lain, Tetapi Merupakan Perjanjian Allah dan Manusia dalam Pribadi Yesus Kristus

Homili Romo Richard Cippola, Minggu 12 setelah Pentakosta (Bacaannya adalah 2 Kor 3:4-9, sedangkan Injilnya tentang Orang Samaria yang baik hati)

———

Dari 2 Kor 3:4-9 : Ia jugalah yang telah menjadikan kita layak akan perjanjian baru, bukan dari hukum tertulis dan roh, karena hukum yang tertulis mematikan, tetapi roh menghidupkan… Karena bila ada kemuliaan dalam pertolongan yang mengutuk, lebih banyak lagi kemuliaan pada pertolongan yang membenarkan yang berlimpah dalam kemuliaan

St. Paulus sekali lagi bergumul dengan masalah Hukum dan dispensasi rahmat baru dalam Yesus Kristus. Dua minggu yang lalu, St. Paulus bergumul dalam relasi antara pembenaran dan perbuatan baik. Dan ia tiba pada kesimpulan yang merupakan bagian iman kita : bahwa kita dibenarkan oleh iman dalam Salib Yesus Kristus dan bukan oleh perbuatan baik. Tetapi iman yang nyata, iman yang hidup, harus terwujud dalam perbuatan baik, dan bahwa perbuatan baik yang menyenangkan Allah ini berasal dari iman dan merupakan bukti kepada Allah bahwa iman kita nyata dan hidup.

Tetapi Paulus si Yahudi, Farisi yang terdidik, memahami peran utama Hukum dalam iman umat Israel. Hukum yang diberikan kepada Musa di gunung Sinai, merupakan bagian integral dari perjanjian yang Allah buat dengan umat-Nya. Hukum yang diberikan Allah menunjukan secara eksplisit bagaimana umat pilihan ini harus menghidupi kehidupan mereka, dan ini merupakan pertentangan bagi kaum pagan yang mengelilingi mereka. Hukum yang diberikan pada Musa dalam kemuliaan di gunung itu, bersama Musa yang berbicara kepada Allah dari muka ke muka, dan ketika Musa turun gunung wajahnya sangat bersinar terang, begitu terang sehingga ia harus mengenakan selubung ketika berbicara kepada bangsa Israel. Tetapi St. Paulus  memahami dengan jelas bahwa Hukum tidak menyelamatkan. Kenyataannya, Hukum itu menghukum, Hukum sebagai pertolongan yang menghukum dalam perkataan St. Paulus, karena semua telah berdosa dan telah gagal mencapai kemuliaan Allah. Karenanya hukum adalah pedang bermata dua : ia meletakkan aturan moral dasar yang masih dihidupi orang Kristen. Tetapi ia juga menunjukkan kesia-siaan pemikiran bahwa seseorang dapat menaati hukum dalam keseluruhannya, bahwa kenyataan tentang pemberontakan manusia terhadap hukum moral, fakta tentang keberdosaan kita yang nyata, tidak menunjuk pada kemuliaan dalam cara apapun tetapi kenyataannya menunjuk pada penghukuman dan kematian.

Ini tidak berarti iman dalam Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat menghapuskan kebutuhan akan Hukum, hukum moral Allah. Persoalannya bukan bahwa iman dalam salib Kristus sebagai satu-satunya sarana kebebasan dari dosa dan kematian membebaskan kita dari menaati Hukum moral. Tetapi apa yang St. Paulus katakan pada kita sekarang adalah bahwa perjanjian baru dalam darah Yesus Kristus sudah dalam-bentuknya, secara harafiah terbentuk oleh Roh Allah dengan rahmat pengudusan-Nya bekerja didalam semua orang dengan iman dalam Kristus, mereka yang menyebut dan sungguh merupakan pengikut Kristus, mereka yang oleh baptisan air dan Roh, telah dipanggil dari kegelapan ke dalam terang yang agung. Pelayanan Gereja adalah pelayanan kemuliaan yang tidak didirikan diatas hukum tetapi diatas belas kasih Allah yang tak terbatas, yang memberikan Putra tunggal-Nya untuk mati bagi mereka yang terpenjara oleh hukum tertulis dan membebaskan mereka agar dapat mengambil bagian dalam roh belas kasih, belarasa dan kasih, dan melakukan ini dalam perjanjian baru yang tidak dibuat diatas gunung, tidak dibuat oleh darah lembu dan kambing yang dikorbankan setiap hari demi dosa-dosa banyak orang : tetapi perjanjian yang dibuat oleh satu-satunya Imam Agung yang hanya diri-Nya lah yang dapat memasuki Ruang Mahakudus dan mempersembahkan dirinya sebagai kurban kepada Bapa-Nya.

Ketika seseorang memahami radikalitas perjanjian baru ini, maka seseorang melihat bahwa iman katolik, atau kekristenan itu sendiri, tidak pernah bisa direduksi atau dipikirkan sehingga menjadi satu dari sistem religius/keagamaan yang lainnya. Melakukan hal ini berarti menyangkal perjanjian baru dan kembali kepada kesia-siaan pemikiran bahwa Hukum dapat menyelamatkan. Tetapi hal ini selalu menjadi godaan bagi katolisisme : menjadi sebuah blue-print religius [diantara blue-print lainnya] untuk keselamatan dengan mengikuti jalan yang diharuskan, diarahkan oleh hukum-hukum Gereja, [menjadi] sebuah jalan yang pasti kepada keselamatan [diantara jalan lainnya]. Gereja sering melupakan bahwa Kristus mendirikan Gereja-Nya sebagai tempat kehadiran-Nya yang menyelamatkan di dunia dalam kuasa Roh Kudus, sebagai perpanjangan Inkarnasi dalam ruang dan waktu, dan bukan sebagai sebuah sistem religius/keagamaan [diantara sistem religius lainnya] yang berbeda dalam hal pengakuan iman dalam syahadatnya. Ketika katolisisme menjadi satu agama diantara banyak agama, maka Sakramen-sakramen menjadi tindakan ritual semata yang memiliki padanannya dalam agama atau jimat yang berbatasan dengan sihir. Akar dari situasi berbahaya ini – yang didalamnya kita menemukan diri kita sekarang berhadapan dengan Gereja dalam dirinya dan relasinya dengan dunia yang tidak percaya, setidaknya sebagian, dan merupakan bagian yang besar – dikarenakan karena pelupaan tentang siapa Gereja sebenarnya, apa esensinya, dan sebuah pemutarbalikan [Gereja] menjadi agama lain diantara Yudaisme, Islam, Buddhisme, Shintoisme, dan sejumlah agama-agama dunia. Ini merupakan pemutarbalikkan kepada sebuah agama yang disatukan dengan hukum tertulis dan bukan roh, sebuah agama yang melupakan hakekat radikal dari perjanjian baru yang ditempa oleh Allah dalam pribadi Yesus Kristus.

Gambaran terkenal dari Dostoevsky adalah tentang Inkuisitor Agung, individu yang bertanggung jawab di Gereja dalam membasmi kesesatan dan menjaga kemurnian iman. Dalam perumpamaan Dostoevsky Kristus kembali ke bumi dan melakukan beberapa mukjizat dan penyembuhan. Inkuisitor ini mendengar hal tersebut dan memerintahkan Yesus ditangkap dan dibawa untuk diinterogasi. Ia mengenali Kristus, karena ia adalah seorang katolik super yang bertanggung jawab agar iman Kristen tidak terdistorsi. Ia mengenali Kristus dan bertanya : mengapa Engkau kembali? Engkau adalah ancaman terhadap segala sesuatu yang kami bangun selama beratus-ratus tahun. Pada akhirnya kami telah melupakan siapa Engkau sesungguhnya, apakah Engkau itu, dan kami telah menjadi mapan dengan sistem keagamaan berikut hukum sebagai intinya. Engkau pantas mati kembali.

Kemarin merupakan pesta agung St. Laurensius, diakon Roma, yang memahami apa arti dari iman dalam Kristus dan apa yang dimaksud dengan kekayaan Gereja. Dan ia disiksa karena iman ini, dalam kisi-kisi besi yang terkenal seperti yang digambarkan dalam himne Prudentius dan ia dibunuh bukan karena iman yang dipahami sebagai tubuh dari keyakinan-keyakinan. Ia mempersembahkan dirinya sebagai kurban yang menyerupai Tuhan dan Penyelamat-Nya yang tidak bisa direduksi menjadi figur atau simbol religius. Uskup baru kami, Uskup Caggiani, dalam wawancara di Irlandia yang mendiskusikan tentang kehancuran iman di negara tersebut, berkata bahwa tak seorangpun bergembira, atau memberikan dirinya bagi persembahan iman katolik yang telah dikaburkan atau [iman katolik] yang biasa-biasa saja. Dan tak seorangpun mati demi iman macam ini. Dan mengapa seorang harus mati bagi sebuah iman ketika semua orang masuk ke surga bila kamu mengikuti iman katolik yang menjamin kamu untuk sampai ke surga, iman yang sedikit kaitannya dengan pertanyaan intelektual dan masalah yang besar yang harus melibatkan semangat manusia. Mengapa seseorang harus mati bagi iman yang mereduksi penyembahan kepada Allah menjadi refleksi yang banal dan duniawi dari budaya yang mengelilinginya yang tidak pernah bisa mewujudkan Kurban sebagai inti dari penyembahan kepada Allah. Mengapa seseorang harus mati demi iman yang hanya bergantung pada keputusan-keputusan dari Roma untuk mendefinisikan apa arti iman ini dan kemudian malah membuang pernyataan itu dalam makna eksistensial karena kelihatannya [keputusan-keputusan tersebut] merupakan keputusan sewenang-wenang yang ditetapkan oleh mereka yang bertanggung jawab dalam mesin hukum Gereja, [mengapa seseorang harus mati demi iman] yang hanya melihat dirinya sebagai satu realitas yang mungkin diantara banyak realitas lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan retoris dan tidak memerlukan jawaban. Sekarang mari kita meminta intersesi St. Laurensius yang memahami secara mendalam hakekat iman Kristen yang radikal dan nyata dan kesediaan yang perlu untuk mati bagi iman itu, agar Gereja dapat membersihkan dirinya dari semua godaan untuk mereduksi iman menjadi hukum-hukum, agar Ia dapat menolak untuk mereduksi Iman Apostolik menjadi sebuah agama dunia, agar Ia memperhatikan perkataan St. Paulus tentang hukum dan roh, dan para pelayan Gereja memiliki keberanian untuk mewartakan Injil Kristus dalam segala radikalitasnya dan keajaibannya dan kasihnya kepada dunia yang membuat mati dirinya karena kelaparan spiritual.

Sumber.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: