Mengapa Orang dengan Masa Lalu yang Berwarna Melakukan Evangelisasi

Saya tidak terlalu antusias menunjukkan kepada anak-anak saya, foto-foto saya di usia antara 16 hingga 26 tahun, yaitu satu dekade ketika saya merupakan lambang berjalan dari apa yang tidak seharusnya, ketika engkau masih muda, lajang, dan tidak mengerti apapun tentang iman Katolik-mu.

Hal tersebut tidak meniadakan waktu-waktu yang menyenangkan bersama dengan teman-teman yang luar biasa, yang saya duga, akan melintasi Facebook atau blog saya, dan menertawakan saya yang sekarang, setelah pengalaman pertobatan saya. Atau, mereka akan masih memikirkan apakah ini orang yang sama, yang bersamanya mereka pergi ke sekolah dan pesta di tengah malam. Kemudian, setelah mereka keluar dari keterkejutannya, mereka akan ngedumel di profile picture saya. Akhirnya, setelah mereka mulai tenang, mereka akan bertemu untuk minum kopi, menyebut nama saya, dan menggelengkan kepala sambil merenung, “Dia selalu bodoh, memang..”

Gaya hidup tipe Sto. Agustinus adalah masa lalu yang umum di antara generasi saya, yang secara mengejutkan, muncul menjadi pewarta-pewarta paling vokal dalam iman Katolik. Mantan atheist, pecandu narkoba, orang-orang gila kerja, feminis, tukang pesta, musisi rock hard-core, direktur fasilitas aborsi, artis new-age, dan okultis, membuat internet sebagai porsi yang signifikan dari suara awam dan keanggotaan Gereja Katolik universal. Oleh rahmat Allah semata-mata, semua warna-warni hidup tersebut sekarang adalah kesaksian yang hidup dan spektakuler dari kuasa kasih Kristus yang mengubahkan.

Hal semacam ini tidak pernah berhenti untuk mengejutkan saya, bagaimana seseorang yang kita nilai tidak mungkin mewartakan atau bertobat, berakhir sebagai mereka yang bekerja tanpa lelah bagi Gereja. Hal ini dikarenakan setelah menghidupi keberadaan tanpa cinta dari Kristus dalam Ekaristi dan tuntunan Gereja, mereka yang bertobat sangat bergairah untuk membagikan apa yang mereka tahu: hidup baru dalam Kekatolikan yang radikal, seperti berbeda galaksi. Tidak ada yang sempurna, maupun bebas dari penderitaan, tetapi itu adalah hidup dengan kedamaian batin. “Kedamaian” yang hilang inilah yang mereka cari dalam hidup lama mereka (entah dalam bentuk narkoba, seks, kekuasaan, uang, karir, ketenaran, diri sendiri) yang tidak ditemukan di tempat lain, tetapi hanya dalam kepenuhan hidup iman, pelayanan, dan kasih yang sejati. Sebuah kutipan favorit dari Sto. Agustinus selalu menjadi favorit karena memang itu benar: “hati kami tiada tenang sebelum beristirahat di dalam Dikau, ya Tuhan.”

Berlawanan dengan sukacita saya ketika akhirnya beristirahat dalam Tuhan adalah dukacita yang saya rasakan ketika saya melihat orang terbaptis katolik yang “menjauh”, “murtad”, atau suam-suam kuku di agama kita. Saya mengerti mereka, mengingat saya juga mencari dan menapaki jalan-jalan lebar dunia untuk mencari makna hingga akhirnya Kristus merengkuh saya kembali ke gerbang sempit Gereja-Nya. Konflik yang paling menyakitkan bagi seorang yang lahir dan dibesarkan sebagai orang katolik (“cradle Catholic”) adalah mengibaskan apa yang telah diajarkan kepada kita sebagai kebenaran dan mencoba mendamaikannya dengan persepsi dunia dan menelannya sebagai [kebenaran yang] “lebih baik”.

Hal yang paling menggembirakan adalah menemukan bahwa hal tersebut tidak dapat didamaikan karena apa yang telah diajarkan kepada kita akan selalu benar dan ada ketidakterbatasan tentang iman kita untuk dipelajari dan dicintai. Belas kasih Kristus dalam pengakuan menunggu dengan tangan terbuka dan kita ingin saudara-saudari kita kembali pulang ke rumah.

Kami, orang-orang yang lahir dan dibesarkan sebagai orang katolik yang vokal dan orang-orang yang bertobat, berdiri dalam perbedaan yang mencolok dengan mereka yang kami kasihi dari masa lalu. Tidak lagi berada di sana karena kami berdiri berdampingan dengan mereka yang diperbaharui namun tetap pendosa yang berjuang dan saksi mata yang tampak tidak meyakinkan, yang sekarang memenuhi keberagaman Gereja Katolik. Kami mewartakan, meskipun penganiayaan, ejekan, rasa takut, dan penolakan (dan tuntutan hukum karena menyebabkan gegar otak) karena kami tahu bahwa orang-orang seperti diri kami di masa lalu, membaca apa yang kami bagikan dan kami tidak pernah tahu siapa yang siap untuk perubahan. Untuk rahmat.

Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Lux Veritatis 7, dari “Why People with a Colorful Past Evangelize” oleh Anabelle Hazard, dengan beberapa pengubahan.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: