7 Kutipan Katolik tentang Penderitaan

“…setiap momen dalam hidup kita memiliki tujuan, bahwa setiap tindakan kita, tidak peduli betapa menjemukan atau rutin atau sepele kelihatannya, tetap ada martabat dan kepantasan yang melampaui pemahaman manusia…Karena ini artinya bahwa tidak ada momen yang sia-sia, tidak ada kesempatan yang terlewatkan, karena setiap kesempatan dalam kehidupan manusia, memiliki tujuan dalam rencana Allah. Pikirkanlah harimu, sekarang dan kemarin. Pikirkanlah pekerjaan yang kamu lakukan, orang-orang yang kamu temui, momen demi momen. Apa artinya bagimu – dan apa artinya itu bagi Allah? Apakah pertanyaan ini terlalu sederhana untuk dijawab, atau kita hanya takut untuk menanyakannya karena rasa takut akan jawaban yang harus kita berikan?” – Romo Walter Ciszek

“Diambang batas itu aku takut untuk menyeberanginya, hal-hal tiba-tiba tampak begitu sederhana. Hanya ada satu visi, Allah, yang adalah segala didalam segala; hanya ada satu kehendak yang mengarahkan segala hal, yaitu kehendak Allah. Saya hanya harus melihatnya, membedakannya dalam setiap situasi dalam diri saya, dan membiarkan diri saya dipimpin oleh-Nya. Allah ada dalam segala hal, menopang segala hal, mengarahkan segala hal. Untuk membedakannya dalam setiap situasi dan kondisi, untuk melihat kehendak-Nya dalam segala hal, artinya menerima setiap situasi dan kondisi dan membiarkan diri dibimbing dalam keyakinan dan kepercayaan yang sempurna. Tidak ada yang bisa memisahkan saya dari-Nya, karena Ia ada dalam segala hal. Tidak ada bahaya yang mengancam saya, tidak ada rasa takut yang menggoncangkan saya, kecuali rasa takut akan kehilangan pandangan akan Ia. Masa depan yang tersembunyi, tersembunyi dalam kehendak-Nya dan karenanya dapat saya terima tidak peduli apapun yang ia bawa. Masa lalu, dengan segala kegagalannya, tidak dilupakan; ia tetap ada untuk mengingatkan saya akan kelemahan kodrat manusia dan kebodohan dalam menempatkan iman dalam diri. Tapi hal ini tidak lagi menekan saya. Saya tidak lagi melihat kepada diri saya untuk membimbing saya, tidak lagi bergantung padanya dalam cara apapun, sehingga ia tidak dapat membuat saya gagal. Dengan menyangkal, secara menyeluruh dan terakhir, saya merasa lega dari konsekuensi semua tanggung jawab. Saya dibebaskan dari kecemasan dan kegelisahan, dari setiap ketegangan, dan dapat mengapung tenang pada gelombang penyelenggaraan Allah dalam kedamaian jiwa yang sempurna” – Romo Walter Ciszek

“Bila Allah memberikan kamu panenan cobaan yang melimpah, ini merupakan tanda kekudusan besar yang Ia kehendaki untuk kamu capai. Apakah kamu ingin menjadi orang kudus yang besar? Mintalah Allah mengirimkanmu banyak penderitaan. Api Kasih Ilahi tidak pernah bangkit lebih tinggi ketika diberi makan oleh kayu Salib, yang adalah kasih tak terhingga yang digunakan Penyelamat kita untuk menyelesaikan pengorbanan-Nya. Semua kesenangan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kemanisan yang ditemukan dalam empedu dan cuka yang ditawarkan kepada Yesus. Itulah, hal-hal yang sulit dan menyakitkan yang ditahan untuk Yesus Kristus dan bersama Yesus Kristus.” – St. Ignatius Loyola

“Jalan itu sempit. Ia yang ingin melaluinya dengan mudah harus membuang segala hal dan menggunakan salib sebagai tongkatnya. Di lain kata, ia harus memutuskan dengan sungguh untuk menderita dengan rela demi kasih Allah dalam segala hal” – St. Yohanes Salib

“Untuk memurnikan jiwa, Yesus menggunakan instrumen apapun yang Ia suka. Jiwaku menjalani pengabaian menyeluruh di sisi ciptaanl seringkali intensi terbaik saya disalah artikan oleh para suster, sejenis penderitaan yang palign menyakitkan; tapi Allah mengijinkannya, dan kita harus menerimanya karena dalam cara ini kita menjadi semakin menyerupai Yesus” – St. Teresa Avilla

“Bila kamu mencari kesabaran, kamu tidak akan menemukan contoh yang lebih baik selain salib. Kesabaran yang besar terjadi dalam dua cara : ketika seseorang dengan sabar menderita banyak hal, atau ketika seseorang menderita hal-hal yang mampu ia hindari, namun tidak menghindarinya. Kristus menanggung banyak [penderitaan] di salib, dan melakukannya dengan sabar, karena ketika Ia menderita Ia tidak mengancam; Ia digiring seperti anak domba ke pembantaian dan Ia tidak membuka mulut-Nya” – St. Thomas Aquinas.

“Ketika semuanya berakhir anda tidak akan menyesal karena telah menderita; melainkan anda akan menyesal karena menderita begitu sedikit, dan menderita hal yang sedikit ini dengan buruk” – St. Sebastian Valfre

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: