Salib di Tengah-Tengah Altar

Kompedium Katekismus Gereja Katolik menanyakan sebuah pertanyaan: “Apa itu liturgi?” dan jawabannya:

Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitan-Nya. Dengan melaksanakan imamat Yesus Kristus, liturgi menyatakan dalam tanda-tanda dan membawa pengudusasn bagi umat manusia. Pemujaan kepada Allah dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu oleh kepala dan para anggotanya. (no. 128)

Dari definisi ini, dapat kita mengerti bahwa Krsitus adalah Imam Mahatinggi yang Kekal dan Misteri Paskah dari Sengara-Nya, Kematian-Nya dan Kebangkitan-Nya adalah puat dari tindakan liturgi Gereja. Liturgi haruslah dirayakan secara jelas dari kebenaran teologis ini. Selama berabad-abad simbol yang dipilih oleh Gereja untuk mengarahkan hati dan tubuh selama liturgi digambarkan dari Yesus yang Tersalib.

Pemusatan salib didalam perayaan penyembahan ilahi [terlihat] lebih jelas di masa lampau, ketika kebiasaan yang sesuai dengan norma bahwa baik imam dan umat beriman akan berbalik dan menghadap salib selama perayaan ekaristi. Salib diletakkan ditengah diatas altar, dimana kemudian pada gilirannya menurut norma, salib didempetkan di dinding. Untuk kebiasaan sekarang didalam merayakan Ekaristi “menghadap umat”, sering salib diletakkan disamping altar, dengan demikian kehilangan posisinya di tengah.

Kemudian teolog dan Kardinal Joseph Ratzinger berkali-kali menggaris bawahi hal tersebut, bahkan selama perayaan “menghadap umat”, salib harus dipertahankan poisinya ditengah, dan akan sangat tidak mungkin untuk berpikir bahwa penggambaran Tuhan yang Tersalib – dimana hal ini mengekspresikan Pengorbanan-Nya dan untuk itu arti yang lebih penting dari Ekaristi – dalam beberapa cara dapat dijadikan alasan sebagai sumber gangguan. Setelah menjadi Paus, Benediktus XVI didalam pembukaan bagian pertama dari Gesammelte Schriften, mengatakan bahwa ia sangat senang tentang fakta bahwa proposal yang telah ia lanjutkan di essay yang di rayakannya, The Spirit of The Liturgy, telah membuat kemajuan. Proposal tersebut isinya menyarankan bahwa: “Ketika menghadap ke timur tidak mungkin dilakukan bersama-sama, salib dapat berperan sebagai interior “timur” dari iman. Salib harus berdiri di tengah altar dan menjadi titik fokus bersama baik bagi imam dan komunitas yang sedang berdoa”

Salib ditengah-tengah altar mengingatkan kita begitu banyak makna yang baik sekali dari Liturgi Kudus, yang dapat disimpulkan dengan mengacu kepada paragraf 618 dari Katekismus Gereja Katolik, sebuah paragraf yang menyimpulkan dengan kutipan yang indah dari St. Rose Lima:

Salib adalah Kurban Kristus yang unik, “satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia” (1 Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, Ia dalam suatu cara telah menyatukan diri-Nya dengan setiap manusia, “Kemungkinan untuk menjadi rekan, dalam cara yang diketahui Allah, dalam misteri Paskah” ditawarkan kepada setiap manusia (GS 22,2). Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr 2:21). Ia ingin mengikut-sertakan dalam kurban penebusan-Nya ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya (Bdk. Mrk 10:39; Yoh 21:18-19; Kol 1:24)  Hal ini dicapai secara sangat mendalam oleh Ibu-Nya, yang dihubungkan dengan lebih intim daripada siapapun dalam misteri penderitaan-Nya yang menebus manusia (Bdk. Luk 2:35)

“Terpisah dari salib, tidak ada tangga lainnya yang olehnya kita dapat masuk ke surga”  (St. Rose of Lima, in P. Hansen, Vita Mirabilis [Louvain, 1668]).

sumber: vatican.va

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: