Tahukah kamu akan Kristus?

Yesus, Yesus, Yesus, banyak umat pada beberapa generasi mengenal nama ini, ada yang mengenal karena yakin dan percaya, ada yang mengenal karena membenci nama tersebut. Bagi kita umat Katolik, Yesus adalah seorang sosok yang kita yakini sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Yesus pernah berkata bahwa sebelum Abraham ada, Dia telah ada terlebih dahulu. Bagaimana bisa? seorang Manusia mengaku “ada” sebelum Abraham, dalam rupa apa Yesus “ada” sebelum masa Abraham? sebagai Manusia? tidak mungkin, karena Yesus sendiri keluar dari rahim Perawan Maria. Kemudian Yesus dikatakan melakukan Mujizat dan bahkan Malaikatpun tunduk kepadaNya, siapa Yesus ini? mungkin jika hanya sekedar Mujizat, para Nabi juga memilikinya karena Rahmat Tuhan, tetapi jika Malaikatpun tunduk, jelas Yesus bukanlah sosok sembarangan.

Yesus pernah berkata akulah Guru dan Tuhan, jika kita berkaca pada setiap apa yang Yesus pernah lakukan dan katakan, betul memang, Yesus adalah Tuhan sekaligus Mesias yang dijanjikan para Nabi di masa lampau. Tuhan pada masa Perjanjian Lama adalah Tuhan yang “abstrak” yang tak berbentuk, yang transenden, yang jauh dimata tetapi dekat di hati setiap umatnya dan pada Perjanjian Baru, Tuhan menampakkan dirinya sebagai sesosok Manusia, yang dekat secara fisik dan tentu saja dekat di hati setiap umatNya. Pertanyaan ini bisa kita persempit, mengapa Tuhan yang Agung itu ingin menjadi Manusia?

Gereja Katolik menggunakan kata “inkarnasi” untuk mendefinisikan hal ini, inkarnasi berasal dari bahasa Latin “in carne” yang secara harafiah berarti “dalam rupa daging” dalam konteks Yesus sebagai Manusia berarti “dalam rupa manusia”.

Melihat ajaran Gereja tentang Tuhan yang menjadi Manusia, kita harus melihat kedalam diri kita manusia, jika Tuhan menjadi Manusia, apa yang membedakan antara Tuhan sebagai Manusia dan kita manusia pendosa?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus adalah Manusia dan juga Tuhan, seutuhnya Manusia dan seutuhnya Tuhan BUKAN Manusia yang memiliki kekuatan super, Yesus bisa dikatakan “spesies” baru dimana kodrat keTuhananNya dan kodrat keManusiaanNya tidak dapat terceraikan. Gereja Katolik mendefinisikannya dengan istilah “Hypostasis Union”.

Kembali kemasalah “kodrat”, ada dua kodrat yang dimiliki Yesus (terlepas keduanya tidak terceraikan), kodrat pertama adalah kodrat kemanusiaan, sebagai layaknya manusia, manusia memiliki tubuh fisik, memakan ruang dan waktu. Yesus dapat tersenyum, dapat marah, dapat menangis, dapat lapar, bersedih, menjadi tua, dapat menderita dan juga dapat meninggal dunia.

Kodrat kedua adalah kodrat ketuhanan, Tuhan adalah entitas (makhluk) yang tidak terbatas, absolut dan kekal. Artinya, Tuhan tidak berubah dan dalam konteks inkarnasi, Tuhan hanya mengambil rupa sebagai Manusia tetapi segala kodrat keTuhananNya tidak hilang, terbukti Yesus dapat melakukan Mujizat, diakui para Malaikat dan Iblis sebagai Tuhan dan juga dapat memberikan mandat seorang Petrus menjadi penerusNya, jelas ini semua bukanlah pekerjaan yang manusia biasa dapat lakukan (dengan kodrat kemanusiaan mereka) melainkan Tuhan itu sendiri.

Kembali ke pertanyaan yang saya lontarkan sebelumnya, mengapa Tuhan mau menjadi seorang manusia? Pada Kitab Kejadian diceritakan kisah Adam dan Hawa yang jatuh kedalam Dosa, manusia, kita, hanyalah makhluk penuh dosa yang kotor, lantas mengapa Tuhan yang suci itu ingin menjelma menjadi ciptaannya yang berdosa?

Jawabannya sebenarnya sederhana, ketika seorang Raja datang mengunjungi rakyatNya, Raja tetaplah Raja dan rakyat tetaplah rakyat, lantas apa yang berubah dari itu semua? Rakyat merasa bahwa Raja yang terkesan eksklusif ternyata ingin lebih dekat lagi dengan rakyatNya sendiri. Raja yang selama ini diam dibalik tembok istana, turun ke tempat dimana rakyatNya tinggal, ini adalah simbol kerendah-hatian Tuhan kepada kita manusia berdosa, Tuhan menjelma menjadi Manusia karena rasa cintaNya kepada kita umatNya.

Faktor kedua, saya mengutip pendapat St. Anselmus, manusia sebagai makhluk ciptaan tidak mampu dan tidak dapat menebus dosa mereka sendiri, hanya Tuhan sendiri yang dapat turun dan mengulurkan tanganNya. Mengapa manusia tidak mampu? Kodrat keTuhanan Yesus bersifat tidak terbatas, manusia dengan kodrat manusiawinya yang terbatas tidak dapat menjangkau Tuhan itu sendiri.

Tinggal satu pembahasan terakhir, agak mundur kebelakang tentang kodrat keManusiaan Yesus. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa Yesus memiliki keutuhan kodrat sebagai manusia dan kodrat keTuhanan, kembali ke kodrat keManusiaan Yesus, jika Yesus juga adalah manusia, berarti Yesus juga bisa meninggal, tetapi Yesus juga adalah Tuhan, apakah bisa dikatakan Tuhan telah (pernah) meninggal? Ya. Tuhan telah meninggal dan dia sudah bangkit.

 

Sumber:

Summa Theologica,  St. Thomas Aquinas. Tertia Pars (Part Three), Article 1-6.

Gaudium et Spes,  Kons Vatikan II. 22; 41; 58; 78.

 

19-03-13

Perinde Ac Cadaver, Valentino.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: