Mengapa Saya Menerima Komuni di Lidah sambil Berlutut

Institution-of-the-Eucharist

Ada kontroversi tentang menerima komuni di tangan dan di lidah sambil berlutut. Namun saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan tersebut. Secara prinsip tidak ada masalah dalam menerima komuni di tangan, asalkan komuni tetap diterima dengan penuh hormat. Namun, saya ingin menawarkan kepada anda, suatu pandangan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh anda atau sebenarnya anda tahu tapi anda ragu untuk melakukannya, tapi saya akan berusaha membuat anda yakin dan segera mungkin melakukannya tanpa perlu lagi untuk ragu : yaitu bahwa berlutut dan menerima komuni di lidah memiliki makna yang sangat biblis, sangat berpusat pada Yesus Kristus, dan sangat mendalam.

Hal penting yang patut kita perhatikan dalam menghadiri Misa, khususnya saat menyambut Tubuh Kristus adalah pertanyaan berikut: Siapakah sebenarnya Yesus bagi anda?

Bagi saya, terdapat empat jawaban:

Yesus adalah Allah

Kita adalah ciptaan, dan Allah pencipta. Sudah merupakan kewajiban kita untuk menyembah Allah, walaupun Allah tidak perlu disembah. Apa yang kita lakukan tidak menambah kemuliaan Allah. Tetapi kita memerlukannya, karena atas kebaikan-Nya lah kita hidup, memperoleh rejeki, memiliki keluarga, teman, dsb. Tapi ini saja tidak cukup, oleh karena itulah kita akan masuk ke jawaban kedua dan ketiga:

Yesus adalah Penyelamat dan Kekasih Kita

“Kisah cinta teragung sepanjang sejarah terdapat dalam sebuah Hosti kecil”, kira2 begitulah kata Uskup Agung Fulton Sheen. Apa artinya? Yesus, yang adalah Allah, wafat di salib demi menebus dosa-dosa kita. Ia ingin menyelamatkan kita. Dan inilah yang dikehendaki Bapa : bahwa Putra-Nya harus disalibkan untuk menebus dosa manusia, manusia yang hina dan tak berguna ini. “Domine, non sum dignus!”; “Tuhan, tidak pantas Engkau datang pada saya!” Apa kita lupa bahwa kita ini bukan siapa-siapa dihadapan Tuhan? ”Terpisah dariku, kamu tidak dapat melakukan apa-apa”

Bapa menghendaki demikian karena Ia mengasihi kita. Yesus pun begitu, demikian besar kasih dan cinta-Nya sehingga Ia rela menyerahkan nyawa-Nya. Demi kita, manusia yang hina ini! Lalu apakah kita diam saja? Tentu tidak, kita harus menanggapi cinta Yesus. Ia adalah kekasih kita, yang memberikan diri-Nya sendiri di kayu salib.

Tak seorangpun yang mau mendengar perkataan “aku cinta kamu” tanpa menunjukkan bukti cintanya melalui perbuatan. Kalau kita mencintai seseorang, tentu kita akan memberikan dan menghendaki yang paling baik bagi orang itu. PALING BAIK, bukan lebih baik.

Yesus adalah Raja Semesta Alam

Dihadapan seorang Raja, apalagi Yesus sang Raja, kita tidak bisa bertindak sesuka hati kita. Hal pertama yang diberikan kepada Raja adalah: Rasa hormat, ketaatan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Saya pernah melihat di film Confessions, ketika seseorang berhadapan dengan Raja, ia akan berlutut untuk menunjukkan rasa hormatnya. Bahkan ketika hendak meninggalkan Raja, ia pun berjalan mundur sambil menundukkan kepala. Betapa besar rasa hormat yang diberikan!

Lalu, apa hubungannya dengan menerima komuni di lidah sambil berlutut?

Pertama, Yesus, yang adalah Allah, Penyelamat, Raja dan Kekasih kita, SUNGGUH HADIR SECARA NYATA, TUBUH DAN DARAH,  JIWA DAN KEILAHIAN-NYA dalam Hosti Suci. Ini adalah dogma Gereja. Dan ini juga adalah iman kita.

Kedua, Gereja sebenarnya memberikan kebebasan kepada kita untuk menerima Komuni: di tangan sambil berdiri, sambil berdiri menerima di lidah, sambil berlutut menerima lidah. Maka, kita dapat memanfaatkan kebebasan yang diberikan Gereja, karena ini adalah salah satu dari hak seorang kristiani yang paling mendasar.

Pedoman Umum Misale Romawi

160 …Umat menyambut entah sambil berlutut entah sambil berdiri, sesuai ketentuan Konferensi Uskup. Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh ( dan Darah ) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah-kaidah mengenai komuni.

Redemptionis Sacramentum

91. Perlu diingat bahwa, bila membagi Komuni, para petugas suci tidak boleh menolak sakramen-sakramen kepada semua orang yang ingin menerimanya dengan suatu cara yang wajar, yang sungguh siap untuk itu dan tidak terhalang oleh hukum untuk menerimanya”. Oleh sebab itu, setiap warga Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut Komuni Suci. Maka tidak dapat dibenarkan jika Komuni Suci ditolak kepada siapa pun di antara umat beriman hanya berdasarkan fakta – misalnya – bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut Komuni sambil berlutut atau sambil berdiri.

92. Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut Komuni pada lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut Komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat – dengan recognitio oleh Takhta Apostolik – telah mengizinkannya, maka hosti kudus harus harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima itu pada saat masih berada di hadapan petugas Komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya Komuni Suci tidak diberikan di tangan.

Ketiga, mengapa di lidah? Karena hal ini merupakan tradisi yang dimiliki Gereja, dan sudah seharusnya kita lestarikan. Selain itu, menerima di lidah adalah cara yang berlaku secara universal, dan telah dilakukan selama hampir 1000 tahun.

Keempat, Bapa Gereja menekankan betapa pentingnya partikel Tubuh Kristus, sehingga cara yang tepat untuk mencegah terjadinya profanasi adalah dengan menerima di lidah sambil berlutut. Berikut ini kutipan dari Bapa Gereja yang menunjukkan betapa pentingnya menghormati partikel terkecil dari Hosti Suci (dikutip dari paper Federatio Universalis Una Voce : The Manner of Receiving Holy Communion ):

Tertullian De Corona 3: ‘We feel pained should any wine or bread, even though our own, be cast upon the ground.’ 

St Jerome In Ps 147, 14: ‘…if anything should fall to the ground, there is a danger.’

Origen In Exod. Hom. 13, 3: ‘…when you have received the Body of the Lord, you reverently exercise every care lest a particle of it fall.

St Ephrem Sermones in Hebdomada Sancta 4, 4: ‘…do not trample underfoot even the fragments. The
smallest fragment of this Bread can sanctify millions of men…’

Canons of the Coptic Church: ‘God forbid that any of the pearls or consecrated fragments should adhere to the fingers or fall the ground!’ Collationes canonum Copticae (Denzinger, Ritus Orientalium I, p95)

Kelima, mengapa harus berlutut? Berlutut menandakan sikap hormat dan menyembah kepada Tuhan Yesus. Sudah selayaknya kita berlutut, menghormat dan menyembah Yesus yang akan kita sambut. Memang diperbolehkan menerima dengan berdiri sambil membungkuk sedikit, namun bila kita mampu berlutut, dan bila ini adalah ungkapan rasa hormat dan sembah yang terbaik – setidaknya bagi saya dan mungkin bagi anda – kepada Yesus, Raja dan Allah kita. Bukankah seharusnya kita memang berlutut?

Dengan berlutut, kita belajar untuk rendah hati, menunjukkan kekecilan kita dihadapan Ia yang mahabesar.

Dengan berlutut, hal ini menunjukkan sesuatu yang agung dan spesial sedang terjadi! Kita hendak menerima tubuh Tuhan yang hadir secara nyata dalam Ekaristi, bukan sekedar roti biasa! Kita hendak mengalami persatuan dengan Tuhan itu sendiri!

Apa yang membuat berlutut menjadi demikian pentingnya? Dalam Injil Mark 1: 40, yang menceritakan bahwa si penderita kusta memohon kepada Yesus sambil berlutut untuk mentahirkan Ia, dan Ia pun tahir, setelah menunjukkan kepercayaannya kepada Yesus. Mat 14: 22-33 bercerita tentang Yesus yang berjalan diatas air, dimana Petrus yang hendak mencoba hal ini kemudian hampir tenggelam. Lalu ketika Yesus masuk ke dalam perahu, semua orang bersujud dan berkata “Sungguh Engkaulah Putra Allah” Dalam Yoh 9: 35-38 yang bercerita tentang Yesus menyembuhkan orang buta, yang pada akhirnya terjadi dialog antara orang buta dan Yesus

Yesus: “Percayakah Engkau akan Putra Manusia?”

Orang buta: Siapakah Dia, supaya aku dapat percaya kepada-Nya?”

Yesus: “Engkau telah melihat Dia”

Orang buta: “Tuhan, aku percaya” (lalu ia bersujud)

Disini kita bisa melihat bahwa sebuah tindakan pengakuan iman, diikuti dengan gestur berlutut yang menunjukkan sikap menyembah terhadap yang Ilahi. Disposisi batin dan perbuatan kita, keduanya penting. Mentalitas “yang penting hatinya” tidaklah cukup, karena apa yang ada dalam hati perlu diungkapkan secara nyata melalui perbuatan. Dan ayat-ayat diatas menunjukkan pentingnya kesatuan tubuh dan jiwa, disposisi batin dan tindakan lahiriah. Kardinal Joseph Ratzinger berkomentar tentang hal ini:

“Saya telah berlambat-lambat [menjelaskan] teks-teks ini, karena mereka menerangi sesuatu yang penting. Dalam dua kutipan yang kita perhatikan dengan cermat, makna rohani dan jasmani dari proskynein sungguh tak terpisahkan. Gestur jasmani sendiri adalah pembawa makna rohani, yang merupakan sebuah penyembahan [worship]. Tanpa penyembahan, gesture jasmani menjadi tak berarti, sementara tindakan rohani – dari hakekatnya, karena kesatuan psikosomatis manusia –  harus terungkap dalam gesture jasmani

Dua aspek disatukan dalam satu kata, karena dalam cara yang sangat mendalam mereka saling berhubungan. Ketika berlutut menjadi tindakan lahiriah, tindakan fisik semata, ia menjadi tak bermakna. Di sisi lain, ketika seseorang berupaya mengembalikan penyembahan ke area rohani dan menolak memberikan bentuk yang berwujud, tindakan penyembahan memudar, karena sesuatu yang murni rohani tidaklah pantas dengan kodrat manusia. Penyembahan adalah satu dari tindakan-tindakan fundamental yang mempengaruhi seluruh manusia. Inilah alasannya kenapa bertekuk lutut dihadapan Allah yang hidup adalah sesuatu yang tidak bisa kita abaikan.

Dengan mengatakan hal ini, kita tiba pada gestur khas berlutut dengan satu atau dua lutut. Dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama, kata barak, “berlutut”, seasal dengan kata berek, “lutut”. Orang Ibrani menganggap lutut sebagai simbol kekuatan, untuk bertekuk lutut artinya, menekuk kekuatan kita dihadapan Allah yang hidup, sebuah pengakuan akan fakta bahwa semua yang kita terima berasal dari-Nya. Dalam perikop-perikop Perjanjian Lama, gestur ini tampil sebagai ungkapan penyembahan.” – Joseph Ratzinger, dalam The Spirit of Liturgy

Bukankah dengan berlutut, kita juga membuat sebuah pengakuan iman: bahwa Yesus Kristus sungguh hadir secara nyata dalam Ekaristi? Bahwa Yesus Kristus sungguh Allah, Penyelamat, Raja dan Kekasih kita?

Selain itu, kita melihat bahwa orang-orang yang disembuhkan Yesus, mengalami mukjizat, menerima mukjizat. Bukankah Ekaristi sendiri adalah mukjizat terbesar bagi kita? Jadi, bukankah memang layak dan sepantasnya lah kita berlutut, seperti orang-orang yang mengalami mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus?

Alasan utama lainnnya adalah ini, saya kutip dari buku Joseph Ratzinger:

Bagi saya, kutipan paling penting tentang teologi berlutut selalu merupakan himne agung Kristus dalam Filipi 2:6-11. Dalam himne pre-pauline ini, kita mendengar dan melihat doa Gereja Apostolik dan dapat membedakannya di dalamnya dengan pengakuan iman dalam Kristus. Namun, kita juga mendengar suara Rasul, yang masuk ke dalam doa ini dan menyerahkannya pada kita, dan akhirnya, kita memahami kesatuan batin Perjanjian Lama dan Baru secara mendalam dan nafas kosmos dari iman Kristen.

Himne tersebut menghadirkan Kristus sebagai sosok yang berlawanan dengan Adam Pertama. Sementara Adam berusaha mendapatkan keserupaan dengan Allah, Kristus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, yang adalah hakekatnya “sebagai sebuah hal yang harus dipertahankan”, tapi merendahkan diri-Nya sampai mati, bahkan di Salib. Kerendahan hati ini yang berasal dari kasih, sungguh merupakan realita ilahi dan menyebabkan Ia memperoleh “nama yang mengatasi segala nama, yaitu pada nama Yesus semua lutut harus bertekuk, di surga dan di bumi serta di dunia orang mati” (Fil 2:5-10)

Himne Gereja apostolik meneruskan perkataan janji Yesaya 45 :23 :”Demi diri-Ku sendiri Aku bersumpah, dan apa yang keluar dari mulutku adalah kebenaran, perkataan yang tidak akan ditarik kembali:”Di hadapan-Ku setiap orang akan bertekuk lutut, setiap lidah akan bersumpah””. Dalam anyaman Perjanjian Lama dan Baru, menjadi jelas bahwa, walaupun sebagai Ia yang tersalib, Yesus membawa “nama yang mengatasi segala nama” – nama yang Maha Tinggi – dan pada hakekatnya Ia sendiri adalah Allah. Melalui Ia, Melalui Ia yang disalibkan, janji Perjanjian Lama sekarang dipenuhi: semua bertekuk lutut dihadapan Yesus, Ia yang turun, dan membungkukkan diri-Nya sebagai Allah benar diatas segala allah. Salib telah menjadi tanda yang mencakup-dunia akan kehadiran Allah, dan semua yang telah kita dengar sebelumnya tentang Kristus kosmos dan historis, seharusnya sekarang kembali ke ingatan kita.

Liturgi Kristen adalah Liturgi kosmos karena ia bertekuk lutut dihadapan Tuhan yang disalibkan dan dimuliakan. Inilah pusat budaya autentik – budaya kebenaran. Gestur rendah hati yang olehnya kita jatuh di kaki Tuhan memasukkkan kita ke dalam jalan kehidupan kosmos yang sebenarnya

~ Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI, dalam The Spirit of Liturgy)

Lalu, dalam adegan film The Passion, saat Yesus diturunkan dari salib, kita melihat bahwa Maria menerima Yesus, tidak dengan berdiri, melainkan dengan posisi yang hampir mirip seperti berlutut (tepatnya berlutut dengan satu kaki).

The Passion

Tidak ada keterangan tentang hal ini dalam Injil memang, tapi kemungkinan bahwa Maria menerima Yesus sambil berlutut tetaplah ada. Rasanya, seorang Ibu seperti Maria hampir tidak mungkin bertahan untuk tetap berdiri melihat Putra-Nya wafat. Sangat mungkin dan masuk akal sekali bila Maria menangis, dan berlutut saat menerima Putra-Nya, dimana hal ini menujukkan kasih-Nya sebagai seorang ibu. Dua orang disebelah kiri Maria pun berlutut pada peristiwa ini. Mengapa kita tidak berlutut juga saat hendak menerima Yesus?

Dan menurut saya, penjelasan tentang teologi berlutut diatas, sangat mendukung penghayatan tentang Yesus yang adalah Allah, Penyelamat, Kekasih dan Raja Semesta Alam. Karena semuanya adalah hal yang kita imani. Apa ada yang berani menyangkal kenyataan ini?

Nah, semua yang saya tulis diatas, menjadi tidak berarti bila tidak dianggap dengan serius.

Apakah anda mencintai Yesus? Kalau anda mencintai Dia, layaknya seorang kekasih, menghormati Ia sebagai Raja, menyembah Ia sebagai Allah dan Penyelamat, apakah anda hanya ingin memberi yang lebih baik, sedangkan anda mampu memberikan yang terbaik? Mulailah pertimbangkan hal ini secara serius.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: