Membenci Kemurnian

Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel berseri yang didasarkan pada buku Men, Women and The Mystery of Love. Penulis aslinya, Edward P. Sri memberikan berbagai pemahaman yang mendalam tentang hubungan pria-wanita seperti yang terdapat pada buku Love and Responsibility yang ditulis oleh beato Yohanes Paulus II. Artikel aslinya bisa dilihat disini.

Kebajikan adalah sesuatu yang kurang di dunia modern. Ini adalah sesuatu yang banyak dibenci di dunia modern.

Itulah inti yang dibuat oleh Yohanes Paulus II ketika memulai pengajarannya tentang kemurnian di bukunya Cinta dan Tanggung Jawab.
John Paul II

Mengapa kebajikan dibenci oleh banyak orang sekarang? Pertama, menghidupi kehidupan yang saleh tidaklah mudah. Hal ini membutuhkan banyak usaha, latihan, dan penyangkalan diri. Kita terus menerus melawan kejatuhan kita, kodrat manusia yang egois. Sisi taman Eden ini, lebih mudah untku menyerahkannya pada emosi dan hasrat kita daripada mengendalikannya. Contohnya, lebih mudah untuk menuruti nafsu makan kita daripada makan dengan pengendalian diri. Lebih mudah untuk marah ketika hal tidak berjalan sesuai keinginan kita daripada mengendalikan amarah kita. Lebih mudah menyerahkannya pada keputusasaan dan mengeluh daripada dengan bertahan dengan sukacita menghadapi cobaan bersama keberanian.

Kebajikan mengingatkan kita akan standar moral yang lebih tinggi yang harus kita ikuti. Pengingat ini seharusnya menginspirasi kita untuk memberikan lebih dari diri kita dalam pengejaran kebajikan dan hidup semakin menyerupai Kristus, daripada menghidupi kehidupan yang diperbudak oleh hasrat kita.

Namun tidak semua orang ingin diingatkan akan hal ini. Karena jiwa-jiwa tidak ingin menyerahkan kesenangan atau kenyamanan tertentu – jiwa-jiwa tidak ingin melakukan pekerjaan dan melakukan pengorbanan yang diperlukan untuk bertumbuh dalam kebajikan – diskusi apapun tentang kebajikan dapat menjadi seperti cermin yang menunjukkan kemalasan moral mereka.

Kebajikan yang Dilanggar

Inilah alasannya kenapa orang membenci kebajikan. Bukannya diinspirasi untuk menjalani hidup yang lebih baik, mereka menghancurkan standar moral kebajikan dan menariknya turun ke tingkatan mereka. Mereka meminimalkan makna kebajikan untuk menyelamatkan diri mereka dari upaya dan mencari-cari alasan untuk kegagalan moral mereka.

Contohnya, bayangkan beberawa wanita yang bekerja di kantor yang bergosip danmembicarakan orang lain dibelakang mereka. Salah satunya adalah kolega Kristen, namun, tidak menggunakan bahasa kasar dan tidak ikut dalam gossip mereka. Bukannya terinspirasi oleh contohnya, rekan kerjanya malah menjelek-jelekkan dia. Mereka mengejeknya sebagai “orang suci” yang “terlalu baik diantara kita”. Dengan tidak melakukan apa yang dilakukan semua orang, ia berdiri sebagai pengingat akan perilaku immoral mereka. Karenanya kebajikannya tidak dipuji, melainkan dibenci.

Wojtyla berkata bahwa banyak orang menurunkan nilai kebajikan untuk berdalih dari keharusan menghidupi standar yang lebih tinggi. Karena mereka tidak mau berupaya untuk berubah, mereka memperlakukan kebajikan dengan ringan atau bahkan menyerangnya secara terbuka untuk membenarkan kekurangan karakter moral mereka. “Kebencian…tidak hanya mendistorsi bagian dari kebaikan tapi menurunkan sesuatu yang dengan tepat pantas mendapatkan rasa hormat sehingga manusia tidak perlu berjuang mengangkat dirinya kepada tingkat kebaikan yang benar, tapi bisa ‘dengan gembira’ mengenali yang baik sebagai apa yang cocok baginya, apa yang mudah dan nyaman baginya” (hal. 144)

Membenci Kemurnian

Kebajikan yang mungkin paling dibenci sekarang adalah kemurnian. Kemurnian tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang baik, sesuatu yang mulia, sesuatu yang harus dikejar semua orang. Sebaliknya : kemurnian sering digambarkan sebagai sesuatu yang jahat – sesuatu yang berbahaya bagi pribadi manusia.

Beberapa orang berargumen bahwa kemurnian berbahaya bagi kesejahteraan psikologis pria dan wanita muda. Hasrat seksual itu alamiah, kata mereka. Karenanya, tidaklah alami untuk membatasinya dalam cara apapun.

Yang lain berkata bahwa kemurnian adalah musuh dari cinta. Bila dua orang saling mencintai, bukankah seharusnya mereka mampu mengungkapkan cinta mereka melalui hubungan seksual? Kemurnian bisa memainkan peran di area kehidupan yang lain, tapi ketika dua orang dewasa yang saling menyetujui, sedang jatuh cinta, pembatasan akan kemurnian merupakan hambatan besar bagi pasangan yang sedang mengungkapkan cinta mereka melalui seks.

Ini dan banyak argument lain menentang kemurnian merefleksikan kebencian budaya kita terhadap kebajikan ini. Kita menyaksikan kebencian akan kemurnian ini di kelas perkuliahan, di banyak program “pendidikan seks”, dan khususnya di media. Ketika film holywood atau prime time sitcom menggambarkan hubungan romantic, berapa sering kemurnian diangkat sebagai nilai moral? Seberapa sering kemurnian dihadirkan sebagai sesuatu yang membuat kita bahagia, sesuatu sesuatu yang dijadikan prioritas oleh para pahlawan dalam kehidupan mereka?

Mengapa Kebencian Ini?

Wojtla berkata bahwa alasan utama manusia modern melihat kemurnian sebagai hambatan untuk mencintai adalah bahwa kita menghubungkan cinta terutama dengan emosi atau kesenangan seksual yang kita terima dari pribadi berlainan jenis. Kita cenderung memikirkan cinta hanya dalam aspek subjektif. Bila kita akan memulihkan kebajikan kemurnian di dunia kita, “pertama-tama kita harus menghapuskan penambahan subjektivitas dalam gambaran kita tentang cinta dan kebahagiaan yang bisa dibawa oleh pria dan wanita” (hal. 144)

Untuk memahami poin ini lebih baik, mari kita secara singkat mengingat dua sisi cinta, yang kita pertimbangkan dalam refleksi sebelumnya.[1]. Bagi Wojtyla, aspek subjektif cinta adalah “pengalaman psikologis” – sesuatu yang terjadi didalam diri saya. Ketika pria dan wanita bertemu, mereka secara spontan menemukan diri mereka tertarik secara fisik kepada “penampilan” (ia menyebutnya ketertarikan sensualitas). Dan mereka juga bisa menemukan diri mereka tertarik secara emosional kepada kepribadian feminism atau maskulin (ia menyebutnya sentimentalitas). Hasrat sensual dan tanggapan emosional tidaklah buruk. Faktanya, mereka dapat berperan sebagai “bahan mentah” yang darinya cinta autentik dapat berkembang. Namun, tanggapan ini tidak mewakili cinta itu sendiri. Pada tingkatan ini, mereka tetaplah ketertarikan kepada tubuh pribadi lain atau maskulitan dan feminitas mereka, bukan cinta bagi pribadi pria atau wanita.

Aspek objektif cinta lebih dari sekedar pengalaman psikologis yang terjadi didalam diri saya. Ia merupakan “fakta interpersonal”. Ia mempertimbangkan apa yang sungguh terjadi dalam sebuah hubungan, bukan sekedar perasaan baik yang saya alami ketika berada dengan pribadi lain. Aspek objektif cinta melibatkan komitmen timbal balik dari kehendak kepada apa yang paling baik bagi pribadi lain dan kebajikan yang mampu menolong pribadi lain mengejar apa yang paling baik bagi mereka. Terlebih, cinta dalam maknanya yang paling penuh melibatkan pemberian diri – penyerahan kehendak seseorang, keputusan untuk membatasi otonomi seseorang untuk melayani orang lain dengan lebih bebas.

Karenanya, pertanyaan sebenarnya dalam cinta bukanlah pertanyaan subjektif :”Apakah saya memiliki perasaan dan hasrat yang kuat bagi kekasih saya? Apakah pria atau wanita memiliki perasaan dan hasrat sensual yang kuat bagi saya?” Siapapun bisa memiliki perasaan dan hasrat bagi pribadi lain. Tapi tidak setiap orang memiliki kebajikan dan komitmen untuk membuat cinta yang memberikan-diri menjadi mungkin.

Nilai Seksual

Sekarang kembali pada masalah kemurnian.Wojtyla menunjukkan bahwa aspek subjektif cinta berkembang lebih cepat dan lebih dirasakan secara intens daripada aspek objektif. Di tingkat objektif, membutuhkan banyak waktu dan upaya untuk menanamkan persahabatan yang saleh. Hubungan yang berpusat pada cinta yang memberikan-diri yang total dan pada kesadaran akan tanggung jawab yang mendalam untuk orang lain sebagai hadiah tidak terjadi secara spontan.

Namun dengan aspek subjektif cinta, tidak membutuhkan banyak waktu dan usaha untuk mengalami hasrat sensual atau kerinduan emosional bagi pribadi berlawanan jenis. Reaksi tersebut terjadi secara isntan. Lebih lanjut, tanggapan sensual dan emosinal dapat begitu kuatnya sehingga mereka mendominasi bagaimana mereka memandang pribadi lain. Dalam kodrat manusia yang rapuh [fallen human nature], kita cenderung melihat pribadi berlawanan jenis terutama melalui prisma nilai seksual mereka – nilai yang memberikan kita kesenangan emosional dan seksual. Akibatnya, kita mengaburkan persepsi kita tentang mereka sebagai pribadi, dan memandang mereka sebagai kesempatan bagi kenikmatan kita (hal. 159)

Wojtyla menunjukkan bahwa pertemuan ktia dengan pribadi berlainan jenis sering bercampur dengan sejenis egoisme sensual atau emosional – dengan hasrat untuk memanfaatkan pribadi demi memperoleh kesenangan emosional atau kepuasan seksual. “Kebenaran akan dosa asal menjelaskan kejahatan yang paling dasar dan paling tersebar luas – bahwa manusia yang bertemu pribadi berlainan jenis tidak secara sederhana dan spontan mengalami ‘cinta’ melainkan sebuah perasaan yang dilumpuri oleh kerinduan untuk menikmati” (hal 161)

Kecenderungan Kita untuk Memanfaatkan Pribadi Berlainan Jenis

Wojtyla berkata bahwa ketika kita bertemu seseorang berlainan jenis, kita tidak seharusnya mengharapkan sikap kebaikan kristen yang murni tidak egois, yang mengalir dari hati kita. Karena kita telah jatuh, ketertarikan kita yang kompleks sering bercampur dengan sikap egois untuk menginginkan bersama pribadi lain bukan demi komitmen bagi kesejahteraannya, tapi demi perasaan baik atau kesenangan sensual yang kita terima dari kebersamaan dengan pribadi lain. Ketika anak lelaki bertemu anak perempuan, mereka tidak secara otomatis jatuh ke dalam cinta yang autentik, berkomitmen, dan memberikan-diri satu sama lain. Melainkan, mereka merasa tertarik satu sama lain, mereka tergoda untuk melihat yang lain sebagai objek untuk memuaskan kebutuhan emosional atau hasrat seksual mereka.

Reaksi-reaksi terhadap nilai seksual ini tentu tidak buruk di dalam reaksi tersebut. Namun, bila kita tidak berhati-hati, bahan mentah ini dapat digunakan sebagai sarana bagi kenikmatan emosional atau sensual kita. Dan selama ini terjadi, cinta yang tidak egois bagi pribadi lain tidak pernah berkembang. Itulah alasannya kita membutuhkan kebajikan yang membantu kita mengintegrasikan ketertarikan sensual dan sentimental kita dengan cinta autentik bagi orang lain sebagai pribadi. Wojtyla melanjutkan, “Karena sensasi dan tindakan muncul dari reaksi seksual dan emosi yang terhubung dengan mereka cenderung mengurangi cinta dari kejelasannya, kebajikan khusus diperlukan untuk melindungi karakter sebenarnya dan profil yang objektif. Kebajikan khusus ini adalah kemurnian” (hal. 146)

Kemurnian : Penjaga Cinta

Sekarang kita bisa memahami mengapa kemurnian diperlukan bagi cinta. Jauh dari sesuatu yang menghambat cinta kita, kemurnian membuat cinta menjadi mungkin. Ia melindungi cinta jatuh dari sikap egois, utilitaris dan memampukan kita mencintai dengan tidak egois – terlepas dari kesenangan emosi dan sensual yang kuat yang kita terima dari kekasih kita.

Bila kita sungguh mencintai pribadi berlainan jenis, kita harus mampu melihat lebih dari sekedar nilai seksual seorang pribadi. Kita harus melihat nilai penuh mereka sebagai pribadi dan menanggapinya dalam cinta yang tidak egois. Wojtyla berkata bahwa kemurnia memampukan kita melakukan itu. “Esensi kemurnian terdiri dari kecepatannya dalam menegaskan nilai seorang pribadi dalam setiap situasi dan dalam mengangka semua reaksi kepada nilai “tubuh dan seks” pada tingkat personal” (hal. 171)

Namun pria tanpa kemurnian duduk dalam situasi yang sangat buruk : Ia tidak bebas untuk mencintai. Ia bisa memiliki tujuan baik dan hasrat yang tulus untuk peduli pada kekasihnya, tapi tanpa kemurnian, cintanya tidak akan pernah berkembang, karena cintanya tidak akan menjadi murni. Cintanya akan bercampur dengan kecenderungan melihat kekasihnya terutama dalam nilai seksualnya, yang membuat hatinya bergembira dalam kenikmatan emosional atau membuat tubuhnya teraduk dalam hasrat sensual. Wojtyla menjelaskan bahwa pria tanpa kemurnian begitu ter-preokupasi dengan kesenangan emosional dan sensual yang ia terima dari kekasihanya (hal. 164)

Tapi kemurnian memapukan pria melihat dengan jelas bukan hanya nilai seksual kekasihnya, tapi bahkan nilai sebagai seorang pribadi. Dibebaskan dari sikap utilitarian, pria yang murni karenanya bebas untuk mencinta. “Hanya pria dan wanita yang murni yang sanggup memiliki cinta yang sejati. Kemurnian membebaskan hubungan mereka, termasuk hubungan seksual, dari kecenderungan untuk saling memanfaatkan…dan dengan membebaskannya ia memperkenalkan dalam kehidupan bersama dan hubungan seksual mereka disposisi khusus bagi cinta kasih” (hal. 171)

[1] Hukum Karunia/Hadiah : Memahami Dua Sisi Cinta

Sumber.

Next : Pertarungan Demi Kemurnian

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: