Les Miserables : Kisah tentang Kasih dan Keadilan

Les Miserables Movie Poster

“Mencintai pribadi lain berarti melihat wajah Allah”

Les Miserables. Film yang bertemakan belas kasih, keadilan, dan penebusan. Karakter utama film ini adalah Jean Valjean,
seorang mantan narapidana yang menjalani hukuman selama 19 tahun karena mencuri sepotong roti demi adiknya yang kelaparan. Hukuman yang dijalani membuatnya menjadi orang yang memandang dunia dengan kebencian. Terlebih ketika tak seorang pun berbuat baik padanya setelah ia dibebaskan. Ia ditolak di penginapan, tidak mendapatkan tempat untuk beristirahat, bahkan dipukuli. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang Uskup yang mengijinkannya untuk tinggal di rumahnya. Namun, ia malah mencuri perabotan perak milik sang uskup. Ketika ditangkap, dan dibawa ke hadapan sang uskup, ia terkejut. Karena sang uskup malah menunjukkan kebaikannya dengan berkata bahwa barang tersebut adalah pemberiannya, dan bahkan ia memberikan kedua tempat lilin yang terbuat dari perak.

Lalu Uskup berkata bahwa ia harus memanfaatkan pemberiannya untuk menjadi orang jujur. Belas kasihan sang uskup
inilah yang mengawali titik balik dalam kehidupan Jean Valjean. Jean Valjean, menyadari bahwa ia memiliki jiwa, bahwa sang uskup telah menyelamatkan nyawanya demi Allah, mulai memperbaiki hidupnya dan meneladani sang uskup yang selalu siap membantu siapa saja yang berkekurangan. Ia lalu menjadi seorang walikota di sebuah kota, dan ia pun mengenakan identitas baru, yaitu Tuan Madelaine.

Tokoh selanjutnya adalah Javert. Bertugas sebagai seorang inspektur polisi yang menegakkan keadilan. Ia nantinya menjadi sosok yang selalu berusaha untuk mengejar dan menangkap Jean Valjean. Tokoh lainnya adalah Fantine, seorang wanita muda, seorang pekerja yang sangat mencintai anaknya, bahkan rela untuk menitipkan anaknya kepada pemilik penginapan, sedangkan ia sendiri mencari uang, mengirimkannya kepada mereka. Kasihnya kepada Cossete begitu besar sehingga ia rela menjual rambutnya, giginya, bahkan keperawanannya. Ya, ia menjadi seorang pelacur agar dapat mengirimkan uang demi perawatan anaknya. Namun, akhirnya ia ditolong oleh Madelaine, dan sang walikota sendiri berjanji untuk menjemput dan membesarkan anaknya. Sayang, Fantine meninggal tanpa sempat melihat putrinya ada di sisinya.

Lalu, cerita berlanjut dengan Madelaine menjemput dan membesarkan Cossete, kemudian terjadi kisah cinta antara Cossete, Marius dan Eponine.

Nah, cukup sampai disini ceritanya. Bagi yang penasaran, silakan menyempatkan diri untuk menonton filmnya :)

Sekarang saya ingin mengkomentari tema film ini. Bisa dikatakan bahwa film ini menggambarkan “pertarungan” antara belas kasih (yang diwujudkan oleh Jean Valjean) dan keadilan (yang diwakili oleh Javert).

Salah satu aspek keadilan adalah tentang hukuman. Siapapun yang bersalah, pantas dihukum. Apa yang terjadi ketika keadilan dilaksanakan tanpa kasih? Yang terjadi adalah keadilan mengejar mereka yang bersalah tanpa ampun. Keadilan Valjean Javertmenjadi buta. Ia tidak bisa melihat bahwa ada pertobatan setelah dosa, bahwa selalu ada kesempatan kedua untuk menebus kehidupan masa lalu yang jahat. Keadilan, tanpa kasih, hanyalah menjadi mesin penghukum yang mengejar siapa saja yang bersalah. Ia tidak melihat kebebasan. Ia mengekang, menjerat dengan hukum. Dan inilah yang terjadi pada Javert dalam film tersebut, yang selalu mengejar-ngejar Jean Valjean.

Lalu bagaimana dengan kasih? Kasih tidak bisa lepas dari keadilan. Kasih melampui keadilan. Kasih membuat seseorang menyadari betapa berat kesalahan dan dosa yang diperbuat, tapi ia menawarkan kesempatan. Momen penebusan dosa. Kasih selalu memberi dan mengampuni. Hanya di dalam kasih terdapat kebebasan yang sejati. Hanya di dalam kasih terdapat pembebasan yang nyata dari dosa. Dan inilah yang kita lihat pada diri Jan Valjean, ketika ia memiliki kesempatan untuk membunuh Javert, ia tidak melakukannya. Ia membebaskan – bahkan mengampuni – Javert. Sesuatu yang tidak bisa dipahami Javert sendiri.

Keadilan tanpa kasih hanya menghasilkan kehancuran. Inilah yang terjadi pada Javert. Ketidakmampuannya untuk memahami belas kasih dari Jean Valjean, membuatnya bimbang, dan akhirnya jatuh ke dalam kekecewaan. Bahwa ia yang adalah penegak hukum, harus berhutang budi kepada seorang mantan narapidana. Harga dirinya tercoreng, tak sepantasnya ia berhutang budi,apalagi terhadap seorang mantan narapidana. Ia menghadapi dilemma antara menegakkan keadilan dan mengampuni. Dan hasilnya – ia bunuh diri dengan terjun ke sungai Seine. Berikut ini adalah petikan lirik lagu yang ia katakan, perhatikan bagian yang ditebalkan, karena bagian tersebut menekankan dilemma, harga diri yang tercoreng, keraguan akan pengampunan dosa, dan keputusasaan yang membawa kematian :

Who is this man?
What sort of devil is he,
to have me caught in a trap,
and choose to let me go free.
It was his power at last
to put a seal on my fate,
wipe out the past,
and wash me clean off the slate.
All it would take
was a flick of his knife.
Vengeance was his,
and he gave me back my life.

Damned if I’ll live in
the debt of a thief.
Damned if I’ll yield
at the end of the chase.
I am the law
and the law is not mocked.
I’ll spit his pity
right back in his face.
There is nothing on earth that we share.
It is either Valjean or Javert.

How can I now allow this man
to hold dominion over me?
This desperate man whom I have hunted,
He gave me my life;
He gave me freedom.
I should have perished by his hand;
It was his right.
It was my right to die as well.

Instead, I live,
but live in hell.

And my thoughts fly apart.
Can this man be believed?
Shall his crimes be forgiven?
Shall his crimes be reprieved?

And must I now begin to doubt,
who never doubted all these years?
MY heart is stone
and still it trembles.
The world I have known
is lost in shadows.
Is he from heaven or from hell,
and does he know
that granting me my life today,
this man has killed me even so?

I am reaching
but I fall.
And the stars are black and cold
as I stare into the void
of a world that cannot hold.
I’ll escape now from that world,
from the world of Jean Valjean.
There is nowhere I can turn,
There is no way to go on

Lalu bagaimana dengan Jean Valjean? Ia yang tidak mau mengatakan bagaimana kehidupan masa lalunya kepada Cossete, akhirnya mengatakannya kepada Marius, yang nantinya akan menjadi kekasih Cossete. Ia menghindari mereka berdua, ia tidak ingin kehidupan masa lalunya membuat Cossete menderita. Ia akhirnya tinggal di biara, menanti maut menjemputnya.

Namun akhirnya ia bertemu dengan Marius dan Cossete, dan menyerahkan sepucuk surat yang berisi tentang pengakuan terakhirnya, pengakuan tentang kehidupan masa lalunya. Ia yang menyangka bahwa ia sendiri, tidak merasa sendiri setelah bertemu dan melakukan rekonsiliasi dengan Marius dan Cossete. Akhirnya ia meninggal, wafat dengan senyuman dan kedamaian dalam dirinya.

Di momen-momen menjelang kematiannya, ia melihat Fantine, dan setelah wafat, ia pun berjalan menghadap sang uskup. Uskup yang telah menyelamatkan jiwanya dari kegelapan. Berikut ini adalah lirik yang dinyanyikan menjelang kematiannya :

VALJEAN
Alone, I wait in the shadows
I count the hours
‘Till I can sleep
I dreamed a dream
Cosette stood by
It made her weep
To know I die
Alone, at the end of the day
Upon this wedding night I pray
Take these children, my lord
To thy embrace
And show them grace.
God up high,
Hear my prayer
Take me now
To thy care
Where you are
Let me be
Take me now
Take me there
Bring me home
Bring me home

FANTINE
Monsieur I bless your name

VALJEAN
I am ready Fantine!

FANTINE
Monsieur, lay down your burden

VALJEAN
At the end of my days

FANTINE
You’ve raised my child with love

VALJEAN
She’s the best of my life

FANTINE
And you shall be with God

COSETTE
Papa, papa, I do not understand
Are you all right?
They said you’d gone away

VALJEAN
Cosette, my child
Thank god, thank god
I’ve lived to see this day

MARIUS
It’s you who must forgive a thoughtless fool
It’s you who must forgive a thankless man
It’s thanks to you that I am living
Again I lay down my life at your feet
Cosette, your father is a saint
When they wounded me
He took me from the barricade
Carried like a babe
And brought me home
To you

VALJEAN (to COSETTE)
now you are here
Again beside me
now I can die in peace
for now my life is blessed…

COSETTE
You will live, Papa, you’re going to live
It’s too soon, too soon to say goodbye!

VALJEAN
Yes, Cosette, forbid me now to die
I’ll obey
I will try.
On this page
I write my last confession
read it well
when I, at last, am sleeping

It’s a story
Of those who always loved you
Your mother gave her life for you
Then gave you to my keeping
.

FANTINE
Come with me
Where chains will never bind you
All your grief
At last, at last behind you
Lord in Heaven
Look down on him in mercy.

VALJEAN
forgive me all my trespasses
And take me to your glory.

VALJEAN, FANTINE, EPONINE
Take my hand
And lead me to salvation
Take my love
For love is everlasting
And remember
The truth that once was spoken
To love another person
Is to see the face of God.

Disini kita melihat bahwa kasih membawa perdamaian, ia melepaskan seseorang dari beban penderitaannya. Kasih memampukan seseorang melakukan perbuatan heroik, yakni menyelamatkan, bukan hanya tubuh tetapi juga jiwa. Kasih cenderung melupakan diri sendiri, bahkan rela mengorbankan keselamatan diri demi orang lain.

“To love another person is to see the face of God” – “Mencintai pribadi lain berarti melihat wajah Allah”. Kita mengingat bahwa hukum kasih terdiri dari kasih kepada Allah dan sesama. Dan dalam mengasihi sesama, satu-satunya alasan kita mengasihi adalah bahwa dalam diri sesama, kita bisa melihat bahwa Allah hadir, walaupun secara tersamar. Yesus sendiri mengidentifikasi dirinya dengan orang hina “Apapun yang kamu lakukan bagi saudaramu yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku”.

Dengan mengasihi, maka kita belajar untuk menjadi lebih rendah hati, karena kasih tidak mementingkan diri sendiri.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: