Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI) tentang Penyembahan Kepada Allah

Dikutip dari buku The Spirit of Liturgy by Joseph Ratzinger, p 21-23 (penekanan dari saya), diterjemahkan oleh Marcello :

And so we come to a final reflection. Man himself cannot simply “make” worship. If God does not reveal himself, man is clutching empty space. Moses says to Pharaoh :”[We] do not know with what we must serve the Lord” (Ex 10 : 26). These words display a fundamental law of all liturgy. When God does not reveal himself, man can, of course, from the sense of God within him, build altars “to the unknown god” (Acts 17 : 23). He can reach out toward God in his thinking and try to feel his way toward him. But real liturgy implies God respond and reveals how we can worship him. In any form, liturgy includes some kind of “institution”. It cannot spring from imagination, our own creativity – then it would remain just a cry in the dark or mere self-affirmation. Liturgy implies a real relationship with Another, who reveal himself to us dan gives our existence a new direction.

In the Old Testament there is a series of very impressive testimonies to the truth that the liturgy is not a matter of “what you please”. Nowhere is this more dramatically evident than in the narrative of the golden calf (strictly speaking “bulf calf”). The cult conducted by the high priest Aaron is not meant to serve any of the false gods of the heaten. The apostasy is more subtle. There is no obvious turning away from God to the false gods. Outwardly, the people remain completely attached to the same God. They want to glorify the God who led Israel out of Egypt and believe that they may very properly represent his mysterious power in the image of a bull calf. Everything seems to be in order. Presumably even the ritual is in complete conformity to the rubrics. And yet it is falling away from the worship of God to idolatry. This apostasy, which outwardly is scarcely perceptible, has two causes. First, there is a violation of the prohibition of images. The people cannot cope with the invisible, remote, and mysterious God. They want to bring him down into their own world, into what they can see and understand. Worship is no longer going up to God, but drawing God down into one’s own world. He must be there when he is needed, and he must be the kind of God that is needed. Man is using God, and in reality, even if it is not outwardly discernible, he is placing himself above God. This gives us a clue to the second point. The worship of the golden calf is a self-generated cult. When Moses stays away for too long, and God himself becomes inaccessible, the people just fetch him back. Worship becomes a feast that the community gives itself, a festival of self-affirmation. Instead of being worship of God, it becomes a circle closed in itself : eating, drinking, making merry. The dance around the golden calf is an image of this self-seeking worship. It is a kind of banal self-gratification. The narrative of the golden calf is a warning about any kind of self-initiated and self-seeking worship. Ultimately, it is no longer concerned with God but with giving oneself a nice little alternative world, manufactured from one’s own resources. Then liturgy really does becomes pointless, just fooling around. Or still worse it becomes an apostasy from the living God, an apostasy in sacral disguise. All that is left in the end is frustration, a feeling of emptiness. There is no experience of that liberation which always takes place when man encounters the living God.

Dan kita datang kepada refleksi terakhir. Manusia sendiri tidak dapat “menciptakan” penyembahan. Jika Tuhan tidak menampakkan dirinya, manusia hanyalah seonggok ruang kosong. Musa berkata kepada Firaun: “[Kami] tidak tahu dengan apa kami harus melayani Tuhan” (Kel 10:26). Kata-kata ini menampakkan hukum fundamental dari segala liturgi. Ketika Tuhan tidak  menampakkan dirinya, manusia dapat, tentu saja, dengan merasakan kehadiran Tuhan didalamnya, membangun altar “kepada allah yang tak dikenal” (Kis 17:23). Dia dapat mencapai kehadapan Tuhan melalui cara berpikirnya dan mencoba untuk merasakan Tuhan. Tetapi liturgi yang sesungguhnya menunjukkan tanggapan dari Tuhan dan menunjukkan bagaimana kita selayaknya menyembahnya. Dalam bentuk apapun, liturgi juga menyediakan semacam “institusi”. Hal ini tidak dapat muncul dari sebuah imajinasi, atau kreativitas kita sendiri – maka itu semua hanya akan menjadi tangisan didalam kegelapan atau sekedar pengakuan-diri. Liturgi berarti sebuah hubungan dengan “Yang lain”, yang menampakkan dirinya kepada kita dan memberikan kita sebuah arah yang baru.  

Dalam Perjanjian Lama banyak tercatat kesaksian yang menarik bahwa liturgi bukanlah “apa yang kau inginkan”. Dimanapun juga, ini adalah sebuah kejadian yang dramatis daripada kejadian penyembahan lembu emas. Kultus yang dipimpin oleh Imam Besar harun tidak dimaksudkan untuk menyembah dewa kafir manapun. Penyesatan jelas saja lebih terlihat halus. Tidak ada kejelasan berpaling dari Tuhan kepada dewa kafir. Pada akhirnya, umat tetap setia kepada Tuhan yang sama. Mereka ingin memuliakan Tuhan yang memimpin Israel keluar dari Mesir dan mereka percaya bahwa itu semua dapat direpresentasikan dengan kekuatan misterius yang tergambarkan dengan sebuah “lembu emas”. Semuanya terlihat teratur. Bahkan nampaknya ritual tampak sesuai dengan rubrik yang ada. Dan ini semua tetap saja mengalihkan penyembahan kepada Tuhan kepada berhala. Penolakan (apostasy) ini, yang tampaknya kurang terlihat, memiliki dua sebab. Pertama, ada pelanggaran dari “pelarangan pengunaan simbol”. Manusia tidak dapat menaungi pemahaman akan Tuhan yang tidak kelihatan, jauh dan misterius. Mereka ingin membawa Tuhan turun ke dunia mereka supaya mereka melihat dan percaya. Penyembahan bukan lagi mengarah kepada Tuhan yang jauh tetapi membawa Tuhan turun ke dunia mereka. Dia harus berada disaat Dia dibutuhkan, dia harus seperti Tuhan yang setiap umat inginkan. Manusia memanfaatkanTuhan, dan kenyataannya, Tuhan itu sendiri tidak terlihat, manusia menempatkan dirinya diatas Tuhan. Hal ini memberikan kita petunjuk pada poin kedua. Penyembahan lembu emas adalah kultus yang terjadi dengan sendirinya. Ketika Musa pergi untuk waktu yang lumayan lama dan hal itu menghambat akses menuju Tuhan, umat berpaling dari Musa. Penyembahan menjadi pesta yang dimana tercipta untuk sebuah komunitas, sebuah festival pengakuan diri. Alih-alih menjadi sebuah penyembahan kepada Tuhan, prosesi itu menjadi sebuah lingkaran yang tertutup : makan, minum dan bersenang-senang. Tarian mengelilingi lembu emas adalah gambaran dari penyembahan sesuai keinginan mereka sendiri. Sebuah pemuasan diri yang dangkal. Kisah dari lembu emas adalah sebuah peringatan dari segala jenis penyembahan yang semaunya sendiri. Terlebih lagi, ini sudah tidak ada kaitan dengan Tuhan tetapi bagaimana memberi diri sendiri sebuah alternatif yang baik, menciptakan dari sebuah sumber. Kemudian liturgi menjadi tidak ada artinya, sia-sia. Atau lebih buruknya muncul sebuah penolakan (apostasy) yang memalingkan diri dari Allah yang hidup, sebuah penolakan (apostasy) berselubungkan kesucian. Yang tersisa nantinya hanyalah frustasi dan rasa kehampaan. Tidak ada pengalaman pembebasan yang selalu ada ketika manusia bertemu Allah yang Hidup.

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: