Catatan Dasar tentang Indulgensi

oleh Jimmy Akin

Orang-orang, yang mengklaim bahwa indulgensi tidak lagi menjadi bagian dari pengajaran Gereja Katolik, memiliki keinginan yang kuat untuk menjauhkan diri mereka dari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada saat terjadi Reformasi Protestan. Mereka juga ingin menghilangkan batu sandungan yang mencegah non-Katolik untuk mengambil manfaat dari maksud positif Gereja. Meski motif tersebut patut dihormati, namun klaim bahwa indulgensi tidak lagi diajarkan oleh Gereja adalah salah.

Hal itu dibuktikan oleh Katekismus Gereja Katolik, yang menyatakan,”Indulgensi diberikan melalui Gereja, yang berkat wewenangnya untuk mengikat dan melepaskan yang diterimanya dari Yesus Kristus, membela warga Kristen yang bersangkutan dan memperuntukkan kepadanya kekayaan jasa-jasa Kristus dan para kudus, supaya ia dapat menerima dari Bapa yang mahabelas kasihan penghapusan siksa-siksa sementara yang harus ditanggung untuk dosa-dosanya. Dengan cara ini Gereja tidak hanya membantu warga Kristen ini, tetapi juga mengajaknya untuk melakukan karya-karya kesalehan, pertobatan, dan amal”(KGK 1478).

Indulgensi adalah bagian dari ajaran Gereja yang tidak dapat salah. Ini berarti bahwa tidak satu pun umat Katolik secara bebas dapat menolaknya. Konsili Trent “mengutuk[dengan anathema] mereka yang mengatakan bahwa indulgensi tidak berguna atau bahwa Gereja tidak memiliki kuasa untuk memberi indulgensi”(Trent, session 25, Decree on Indulgences). Anathema dari Konsili Trent menempatkan indulgensi menjadi bagian dari ajaran tidak dapat salah Gereja.[Anathema dalam konteks ini adalah ekskomunikasi]

Penggunan yang saleh dari indulgensi dapat ditelusuri kembali pada masa-masa awal Gereja, dan ajaran yang mendasari indulgensi ditemukan dalam Kitab Suci sendiri. Umat Katolik yang merasa tidak nyaman dengan indulgensi tidak sadar akan kebiblisannya. Di dalam Kitab Suci, ajaran-ajaran dibalik indulgensi sejelas ajaran-ajaran lain yang lebih familiar, misalnya ajaran tentang Trinitas.

Sebelum melihat lebih dekat prinsip-prinsip indulgensi, kita sebaiknya mendefinisikan indulgensi. Di dalam konstitusi apostolik tentang indulgensi, Paus Paulus VI mengatakan:”Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”[Indulgentiarum Doctrina 1[/1]].

Definisi teknis ini dapat disusun dengan lebih sederhana,”[i]Indulgensi adalah apa yang kita terima saat Gereja mengurangi hukuman(siksa) sementara(berlangsung untuk waktu pendek) yang dapat dikenakan pada kita walaupun dosa-dosa kita sudah diampuni.” Untuk memahami definisi ini, kita perlu melihat dasar-dasar biblis dibalik indulgensi.

Prinsip 1: Dosa mengakibatkan rasa bersalah dan hukuman 

Ketika seseorang berdosa, dia menerima pertanggung jawaban tertentu: pertanggung jawaban atas rasa bersalah dan pertanggung jawaban atas hukuman.[Istilah Latin untuk pertanggung jawaban ialah reatus culpae dan reatus poena]. Kitab Suci mengatakan hal ini ketika ia menggambarkan rasa bersalah yang melekat pada jiwa kita, membuat jiwa kotor dan tidak bersih di hadapan Tuhan:”Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba”(Yes 1:18). Gagasan tentang rasa bersalah yang melekat pada jiwa kita muncul dalam teks yang menggambarkan pengampunan bagaikan pembersihan atau pencucian dan keadaan jiwa yang telah diampuni itu bersih dan putih(bdk. Maz 51: 4,9).[Lihat juga Ef 5:26-27, Kis 22:16,1 Kor 6:11,1 Yoh 1:7, dan Why 7:13-14]

Kita tidak hanya mendatangkan rasa bersalah, tetapi juga pertanggung jawaban atas hukuman saat kita berdosa:”Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka; kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan”(Yes 13:11). Bahkan penghakiman berlaku untuk dosa-dosa teringan:”Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat”(Pkh 12:14).[Lihat juga Mat 12:36 dan Rom 2:16]

Prinsip 2: Hukuman bersifat sementara dan kekal 

Kitab Suci menunjukkan beberapa hukuman bersifat kekal, selama-lamanya, tetapi hukuman-hukuman yang lain bersifat sementara. Hukuman kekal disebutkan dalam Daniel 12:2 :”Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian kekal.”[Lihat juga Mat 25:41,2 Tes 1:9 Why 14:11] Kita biasanya fokus pada hukuman kekal dari dosa, karena itu sangat penting, tetapi Kitab Suci menunjukkan bahwa hukuman sementara itu nyata, dan seperti yang dialami manusia setelah dosa pertama terjadi:”Firman-Nya kepada perempuan[Hawa] itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu(Kej 3:16)”.

“Lalu firman-Nya kepada manusia[Adam] itu:”Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu:Jangan makan daripadanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu”(Kej 3:17-19).[Di dalam Kitab Suci terdapat contoh lain dimana Allah mengirim hukuman sementara karena dosa. Lihat, contonya, Kej 4:9-12, Ul 28:58-61 dan Yes 10:16]

Prinsip 3: Hukuman Sementara Tetap Tinggal Ketika Dosa Diampuni 

Ketika seseorang menyesal, Tuhan menghapus rasa bersalahnya(Yes 1:18) dan segala hukuman kekal(Rom 5:9), tetapi hukuman sementara tetap tinggal. Sebuah teks yang mempertunjukkan ini ialah 2 Samuel 12, ketika Nabi Nathan berhadapan dengan Daud menyoal perzinahannya:

Lalu berkatalah Daud kepada Nathan:”Aku sudah berdosa kepada Tuhan”. Dan Nathan berkata kepada Daud:”Tuhan telah menjauhkan dosamu itu:engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista Tuhan, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati”(2 Sam 12:13-14). Tuhan mengampuni Daud tetapi Daud masih harus menderita kehilangan anaknya serta hukuman sementara lainnya(2 Sam 12:7-12).[Untuk contoh lain, lht.:Bil 14:13-23, 20:12, 27:12-14]. Meskipun Tuhan mengampuni bangsa Israel, Dia akan menjatuhkan hukuman sementara yang membuat mereka tidak dapat memasuki tanah perjanjian.

Protestant sering menyangkal hukuman sementara setelah pengampunan dosa, tetapi mereka mengakuinya dalam praktek, sebagai contoh: ketika mereka menuntut orang-orang untuk mengembalikan barang yang mereka curi. Para pencuri bisa mendapatkan pengampunan tetapi mereka juga diminta harus mengganti(mengembalikan) barang yang dicuri.

Protestant juga menyadari bahwa, sementara Yesus membayar hutang kepada Allah karena dosa-dosa kita, Dia tidak membebaskan kita dari kewajiban untuk memperbaiki kerusakan yang telah kita buat. Mereka sepenuhnya mengakui bahwa jika kamu mencuri mobil orang, kamu harus mengembalikannya; tidak cukup hanya menyesal. Pengampunan Tuhan (dan manusia) tidak termasuk membiarkan kamu memiliki mobil curian tersebut.

Protestan juga mengakui,dalam praktek, ajaran tentang hukuman sementara akibat dosa ketika membicarakan kematian. Kitab Suci mengatakan maut masuk ke dalam dunia melalui dosa asal(Kej 3:22-24, Rom 5:12). Ketika kita datang kepada Tuhan, kita diampuni, dan ketika kita berdosa lagi kemudian, kita dapat diampuni, namun itu tidak membebaskan kita dari hukuman kematian jasmani.

Meskipun orang yang telah diampuni itu sudah mati, hukuman tetap ada setelah dosa diampuni. Ini adalah hukuman sementara karena kematian jasmani adalah sementara dan kita akan dibangkitkan(Dan 12:2).

Seorang Protestant mungkin berkata bahwa Tuhan memberi hukuman sementara untuk mengajarkan pendosa sebuah pelajaran yaitu kedisiplinan, bukan hukuman. Ada tiga tanggapan terhadap hal ini:
(1) Tidak terdapat didalam teks di atas bahwa hukuman itu adalah bentuk kedisiplinan;
(2) seorang Katolik juga dapat menyebutnya sebagai bentuk kedisiplinan [Mengenai ajaran tentang indulgensi, Paus Paulus VI menyatakan,Hukuman, yang terkait disini, diadakan oleh penghakiman Tuhan yang adil dan murah hati. Alasan pengadaan hukuman ialah bahwa jiwa kita perlu disucikan, kekudusan perintah moral harus diperkuat, dan kemuliaan Tuhan harus dipulihkan sepenuhnya”(Indulgentarium Doctrina 2)]; dan
(3) tidak salah menyebut itu sebagai “hukuman”,”karena mendisiplinkan anak, dalam kehidupan sehari-hari, sama artinya dengan menghukum anak.

Greg Krehbiel, seorangn Protestant yang menulis untuk This Rock, menyampaikan, dalam sebuah paper yang beredar dalam kalangan terbatas, gagasan bahwa hukuman sementara terhapus setelah seseorang diampuni “adalah kesalahan pada jantung dari ‘Injil yang sehat dan kaya,’ viz..,’Yesus mengambil kemiskinan dan kesakitanku, sehingga aku seharusnya menjadi sehat dan kaya.'”

Katolik mempunyai pondasi yang kuat dalam menyatakan hukuman sementara tetap ada setelah dosa diampuni. Gereja telah menunjukkan hal ini sejak abad-abad perdana dan dengan menentukan perbuatan-perbuatan silih sebagai bagian dari sakramen tobat.

Prinsip 4: Tuhan Memberkati Beberapa Orang Sebagai Pahala Bagi Yang Lain 

Andaikata seorang bapak berdoa untuk anaknya yang sakit berat dan katanya,”Ya Tuhan, jika aku berkenan kepada-Mu, sembuhkanlah anakku!” Bapak itu meminta anaknya disembuhkan sebagai pahala bapaknya yang telah menyenangkan Tuhan. Berdasarkan intuisi, kita mengenal ini sebagai doa yang benar yang kadang dikabulkan. Tetapi kita tidak harus berhenti pada intuisi kita: Kitab Suci menegaskan fakta ini.

Setelah Abraham berperang demi Tuhan, Tuhan berbicara kepadanya dalam sebuah penglihatan,”‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu, upahmu akan sangat besar.’ Abram menjawab,’Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.’ …Tetapi datanglah firman Tuhan kepadanya, demikian:’Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.’ Lalu Tuhan membawa Abram keluar serta berfirman,’Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firman-Nya kepadanya:’Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ Lalu percaayalah Abram kepada Tuhan, makan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”(Kej 15:1-6). Tuhan menjanjikan Abraham pahala yaitu banyak keturunan.

Keturunan Abraham menerima karunia berlimpah karena Tuhan memberi pahala kepada bapa bangsa. Selanjutnya, Tuhan memberitahu Abraham, Dia akan membuat bangsa-bangsa berasal darinya, Tuhan akan mengadakan perjanjian dengan keturunannya turun temurun dan mereka akan mewarisi tanah perjanjian(Kej 17:6-8). Semua berkat ini diberikan kepada keturunan Abraham karena pahala yang diberikan Tuhan bagi Abraham.

Prinsip ini juga ditemukan dalam Perjanjian Baru. Di Mat 9:1-8, Yesus menyembuhkan seorang lumpuh dan mengampuni dosa-dosanya setelah melihat iman teman-temannya. Juga hal yang sama ditemukan dalam kisah “Perempuan Kanaan yang percaya”. Paulus juga memberitahu kita bahwa “mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang”[i](Rom 11:28).

Prinsip 5: Tuhan menghapuskan hukuman sementara yang diderita seseorang sebagai pahala bagi orang lain 

Saat Tuhan memberkati satu orang sebagai pahala bagi orang lain, kadang berkat khusus yang Dia berikan adalah pengurangan hukuman sementara yang dikenakan kepada orang pertama tersebut. Contoh, hati Salomo telah disesatkan dari Tuhan menjelang akhir hidupnya, dan akibatnya Tuhan mengoyak kerajaan dari dirinya. “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: [i]”Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih.”(1 Raj 11:11-13). Tuhan mengurangi hukuman sementara dalam dua cara: menunda pemusnahan kerajaan sampai masa anak Salomo dan meninggalkan satu suku(Benyamin) dibawah Yehuda.

Tuhan menjelaskan kenapa ia melakukan itu: Bukan demi Salomo, tetapi “demi ayahmu, Daud”. Jika Daud tidak berkenan kepada Tuhan, dan jika Tuhan tidak menjanjikan dia hal-hal tertentu berkenaan kerajaannya, Tuhan akan memusnahkan seluruh kerajaan mulai dari Salomo dan selama hidup Salomo. Ini adalah contoh bagaimana Tuhan mengurangi hukuman demi salah satu dari orang-orang kudus-Nya.

Contoh lain yang mudah dipikirkan ialah Tuhan menjanjikan Abraham kalau Dia dapat menemukan sejumlah orang benar di Sodom, Dia akan menangguhkan hukuman sementara kota itu demi orang-orang benar yang ada (Kej 18:16-33; bdk. 1 Raj 11:11-13; Rom 11:28-29).

Paulus menulis,”Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya”(Rom 11:28-29). Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi sejamannya diperlakukan dengan lemah lembut daripada yang seharusnya(panggilan dan rahmat Allah tidak diambil dari mereka) karena nenek moyang mereka dikasihi Tuhan, yang mengaruniakan mereka rahmat yang tidak dapat dibatalkan(yang tercantum dalam Roma 9:4-5)

Prinsip 6: Tuhan Menghapuskan Hukuman Sementara Melalui Gereja 

Tuhan memakai Gereja ketika Dia menghapus hukuman sementara. Ini adalah inti doktrin indulgensi. Di awal kita mendefinisikan indulgensi sebagai “apa yang kita terima saat Gereja mengurangi hukuman sementara yang dijatuhkan kepada kita sekalipun dosa kita sudah diampuni”. Warga Gereja menjadi sadar akan prinsip ini melalui sakramen tobat. Sejak permulaan, karya penebusan ditugaskan sebagai bagian dari sakramen karena Gereja mengakui bahwa orang-orang Kristen harus berurusan dengan hukuman sementara, seperti disiplin Tuhan dan keharusan untuk memulihkan apa yang telah dilukai oleh dosa-dosa kita.

Pada Gereja perdana, penitensi kadang terasa berat. Untuk dosa-dosa berat, seperti murtad, pembunuhan, dan aborsi, penitensi bisa sampai bertahun-tahun, tetapi Gereja mengakui bahwa pendosa yang sungguh menyesal dapat memperpendek masa penitensi dengan menyenangkan Tuhan melalui perbuatan saleh atau karya amal yang mengungkapkan kesedihan atas dosa dan keinginan untuk menebus dosanya.

Gereja juga mengakui lamanya hukuman sementara dapat dikurangi melalui keterlibatan orang lain yang menyenangkan Tuhan(prinsip 5).Kadang seorang pengaku iman[Pengaku iman ialah orang-orang yang mengaku iman Kristen di hadapanan negara sebelum penganiayaan.

Pengaku iman, seperti halnya martir, menyenangkan Tuhan melalui cara khusus yaitu dengan berpegang teguh pada imannya dengan mempertaruhkan nyawa mereka] atau seorang yang akan menjadi martir akan turutcampur dan meminta, sebagai pahala bagi si pengaku iman atau martir tersebut, sehingga si peniten memperoleh pengurangan waktu untuk disiplinnya. Beginilah cara Gereja mengenali perannya dalam melaksanakan hukuman sementara(prinsip 6); perannya merupakan bagian dari pelayanan akan pengampunan yang Tuhan berikan kepada Gereja secara umum.

Kitab Suci memberitahu kita bahwa Tuhan memberi kuasa kepada “manusia”(Mat 9:8) dan pelayan-pelayan Kritus secara khusus untuk mengampuni dosa. Yesus berkata kepada mereka,”Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu…Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”(Yoh 20:21-23).

Jika Kristus memberi para pelayan-Nya kemampuan untuk mengampuni hukuman kekal akibat dosa, betapa mereka lebih mampu lagi untuk menghapus hukuman sementara akibat dosa.[Argumen semacam ini, dengan bentuk “jika X terjadi lalu seberapa besar kemungkinan Y terjadi,” disebut argumen fortiori. Argumen fotiori merupakan favorit Yesus dan Paulus; lihat Mat 7:11, 10:25, 12:12; Lukas 11:13, 12:24,28; Rom 11:12,24; 1 Kor 6:3, dan Ibr 9:14]. Kristus juga menjanjikan Gereja-Nya kuasa untuk mengikat dan melepaskan di bumi, kata-Nya,”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”(Mat 18:18). Karena konteksnya sudah jelas, mengikat dan melepaskan melingkupi disiplin Gereja, dan disiplin Gereja termasuk pemberian dan penghapusan hukuman sementara(seperti melarang dan mengizinkan pemberian sakramen). Oleh karena itu, kuasa mengikat dan melepaskan ini mencakup pelaksanaan hukuman sementara.

Prinsip 7: Tuhan memberkati orang-orang Kristen yang mati untuk memberikan pahala bagi orang-orang Kristen yang hidup. 

Dari permulaan, Gereja mengenali keabsahan berdoa bagi orang-orang yang telah mati sehingga peralihan mereka ke surga(melalui purgatorium) dapat terjadi lebih cepat dan lancar. Artinya, berdoa untuk mengurangi atau menghapuskan hukuman sementara yang menahan mereka untuk masuk ke dalam kemuliaan surgawi. Jika memohon agar hukuman-hukuman itu dihapuskan adalah masuk akal, maka juga masuk akal untuk memohon agar hukuman-hukuman itu dihapuskan,dalam perkara khusus, sebagai suatu pahala. Seorang duda dapat berdoa kepada Tuhan dan memohon, jika Tuhan berkenan, agar peralihan istrinya ke surga dipercepat. Karena alasan inilah Gereja mengajarkan bahwa “indulgensi selalu dapat diberikan kepada orang-orang yang telah meninggal melalui doa”(Indulgentarium Doctrina 3).

Penerapan yang serupa dengan ini terdapat pada 2 Makabe. Yudas Makabe menemukan jenazah para prajurit yang meninggal dengan mengenakan jimat takhyul dalam salah satu pertempuran Tuhan. Yudas dan para pengikutnya “mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya”(2 Mak 12:42). Dosa menjadi “dihapus semuanya” mengacu pada hukuman sementara. Pengarang 2 Makabe memberitahu kita bahwa untuk orang-orang yang telah mati itu, Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh”(2 Mak 12:45); dia percaya bahwa orang-orang itu meninggal dalam kesalehan, dimana sudah tidak akan menjadi perkara jika mereka dalam dosa berat. Jika mereka tidak dalam dosa berat, maka mereka tidak akan menderita hukuman kekal, sehingga penghapusan semua dosa mereka haruslah mengacu pada hukuman sementara untuk perbuatan takhyul mereka. Yudas “mengumpulkan uang ditengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Lagipula… disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka”(2 Mak 12:43,45).

Yudas tidak hanya berdoa untuk orang-orang mati, tetapi dia menyediakan bagi mereka tindakan gerejawi yang sesuai untuk mengurangi hukuman sementara yang kemudian disebut: persembahan(kurban) dosa.[Pada Perjanjian Lama, kurban dosa berkaitan dengan penebusan sementara akibat dosa,”Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”(Ibr 10:4).] Karena itu, sekarang kita mengambil tindakan gerejawi yang sesuai untuk mengurangi hukuman sementara yaitu indulgensi dan menerapkannya kepada orang mati melalui doa.

Ada perbedaan antara cara indulgensi diperoleh oleh orang yang masih hidup dan orang yang telah meninggal. Dokumen resmi Gereja, seperti konstitusi apostolik tentang indulgensi Paus Paulus VI, Kitab Hukum Kanonik, dan Katekismus Gereja Katolik, semua itu mencatat bahwa indulgensi berlaku bagi orang-orang yang telah meninggal melalui doa.

Ini karena orang Kristen yang sudah beralih dari bumi tidak lagi dibawah yurisdiksi Gereja. Mereka tidak lagi menerima sakramen, termasuk penebusan, dan Gereja tidak mempunyai kuasa untuk melepaskan mereka dari hukuman sementara. Yang dapat dilakukan hanyalah berharap kepada Tuhan dan berdoa agar Dia hukuman mereka. Ini adalah bentuk doa yang sahih, seperti yang ditunjukkan di 2 Makabe. Kita boleh mempunyai kepercayaan bahwa Tuhan akan menerapkan indulgensi bagi orang mati lewat jalan lain, tetapi cara yang tepat dan tingkat penerapannya tidak diketahui.[Inilah satu alasan kenapa Gereja tidak dengan mudah “mengosongkan Api Pencucian”, seperti yang dinyatakan oleh Martin Luther bahwa seharusnya Gereja mampu. Karena keterbatasan yurisdiksi, Gereja hanya dapat berdoa agar Api Pencucian dikosongkan] Ketujuh prinsip ini, yang secara keseluruhan biblis, adalah tiang pondasi dari indulgensi, tetapi masih ada pertanyaan yang diberi:

Siapa pihak yang terlibat? 

Ada empat elemen: Pertama, orang yang menyenangkan Tuhan dan menggerakkan Dia untuk memberikan pahala, sebagai persiapan dasar untuk indulgensi; kedua, orang yang meminta indulgensi dan mendapatkannya dengan melaksanakan perbuatan yang yang ditentukan untuk itu; ketiga, orang yang memberi indulgensi(Pekerjaan Tuhan melallui Gereja); dan keempat, orang yang menerima keuntungan dari indulgensi yaitu pengurangan hukuman sementara.[Beberapa pihak bisa jadi orang yang satu dan sama. Orang yang menyediakan dasar untuk indulensi boleh memintanya dan menerapkannya bagi orang lain; orang yang meminta indulgensi boleh meminta untuk diri sendiri atau orang lain. Menurut Hukum Kanonik sekarang, seseorang tidak dapat meminta indulgensi bagi orang lain yang masih hidup(meskipun secara prinsip mungkin dilakukan, seperti yang terjadi pada peniten pada masa awal yang ditampilkan)]

Berapaa banyak hukuman sementara seseorang yan dapat dihapus? 

Semua hukuman sementara dapat dihapus. Gereja mengenali bahwa Kristus dan para kudus ingin membantu para peniten yang barkaitan dengan akibat dosa, seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa Kristus dan para kudus selalu berdoa untuk kita(Ibr 7:25, Why 5:8). Memenuhi perannya dalam pelaksanaan hukuman sementara, Gereja selalu mempergunakan perbendahaaraan pahala yang Tuhan berikan kepada para kudus, yang menyenangkan Tuhan, dan kepada Anak-Nya yang paling menyenangkan Dia. Pahala yang diterima Gereja adalah tidak terbatas karena Kristus adalah Tuhan, sehingga pahala yang Dia tambahkan adalah tidak terbatas dan tidak pernah habis. Pahala Kristus sendiri, terpisah dari pahala para kudus, sudah dapat menghapuskan semua hukuman sementara semua orang, dimanapun. Pahala para kudus ditambahkan kedalam pahala Kristus, bukan karena pahala Kristus kurang, melainkan karena adalah pas bahwa pahala para kudus bersatu dengan pahala Kristus sebagaimana para kudus bersatu dengan Kristus. Walaupun pahala para kudus itu besar, tetapi pahala mereka terbatas, sedangkan pahala Kristus tidak terbatas.

Jika Gereja mempunyai sumber daya untuk menghapus hukuman sementara semua orang, mengapa tidak dilakukan? 

Karena Allah tidak menghendaki itu terjadi. Allah sendiri menetapkan pola hukuman sementara yang tertinggal. Pola-pola itu memenuhi fungsi-fungsi yang sahih, salah satunya ialah disipliner. Jika anak tidak pernah disiplin dia tidak akan pernah belajar ketaatan. Tuhan mendisiplinkan kita bagaikan anak-anak-Nya sendiri. “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak”(Ibr 12:6), sehingga beberapa hukuman sementara harus tinggal.

Gereja tidak dapat menghapus, boleh dikatakan dengan coretan pena, hukuman sementara semua orang karena remisi mereka bergantung pada disposisi orang yang menderita hukuman sementara itu. Karena hanya iman dan pertobatan yang diperlukan untuk remisi hukuman kekal, maka remisi atas hukuman sementara juga memerlukan iman dan pertobatan.

Paus Paulus VI menyatakan,”Indulgensi tidak dapat diperoleh tanpa pertobatan yang tulus dan persatuan dengan Tuhan.” Kita boleh berkata bahwa tingkat remisi bergantung pada seberapa baik si peniten telah jera.

Bagaiman seseorang menentukan seberapa besar hukuman dikurangi? 

Sebelum Vatikan II, setiap indulgensi dikatakan menghapus sejumlah tertentu “hari” dari disiplin seseorang, contohnya, satu perbuatan bisa memperoleh “indulgensi 300 hari”, tetapi penggunaan istilah “hari” membingungkan orang, memberi mereka kesan yang keliru bahwa di Api Pencucian waktu masih ada dan sehingga kita dapat menghitung “waktu baik” kita menurut suatu cara mekanis. Jumlah hari yang bartautan dengan indulgensi sebenarnya tidak pernah bermaksud bahwa “waktu” itu akan dikurangkan dari seseorang yang tinggal di Api Pencucian. Sebaliknya, itu berarti bahwa sejumlah remisi yang terbatas tapi parsial(bukan lengkap) akan diberikan, sebanding dengan apa diterima oleh orang-orang Kristen purba dalam melaksanakan perbuatan saleh selama berhari-hari.

Jadi, seseorang yang memperoleh indulgensi 300 hari kira-kira diperoleh oleh orang-orang Kristen purba dengan, katakanlah, mengucapkan doa tertentu selama 300 hari.

Untuk mengatasi kebingungan, Paus Paulus VI mengeluarkan revisi pedoman(Enchridion, nama resmi) indulgensi. Saat ini jumlah hari tidak dikaitkan dengan entah indulgensi penuh atau sebagian.[Indulgensi penuh (sulit diperoleh karena memerlukan kasih sempurna akan Tuhan dan penyesalan sempurna) menghapuskan semua hukuman sementara akibat dosa; indulgensi sebagian menghapus hanya sebagian hukuman sementara, dengan jumlah tepat isa hukuman yang tak tentu.]

Hanya Tuhan yang tahu persis seberapa manjur setiap indulgensi sebagian atau penuh yang diperoleh. Gereja hanya mengetahui prinsip-prinsip umum mengenai indulgensi.

Bukankah indulgensi mengulang atau meniadakan karya Kristus? 

Meskipun indulgensi disokong oleh Kitab Suci, beberapa orang sangat kritis terhadap prinisip-prinsip itu dan bersikeras bahwa doktrin[indulgensi] itu menggantikan karya Kristus dan menjadikan kita penyelamat diri kita sendiri.

Keberatan ini menghasilkan kebingungan mengenai sifat dasar indulgensi dan bagaimana karya Kristus berlaku bagi kita.

Indulgensi berlaku hanya pada hukuman sementara, bukan kekal. Kitab Suci menunjukkan bahwa hukuman ini dapat tinggal setelah dosa diampuni dan bahwa Tuhan mengurangi hukuman ini sebagai pahala bagi orang-orang yang menyenangkan Dia. Karena Kitab Suci menunjukkan hal ini, karya Kristus tak dapat dikatakan telah diganti oleh indulgensi.

Jasa-jasa Kristus, yang tak terbatas, sebagian besar terdiri dari jasa-jasa di dalam perbendaharaan jasa. Dengan menerapkan ini kepada umat beriman, Gereja bertindak sebagai pelayan Kristus dalam penerapan dari apa yang telah Dia perbuat untuk kita, dan kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa karya Kristus diterapkan pada kita dari waktu ke waktu(Fil 2:12, Pet 1:9).

“Tetapi bagaiamana dengan jasa-jasa para kudus, bukankah dalam doktrin indulgensi para kudus dijadikan yang turut menyelamatkan[co-savior] bersama Kristus?” 

Tidak sama sekali. Paling banter, mereka hanya akan menyelamatkan kita dari malapetaka sementara, yang dapat(dan seharusnya) dilakukan setiap manusia tanpa menghujat Kristus.[Contoh, tidaklah menghina Kristus bila seorang pemadam kebakaran menarik keluar seorang anak dari gedung yang terbakar. Gagasan tentang manusia menyelamatkan sesamanya dari kemalangan sementara tidak menghina Kristus.] Disamping itu, para kudus mempunyai kemampuan untuk menyenangkan Allah karena kasih akan Allah telah dicurahkan dalam hati mereka(Rom 5:5). Rahmat Allah memampukan mereka untuk menyenangkan-Nya. Rahmat-Nya membuahkan perbuatan baik, dan rahmat-Nya diberikan kepada mereka karena jasa Kristus. Oleh karena itu, perbuatan baik para kudus dihasilkan oleh Kristus yang bekerja melalui mereka, yang berarti Kristus adalah sebab utama dari peristiwa “keselamtan” sementara ini.

“Haruskah kita membicarakan tema ini terus? Bukankah lebih 
baik menyerahkan segala perhatian kepada Kristus saja? 

Tidak. Jika kita mengabaikan fakta tentang indulgensi, kita menyia-nyiakan apa yang Kristus perbuat untuk kita, dan kita gagal mengenali nilai dari apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Paulus biasa menggunakan gaya bahasa ini:”Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang
pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat”(Kol 1:24).

Meskipun penderitaan Kristus berlimpah-limpah(jauh dari yang diperllukan untuk membayar apapun), Paulus berbicara tentang melengkapi apa yang “kurang” dalam pendritaan Kristus.(Seperti kata St Agustinus,”Allah yang menciptakan kamu tanpa kerjasama dari dirimu tidak akan menyelamatkan dirimu tanpa kerjasama dari pihakmu.”) Jika gaya bahasa ini diperbolehkan oleh Paulus, itu diperbolelhkan juga bagi kita,
meskipun bahasa Katolik tentang indulgensi jauh lebih mengejutkan daripada bahasa Paulus tentang perannya di dalam keselamatan.

Umat Katolik tidak seharusnya bersikap defensif tentang indulgensi. Indulgensi berdasar pada prinsip-prinsip yang langsung dari Kitab Suci, dan kita dapat yakin bukan hanya bahwa indulgensi ada, tetapi karena indulgensi itu berguna dan layak diperoleh.

Paus Paulus VI menerangkan,”Gereja mengundang semua anaknya untuk merenungkan dan mempertimbangkan dengan seksama betapa penggunaan indulgensi memberikan manfaat bagi hidup mereka dan semua masyarakat Kristiani… Ditopang oleh kebenaran ini, Bunda Gereja Kudus menganjurkan lagi praktek indulgensi bagi umat beriman. Telah menjadi jelas bagi orang-orang Kristen selama berabad-abad maupun pada masa sekarang ini. Pengalaman membuktikannya.”[Indulgentarium Doctrina 9,11]

NB:
Pahala mengacu kepada yang secara metafora dikenal sebagai “perbendaharaan jasa”. Jasa adalah segala sesuatu yang menyenangkan Allah dan menggerakkan dia untuk memberikan pahala, bukah hal mendapatkan “upah” dari Tuhan. Manusia tidak dapat memperoleh apa pun dari Tuhan, walaupun oleh rahmat-Nya manusia dapat menyenangkan Tuhan dengan cara yand Dia pilih untuk memberi pahala. Membayangkan perbuata-perbuatan para kudus dibawah sebuah metafora kolektif(seperti sebuah perbendaharaan) adalah biblis:”Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!”(Why 19:8). Yohanes memberitahu kita,”Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.” Perbuatan-perbuatan yang benar dari para kudus dibayangkan dibawah metafora kolektif dari pakaian pada Mempelai Kristus, Gereja. Teologi Yahudi juga mengenal suatu perbendaharaan jasa. Para teologian Yahudi berbicara tentang “jasa-jasa para bapa”, gagasan bahwa para leluhur(bapa-bapa bangsa) menyenangkan Allah dan mewariskan janji-janji tertentu sebagai pahala. Allah menggenapi janji-janji-Nya dan akhirnya memperlakukan orang-orang Yahudi dengan lebih lembut daripada seharusnya. Gagasan “jasa para bapa(nenek moyang)” pada intinya sama dengan konsep Katolik tentang “perbendaharaan jasa”. Keduanya mendalilkan keunggulan dari individu-individu, para leluhur Perjanjian Lama di satu sisi dan Kristus beserta para kudus di sisi lain, yang telah menyenangkan Allah dan kepada mereka Allah memberi pahala dalam suatu cara yang menyertakan pengurangan hukuman sementara pada orang-orang lain.

Bagaimana mendapatkan Indulgensi 

Untuk mendapatkan indulgeni kamu haruslah:
(1)seorang Katolik
Kamu harus menjadi Katolik supaya berada dibawah yurisdiksi Gereja.

(2) Dalam keadaan rahmat.
Karena terpisah dari rahmat Allah, pada dasarnya tak satupun dari perbuatanmu menyenangkan Tuhan(berjasa).

(3) Kamu setidaknya harus mempunyai minat(kehendak) untu memperoleh indulgensi dengan melakukan perbuatan yang diperlukan.

(4) Untuk mendapatkan indulgensi sebagian, kamu harus melaksanakan dengan hati penuh sesal perbuatan yang mendatangkan indulgensi.

(5) Untuk mendapatkan indulgensi penuh kamu harus melakukan perbuatan dengan hati penuh sesal ditambah pengakuan dosa(satu pengakuan dosa bisa untuk beberapa indulgensi penuh), menerima Komuni Suci, dan berdoa untuk ujud-ujud paus(mendoakan satu kali Bapa Kami dan Salam Maria cukup untuk ujud-ujud paus, meskipun kamu bebas menggunakan doa yang lain). Syarat terakhir, kamu harus bebas dari semua dosa, termasuk dosa ringan. Karena sangat sulit untuk bebas dari dosa ringan, indulgensi penuh jarang diperoleh. Jika kamu berusaha mendapatkan indulgensi penuh, tapi karena tidak memenuhi syarat terakhir, maka indulgensi sebagian yang diperoleh.

Dapatkah Kita Menebus Dosa-dosa kita – Apa makna “Penebusan”? 

Beberapa orang mengkritik indulgensi, dengan mengatakan bahwa indulgensi melibatkan peran kita dalam “penebusan” untuk dosa-dosa kita, sesuatu yang hanya dilakukan Kristus. Walaupun hal ini terdengar seperti pembelaan yang baik terhadap kecukupan penebusan Kristus, kritik ini tidak berdasar, dan kebanyakan yang melakukannya tidak mengetahui makna kata “penebusan” atau bagaimana indulgensi bekerja.

Sarjana Kitab Suci dari Protestant Leon Morris berkomentar atas kebingungan seputar kata “penebusan”:”Kebanyakan dari kita…tidak memahami ‘penebusan’ dengan baik…Penebusan adalah…membayar kerugian atas suatu kesalahan… Penebusan adalah sebuah kata yang tidak mengenai orang tertentu; orang menebus dosa atau kesalahan”(Penebusan[Downers Grove: InterVarsity, 1983], 151). Ensiklopedia Wycliff Bible memberikan definisi yang serupa:”Gagasan utama dari penebusan bertalian dengan perbaikan atas suatu kesalahan, pemuasan dari tuntutan keadilan melalui pembayaran suatu hukuman.”

Istilah yang digunakan dalam definisi-definisi ini(penebusan, pelunasan, perubahan, perbaikan) pada dasarnya memiliki arti yang sama. Melakukan penebusan atau pelunasan atas dosa adalah melakukan perubahan atau perbaikan atasnya. Ketika seseorang membuat perbaikan, dia mencoba memperbaiki situasi yang disebabkan oleh dosanya.

Tentu ketika berurusan dengan efek kekal dari dosa kita, hanya Kristus yang mampu merubah atau memperbaiki. Hanya Dia yang dapat membayar harga yang tak terhingga yang perlu untuk menutupi dosa-dosa kita. Kita sama sekali tidak dapat melakukannya karena kita adalah ciptaan yang terbatas yang tidak mampu membuat pelunasan yang tak terbatas(atau suatu apa pun yang tak terbatas), tetapi karena segala yang kita miliki diberikan Tuhan kepada kita. Karena kalau kita mencoba memuaskan keadilan kekal Allah, itu ibarat menggunakan uang yang kita pinjam dari seseorang untuk ganti rugi apa yang telah kita curi darinya.

Sebenarnya tidak ada pelunasan yang akan cukup(Mzm 49:7-9; Yak 41:11; Rom 11:35). Ini tidak berarti kita tidak dapat membuat perubahan atau perbaikan atas efek sementara dari dosa-dosa kita. Jika seseorang mencuri sebuah barang, dia dapat mengembalikannya. Jika seseorang menghancurkan sebagian barang milik, dia dapat mengganti rugi kepada pemilik atas kerugiannya. Semua itu adalah cara-cara yang melaluinya orang dapat setidaknya membuat perbaikan(penebusan) sebagian atas apa yang telah dia lakukan.

Itu adalah cara-cara yang dapat diharapkan dalam membuat kompensasi, bahkan pengeritik yang paling tajam sekalipun mengakuinya. Jika saya telah bersalah terhadap orang lain, maka, aku harus menebusnya, atau setidaknya mencoba menebus kesalahan terhadap orang yang kepadanya aku telah bersalah. Untuk membuat perbaikan penuh tidak cukup hanya mengembalikan apa yang telah diambil atau dirusak, tetapi juga mengganti kerugian pemilik atas waktu yang telah hilang dan hal yang telah dilukai. Dalam kasus keuangan, hal ini diselesaikan dengan membayar bunga.

Ilustrasi biblis yang baik sekali tentang prinsip ini terdapat dalam Imamat 6:1-7 dan Bilangan 5:5-8, yang memberitahu kita bahwa pada masa Perjanjian Lama, si peniten harus membayar lebih 20% sebagai tambahan pada nilai barang yang dia curi atau rusak. (Ini diterapkan kepada peniten yang dengan sukarela memberi kompensasi; pencuri yang tertangkap harus membayar kembali dua kali lipat dari nilai barang yang dicuri [Kel 22:1-9].)

Artikel tersebut diterjemahkan oleh member ekaristi.org curiosa disini (silakan klik)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: