Diam, Cinta, dan Pengampunan.

Pada artikel sebelumnya (Diamnya Yesus dan Maria) saya bertanya mengapa Tuhan kita diam ketika hati-Nya ditusuk-tusuk oleh fitnah yang dilemparkan saat Ia berada di hadapan Pilatus.

Sekarang saya mengerti mengapa Yesus hanya diam.

Mengapa Ia diam saja? Karena Yesus tahu dengan pasti bahwa mereka, yang melemparkan berbagai fitnah dan tuduhan palsu itu, adalah orang-orang yang lebih menyukai kebenaran versi mereka sendiri. Mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka yakini sebagai kebenaran sebenarnya hanyalah ilusi, imajinasi, dusta, kesalahan, yang kemudian mereka yakini sebagai kebenaran. Begitu yakinnya mereka terhadap hal ini sehingga mereka menutup telinga, pikiran dan hati mereka terhadap Kebenaran yang sesungguhnya. Hal ini semakin diperparah dengan kebencian yang ditunjukkan kepada diri Yesus.

Yesus mengetahui hal tersebut, dan Ia pun tahu bahwa bila Ia mengucapkan sepatah kata pun, perkataan-Nya akan dijadikan senjata untuk menghancurkan diri-Nya. Dengan demikian, tindakan berbicara, menyatakan dan membela kebenaran pada akhirnya menjadi hal yang sia-sia.  Oleh karena itulah, maka diam sesungguhnya merupakan pilihan yang tepat.

Tapi, apakah diam itu hanya berarti upaya untuk menjaga diri agar tidak dijatuhkan kembali?

Diam-Nya Yesus, bagi saya tampak merupakan sebuah ungkapan kesedihan yang tak terungkapkan. Siapa yang tidak akan sedih, bila kepadanya dilemparkan tuduhan dan fitnahan yang tidak benar, yang berasal dari orang yang Ia cintai? Apakah ada hal yang lebih menyakitkan daripada dituduh secara keliru atau difitnah oleh orang yang sangat kita cintai?

Yesus adalah Allah, dan hanya Allah yang mampu mencintai kita dengan sempurna. Tapi Yesus juga sungguh manusia, dan Ia bisa merasakan kesedihan, perasaan tersakiti, ketika orang-orang yang ia cintai dengan sempurna menjatuhkan diri-Nya.

Namun karena Ia adalah Allah, Ia memiliki kasih dan kerahiman yang berlimpah atas orang yang memfitnah-Nya, atas diri kita. Ia siap untuk mengampuni siapapun yang bertobat dan meminta maaf kepada-Nya. Bahkan, mungkin ketika orang tersebut tidak mengucapkan maaf, Ia sudah terlebih dahulu mengampuni mereka. “Tuhan, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”

Tapi apakah kita bisa terlebih dahulu mengampuni orang yang memfitnah kita?

Tuhan Yesus, pengampunan yang Engkau berikan sangat sulit untuk kami lakukan dalam kehidupan kami. Kami ini lemah, kami bukan Allah seperti Engkau yang selalu mencintai dan mengampuni.

Tetapi kami akan terus mengupayakannya, karena jalan-Mu juga adalah jalan kami. Jalan salib-Mu itu sulit, terjal, dan berbatu, namun Engkau mampu melaluinya. Kami percaya bahwa Engkau juga akan memampukan kami untuk melaluinya, walaupun harus terjatuh berkali-kali.

Tuhan, ajarilah kami untuk tetap diam ketika kami difitnah, tetap mencintai walaupun dibenci, dan selalu mengampuni walaupun kami tidak mendengar kata maaf dari sesama kami. Amin.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: