Pikullah Salibmu, Kenakanlah Mahkota Durimu

Tulisan ini adalah refleksi pribadi saya saat saya sedang mendoakan Rosario, peristiwa sedih. Pada peristiwa sedih yang ketiga, yaitu saat Yesus dimahkotai duri, mulai muncul pemikiran yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.

Ketika saya merenungkan kembali perjalanan Yesus memanggul salib ke Golgota, saya mengingat bahwa terdapat tiga hal yang menemani Yesus dalam perjalanan: Salib, Mahkota Duri, dan Simon dari Kirene. Ketiga hal tersebut berada sangat dekat dengan pribadi Yesus. Selain itu, saya juga memahami bahwa jalan Yesus menuju Golgota bukanlah jalan yang ringan dan tanpa halangan. Jalan Yesus, bagi saya merupakan jalan cinta, dimana akan ada hal-hal yang merintangi seseorang menuju kepada cinta yang sejati, yang sempurna, yang adalah Allah sendiri. Pada saliblah, Yesus memberikan diri-Nya sebagai bukti cintanya kepada kita.

Terdapat tiga sumber godaan, yaitu dunia, iblis dan kedagingan kita (the world, the devil, the flesh). Godaan inilah yang dapat membuat kita jatuh dalam dosa. Dalam perjalanan Yesus, saya memahami bahwa bisa saja terdapat tiga hal yang membuat Yesus terjatuh: Cambukan prajurit Romawi, jalan yang terjal dan berbatu, serta kondisi fisik dan mental yang melemah setelah mengalami berbagai siksaan. Dan ketiga hal tersebut berhubungan dengan tiga sumber godaan yang dialami manusia:

  • Dunia – Jalan yang terjal dan berbatu, menggambarkan kehidupan seorang Kristiani yang tidak dapat dipisahkan dari penderitaan.
  • Iblis – Prajurit Romawi yang mencambuk Yesus ditengah perjalanan, menggambarkan penganiayaan yang dialami mereka yang menegakkan kebenaran ilahi.
  • Kedagingan –  Kondisi fisik dan mental yang melemah setelah mengalami berbagai siksaan, sehingga membuat seseorang tidak mampu memikul salib dan terjatuh. Hal ini dapat melambangkan adanya kecenderungan kepada dosa dalam diri manusia sebagai akibat dari dosa asal. Akibatnya, manusia harus terus menerus berperang terhadap godaan dari dalam dirinya, yang akan menjatuhkan ia ke dalam dosa.

Nah, itulah hal-hal yang menemani kita selama kita melakukan perjalanan menuju “Kalvari” kita, untuk menyalibkan manusia lama kita yang penuh dosa, sebagai bukti pemberian diri kita kepada Allah dan kesediaan untuk menjadikan Kristus hidup dalam diri kita. Seperti yang dikatakan St Paulus “Hidupku adalah Kristus”, “Bukan lagi aku yang hidup di dalamku, melainkan Kristuslah yang hidup di dalamku”.

Saya teringat juga perkataan Yesus “Pikullah salibmu, dan ikutilah Aku”. Kita tahu bahwa salib sangat dekat dengan Kristus, tapi saya melihat ada satu lagi yang juga sama dekatnya seperti salib : yaitu mahkota duri Kristus.

Tapi mengapa Kristus tidak mengatakan untuk mengenakan mahkota duri kita? Tidak terdapat ayat tersebut dalam kitab suci, tapi bisa saja Yesus pernah mengatakannya namun tidak tercatat, toh tidak semua hal yang dilakukan Yesus dapat dicatat, demikian kata Yohanes.

Bisa saja mahkota duri itu special – eksklusif hanya untuk Kristus. Tapi bila kita mencintai Kristus, bukankah kita juga ingin menyerupai Dia yang disalib? Bukankah kita juga ingin mengikuti contoh yang Ia berikan?

Mahkota – melambangkan sebuah kekuasaan, kedudukan yang tinggi, kehormatan, yang dikenakan oleh sang Raja. Tapi mahkota duri memberikan makna yang berbeda.

Kita tahu bahwa Yesus adalah Raja Semesta Alam. Dan kita juga tahu bahwa Sang Raja berinkarnasi, menjadi manusia, sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Inkarnasi ini sendiri melambangkan kerendahan hati sang Raja, serta cinta-Nya bagi manusia sehingga Ia berkehendak melaksanakan kehendak Bapa.

Ia berkata “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. lagi kita melihat ungkapan kerendahan hati yang mendalam.

Mahkota duri yang Ia kenakan – tampak bagi saya melambangkan bahwa seseorang tidak seharusnya mengejar kehormatan, kekuasaan, dan kedudukan yang tinggi ataupun kekayaan berlimpah seperti seorang raja.

Mahkota duri dapat juga menjadi penanda, yang membedakan orang Kristiani sebagai warga Kerajaan Allah, dengan orang-orang yang menjadi bagian dari kerajaan manusia. Kita ada di dunia, namun bukan berasal dari dunia. Kerajaan Allah tidak berasal dari dunia ini. Oleh karena itu, mahkota duri dapat selalu mengingatkan kita bahwa kita adalah seorang peziarah yang sekedar mendirikan kemah di bumi. Kita adalah orang asing di dunia, dan terus melakukan perjalanan dan peperangan rohani menuju kerajaan Allah, menuju persatuan dengan Allah.

Mahkota duri melambangkan seseorang yang mau menderita demi orang lain. Seseorang yang mau melaksanakan kehendak Allah. Seseorang yang mau mencintai manusia, sampai memberikan diri-Nya di salib sebagai bukti cinta-Nya. Seseorang yang walaupun sering jatuh – tetap percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan-Nya.

Mahkota duri melambangkan mahkota seorang Raja, Raja yang pernah melakukan semua hal diatas.Dan hanya dia yang melakukannya dengan sempurna. Hanya Yesus, bukan yang lain.

Karenanya, walau kita hanya memiliki catatan tertulis dari perkataan Yesus, “Sangkallah dirimu, pikullah salibmu dan ikutilah Aku”. Mungkin, bisa saja Yesus pun berkata “Jangan lupakan mahkota durimu. Ambillah dan kenakanlah di kepalamu”.

Kita tidak pernah sungguh merasa sendirian karena ditinggalkan. Kita memiliki Allah. Kita memiliki Bunda Maria dan Para Kudus. Kita mungkin sudah memikul salib kita masing-masing.

Sekarang, siapkah kita mengambil dan mengenakan mahkota duri kita, menjadikannya teman dalam perjalanan di dunia ini?

One comment

  1. Jacinta · · Balas

    Saya merasa tersentuh sekali dengan misteri sedih pertama, dimana Yesus berdoa kepada Bapa di Surga dalam sakratul maut. Seperti yang tertulis dalam Markus 14:32-36. Di dalam misteri itu nampak sekali kemanusiaan nya Tuhan Yesus Kristus. Betapa Yesus merasakan suatu ketakutan yang amat sangat harus menghadapi semuanya itu, sampai-sampai Yesus memohon kepada Bapa, sekiranya mungkin ambillah cawan ini dari padaku.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: