Soegija : The Untold Story + Komentar.

Sejak 7 Juni 2012 Film Soegija yang mengisahkan tentang Uskup pribumi pertama, Mgr. Soegijapranata SJ. Film tersebut bercerita tentang perjuangan yang dilakukan sang uskup saat Indonesia hendak mempertahankan kemerdekaannya. Sebelum saya memberikan penilaian tentang film ini, saya ingin sedikit menuliskan tentang kisah masa kecil Soegija yang tidak terdapat di film tersebut.

Soegjia awalnya bukanlah seorang katolik. Keluarganya beragama Islam. Pada umur 13 tahun, ia datang ke Kolose Fransiskus Xaverius hendak menimba ilmu di sebuah sekolah katoik. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi seorang katolik. Awalnya orang tuanya agak ragu mendengar keinginannya untuk bersekolah di sekolah katolik, namun toh mereka tetap mengijinkannya.

“Saya hanya mau belajar untuk menjadi guru disini. Tidak mau masuk kristen” – Soegija, diucapkan ketika bertemu dengan Romo Frans van Lith dan rektor kolese, Pater J.A.A. Martens

Kita melihat bagaimana Soegija dengan berani menyatakan keinginannya. Dan akhirnya ia pun dibebaskan dari pelajaran agama katolik dan ibadat katolik.

Pertobatan Menjadi Katolik

Suatu hari Soegija menghadap Pater Mertens dan menyatakan keinginannya untuk mengikuti pelajaran agama. Tentu orang tuanya tidak mengijinkan, namun saat itu Soegija berargumen kepada Pater Mertens bahwa ia mengikuti pelajaran agama karena pelajaran tersebut merupakan bagian dari sistem pendidikan, jadi ia akan mengikuti pelajaran agama bukan sebagai calon baptisan. Pater Mertens pun mengijinkannya.

Lalu setelah beberapa waktu, Soegija datang kembali kepada Pater Mertens dan meminta ijin untuk dibaptis. Pater tersebut berkata bahwa ia memerlukan ijin orang tuanya, namun ia menolak.  Akhirnya ia pun dibaptis pada usia 14 tahun, dengan nama baptis Albertus.

Ini adalah titik awal perjalanan Soegija sebagai orang katolik, keluarga Gereja. Ini adalah awal perjalanan yang akan menuntunnya menjadi Uskup Pribumi pertama.

Beberapa tahun kemudian, Soegija memutuskan untuk menjadi imam. Ini adalah alasan mengapa ia ingin menjadi imam :

“Keputusanku untuk menjadi imam itu karena didorong untuk mengabdi bangsa. Saya telah mencari beberapa kemungkinan profesi, tetapi tidak ada yang lebih memungkinkan untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus untuk mengabdi bangsa selain menjadi imam”

Ya, inilah salah satu bagian hidup Soegija yang terpenting, yang belum diceritakan dan mungkin jarang diketahui banyak orang.

Perjuangan Soegija

Kita tahu bahwa Soegija melakukan berbagai upaya, seperti menghubungi Vatikan agar kemerdekaan Indonesia diakui, menghubungi Syahrir untuk membangun pemerintahan darurat, gencatan senjata yang mengakhiri perang 5 hari di Semarang, serta dipindahkannya Keuskupan Semarang ke Jogja untuk mendukung pemerintahan RI. Namun sayangnya kita tidak mengetahui seberapa signifikan upaya tersebut saat itu (apalagi mengenai pemindahan keuskupan, tidak tergambar apa dampaknya pemindahan keuskupan terhadap perjuangan).

Komentar Terhadap Film Soegija

Kesan pertama saya setelah menonton film ini : Ini bukanlah film yang sungguh katolik, dalam arti sangat sedikit pesan-pesan katolik yang tersampaikan. Kalau Soegija terkenal dengan motto “100% Indonesia, 100% Katolik”, maka film ini dapat dikatakan “100% Indonesia, 3% Katolik”. 

Pertama kali saya mendengar rencana pembuatan film ini, saya berharap bahwa film ini akan menjadi film yang sangat katolik. Film yang kalau orang menontonnya, akan memunculkan rasa bangga terhadap Gereja Katolik dan dunia perfilman katolik di Indonesia. Sayangnya saya tidak merasakan hal tersebut.

Film ini tak lain hanya menggambarkan tentang perjuangan dalam menegakkan nilai kemanusiaan, yang kebetulan (baca : dengan Penyelenggaraan Ilahi) melibatkan seorang Uskup. Saya tidak akan mengkomentari aspek kemanusiaannya, melainkan saya ingin menekankan tentang aspek katolisitas film ini.

Bila kita menonton film ini tanpa mengetahui masa kecil Soegija, kita tidak akan tahu apa alasannya ia mau ikut berjuang demi Indonesia. Kita hanya mendapatkan gambaran seorang Nasionalis, yang mungkin tidak ada bedanya dengan tokoh nasionalis lainnya. Padahal, kita tahu bahwa Soegija berjuang untuk memuliakan Allah. Inilah aspek katolisitas yang tidak ada di film, padahal pernyataan Soegija diatas merupakan sebuah perkataan penting untuk memahami alasan dibalik perjuangannya. Semua orang bisa berjuang untuk bangsa, tapi saya yakin hanya sedikit yang bersedia mewujudkan pengabdian demi kemuliaan Allah dengan menjadi seorang imam.

Isu tentang kristenisasi sempat beredar sebelum film ini tayang. Namun sayangnya, mungkin pihak pembuat film memutuskan untuk tidak memasukkan kisah masa kecil Soegija demi alasan toleransi, agar tidak ada agama tertentu yang merasa “tersinggung”. Atas nama toleransi, kebenaran disembunyikan. Benar atau tidak, saya tidak tahu. Silakan bertanya pada pihak pembuat film. Toh saya sekedar berasumsi.

Aspek katolisitas lainnya adalah Misa Tridentine, Misa yang seharusnya dirayakan pada masa itu. Misa dimana imam dan umat bersama-sama menghadap Tuhan ke Timur, menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa Liturgis yang menyimbolkan kesatuan Gereja, umat menerima Komuni dilidah sambil berlutut, serta adanya Lagu Gregorian yang menambah kesakralan Perayaan Ekaristi.

Awalnya saya sempat berpikir akan melihat Misa Tridentine dalam film ini (secara sebagian, tentu saja, mungkin saat Imam mengangkat hosti yang dikonsekrasi, seperti pada adegan film katolik luar negri yang lain), namun tidak ada. Hanya ada iringan Lagu Gregorian. Yah lumayanlah walaupun tidak jelas juga apa makna diputarnya Veni Creator Spiritus dalam film itu. Bagian ini tetap menjadi bagian favorit saya, walaupun hanya Veni Creator Spiritus dan sedikit pembukaan dari Litani Dei Sancti (hanya bagian Kyrie Eleison – Tuhan Kasihanilah kami) yang dinyanyikan.

Kisah Tokoh fiktif lainnya menggambarkan nilai-nilai kemanusiaan dengan baik, tapi sayangnya tidak satupun yang menunjukkan nilai kekatolikan secara eksplisit. Adegan Mariyem dan perawat menolong korban, menurut saya, bisa dimasukkan nilai-nilai Kristiani. Kalau saya meminjam spiritualitas Mother Teresa, para perawat, terutama Mariyem dan yang lainnya, bisa menunjukkan kepedulian mereka terhadap korban. Bahwa mereka adalah Kristus yang tersamar, yang membutuhkan kasih sayang karena penderitaan, yang memerlukan penghiburan karena ditinggalkan sanak saudara yang hilang atau meninggal karena perang. Semua dilakukan karena mereka melihat Kristus dalam diri korban. Pertolongan dan kepedulian yang mereka berikan dilakukan demi cinta kepada Kristus. “Apa yang kamu lakukan bagi yang hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku”. Menurut saya, adegan yang menekankan nilai katolik seperti ini tentu lebih baik daripada memasukkan adegan percintaan antara perempuan Jawa dan pria Belanda.

Kehidupan beragama tidak lepas dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekatolikan harus diekspresikan dalam kehidupan nyata. Namun sayang, adegan yang sebenarnya bisa dibilang sangat katolik (seperti “Penggal dulu kepala saya, baru tuan bisa memakainya”, “Saya ibu dari semua yang ada disini”) sudah baik, tapi kok terasa tanggung. Kurang menggigit.

Ketiadaan nilai-nilai katolisitas bisa saya pahami, selain karena Mas Garin bukanlah seorang katolik, merebaknya isu kristenisasi tentu membuat pihak pembuat film tidak bisa mengekspresikan nilai katolisitas dengan bebas (dan memang film ini tidak bermaksud dijadikan film agama, jadi ya memang tidak bisa berharap banyak)

Saya berikan nilai 3,5 dari 5 untuk film ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap upaya pembuatan film ini. Awal yang cukup baik, walau masih jauh dari sempurna. Semoga saja nanti akan ada generasi muda katolik yang mau terjun di dunia perfilman, yang berani mengekspresikan nilai kekatolikan melalui karyanya.

Daftar Pustaka

Utami, Ayu. (2012). Soegija : 100% Indonesia. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

13 komentar

  1. John de Britto · · Balas

    Huruf tebal berasal dari Cornelius

    Film Soegija ini menampilkan wajah Katolik dengan cerdas… Gaya simbolik dan puisi-puisi gambarnya sudah sarat dengan ungkapan keindahan nilai katoliknya. Bagaimana menggambarkan kehidupan tokohnya juga sangat natural… kalau di inject dengan nilai kekristenan yang seperti penulis inginkan rasanya jadi tidak natural [Masa? Bagi saya, adegen percintaan pada film itu sangat tidak natural..sedangkan seorang Uskup ataupun umat katolik, bila ia berjuang berdasarkan nilai2 yang terdapat dalam Injil, maka hal ini akan terlihat sangat natural]… katolik itu tampil sebagai manusia apa adanya, tampil sangat manusiawi, semakin ilahi semakin manusiawi, tidak perlu nilai katolik dipaksakan menjadikan kita berbeda dengan yang lain [Bukan dipaksakan, tapi toh dimasukkan ke dalam film. Apakah kisah cinta Mariyem dan hendrick itu akan saya katakan dipaksakan? Toh itu tergantung siapa yang membuat filmnya]. Kalau toh akhirnya ‘apa bedanya dengan pahlawan2 yang lainnya?’ itu sudah terjawab di film itu “Min, aku ini belum apa-apanya dibandingkan dengan Soekarno, Jend. Sudirman, Sultan HBIX…..” ucapan itu bagi saya sudah sangat katolik… [Ya, tapi kita tidak mendapatkan alasan yang religius kenapa Ia merasa “belum apa-apanya”. Pesan yang dibutuhkan harus lebih mendalam, bukan sekedar hal yang tampak dari permukaan]
    Menurut saya, film ini dengan keterbatasan durasi yang ada, memang dibuat untuk sekedar menstransfer semangat, semangat apa? ya yang utama adalah semangat kebangsaan yang bhinneka Tunggal Ika sebagai wujud kerajaan Allah dalam konteks dimana kita hidup. Selanjutnya kalau ingin mengenal detail segala hal tentang Romo Kanjeng monggo beli bukunya, cari literaturnya [Film memang tidak harus detail, tapi kenapa bagian seperti masa kecilnya Soegija serta alasannya menjadi imam tidak ditampilkan? Silakan direnungkan]…. film hanyalah salah satu media yg terkait dengan media2 yang lainnya…. GBU

    1. John de Britto · · Balas

      cerita Mariyem itu menarik serta membawa nilai yang religius, tinggal cara memandangnya, karena segalanya pasti tidak terlepas dari unsur subyektivitas (am i right?).

      Melihat dari rangkaian babak cerita dari Mariyem, tergambarkan sosok dia yang ingin bercita-cita menjadi perawat. Apa alasan dia ingin jadi perawat kita ndak tahu… toh ini hanya fiksi. Saya lebih suka menerjemahkannya dengan gaya manusiawinya saya bahwa alasannya jaman itu mungkin satu-satunya jalan untuk seorang wanita ikut andil dalam perjuangan, bisa juga dibuat karena dorangan Kasih Kristus untuk melayani sesama, tapi saya lebih memilih alasan pertama.

      Impian itu dirajut dengan dukungan sang kakak, satu-satunya anggota keluarga yang ada. Namun sayang sang kakak harus pergi demi perjuangan bangsa dan tidak melihat dia mencapai cita-citanya. Muncullah Hendrich yang mengaguminya… lalu jatuh cinta… sebuah kondisi yang sangat natural dimana cinta hadir bagi siapa saja, dimana saja dalam kondisi apa saja. Cinta ini bukan bumbu-bumbu picisan dalam sebuah film.
      Justru dari rasa kagum Hendrich dan usaha mendekati Mariyem, terungkap… ternyata Mariyem menyimpan kemarahan besar di dirinya, ironis… karena tugas dia melayani sesamanya dan bangsanya namun dia masih dalam kegalauan dan kelabilan… dia menjadi sangat sensitif…

      lebih tragis lagi ketika kenyataannya bahwa Maryono pergi selamanya tanpa menyaksikan bagaimana dia saat ini menjadi perawat yang melayani sesamanya… kepada siapa kebanggaannya dia tunjukkan…

      puncaknya adalah sendika romo kanjeng ‘…..disini semua adalah pasien’… ini menjadi momen kebangkitan rohani dimana dulu dia risih dipanggil maria…. sekarang dengan lantang menyatakan Maria dan ibu dari semua yang ada disini… ini momen kebangkitan dia dari meninggalkan kemarahan, kegalauan dan kelabilannya menjadi total pengabdian dirinya sebagai gereja (Maria) dan ibu dari semua yang ada disini (kebangsaan yang bhinneka tunggal ika)….

      Ini sangat relijius, sangat katolik dan ini spirit Soegija yang dalam…

      Ini mengingatkan saya gaya perumpaan-perumpaan Yesus yang serta merta tidak menonjolkan atribut relijius dengan kutipan2 taurat namun lebih membumi dengan penggambaran biji sesawi, tuan tanah dan lain-lainnya…

      Memang akhirnya, jujur… saya ingin juga melihat penggambaran Soegija dari kecil hingga perjuangannya…. seperti juga keinginan saya terhadap Yohannes penginjil penulis favorit saya menceritakan Yesus dari kecil hingga kematiannya….

  2. Kayaknya sulit untuk bisa menunjukkan nilai2 katolisitas di dalam film. Yg ada nanti filmnya malah dikecam dan dicekal karena dituduh Kristenisasi oleh sebuah ormas yg sudah sangat terkenal di negara kita akan perannya dalam mencoreng nama baik bangsa di dunia internasional…

  3. Febrina Widihapsari · · Balas

    Reblogged this on Febrina Widihapsari.

  4. Jan L · · Balas

    Tidak semua tapak sejarah bisa di”sinema”kan…butuh simbol2 utk mewakili tapak2 itu…”Soegija” adalah prolog tentang Soegijapranata…jika ingin tahu lebih lanjut silahkan cari sendiri, karena tidak mungkin film itu merangkum semua…..

  5. Sbenarx film Soegija ini tdk mampu m’ekspresikn sosok Soegija. Pd awalx sy bharap nasionalis dr film ini, bukan nilai katolikx. Sy bharap kkagumn Bung Karno thd monsinyur tcinta shingga mnyebabkn BK mnyematkn ‘pahlawan nasional’ dpt djabarkn d film ini. Mgk pcakapn intelektual kbangsaan k2 tokoh negarawan tsb. Tapi sy tkecewakn krn adegan tsb hy skilas iklan blaka. Ato ktika bbicara ttg pngakuan Vatikan akan kdaulatn RIpun hy seiklan komersial tv. Shrsx dberikn screen bgmana usaha monsinyur tsb brusaha ttg hal tsb. Yg paling dominan itu romantisme Mariyem dgn fotografer Belanda yg tdk ada hub dgn monsinyur. Shrsx adegan lbh dfokuskn akan kkaryaan Mgr Soegija. Sy sungguh kecewa atas film karya Garin ini yg tdk bs m’eksploitasi humanisme knegaraan romo Soegijapranoto

    1. Jan L · · Balas

      Menurut Garin “Soegija” hanya prolog utk mengenal Soegijapranata. Sangat logis jika film tidak pernah memuaskan semua pihak..karena bahasa gambar tidak akan pernah bisa merangkum seluruh kejadian sejarah hidup Soegija….

    2. Jan L · · Balas

      Sutradara dan produser pasti sudah berdiskusi bagian hidup yg mana yg akan diangkat…dan dalam kapasitas apa Soegija digambarkan dlm sinema ini. Itu jelas terlihat jika anda lihat poster film ini di bioskop..ada tulisan (kira2, sy lupa persisnya) bahwa film ini dibuat utk memperingati kebangkitan nasional. Jadi jelas sudah kalo gambaran Soegija yg spt apa yg diangkat oleh produser dan sutradara…yaitu Soegija sbg pahlawan nasional…bukan sekedar tokoh gereja. Spt kata Garin ini cuma prolog utk mengenal Soegija…Bagi saya dialog dan monolog di film ini jadi kekuatan yg luar biasa. Dg makna yg dalam, meski alur filmnya lambat dan sederhana, kamera terlalu statis..hingga gambar yg dihasilkan terkesan tidak maksimal.

  6. mau tanya Katolisitas menurut luxveritatis7 itu kaya apa sih? padahal film Soegija menurut saya sarat katolisitas yang simbolik.

    1. Sederhana saja : Yang saya maksudkan adalah keberanian untuk menampilkan nilai katolisitas yang berakar pada Kitab Suci secara eksplisit. Bukan sekedar nilai-nilai universal yang ada pada setiap agama. Contohnya, adegan dimana para perawat menolong para korban. Apakah mereka menolong karena kewajiban saja, atau menolong karena mereka melihat Kristus pada diri korban ? Padahal kan bisa saja dimasukkan dialog yang menunjukkan hal tersebut. Ada banyak pesan katolik yang bisa disampaikan, semua bisa dipilih sesuai alur cerita yang dibuat. (Btw apakah anda menemukan nama Yesus terucap dalam film? Mengapa ada nama Bunda Maria, tapi tidak ada nama Yesus?).

      Kalau film ini banyak kisah yang fiktif, mengapa tidak membuat fiksi yang menunjukkan nilai katolik yang eksplisit? atau sebuah kisah yang menunjukkan heroisme, daripada sekedar kisah cinta perempuan Jawa dan pria Belanda?

  7. ricardo alfonsius · · Balas

    Sabtu, 9 Juni 2012 saya menonton film “Seogija”. awalnya saya juga berpikir bahwa akan lebih banyak aspek kekatolisitas terhadap perjuangan Negara Indonesia. meskipun demikian setelah menonton film ini ada harapan semoga Puskat Semarang atau lembaga katolik lainnya akan menghadirkan film sejenisnya yang lebih menonjolkan kekatolisitas terhadap perjuangan Indonesia.

    1. Ya, tentu kita berharap agar nilai2 katolisitas bisa lebih banyak ditampilkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya melalui dunia perfilman.

    2. Jan L · · Balas

      Mengutip kata2 Garin di Ciwalk Bdg, hari Minggu, 10 juni….”Soegija” adalah prolog tentang Soegijapranata..sedang tokoh2 disekilingnya menggambarkan keadaan dimasyarakat saat itu. Jd jika ingin menonjolkan aspek Kekatolikannya..bisa dipertimbangkan utk buat serial sinetronnya, atau dokumenter ala BBC channel atau Histiory Channel. Kalo mengharapkan “Soegija” saja kayaknya tdk mungkin, salah satunya krn budget, waktu utk pembuatan, dan durasi film yg terbatas. Di poster film tersurat dg jelas kalo “Soegija” dibuat dlm rangka Kebangkitan Nasional…jadi peran Soegija dlm perjuangan (kepahlwanan) yg ditonjolkan. Gambaran perjuangannya dpt diliat dr monolognya, dlm beberapa adegan (saat mengunjungi pengungsi, saat memberi surat utk PM, adegan pertemuan wakil Vatikan dg Soekarno yg diiringi tutur kata penyiar radio perjuangan (naratif) yg menjelaskan apa yg terjadi….

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: