Tanya Jawab Bersama Paus Benediktus XVI

“Saya percaya pada Tuhan yang sudah menyenyuh hati saya. Tetapi saya merasa tidak aman. Banyak pertanyaan dan ketakutan ada dalam diri saya. Tidak mudah berbicara tentang Tuhan dengan teman-teman saya; banyak dari mereka yang melihat Gereja sebagai sebuah realitas yang menghakimi kaum muda, yang melawan keinginan mereka untuk bahagia dan mengasihi. Berhadapan dengan penolakan ini, saya merasa semua rasa kesepian saya ini sebagai sesuatu yang manusiawi dan saya ingin merasa dekat dengan Tuhan. Yang Mulia, dalam kesunyian ini, dimanakah Tuhan?” (Pertanyaan diajukan oleh Sara Simonetta)

YA, WALAUPUN KITA ADALAH orang-orang percaya, tetapi kita semua tahu diamnya Tuhan. Dalam Mazmur yang baru saja kita baca, terdapat teriakan keputusasaan ini :”Segeralah menjawab aku, Oh Tuhan…Janganlah menyembunyikan wajah-Mu!” dan beberapa waktu yang lalu sebuah buku tentang pengalaman spiritual Ibu Teresa dipublikasikan, dan apa yang sudah kita semua ketahui ada sedikit fakta lagi yang dengan jelas diperlihatkan : Dengan semua amal kasih dan kekuatan imannya, Ibu Teresa menderita karena diamnya Tuhan.

Di satu pihak, kita harus juga menanggung diamnya Tuhan untuk dapat memahami sesama kita yang tidak mengenal Tuhan.

Di pihak lain, dengan Mazmur kita dapat selalu berteriak kepada Tuhan sekali lagi :”Jawablah aku, tunjukkan wajah-Mu!”. Dan tanpa keraguan, dalam hidup kita, jika hati kita terbuka, kita dapat menemukan saat-saat penting ketika kehadiran Tuhan benar-benar nyata bahkan bagi kita.

Saya sekarang ingat sebuah kisah kecil yang diceritakan oleh Yohanes Paulus II pada Spiritual Exercises (Latihan-Latihan Rohani) yang ia khotbahkan di Vatikan sebelum menjadi Paus. Ia mengenang kembali bahwa setelah perang ia pernah dikunjungi oleh seorang perwira Rusia, seorang ilmuwan yang mengatakan kepadanya, “Saya yakin bahwa Tuhan itu tidak ada. Tetapi, jika saya berada di gunung, dikelilingi oleh keindahan yang penuh dengan keagungan dan kebesaran-Nya, saya juga yakin bahwa Sang Pencipta itu ada dan bahwa Tuhan itu ada.”

Keindahan penciptaan adalah salah satu dari sumber-sumber dimana kita dapat benar-benar menyentuh keindahan Tuhan, kita dapat melihat bahwa Sang Pencipta itu ada, dan baik, dan itu benar seperti yang dikatakan Kitab Suci dalam kisah penciptaan, yaitu bahwa Tuhan memikirkan dunia ini dan membuatnya dengan hati-Nya, kehendak-Nya, dan alasan-Nya, dan Dia mendapati semua ini baik.

Kita juga harus menjadi baik agar mempunyai hati yang terbuka dan merasakan kehadiran Tuhan yang nyata. Selanjutnya, mendengarkan Sabda Tuhan dalam perayaan-perayaan liturgis yang khidmat, dalam perayaan-perayaan iman, dalam musik iman yang agung, kita merasakan kehadiran-nya. Saat ini saya teringat kisah kecil lainnya yang diceritakan kepada saya oleh seorang uskup pada waktu kunjungan ad limina-nya beberapa waktu yang lalu.

Ada seorang wanita yang sangat cerdas. Dia bukan orang kristiani. Ia mulai mendengarkan musik yang luar biasa dari Bach, Handel, dan Mozart. Ia terpesona dan pada suatu hari berkata :”Saya harus mencari sumber dari keindahan ini” dan wanita itu bertobat menjadi umat Kristiani, memeluk iman katolik, karena ia telah menemukan bahwa keindahan ini mempunyai sumber, dan sumber itu adalah kehadiran Kristus dalam hati – ini adalah sebuah pewahyuan Kristus dalam dunia ini.

Dari sini, pesta-pesta iman, perayaan liturgis, tetapi juga Dialog pribadi dengan Kristus : Dia tidak selalu menjawab, tetapi ada saat-saat dimana Dia benar-benar menjawab. Kemudian ada persahabatan, persahabatan dalam iman.

Sekarang ketika kita berkumpul di Loreto sini, kita melihat bahwa iman itu menyatukan, persahabatan membentuk persekutuan teman-teman seperjalanan. Dan kita merasakan bahwa ini semua tidak datang begitu saja dari tetapi benar-benar mempunyai sumber, bahwa Tuhan yang diam itu adalah juga Tuhan yang berbicara, bahwa Dia memperlihatkan diri-Nya dan, yang terutama, kita sendiri dapat menjadi saksi kehadiran-Nya, dan dari iman kita terang benar-benar bersinar juga bagi orang lain.

Maka, saya ingin mengatakan di satu pihak, kita harus menerima bahwa Tuhan itu diam dalam dunia kita ini, tetapi kita tidak boleh menjadi tuli pada perkataan-Nya atau buta pada kehadiran-Nya dalam begitu banyak peristiwa. Kita melihat kehadiran Tuhan, terutama dalam ciptaan-Nya, dalam liturgi yang indah, dalam persahabatan dalam Gereja, dan dalam kehadiran-Nya yang penuh, kita dapat juga memberi terang kepada sesama.

Maka, saya sekarang sampai pada bagian kedua, atau lebih tepat, bagian pertama dari pertanyaan Anda : Sulit untuk berbicara kepada teman-teman tentang Tuhan pada masa sekarang ini, dan mungkin lebih sulit lagi berbicara tentang Gereja, karena mereka melihat dalam Tuhan hanya pembatasan kebebasan kita, yang meletakkan larangan-larangan itu pada kita.

Meskipun demikian, kita harus mencoba untuk membuat Gereja yang hidup terlihat bagi mereka, bukan dengan gagasan Gereja, dengan julukan-julukan yang dikatakan tadi, sebagai pusat kekuasaan, tetapi Gereja sebagai komunitas persahabatan dimana kegembiraan hidup kita tumbuh, meskipun terdapat banyak masalah kehidupan yang dirasakan oleh setiap orang.

Disini, kenangan ketiga muncul di pikiran saya. Saya berada di Brazil, di Fazenda da Esperanca, sebuah komunitas yang besar dimana para pecandu obat-obatan dirawat dan harapan ditemukan lagi, kebahagiaan hidup di dunia ini; dan pemulihan mereka dari keputusasaan menjadi saksi dari arti Tuhan itu ada. Dengan demikian mereka memahami bahwa hidup mereka mempunyai makna, dan mereka menemukan kembali kegembiraan berada di dunia, kegembiraan dalam menghadapi masalah-masalah hidup manusia.

Dalam setiap hati manusia, walaupun terdapat banyak masalah, ada rasa haus akan Tuhan, dan ketika Tuhan hilang, matahari yang memberi sinar dan kegembiraan juga hilang.

Rasa haus akan yang tak terbatas yang ada dalam diri kita juga diperlihatkan bahkan dalam realitas dari obat-obatan : Manusia ingin meningkatkan kualitas hidup, ingin memiliki lebih daripada hidup, ingin memiliki yang tak terbatas, tetapi obat-obatan adalah pembohong, tipuan, karena mereka tidak meningkatkan kehidupan tapi menghancurkannya.

Rasa haus yang luar biasa yang berbicara kepada kita tentang Tuhan dan mengarahkan kita pada jalan yang menuju kepada Dia adalah rasa haus yang benar, tetapi kita harus saling membantu satu sama lain. Kristus datang untuk menciptakan jaringan persekutuan di dunia ini, dimana secara bersama-sama kita dapat saling mendukung satu sama lain dan dengan demikian saling membantu untuk menemukan jalan menuju pada kehidupan dan pemahaman bahwa perintah-perintah Tuhan tidak membatasi kebebasan kita tetapi jalan-jalan yang membimbing kita kepada sesama, kepada kepenuhan hidup.

Marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk membantu kita memahami kehadiran-Nya, menikmati pewahyuan-Nya, kegembiraan-Nya, saling membantu untuk terus maju dalam persekutuan iman, dan dengan Kristus semakin menemukan Wajah Allah yang sesungguhnya, Sang Hidup Sejati.

Dikutip dari Buku “Paus Menjawab!”, halaman 190-194

3 komentar

  1. Edison sembiring · · Balas

    ya.. Tuhan sembuhkanlah kami yg buta, agar kami dapat mendengar Engkau, sembuhkanlah kami yg buta, agar kami dapat melihat Engkau..

  2. Reblogged this on thenmustcoemi.

  3. Yohanes Seandy · · Balas

    Benar sekali.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: