Hanya Yesus – Jalan, Kebenaran dan Hidup

oleh: Marcellino D’Ambrosio, Ph.D

Secara politis bukanlah tidak benar untuk percaya kepada Allah. Hanya selama anda mengakui bahwa semuanya adalah anak-anak Allah, dan bahwa ada banyak, jalan kecil yang sama-sama terhormat menuju kepada Yang Maha Tinggi. Bagaimanapun, sepertinya wajar. Betapa sombongnya  untuk berkata bahwa jalanmu adalah satu-satunya jalan.

Tidak ada sesuatu yang baru dari sikap ini. Pada masa Kerajaan Romawi, tidak ada satu orang pun memiliki masalah dengan orang-orang yang menyembah seorang tukang kayu yang berasal dari Galilea yang mereka percayai adalah Putra Allah. Selama mereka dengan pikiran terbuka menyembah kaisar dan Jupiter, dan juga Patheon. Tapi malahan, mereka percaya apa yang Petrus nyatakan pada bacaan pertama Minggu ini: tidak ada nama lain yang diberikan dibawah kolong langit dimana kita dapat diselamatkan (Kis 4). Bukan Kaisar, atau Jupiter, atau Muhammad, atau Buddha. Karena pikiran tertutup dan arogan seperti ini lah mereka dilempar jadi makanan singa.

Apakah hal ini berarti syahadat iman lain tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan kecuali kebohongan yang dapat dikecam? sama sekali tidak. St. Yustinus Martir (tahun 165) berkata bahwa ada “bibit-bibit kebenaran” berserakan didalam ajaran para filsafat besar. St. Paulus menghormati orang-orang Athena karena kesalehan mereka menyembah Allah yang “tidak dikenal” (Kis 17).

Tapi sekarang kita tidak sedang membicarakan sedikit atau sepotong kebenaran, tapi tentang keselamatan kekal. Penebusan memerlukan lebih dari beberapa ajaran yang baik atau kutipan yang menginspirasi, yaitu, pengorbanan yang sempurna dari kehidupan yang sempurna, sebuah hidup yang nilainya tidak terbatas. Buddha tidak menyerahkan nyawanya kepada pengikutnya. Begitu juga dengan Muhammad. Dan kalau pun mereka melakukan itu, mereka bukanlah “penyelamat” yang memenuhi syarat [yaitu]memiliki hidup yang bebas dari dosa yang nilainya tidak terbatas.

Hanya sang Firman yang menjadi daging yang memenuhi syarat, dan hanya Ia yang berani melakukan itu. Ia adalah, seperti Injil Minggu ini ajarkan, Gembala baik yang mau menyerahkan nyawa-Nya demi domba-Nya. Tetapi Ia bukanlah seorang yang eksklusif; domba-Nya termasuk semua orang yang ingin menjadi salah satu domba-Nya, bahkan mereka yang tadinya memakukan paku di tangan-Nya yang suci. Satu korban untuk semua orang, untuk selama-lamanya.

Apakah ini berarti bahwa jika orang yang tidak pernah mendengar Dia dan terus mengikuti Muhammad atau Buddha mereka pasti menuju ke neraka? Tidak tepat. Karena kita diberitahu bahwa ada “domba-domba lain” yang tidak bersama-sama didalam kawanan tapi juga sebenarnya milik sang Gembala.  Ketika menjawab rahmat yang tersembunyi dari Roh Kudus, mereka telah membuka hati mereka kepada kebenaran dimana pun itu ditemukan, dan mencari untuk melakukan apa yang hati nurani katakan didalam tugas mereka. Mereka bisa saja pengikut Muhammad dan Buddha yang taat karena hati nurani mereka telah mengenali sepercik kebenaran dan kebaikan didalam ajaran dari orang-orang ini, dan mereka lapar pada kebenaran dan kebaikan. Jika mereka Muslim atau Buddha yang baik, lalu meninggal dan diselamatkan, mereka selamat bukan oleh Muhammad atau Buddha, tapi oleh penyelamat satu-satunya, orang yang mau mati demi mereka, Allah yang tidak dikenal yang secara rahasia mereka cari disaat mereka dengan bersemangat membaca Alquran atau merenungkan kebahagiaan nirvana.

Jadi apakah kita tinggalkan saja mereka sendiri karena mereka juga bakal diselamatkan, bukankah begitu? Injil tidak berkata seperti itu. Faktanya adalah mungkin mereka akan diselamatkan, tidaklah berarti hal ini adalah suatu hal yang pasti. Sang Gembala ingin memberi makan domba-Nya dengan makanan yang berharga, dengan makanan yang cukup untuk perjalanan pulang kerumah yang jauh dan sulit. Dan Ia ingin melindungi mereka dari pencuri dan perampok yang menunggu untuk menyerang domba sepanjang perjalanan. Ia dapat melakukan ini jika Ia bisa mengumpulkan mereka kedalam satu kawanan dimana Ia dapat memimpin ke padang rumput hijau dari Kitab Suci, Sakramen dan kekayaan Tradisi dari Gereja Katolik, makanan yang bukan saja untuk bertahan hidup, tapi hidup yang berlimpah (Yoh 10:10). Jadi adalah tugas kita untuk melakukan apa yang kita bisa untuk mengenalkan mereka kepada Sang Gembala, dan membiarkan mereka tahu dimana makanan terbaik yang bisa ditemukan.

Refleksi pada bacaan hari Minggu ke 4 Masa Paskah (Tahun B) – Kis 4: 8-12; Mzm 118:1, 8-9, 21-23, 26, 21; 1Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18

3 komentar

  1. Bagi saya ajaran cinta kasih dari Allah yang diajarkan dan dihidupi oleh Yesus itulah yang harus diikuti dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari. Orang yang mengakui percaya pada Yesus belum tentu melaksanakan ajaran KasihNya,otomatis tidak akan diselamatkan. Tetapi oarang yang tidak mengenal Yesus dan tidak percaya akan Yesus sebagai JUruselamat, bisa diselamatkan bila ia melakukan ajaran cinta kasih dalam hidupnya. Karen saya percaya setiap manusia mempunyai kebaikan yang dianugerahkan oleh Allah. Melalui suara hatinya yang murni dan tulus dan cara hidup yang benar dan suci, ia dapat berjumpa dengan Allah sang sumber kebenaran Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya dan lebih berbahagia lagi adlah orang yang mendengar firmanNYa dan melaksanakan ajaran cinta kasih itu secara nyata dalam hidupnya.

  2. dony · · Balas

    bagaimana caranya agar kita bisa menjadi gembala yang baik????…..

    1. Lakukan apa yang Yesus ajarkan.

      Salam dan doa,

      Andreas

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: