Sikap Hormat Kepada Sakramen Mahakudus

Pada hari Minggu tanggal 15 April 2012 Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius di Jl. Panembahan Senopati 22, Yogyakarta yang dikenal umat setempat dengan sebutan Gereja Kidul Loji menjadi heboh terkait Hosti yang berubah menjadi darah, tapi diartikel ini saya tidak membahas ‘mukjizat’ tersebut, tapi yang akan saya bahas adalah pernyataan Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta Pr yang berkata agar kita dapat “bersikap semakin hormat pada Sakramen Mahakudus”.

Bagaimana caranya agar kita dapat semakin hormat kepada Sakramen Mahakudus? adalah pertanyaan selanjutnya yang akan coba saya jelaskan disini.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. [Markus 12:30]

1. Dengan segenap hati dan jiwamu

Ekaristi, roti yang ditransubstansi menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus, Tuhan di antara manusia, harus disambut dengan takjub, hormat dan sikap adorasi yang rendah hati.
Kebiasaan pemeriksaan batin sebelum menyambut Komuni sepertinya sudah ditinggalkan, padahal seseorang dilarang menyambut komuni dengan keadaan berdosa berat. [Redemptionis Saramentum No. 81]
Pun semakin banyak orang yang meremehkan Sakramen Tobat, dengan berkata “untuk apa ngaku dosa, kalo nanti buat dosa lagi.” Untuk menjawab orang-orang seperti ini, saya coba kutip pernyataan Paus Benediktus XVI,

“Sangat membantu bagi kita untuk mengaku dosa dengan teratur. Benar bahwa dosa kita selalu sama; tapi kita membersihkan rumah kita, ruangan kita, paling tidak sekali seminggu bahkan bila kotorannya selalu sama, dengan tujuan untuk hidup dalam kebersihan, untuk memulai kembali. Bila kita melakukan hal yang sebaliknya,  kotoran mungkin tidak dilihat, tapi kotoran tersebut akan bertambah”

Jika mereka masih bersikeras menerima Tubuh Kristus dengan tidak layak, mereka sama saja seperti wadah yang isinya penuh dengan comberan, disaat mereka menyantap Tubuh Kristus yang kudus, mereka memasukkan yang kudus ke dalam wadah penuh dengan comberan [ampunilah kami…Ya Tuhan….]. Sebaiknya kita berhati-hati soal ini, janganlah menganggap hal ini sepele [1Kor 11:27-29]. Persiapkan diri dengan baik, gunakan Sakramen Tobat jika diperlukan.

2. Dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

BERLUTUT sebelum menyambut Tubuh Kristus adalah cara yang tradisional dan universal, seperti yang Paus Benediktus katakan didalam bukunya The Spirit of Liturgy:

“berlutut tidak datang dari budaya manapun, tapi berasal dari Alkitab dan ini pengetahuan dari Allah.”

(Lihat di Joshua 5:15, Markus 1:40, Markus 10:17, Matius 17:14, 27:29; Matius 14:33; Yohanes 9:35-38.)

Berlutut adalah tindakan penyembahan kepada Tuhan, disaat Doa Syukur Agung kita berlutut, tapi pada saat kita didepan baris saat mau menyambut Tubuh Kristus kenapa kita tidak berlutut? (kecuali anda mempunyai penyakit di lutut anda diijinkan untuk berdiri, Tuhan itu bukan otoriter, kita nya yang otoriter terhadap Tuhan, terkadang bersikap semau gue)

atau BERDIRI [sesuai ketentuan Konferensi Uskup] dengan catatan agar sebelum menyambut Tubuh ( dan Darah ) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi [PUMR 160], seperti genuflect [berlutut dengan satu kaki] atau membungkuk terlebih dahulu, hal ini jarang terlihat.

DILIDAH, kenapa harus dilidah? pertama, untuk menghindari sebisa mungkin remah-remah Hosti yang terjatuh; kedua, untuk meningkatkan diantara umat beriman penghormatan terhadap Kehadiran Nyata Yesus Kristus di Ekaristi.

Namun jikalau ada orang yang ingin menyambut Komuni DI TANGAN, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat – dengan recognitio oleh Takhta Apostolik – telah mengizinkannya, maka Hosti Kudus harus harus diberikan kepadanya.

Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima itu pada saat masih berada di hadapan petugas Komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya Komuni Suci tidak diberikan di tangan. [Redemptionis Sacramentum 91, 92]

Demikianlah artikel ini saya buat, semoga bisa sedikit membantu kita untuk lebih menghormati Yesus Kristus yang benar-benar hadir didalam Sakramen Mahakudus. Dan sekarang akan saya tutup artikel ini dengan perkataan Tuhan Yesus yang bertanya kepada St. Petrus di danau Tiberias, tapi coba visualisasikan Tuhan Yesus sedang bertanya kepada anda sendiri, “[…..nama anda…..] apakah engkau mengasihi-Ku?”

Apa jawabanmu?

8 komentar

  1. Andy Purnama · · Balas

    Shalom.Selamat pagi.Mohon maaf sebelumnya.Mengenai penghormatan kepada Tubuh Yesus ketika kita akan menyambut-Nya (berlutut atau membungkukkan badan),tolong hal hal ini ditekankan kembali oleh para Katekis atau para Pembimbing pada saat calon calon baptis (kecuali yg masih bayi),sehingga mereka pada saat Menyambut dapat mengikuti sesuai aturan Gereja.Terimakasih.Tuhan memberakti.
    salam dan hormat kami…..andy purnama.

    1. Semoga ada katekis yang membaca komentar anda ya. Trima kasih masukannya.

      Salam,
      Andreas

  2. Max Pangkey · · Balas

    Sangat baik, tolong jika ada berita dari situs katolik ini, mohon dapat di kirimkan ke alamat email saya. Terimah Kasih

    1. Silahkan daftarkan email anda di menu “Ikuti Blog Via Email” letaknya di pojok kanan bawah page ini. Terima kasih

  3. reynold · · Balas

    saya senang sekali bacanya. terima kasih untuk tulisannya. saya semakin tahu makna ekaristi. sebab saya sebelumnya hanya melaksanakan ekaristi seperti absen saja. ada satu pertanyaan saya yang kalau berkenan dijawab akan sangat membantu saya. dalam doa syukur agung saat tubuh dan darah kristus diangkat oleh imam semua umat berlutut dan menyembah sambil berdoa, doa apakah yang disampaikan saat tubuh dan darah kristus itu diangkat ? mohon penjelsannya. terima kasih.

    1. Shalom reynold,

      Terima kasih atas tanggapannya. Mengenai doa saat konsekrasi, tidak ada doa spesifik yang diharuskan, namun pada umumnya anda bisa mengatakan doa berikut :

      “Ya Tuhanku dan Allahku” (diucapkan 3 kali)

      atau

      “Ya Tuhanku dan Allahku, kasihanilah aku pendosa ini”

      Anda tidak harus mengucapkan rumusan doa diatas, doa pribadi sendiri pun boleh. Namun kalimat yang pertama adalah yang umumnya sering diucapkan dalam hati saat konsekrasi. Jangan lupa bahwa ketika Hosti dan Piala diangkat, kita wajib untuk memandangnya. Setelah diturunkan, kita juga wajib untuk menundukkan kepala.

      Demikian jawaban saya, semoga membantu.

  4. Yohana Mega · · Balas

    Keren…
    Tolong perbanyak pengetahuan dasar ttng iman Katolik
    Supaya banyak orang boleh percaya dan bertumbuh dalam iman mereka akan Yesus Kristus

    Saya şùϑªн menyebarkan blog ini ke teman2 saya
    Terima kasih
    Berkah dalem

    1. Terima kasih Yohana, usulnya kami terima, nanti kami tambahkan lagi artikel-artikel pengetahuan dasar iman Katolik, mari kita bersama-sama mewartakan Injil Kristus.

      Berkah Dalem

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: