Teologi Berlutut – Paus Benediktus XVI

Before reflecting on the content of Jesus’ petition, we must still consider what the evangelists tell us about Jesus’ posture during his prayer. Matthew and Mark tell us that he “threw himself on the ground” (Mt 26:39; cf. Mk 14:35), thus assuming a posture of complete submission, as is preserved in the Roman liturgy of Good FridayLuke, on the other hand, tells us that Jesus prayed on his knees. In the Acts of the Apostles, he speaks of the saints praying on their knees: Stephen during his stoning, Peter at the raising of someone who had died, Paul on his way to martyrdom. In this way Luke has sketched a brief history of prayer on one’s knees in the early ChurchChristians, in kneeling, enter into Jesus’ prayer on the Mount of Olives.  When menaced by the power of evil, as they kneel, they are upright before the world, while as sons and daughters, they kneel before the FatherBefore God’s glory we Christians kneel and acknowledge his divinity; by that posture we also express our confidence that he will prevail.

Sebelum berefleksi tentang isi dari petisi Yesus, kita harus mempertimbangkan apa yang dikatakan para penginjil tentang postur (posisi tubuh) Yesus selama ia berdoa. Matius dan Markus memberitahu kita bahwa ia “menjatuhkan diri ke tanah” (Mat 26:39; Mark 14:35), karenanya postur tersebut menunjukkan ketaatan total, seperti yang dipertahankan dalam Liturgi Romawi Jumat Agung. Di sisi lain, Lukas memberitahu kita bahwa Yesus berdoa Sambil berlutut. Dalam Kisah Para Rasul, ia berbicara tentang para kudus yang berdoa sambil berlutut : Stefanus berdoa sambil berlutut saat dilempari batu, Petrus ketika membangkitkan orang mati, Paulus dalam perjalanannya menuju kemartiran. Dengan cara ini Lukas membuat skketsa singkat tentang sejarah berdoa sambil berlutut dalam Gereja Perdana. Umat Kristen, masuk ke dalam doa Yesus di Bukit Zaitun dengan berlutut. Ketika diancam oleh kekuatan jahat, mereka tegak dihadapan dunia, sementara sebagai putra dan putri, mereka berlutut dihadapan Bapa. Dihadapan kemuliaan Allah kita berlutut dan mengakui keilahiannya; dengan berlutut kita juga mengekspresikan keyakinan kita bahwa Ia akan bertahan.

Paus Benediktus XVI, Homili Kamis Putih

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: