Seorang Dokter Menganalisa soal Penyaliban

Seorang Dokter Menganalisa soal Penyaliban
Sebuah penjelasan kedokteran mengenai apa yang diderita Yesus pada hari Ia wafat
oleh Dr. C. Truman Davis

Beberapa tahun lalu aku tergerak berminat soal aspek2 penderitaan jasmani maupun perasaan Yesus Kristus ketika aku membaca peristiwa penyaliban itu dalam buku Jim Bishop, “The Day Christ Died”. Tiba2 saja aku sadar bahwa aku telah terlalu menganggap penyaliban itu sebagai kejadian biasa2 saja selama tahun2 yang lalu ini – bahkan praktis tak berperasaan sama sekali terhadap kengeriannya sebab sudah terbiasa dengan semua rincian kekejaman itu. Akhirnya baru aku sadar bahwa, sebagai seorang dokter, aku sendiri saja tak tahu penyebab langsung kematian Kristus. Para penulis Injil tak banyak membantu dalam hal ini. Sebab pada zaman mereka penyaliban dan pencambukan begitu umum, mereka pasti menganggap suatu pemberitaan terperinci menjadi mubazir. Karenanya maka kita cuma memperoleh kabar berbentuk kata2 yang tepat dari para penginjil: “Pilatus, setelah menyesah Yesus, menyerahkan Dia kepada mereka untuk disalibkan…. dan mereka menyalibNya.”

Meski Injil membisu mengenai rincian penyaliban Kristus, ada banyak orang yang mendalami subjek ini dimasa silam. Dalam penyelidikanku mengenai kejadian ini dari segi pandang kedokteran, aku khususnya berhutang pada Dr. Pierre Barbet, seorang ahli bedah Perancis yang melakukan riset yang selain historis juga amat mendalam dan secara luas membahas topik itu.

Suatu usaha untuk menyelidiki tak terbatasnya penderitaan spirituil maupun batiniah dari Allah yang Berinkarnasi1 dalam penebusan2 dosa manusia yang telah terjatuh adalah diluar jangkauan dan bukan maksudnya penulisan ini. Meski begitu, kita bisa mendalami beberapa detil aspek derita batin Tuhan kita dari segi fisiologi dan anatomi. Apa sebenarnya yang diderita oleh tubuh Yesus dari Nasaret selama jam-jam penyiksaan itu?

Getsemani

Derita jasmaniah Kristus dimulai ketika ditaman Getsemani. Dari banyaknya aspek2 penderitaan awalNya, khususnya yang menarik dari segi fisiologi ialah hal keringat darah. Sepadan menariknya, sang tabib, St. Lukas, adalah satu2nya penulis injil yang memberitakan kejadian ini. Katanya, “Ia sangat ketakutan dan makin bersunguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ketanah.” (Luk. 22:44)

Setiap usaha yang terbayangkan telah dipakai oleh pengajar2 modern untuk menerangkan dan mengenyampingkan gejala fenomena peluh darah ini, rupa2nya karena dibawah kesan yang salah bahwa hal itu tidak ada samasekali. Padahal akan amat menghemat waktu maupun segala usaha sia2 itu seandainya mau berkonsultasi dan mempelajari literatur medis. Meskipun amat jarang terjadi, fenomena hematidrosis, atau berkeringat darah, secara jelas dan tegas ada dokumentasinya. Dibawah tekanan berat emosi, pembuluh2 kapiler kecil2 dalam kelenjar keringat bisa pecah, sehingga mencampurkan darah dengan keringat. Proses ini saja sudah bisa menyebabkan kelemahan yang nyata dan kemungkinan kena syok.

Meskipun pengkhianatan dan penangkapan Yesus adalah bagian2 penting dari kisah sengsara Kristus, kejadian selanjutnya ini – signifikan dari perspektif segi kedokteran – ialah hal pengadilanNya didepan sidang Sanhedrin dan Kaifas, sang imam agung. Disini trauma jasmaniah pertama disiksakan. Seorang serdadu langsung menampar wajah Yesus ketika ia membisu ketika ditanyai oleh Kaifas. Lalu para pengawal istana mengikat-nutupi mataNya, mencemooh menggodaNya untuk mengenali mereka satu2 ketika ber-putar2 melewatiNya, meludahiNya, dan lalu memukuli wajahNya.

Di hadapan Pilatus

Esok paginya, sudah serba benjut dan terluka, dehidrasi, dan ditambah beban karena semalaman tanpa tidur, Yesus dibawa melalui Yerusalem ke Pretorium dari Benteng Antonia, tempat kedudukan pemerintahan dari Prokurator Yudea, yaitu Pontius Pilatus. Kita sudah mengetahui ulah usaha Pilatus yang mencoba menggeserkan tanggung jawabnya kepada Herodes Antipas, penguasa di Yudea. Tampaknya ditangan Herodes ini Yesus tidak mengalami penyiksaan dan Ia dibalikkan ke Pilatus. Disinilah kemudian, dalam menanggapi jeritan dan demo massa, Pilatus lalu menyuruh membebaskan Barabas dan menetapkan agar Yesus disesah dan disalibkan.

Persiapan penyesahan Yesus dilaksanakan atas perintah Kaisar. Tahanan itu ditelanjangi dan tangan2Nya diikatkan kesuatu balok diatas kepalaNya. Serdadu Romawipun maju kedepan dengan flagrum, atau flagellum, dalam tangannya. Ini adalah semacam cambuk pendek terdiri dari beberapa lembar kulit tebal dan berat yang diujungnya masing2 diikati dua bola timah kecil. Pencambukan dipukulkan sepenuh tenaga lagi dan lagi, terus menerus diseluruh dan sekujur pundak, punggung, dan kaki2Nya. Pada awalnya lembaran2 kulit yang diberati itu hanya menembusi kulit saja. Lalu, ketika pemecutan berlanjut, terjadilah luka2 ibarat irisan kebawah jaringan2 dibawah kulit, mulailah perembesan darah dari kapiler2 dan pembuluh darah kulit dan akhirnya menyemprotlah darah arteri dari jaringan2 otot yaang didalam.

Mula2 bola2 timah yang kecil itu menyebabkan memar dalam yang akhirnya jadi pecah akibat pukulan2 susulan. Pada akhirnya, kulit dipunggung ter-cabik2 bergantungan seperti pita2 panjang, dan seluruh bidang itu sudah tak dapat dikenali lagi sebab kini telah merupakan jaringan2 yang ter-koyak2 penuh darah. Hanya saat seorang centurion (serdadu Romawi) yang bertugas menyatakan bahwa tahanan itu sudah hampir mati, barulah pencambukan akhirnya dihentikan.

Pengolok-olokan dan ejekan

Yesus yang setengah mati dan hampir pingsan kemudian dilepas ikatannya dan dibiarkan mendelosor lunglai kelantai batu, basah kuyup oleh dan dalam darahNya sendiri. Para serdadu Romawi rupa2nya melihat ada sebuah banyolan lucu sekali dalam diri orang Yahudi udik yang menganggap dirinya raja ini. Mereka melemparkan selembar jubah keatas pundakNya dan memberikan sebatang buluh ketanganNya sebagai tongkat kebesaran. Ah…. ya, mereka juga masih membutuhkan sebuah mahkota untuk melengkapi ejekannya. Ada ranting2 lentur berduri panjang runcing, biasanya dipakai untuk menyalakan perapian batu bara dihalaman dalam gedung, ini mereka bentuk-ikat menjadi semacam mahkota kasar. Ini lalu mereka paksa benamkan keatas kepalaNya dan lagi2 banyak darah keluar ketika duri2 itu menembusi banyak pembuluh darah dikepala. Setelah bosan meng-ejek2 dan memukuli wajahNya, para serdadu mengambil kembali buluh dari tanganNya, lalu dipakainya untuk memukuli kepalaNya, lagi2 makin menancapkan duri2 kedalam kulit kepalaNya. Lalu, setelah kenyang dan jemu membaduti dan berolah raga cara sadis begitu, mereka kemudian mencopot dan menarik jubah itu dari punggungNya. Jubah itu sebelumnya sudah menempel pada bercak2 darah dan serum luka2Nya, dan penarikannya, sama seperti hal pencopotan secara kasar perban suatu pembedahan, menyebabkan sakit yang luar biasa. Dan luka2pun kembali mengalami pendarahan.

Golgota

Dalam menghormati adat kebiasaan Yahudi, orang2 Romawi itu mengembalikan pakaian2Nya. Patibulum3 salib yang berat diikatkan keatas pundakNya. Dan mulailah arak2an prosesi Kristus yang dihujat, dua penjahat, dan rincian eksekusi oleh serdadu2 Romawi dipimpin oleh seorang centurion dengan lambat bergerak menelusuri rute yang hari ini kita kenal sebagai Via Dolorosa.

Meskipun Yesus berdaya mencoba berjalan tegak, namun beratnya balok kayu, ditambah segala syok akibat kehilangan banyak darah, semuanya terlalu berat dan banyak bagiNya. Ia terjerembab dan jatuh. Balok yang kayunya begitu kasar seakan tambah mencungkili kulit yang sudah ter-cabik2 dan otot2 dipundak itu. Ia masih mencoba bangkit berdiri, tapi kekuatan otot manusia sudah terdorong sampai lewat batas kekuatannya. Si centurion, sudah gemas dan tak sabar memulai penyaliban, memilih seorang penonton berwajah Afrika Utara, Simon dari Kirene, untuk membantu memikul salib itu. Yesus mengikuti, masih tetap belepotan darah di-mana2 dan berkeringat dingin, keringat lembab akibat syok. Jarak tempuh sekitar 600 m dari Benteng Antonia ke Golgota itu akhirnya terjalani. Tahanan kemudian ditelanjangi lagi seluruhnya kecuali selembar kain cawat yang diijinkan bagi orang2 Yahudi.

Penyaliban dimulai. Kepada Yesus ditawarkan anggur campur mur, semacam analgesik, adonan pemati rasa sakit. Ia menolak minuman itu. Simon diperintahkan meletakkan patibulum dilantai, dan Yesus cepat2 didorong tertelentang kebelakang, dengan pundakNya menekan pada kayu itu. Serdadu bayaran itupun meraba2, mencari dan merasakan lekuk depresi cekung didepan pergelangan tangan. Ia palu tembuskan paku besar, persegi empat besi cor, melewati pergelanganNya dan kedalam kayu sekali, Cepat2 ia pindah kesisi satunya dan mengulang tindakan itu, cukup ber-hati2 tidak kelewat meregangkan tangan2Nya, masih membiarkan sedikit lenturan dan ruang gerak. Kemudian patibulum ini diangkat dan ditempatkan dibagian atas stipes4, dan titulus5 yang bertuliskan “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” dipakukan pada tempatnya.

Kaki kiri didorong kebelakang menekan kaki kanan. Dengan kedua kaki diluruskan, semua jari2 menghadap kebawah, sebatang besi cor besar dipakukan menembusi lengkung telapak kaki, membiarkan lutut kaki masih melentur sedikit. Korbanpun selesailah tersalib.

Di atas Salib

Saat Yesus perlahan mulai menggelantung kebawah dan dengan makin tambahnya beban pada paku2 dipergelangan tangan, rasa sakit tak terperikan, begitu teramat menusuk, menjalar lewat semua jari2 dan melalui lengan dan tangan untuk kemudian meledak dahsyat diotak. Paku2 dipergelangan tangan menyebabkan tekanan pada saraf2 median, kelompok besar kumpulan saraf2 yang melintasi pertengahan pergelangan dan telapak tangan. Ketika Ia mendorong diriNya keatas untuk menghindari siksaan yang berlanjut ini, Ia meletakkan seluruh beban beratNya pada paku yang menembusi kakinya. Lagi2 ada arus gelombang rasa sakit dan nyeri luar biasa saat paku itu merobek saraf2 yang ada diantara tulang2 metatarsal kakiNya.

Tepat pada saat ini, terjadilah fenomena lainnya. Ketika tangan2 kelewat lelah, gelombang2 besar kram/kekejangan menerjang semua otot2, seakan mengikatnya dalam rasa sakit teramat dalam yang ber-denyut2. Akibat tibanya serangan kram ini, mustahillah untuk mendorong menegakkan diriNya. Begitu tergantung lagi pada tangan2Nya, otot2 pektoral, yaitu otot2 besar dirongga dada, dilumpuhkan, akibatnya, otot2 antarkostal, yaitu otot2 kecil diantara tulang2 iga, tidak mampu untuk berfungs. Udara bisa dihirup masuk, tapi tak bisa dihembuskan keluar. Yesus bergumul untuk menegakkan diri hanya sekedar untuk mendapatkan sesaat nafas pendek. Akhirnya, tingkat karbon dioksida naik dalam paru2 dan dalam aliran darah ditubuh, dan sebagian dari serangan kram menghilang.

Kata-kata Terakhir

Secara tak teratur, Ia masih mampu mendorong menegakkan badanNya untuk bernafas. Pastilah diantara sela2 waktu ini Ia mengucapkan ketujuh kalimat2 singkat yang telah direkam.

Pertama – saat memandang kebawah melihati serdadu2 Romawi yang melemparkan dadu2 memperebutkan selembar jubahnya yang tak berjahit itu: “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang mereka kerjakan.”

Kedua – kepada penjahat yang bertobat: “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama Aku didalam Firdaus.”

Ketiga – menatap kebawah memandangi Maria ibuNya, Ia berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Lalu, berbalik melihat remaja Yohanes yang ketakutan dan dipenuhi kepiluan, murid kesayanganNya, Ia berkata: “Inilah ibumu!”

Jeritan yang keempat ialah pembukaan awal Mazmur 22: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Ia menderita berjam-jam siksaan kesakitan yang tak terbatas, gelombang dan siklus2 yang memuntir, kram sedemikan menyerikan seakan mengoyak mencopot tiap persendian tulang, sebentar2 Ia alami sebagian sesak nafas karena kurangnya zat asam dalam darah, dan rasa sakit yang begitu hebat sekali ketika jaringan punggung-Nya seperti dicacah rajam dikelupas akibat gerakan naik turun saat bergesekan dengan permukaan kayu yang kasar itu. Lalu timbullah suatu penderitaan lain: sebuah rasa sakit yang amat sangat nyeri seakan menghimpit seluruh rongga dada ketika perikardium, kantung yang mengelilingi jantung, per-lahan2 mulai terisi oleh serum dan mulai menekan jantung.

Nubuat dalam Mazmur 22:15 telah digenapi: “Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh didalam dadaku.”

Kesudahannya makin cepat mendekat. Cairan tubuh yang hilang telah mencapai tingkat kritis; jantung yang tertekan berjuang untuk memompa darah berat yang kental dan lambat pada jaringan2 tubuh, dan paru2 yang tersiksa berusaha mencoba, seperti kebingungan dan serba kalut, untuk menghirup sedikit2 udara. Sementara itu jaringan2 tubuhnya yang kekeringan mengirimkan gelombang rangsangan keotak. Yesus terengah menjerit kelima kalinya: “Aku haus.” Kembali kita membaca lagi dalam nubuat Mazmur: “Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kau letakkan aku.” (Mzm. 22:15)

Sebuah bunga karang/sepons yang dicelupkan dalam posca, anggur asam murahan minuman utama para legioner Romawi, didekatkan kebibir Yesus. Tubuhnya kini sudah dalam keadaan sekarat ekstrim sekali, dan Ia bisa merasakan dinginnya maut merangkak memasuki jaringan2 tubuhNya. Kesadaran ini menyebabkanNya membisikkan kata keenam, mungkin hanya sedikit lebih keras daripada sekedar suatu bisikan tersiksa: “Sudah selesai.” Misi penebusan9 dosa telah selesai dirampungkan. Akhirnya, Ia bisa membiarkan tubuhnya untuk mati. Dengan suatu hentakan terakhir himpunan kekuatan, Ia sekali lagi menekan-injakkan kakinya yang terkoyak pada paku, meluruskan kaki2Nya, menarik napas yang lebih dalam, dan melontarkan jeritan terakhir dan ketujuhNya: “Ya Bapa, kedalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.”

Kematian

Cara umum untuk mengakhiri suatu penyaliban ialah lewat krurifraktur, yaitu pematahan tulang2 kaki. Ini menghindari sang korban untuk menegakkan dirinya; akibatnya tekanan pada otot2 didaerah dada tidak terlepaskan, dan terjadilah percepatan proses pencekikan. Kaki2 kedua penjahat dipatahkan, tapi ketika serdadu2 mendekati Yesus, mereka melihat proses ini tidak perlu bagiNya.

Rupa2nya, untuk memastikan benar2 telah mati, legiuner itu menikamkan tombaknya diantara tulang2 iga, keatas melewati perikardium dan kedalam jantung. Yohanes 19:34b mengatakan, “dan segera mengalir keluar darah dan air.” Jadi ada cairan seperti air yang mengalir keluar dari kantung pengeliling jantung dan juga darah dari dalamnya jantung. Ini adalah bukti agak konklusif setelah kematian bahwa Yesus itu mati, bukan karena mati lemas tercekik seperti biasanya akibat penyaliban, melainkan karena kegagalan jantung disebabkan oleh syok dan penyesakan serta penyempitan jantung gara2 adanya cairan di perikardium.

Kebangkitan dari maut

Lewat dan dalam kejadian2 tadi, kita telah melihat sekelumit ringkasan kejahatan yang bisa manusia tunjukkan terhadap sesamanya dan terhadap Allah. Ini merupakan gambaran yang buruk dan mungkin bisa meninggalkan kita dalam keadaan hati yang remuk redam karena sedih dan tertekan.

Tetapi penyaliban itu bukanlah akhir dari kisah ini. Bukankah kita bisa bersyukur sekali bahwa kita masih mempunyai suatu sambungan: seperti mengintip kasih pengampunan tak terbatas dari Allah pada umat manusia – karunia penebusan, mujijat kebangkitan dari alam maut, dan harapan Paskah pagi.

  1. Inkarnasi
  2. Penebusan dosa
  3. Bagian mendatar dari salib
  4. Bagian tegak lurus dari salib
  5. Sebuah tanda kecil penyataan kejahatan2 sang korban
  6. Perjudian
  7. Yang menyesali dosa2nya dan memohon bantuan Yesus.
  8. Sebab Yesus sekarat, Ia memberikan tanggung jawab pemeliharaan ibuNya pada teman yang dipercayai.
  9. Menggantikan tempat kita lewat menderita hukuman mati untuk dosa2 kita.

From New Wine Magazine, April 1982. Used with permission. Originally published in Arizona Medicine, March 1965, Arizona Medical Association. 

Dr. C. Truman Davis is a graduate of the University of Tennessee College of Medicine. He is a practicing ophthalmologist, a pastor, and author of a book about medicine and the Bible. 

Editors’ note: If Jesus had remained dead, Christianity would be nothing but an empty promise. But three days after His death, He rose again from the dead. This is the miracle of resurrection, which is what Christians celebrate at Easter. To learn more about the resurrection, read John chapters 20 and 21.

Sumber.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: