“Eli Eli Lama Sabachtani” – Refleksi dari Paus Benediktus XVI

“Dalam hubungan kita dengan Tuhan, dalam situasi yang paling sulit dan menyakitkan, ketika Allah tampaknya tidak mendengar, kita tidak perlu takut untuk mepercayakan kepada-Nya beban yang kita bawa dalam hati kita, kita seharusnya tidak takut untuk berteriak kepadanya di dalam penderitaan kita”

“Teriakan ini [Eli eli lama sabachtani] keluar setelah periode 3 jam ketika kegelapan menyelimuti seluruh daratan. Kegelapan adalah simbol yang ambivalen dalam kitab suci – kegelapan sering kali merupakan tanda kekuasaan jahat, kegelapan juga bisa mengekspresikan kehadiran ilahi yang misterius. Seperti Musa yang diselimuti dalam awan gelap ketika Allah menampakkan diri padanya di gunung, begitu juga dengan Yesus di Kalvari yang diselimuti kegelapan. Walaupun Bapa tampaknya tidak hadir, pandangannya yang menuh kasih tetap terpusat pada Kurban kasih Putra-Nya di salib dalam cara yang misterius”

“Yesus berdoa di waktu Ia mengalami penolakan terakhir oleh manusia, di waktu Ia diabaikan; ia berdoa karena menyadari kehadiran Allah Bapa di waktu ini ketika ia merasakan drama kematian manusia. Tapi kita heran : Bagaimana Allah yang begitu maha kuasa tidak ikut campur dalam menyelamatkan putra-Nya dari cobaan berat yang mengerikan ini? Penting bagi kita untuk memahami bahwa doa Yesus bukanlah jeritan seseorang yang akan menghadapi kematian dengan putus asa, juga bukan jeritan orang yang mengetahui bahwa dirinya diabaikan. Yesus, membuat mazmur 22 nya, mazmur dari orang-orang Israel yang menderitan, dan dalam cara ini Ia tidak hanya mengambil diatas diri-Nya hukuman umat-Nya, tapi juga [hukuman] semua manusia yang menderita dari penindasan kejahatan dan di waktu yang sama, membawa semua ini ke hati Allah sendiri dalam kepastian bahwa jeritannya akan didengar dalam kebangkitan ”

“Doa Yesus mengisi keyakinan dan keadaan diabaikan dalam tangan Allah, bahkan ketika Ia tampaknya tidak ada, bahkan ketika Ia tampaknya diam saja, menurut sebuah rancangan yang tidak bisa diemngerti oleh kita. Doa-Nya adalah penderitaan dalam persekutuan dengan kita dan untuk kita, yang datang dari cinta dan siap dibawa dalam penebusan, kemenangan cinta ”

“Teman-temanku yang terkasih, di dalam doa kita membawa salib sehari-hari kita kepada Allah, dalam kepastian bahwa Ia hadir dan mendengarkan kita. Jeritan Yesus mengingatkan kita bahwa di dalam doa kita harus mengatasi penghalang “diri” kita dan masalah kita, dan membuka diri kepada kebutuhan dan penderitaan orang lain. Doa Yesus di salib mengajarkan kita untuk berdoa dengan cinta bagi banyak saudara dan saudari kita yang merasakan beban kehidupan sehari-hari, yang mengalami masa-masa sulit, yang berada dalam penderitaan, tanpa kata-kata penghiburan, agar mereka juga bisa merasakan cinta Allah yang tidak pernah mengabaikan mereka”

Sumber.

2 komentar

  1. Maximillian · · Balas

    Itulah Kebenaran, bukan kemudian bergeser menjadi Yesus ditinggalkan Bapa-Nya, seolah-olah pergeseran faham Tritunggal Maha Kudus menjadi Triteism. Saya meyakini hal yang diungkapkan Sri Paus bahwa demikianlah Yesus yang dalam persona manusia berdarah Yahudi tak luput selalu bermazmur di dalam segala perkara sesuai budaya Yahudi, termasuk perkara teriakan “eli eli lama sabakhtani”, penekanan-Nya pada kemenangan yang akan membuat banyak manusia menyadari bahwa di dalam salib ada Keselamatan [In Cruz Salus].
    terima kasih atas pencerahannya Sri Paus, terima kasih Cornelius dengan ini saya merasa nyaman karena sedikit sekali ibadat via dolorossa baik di gereja maupun di lingkungan, mampu mengangkat peristiwa ini sebagai sikap yang baik, indah dan benar.

  2. antonius wahyu · · Balas

    thx infony…tambah pengetahuan ttg iman katolik

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: