Mati Untuk Hidup

Renungan hari Minggu prapaskah kelima, ditulis oleh Rm. Liberius Sihombing OFMCap

Hari ini adalah hari Minggu Prapaskah kelima. Dari tradisi liturgis yang kuno, corpus Yesus pada salib biasanya diselubungi dengan kain. Demikian juga patung-patung orang kudus di dalam gereja juga diselubungi. Hanya saja, tradisi kuno ini kurang begitu familiar lagi sekarang ini. Umumnya penyelubungan salib dilakukan sesudah misa kamis putih malam hari. Mengapa mesti diselubungi? Apakah supaya tidak berdebu atau takut kotor? Sama sekali tidak! Ini bukan soal kotor atau berdebu.

Yang mau disampaikan dengan acara penutupan/penyelubungan corpus salib sejak minggu prapaskah kelima itu adalah untuk menandakan bahwa kita telah memasuki minggu sengsara yaitu pekan Prapaskah kelima dan sebentar lagi akan masuk Pekan Suci. Jadi maksudnya lebih pada membantu umat meresapi penderitaan Yesus dari sisi kemanusiaan-Nya. Selama masa penderitaan dan sengsara-Nya itu, Yesus tampil sebagai manusia yang sangat menderita. Keallahan Yesus nampak terselubung atau tidak tampak seperti pada umumnya. Hal itu sangat jelas dalam bacaan-bacaan yang ditampil dalam pekan-pekan ini. Dalam penderitaan-Nya, Yesus tampil sebagai sosok manusia yang sangat menderita.

Itu pula yang dikatakan pada bacaan kedua hari ini dari Kitab Ibrani: “Kristus, dalam hidup-Nya sebagai manusia, telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7). Pernyataan itu mau menunjukkan sisi kemanusiaan Yesus yang juga bisa menangis, bisa mengalami rasa takut sama seperti kita. Namun bukan berarti Ia tidak sanggup melawannya.
Tetapi sekaligus, dengan penderitan-Nya itu, Yesus adalah sang biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, namun Ia akan hidup dan menghasilkan banyak buah. Dalam Injil Yohanes, kematian Yesus di salib justru merupakan peristiwa peninggian atau pemuliaan Yesus Kristus sendiri. Kendatipun secara manusiawi Yesus menangis seperti yang tertulis dalam Ibrani, tetapi dalam Injil Ia sendiri menunjukkan keallahan-Nya dengan menyatakan perlunya kematian untuk menghasilkan buah melimpah. Buah yang tidak jatuh ke atas tanah, akan tetaplah tinggal sebiji dan tidak berkembang. Sementara buah yang jatuh ke tanah akan nampak sia-sia karena mati, tetapi justru di situlah ia akan bertumbuh untuk berbuah.

Bagi Yesus, penderitaan dan kematian bukanlah suatu moment yang menakutkan dan menegangkan untuk dihadapi. Kematian adalah suatu peristiwa alamiah yang setiap makhluk hidup akan mengalaminya juga. ‘Kita mati untuk hidup’, itulah yang dimaksudkan Yesus. Semoga Sabda Yesus hari ini semakin memampukan kita memahami arti kematian bukan sebagai kebinasaan, tetapi sebagai hidup baru. Selamat minggu prapaskah kelima. Amen.

3 komentar

  1. Pertanyaan saya : mengapa Yesus harus menderita sengsara? Bukankah Ia Allah yang berkuasa dan bisa mengatur segalanya sesuai kehendakNya? menurut pemahaman saya Yesus sebenarnya tidak mau menderita. Ajaran Yesus justru menghendaki manusia saling mengasihi dan mengampuni. Setiap bentuk kejahatan dan ketidakadilan dalam hidup justru ditentang oleh Yesus. Dan karena ajaran cinta kasih inilah yang menyebabkan Ia harus menderita. Yesus ditolak, dibenci, dicacimaki, dihujat, dianiaya karena kebenaran cinta kasih dari Allah Bapa. Kalau Yesus mau Ia bisa menggerakan masa yang mengikutinya, termasuk murid-muridnya untuk melawan kekuasaan yang tidak adil. Justru Yesus tidak mau melakukan itu karena Allah tidak menghendaki kekerasan dibalas kekerasan. Kekuasaan saat itu telah menyimpang dan menganggap Yesus sebagai pengkianat dan pemberontak. Karena fitnah dan kebencian inilah yang membuat Yesus harus menderita sengsara. Ia rela disiksa dan disalibkan demi pertobatan dan keselamatan jiwa-jiwa para penguasa dan manusia yang menolak hukum cinta kasihNya.

    1. Allah adalah Kasih, sehingga Ia rela untuk memberikan AnakNya yang tuggal untuk menebus dosa-dosa kita. ya, Yesus harus menderita di salib untuk menebus dosa-dosa kita, agar kita dapat berdamai dengan Allah, seperti St. Anselmus sendiri katakan “manusia sebagai makhluk ciptaan tidak mampu dan tidak dapat menebus dosa mereka sendiri, hanya Tuhan sendiri yang dapat turun dan mengulurkan tanganNya”.

      Tuhan menjadi manusia, agar manusia bisa menjadi Tuhan – St. Agustinus

  2. Yohanes Seandy · · Balas

    Terpujilah Tuhan kita yang rela memilih mati demi hidup. Terima kasih romo untuk artikel yang bagus yang menyadarkan saya.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: