Argumen dari Kesadaran

Pada saat kita menyaksikan keteraturan dan kemampuan berpikir yang luar biasa di dunia ini, kita sebenarnya menyaksikan sesuatu yang dapat diterima oleh akal dan pikiran. Kemampuan berpikir itu merupakan bagian yang kita temukan di dunia ini. Namun dunia itu sendiri tidak menyadarinya secara intelektual. Walaupun terlihat jelas adanya kekuatan-kekuatan alam yang luar biasa, namun kekuatan-kekuatan itu sendiri tidak menyadarinya. Namun kita menyadarinya hal-hal itu dan pula menyadari diri kita sendiri. Fakta-fakta yang luar biasa ini –  adanya kemampuan berpikir di tengah-tengah proses-proses material yang tidak sadar, dan penyesuaian proses-proses itu dengan struktur intelegensi yang sadar –  telah menimbulkan keanekaragaman kepada argumentasi pertama mengenai desain.

  1. Kita menyaksikan bahwa dunia ini dapat diterima oleh akal. Kemampuan berpikir berarti bahwa dunia ini dapat dimengerti atau ditangkap oleh akal pikiran manusia.
  2. Apakah dunia yang dapat diterima secara akal ini dan pikiran-pikiran manusia yang terbatas dapat menerimanya merupakan produk dari intelegensi, ataukah baik kemampuan berpikir maupun intelegensi itu merupakan produk dari faktor kebetulan yang buta.
  3. Bukan faktor kebetulan yang buta.
  4. Karena itu dunia yang dapat diterima secara akal ini dan pikiran-pikiran manusia yang terbatas yang dapat menangkapnya dengan baik merupakan produk dari intelegensi.

Tampaknya disini ada kemiripan-kemiripan yang jelas dengan argumentasi desain, dan banyak hal yang telah kami kemukakan untuk mempertahankan argumentasi itu dapat digunakan juga untuk membela argumentasi ini. Dan sekarang kita ingin memusatkan perhatian kita kepada langkah 3.

Para pembaca yang telah mengenal karya tulisan dari C. S. Lewis yang berjudul Miracles akan dapat mengingat kembali argumentasinya yang sangat luar biasa yang dikemukakannya dalam pasal tiga untuk menantang apa yang dinamakannya “naturalisme”, yakni pandangan yang mengatakan bahwa segala sesuatu – termasuk pemikiran dan penilaian kita – tergabung pada satu sistem sebab akibat fisika yang luas dan saling berkaitan. Menurut Lewis, apabila naturalisme itu benar, maka tampaknya kita tidak memiliki alasan untuk mempercayainya sebagai hal yang benar; karena seluruh penilaian pada akhirnya sama-sama merupakan akibat dari kekuatan-kekuatan yang nonrasional.

Pemikiran ini memiliki kaitan yang jelas dengan langkah 3. Yang kami maksudkan dengan “faktor kebetulan yang buta” adalah cara alam fisik seharusnya bekerja apabila “naturalisme” itu benar tanpa rencana yang rasional dan tujuan yang jelas. Jadi apabila argumentasi dari Lewis itu merupakan hal yang baik, maka langkah 3 seharusnya begini: faktor kebetulan yang buta itu tak mungkin menjadi sumber dari intelegensi kita.

Pada waktu kami menyiapkan bagian ini, kami tergoda untuk mengutip seluruh pasal tiga dari buku Miracles. Argumentasi ini sebenarnya bukan asli dari Lewis, namun kami belum pernah membaca pernyataan yang lebih baik dari tulisan Lewis ini, dan kami mendorong agar anda dapat membacanya. Namun kami juga telah menemukan bahasan yang juga tidak kalah menariknya (yang ditulis kira-kira dua puluh tahun sebelum buku Miracles) dalam buku Some Problems in Ethics oleh H.W.B. Joseph (Oxford Press, 1931). Joseph adalah dosen di Oxford, yang lebih senior dari Lewis, dan tentu saja karya tulisnya dikenal baik oleh Lewis. Rupanya pernyataan yang berikut ini mengenai argumentasi ini kemudian mempengaruhi Lewis, namun uraiannya lebih luas.

Apabila pikiran ini adalah gerakan laryngeal (pangkalan tenggorokan), bagaimana seseorang bisa berpikir lebih benar daripada angin yang bertiup? seluruh gerakan tubuh sama-sama penting, namun hal-hal itu tidak dapat dibedakan seperti benar dan salah. Tampaknya seperti tak masuk akal untuk menyebut suatu gerakan benar seperti selera itu ungu atau suatu bunyi itu tamak. Namun hal yang jelas pada saat pikiran itu disebut sebagai gerakan tubuh tertentu tampaknya sama-sama mengikuti efek dari sesuatu yang lain. Pikiran yang disebut pengetahuan dan pikiran yang disebut kekeliruan keduanya merupakan akibat dari keadaan otak. Keadaan-keadaan ini merupakan akibat dari keadaan-keadaan lain dalam tubuh. Seluruh keadaan secara tubuh itu sama-sama nyata, demikian pula dengan pikiran-pikiran yang berbeda; namun apakah alasan sehingga saya mengatakan bahwa pikiran saya adalah pengetahuan tentang apa yang nyata dalam tubuh? karena untuk berpandangan sedemikian merupakan pikiran yang lain, suatu efek dari gerakan-gerakan tubuh yang nyata seperti yang lainnya… Namun argumentasi-argumentasi saya ini, apabila prinsip-prinsip ilmiah (naturalisme)… tetap dibiarkan tanpa tantangan, tidak lebih daripada kejadian-kejadian dalam pikiran, akibat-akibat dari gerakan-gerakan tubuh; bahwa hal-hal yang kita anggap baik, atau kita anggap tidak baik itu hanyalah kejadian lain yang serupa. Dan dapat dikatakan mengenai dasar yang kita anggap sebagai hal yang benar bahwa hal itu adalah Labitur et labetur in omne volulis aevum “hal itu mengalir dan akan mengalir berputar-putar terus selama-lamanya” (Horace, Epistles, I,2,43). (Some Problem Ethics, hal 14-15.)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: