Argumen Dari Mukjizat

  1. Mukjijat adalah suatu peristiwa yang hanya dapat dijelaskan sebagai intervensi langsung dan luar biasa dari Allah.
  2. Ada banyak mukjijat yang benar-benar terjadi.
  3. Karena itu, ada banyak peristiwa yang hanya dapat dijelaskan sebagai intervensi langsung dan luar biasa dari Allah.
  4. Atas dasar itu Allah itu ada.

Jelas apabila anda percaya bahwa sesuatu peristiwa yang luar biasa adalah mukjijat, maka itu berarti anda percaya akan adanya kekuasaan ilahi dan anda percaya bahwa kekuasaan ilahi itulah yang mengerjakan peristiwa ini. Namun pertanyaan yang muncul adalah: apakah peristiwa itu dapat disebut mukjijat? apabila mukjijat-mukjijat itu ada, maka Allah itu pun pasti ada. Namun apakah memang mukjijat-mukjijat itu ada?

Peristiwa-peristiwa mana yang akan kita pilih? pertama-tama peristiwa itu harus luar biasa. Namun ada banyak peristiwa luar biasa yang terjadi (seperti, bebatuan yang jatuh dari langit di Texas) yang tidak dapat disebut sebagai mukjijat-mukjijat. Mengapa tidak? pertama-tama, karena hal-hal itu mungkin saja hanya disebabkan oleh sesuatu yang terjadi di alam ini, dan kedua, karena konteks di mana peristiwa itu terjadi bukan bersifat religius. Peristiwa-peristiwa itu lebih cocok disebut keganjilan, atau “peristiwa-peristiwa aneh”; sesuatu hal yang mungkin anda akan baca dalam kolom believe it or not di surat kabar, namun tak pernah terdengar di kotbahkan dari mimbar. Karena itu, makna dari peristiwa itu harus bersifat religius agar dapat disebut sebagai mukjijat.

Andaikata seorang kudus berdiri di tengah-tengah kota Houston dan mengatakan, “saudara-saudara sekalian! anda semua adalah orang-orang berdosa! lihatlah keadaan diri anda masing-masing – pemabuk! tak bermoral! Allah ingin agar anda sekalian bertobat! dan sebagai tanda kegeramannya atas perbuatan dosa-dosa ia akan menjatuhkan batu-batu ke atas anda sekalian!” beberapa saat kemudian – terdengar bunyi, bum! bum! bum! – batu-batu mulai berjatuhan. Perkataan “mukjijat” pasti akan muncul dalam pikiran ketika menyaksikan peristiwa yang demikian.

Setelah menyaksikan peristiwa seperti ini, kita tidak harus percaya kepada Allah. Namun, apabila orang kudus di Texas itu benar-benar murni, dan apabila tuduhan-tuduhannya itu benar menggambarkan keadaan dosa mereka, sehingga mengakibatkan kita berpikir bahwa “Ia benar”. maka sulit untuk menganggap hal itu sebagai sesuatu tipuan belaka atau hanya merupakan peristiwa luar biasa yang kebetulan terjadi.

Hal ini berarti bahwa suasana di mana mukjijat itu terjadi sangatlah penting. Namun bukan hanya latar belakangnya dan bukan hanya saatnya pula, melainkan juga suasana pribadi pun sangat penting – karakter dan pemberitaan dari orang yang terkait dengan peristiwa ini juga perlu dipertimbangkan. Sebagai contoh, kita mengambil empat atau lima mukjijat dalam Perjanjian Baru. Coba keluarkan mukjijat-mukjijat itu dari konteksnya dan pisahkan dari ajaran dan karakter Kristus. Apakah akan keliru bila kita melihat makna rohani dari mukjijat-mukjijat itu menjadi sangat berkurang? memang untuk menyebut sesuatu peristiwa adalah mukjijat adalah sama dengan mengartikannya secara rohani. Namun untuk menafsirkan secara demikian menuntut suatu konteks atau latar belakang yang mengundang penafsiran sedemikian. Dan biasanya bagian dari suasana ini, walaupun tidak selalu, melibatkan seorang yang tidak diragukan otoritas moralnya, dan otoritas rohaninya, yang dikuatkan oleh mukjijat itu sendiri, kemudian diakui atau dikenal sebagai mukjijat.

Pembahasan-pembahasan tentang kemungkinan yang abstrak biasanya kehilangan faktor ini. Namun latar belakangnya memegang peran sangat penting. Beberapa tahun yang lampau, dalam sebuah konferensi yang agak membosankan, seorang filsuf terkenal menjelaskan mengenai mengapa ia menjadi seorang Kristen. Ia berkata, “saya mengambil Perjanjian Baru dengan maksud ingin mengadilinya, mempertimbangkan pro dan kontranya. Namun pada saat saya mulai membacanya, saya menyadari bahwa saya sendirilah yang sebenarnya diadilinya”. Akhirnya ia mempercayai cerita-cerita mengenai mukjijat dalam firman Allah itu. Namun karakter dan ajaran Kristuslah yang mengantarnya kepada penerimaan hal-hal yang dibacanya sebagai perbuatan-perbuatan Allah yang sejati.

Jadi sebenarnya tak ada bukti yang dapat diambil dari mukjijat-mukjijat. Apabila anda melihat peristiwa yang dianggap sebagai mukjijat, maka harus terlihat dalam peristiwa itu aktivitas Allah. Ada pergerakan dalam pikiran dari peristiwa ini kepada penafsirannya yang benar sebagai sesuatu yang bersifat mukjijat. Dan hal yang memberi dorongan terhadap pergerakan itu bukan hanya peristiwa itu sendiri, melainkan banyak faktor lain yang berada di sekitarnya yang mengundang – atau tampaknya menuntut – penafsiran sedemikian.

Namun peristiwa-peristiwa mukjijat itu ada. Memang ada banyak kesaksian yang dapat dipercaya mengenai terjadinya mukjijat-mukjijat di mana-mana di dunia ini.

Karena itu penyebab mukjiajt-mukjijat itu memang ada.

Dan satu-satunya penyebab yang andal adalah Allah.

Karena itu Allah ada.

Argumentasi ini bukanlah suatu bukti, melainkan petunjuk atau tanda yang sangat kuat.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: