Relativisme : Kesesatan Zaman Ini

Relativisme merupakan suatu keyakinan bahwa tidak ada kebenaran absolut, semua kebenaran itu relatif. Kardinal Ratzinger, yang sekarang adalah Paus Benediktus XVI menunjukkan bahwa relativisme merupakan masalah mendasar bagi iman katolik :

“Relativism have effectively become today the fundamental problem for the Faith”

“Relativisme telah secara efektif menjadi masalah mendasar bagi Iman di jaman sekarang” (Sumber)

Apa yang harus kita lakukan, sebagai putra-putri Gereja, dalam menghadapi relativisme?

“We are moving toward a dictatorship of relativism which does not recognize anything as definitive and has as its highest value one’s own ego and one’s own desires… The church needs to withstand the tides of trends and the latest novelties…. We must become mature in this adult faith, we must guide the flock of Christ to this faith.”

“Kita bergerak menuju kediktatoran relativisme yang tidak menganggap apapun sebagai sesuatu yang definitif dan memiliki nilai tertinggihnya pada ego dan keinginan seseorang…Gereja harus bertahan melawan arus trend dan hal-hal baru…Kita harus dewasa dalam iman yang dewasa ini, kita harus membimbing gembala Kristus kepada iman ini”

Seperti apa iman dewasa itu? Lihat bagian yang dibold merah :

Dalam beberapa dekade terakhir ini ekspresi ‘iman dewasa‘ [fede adulta …] telah menjadi sebuah slogan yang merebak. [Istilah ini] sering digunakan dalam hubungan dengan sikap-sikap dari mereka yang tidak lagi memperhatikan apa yang dikatakan Gereja dan Gembala-gembalanya — yaitu, mereka yang memilih bagi diri sendiri apa yang dipercayai atau apa yang tidak dipercayai bagai sebuah iman ‘do-it-yourself’. Mengekspresikan diri sendiri melawan Magisterium Gereja dipandang sebagai suatu ‘keberanian’, padahal pada faktanya tidak banyak keberanian diperlukan karena orang tersebut bisa dipastikan akan menerima pujian dari publik.

Alih-alih, keberanian diperlukan untuk memegang teguh iman Gereja, meskipun [tindakan ini] mengkontradiksi ‘tatanan’ dunia saat ini. Paulus menyebut non-konformisme ini dengan sebutan ‘iman dewasa’. Baginya, mengikuti hembusan angin dan arus waktu saat ini adalah [sesuatu yang] kekanak-kanakan.

Atas alasan ini, adalah bagian dari sebuah iman dewasa untuk mendedikasikan diri sendiri kepada ke-tak-dapat-di-ganggu-an hidup sejak dari awal, dan oleh karenanya melawan prinsip dari kekerasan dalam membela yang paling tidak berdaya. Adalah bagian dari sebuah iman dewasa untuk mengenali perkawinan seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita sesuai tatanan sang Pencipta, [yang] ditetapkan kembali oleh Kristus. Sebuah iman dewasa tidak mengikuti [trend yang berlaku]. [Sebuah iman dewasa] berdiri melawan angin [trend yang berlaku].

Benediktus XVI

Homili – Vespers Pertama Pesta Santo Petrus dan Paulus

28 Juni 2009

(Sumber)

Apa konsekuensi dari memiliki iman yang didasarkan pada kredo Gereja?

“Having a clear faith, based on the creed of the church, is often labeled today as a fundamentalism. … Whereas relativism, which is letting oneself be tossed and ‘swept along by every wind of teaching,’ looks like the only attitude acceptable to today’s standards.”

“Memiliki iman yang jelas yang didasarkan pada kredo Gereja, sering dicap sebagai fundamentalisme …sementara relativisme, yang membiarkan seseorang dilempar dan ‘dibawa oleh setiap angin pengajaran”, terlihat seperti satu-satunya sikap yang diterima oleh standar masa sekarang.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: