Argumentasi Kalam

Istilah bahasa Arab kalam sebenarnya berarti “perkataan”, namun akhirnya diartikan sejenis teologi filsafat tertentu – yang isinya adalah pembuktian-pembktian bahwa dunia ini tidak terlalu tua dan karena itu dunia ini pasti diciptakan oleh Allah. Pembuktian seperti ini merupakan hal yang banyak menarik perhatian dan diterima secara luas di kalangan orang Kristen. Bentuknya sangat sederhana dan tidak rumit.

  1. Apa saja yang pasti memiliki penyebab sampai sesuatu itu menjadi ada.
  2. Alam semesta ini mulai ada.
  3. Karena itu, alam semesta ini memiliki penyebab sampai bisa ada.

Mengenai dasar pemikiran pertama. (kebanyakan orang – yang berada di luar rumah sakit jiwa dan perguruan tinggi – menganggap pertanyaan ini bukan hanya benar, melainkan pasti dan benar-benar).

Apakah dasar pemikiran kedua itu benar? Apakah alam semesta ini – kumpulan dari segala sesuatu yang terikat oleh ruang dan waktu – mulai ada? Dasar pikiran ini mendapat dukungan yang sangat kuat dari ilmu pengetahuan alam – yang biasa disebut Kosmologi Big Bang. Namun ada argumentasi-argumentasi filsafat yang mendukungnya pula. Dapatkah suatu tugas yang tidak terbatas dilaksanakan sampai tuntas? Apabila untuk mencapai tujuan tertentu harus lebih dahulu melewati banyak langkah-langkah sebelumnya, dapatkah tugas itu diselesaikan? Pasti tidak – walaupun waktunya pun tak terbatas. Karena waktu yang tak terbatas itu tidak berkesudahan, sama seperti langkah-langkahnya pun. Dengan perkataan lain, tak ada tujuan yang akan tercapai. Tugas itu tidak akan pernah diselesaikan.

Namun bagaimana dengan langkah sebelum akhir itu? Dapatkah hal itu tercapai? Apabila tugas itu benar tak terbatas, maka langkah-langkah yang tak terbatas juga harus mendahuluinya. Oleh karena itu, langkah sebelum selesai itu pun tak akan pernah terselesaikan. Demikian pula dengan langkahsebelumnya. Sebenarnya tak ada satu langkah pun dalam urutan itu yang dapat diselesaikan, karena langkah-langkah yang tak terbatas harus selalu mendahului setiap langkah yang akan dilaksanakan; dan satu demi satu langkah sebelumnya perlu dilaksanakan lebih dahulu. Permasalahan muncul bila memperkirakan bahwa urutan yang tak terbatas itu dapat benar-benar selesai melalui suksesi temporal.

Nah apabila dunia ini tak pernah dimulai, maka keadaannya akan tetap seperti itu. Jika demikian, maka dunia ini tak terbatas usianya. Jika tak terbatas usianya, maka suatu periode waktu yang tak terbatas sudah berlangsung sebelum hari ini. Jadi sejumlah hari-hari yang tak terbatas sudah diselesaikan – satu hari menggantikan hari yang lain, suatu periode waktu ditambahkan kepada yang sebelumnya – agar hari ini boleh tiba. Namun hal ini persis sama lagidengan permasalahan mengenai tugas yang tak terbatas. Apabila hari sekarang ini telah tercapai, maka urutan sebenarnya dari sejarah yang tak terbatas itu telah mencapai waktu sekarang: sebenarnya sekarang, maka seluruh masa lampau itu harus sudah terjadi. Namun urutan langkah-langkah yang tak terbatas itu tak pernah dapat mencapai saat sekarang – atau saat sebelumnya.

Jadi, kemungkinannya adalah saat sekarang belum tercapai atau proses mencapainya yang bukan tak terbatas. Namun jelas terlihat bahwa saat sekarang ini telah tercapai. Jadi proses mencapainya itu bukan tidak terbatas. Dengan kata lain, dunia ini telah ada. Karena itu, dunia ini memiliki penyebab sampai bisa ada. Penyebab itu tak lain adalah sang Pencipta.

Pertanyaan 1: Orang-orang Kristen percaya bahwa mereka akan hidup selama-lamanya dengan Allah. Jadi mereka percaya bahwa masa depan itu tak terbatas. Mengapa masa lalu juga tak dapat tidak terbatas?

Jawaban: Pertanyaan ini dengan sendirinya menjadi jawabannya pula. Orang Kristen percaya bahwa kehidupan mereka bersama Allah tak pernah akan berakhir. Artinya bahwa hal itu tak pernah membentuk suatu rangkaian tak terbatas yang benar-benar selesai. Atau dalam bahasa teknisnya: masa depan yang tak berakhir itu secara potensial – tetapi tak pernah aktual – tak terbatas. Ini berarti bahwa walaupun masa depan itu tak akan pernah berhenti berkembang dan bertambah, namun luasnya ang aktual akan selalu terbatas. Namun hal ini hanya benar bila seluruh realita yang diciptakan ini memiliki permulaan.

Pertanyaan 2: Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa penyebab alam semesta ini masih ada? kemungkinan penyebab itu yang memprakarsai dan kemudian berhenti ada.

Jawaban: Ingatlah bahwa kita sedang berusaha menemukan penyebab dari keberadaan ruang-waktu. Penyebab ini telah menciptakan seluruh alam semesta ruang dan waktu. Dan ruang serta waktu itu sendiri harus merupakan bagian dari ciptaan itu. Jadi penyebab itu tak mungkin adalah sesuatu ruang dan waktu yang lain. (Jika demikian, seluruh permasalahan jangka waktu yang tak terbatas itu akan mencuat kembali.) Jadi sesuatu itu harus berada di luar batas atau lingkup ruang dan waktu.

Sulit untuk dipahami bagaimana oknum seperti itu dapat “berhenti” ada. Kita mengenal bagaimana oknum didalam dunia ini berhenti ada: ini terjadi dengan perantaraan hal-hal yang berada diluarnya. Namun gambaran ini hanya dapat dikenakan kepada kita, dan kepada semua makhluk yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Oknum yang tak dibatasi oleh keadaan ini tak dapat “muncul” sampai ada atau kemudian “berhenti” ada. Apabila oknum itu ada, pasti oknum itu kekal adanya.

Pertanyaan 3: Namun apakah penyebab itu adalah Allah – satu oknum atau hanya sesuatu saja?

Jawaban: Andaikata penyebab dari dunia ini telah ada secara kekal. Selanjutnya andaikata penyebab ini bukan pribadi dan sesuatu itu telah menjadikan dunia ini bukan melalui pilihannya, melainkan hanya melalui keberadaannya. Dalam hal ini sulit untuk melihat dunia ini selain usianya tak terbatas, oleh karena seluruh kondisi yang dibutuhkan untuk membuat dunia ini ada sudah ada sejak dari kekal. Namun argumentasi kalam menunjukkan bahwa usia alam semesta ini tidak terbatas. Jadi hipotesa mengenai penyebab yang bukan pribadi, namun kekal itu tampaknya tidak konsisten.

Apakah ada jalan keluar? ya, apabila dunia ini merupakan hasil karya dari pribadi yang bebas. Dengan demikian kita dapat memahami bagaimana penyebab yang kekal itu dapat memberikan keberadaan kepada akibat yang fana dan terbatas itu. Tentu saja,argumentasi kalam tidak membuktikan segala sesuatu yang merupakan hal yang pokok bagi kepercayaan Kristen mengenai Allah: tetapi apa buktinya? akan tetapi kurang daripada segala sesuatu adalah jauh dari ketiadaan. Dan argumentasi kalam membuktikan bahwa alam semesta ini bukanlah sesuatu yang kekal dan tanpa permulaan, bahwa ada pencipta dari langit dan bumi ini. Dengan demikian, argumentasi ini membatalkan gambaran tentang alam semesta ini yang senantiasa dipertahankan oleh kaum ateis: yaitu bahwa dunia ini adalah sesuatu yang dapat memelihara dirinya sendiri, sesuatu yang tak putus-putusnya berubah sepanjang waktu yang tak pernah akan berakhir.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: